Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 31


__ADS_3

Warung bakso tempat Naya bekerja hari ini tutup lebih awal. Naya dan Yuli yang kebetulan masuk di jam yang sama saat ini sedang membereskan warung untuk kemudian tutup.


Setelah semuanya beres, barulah Naya dan Yuli sama-sama pergi ke ruang belakang tempat mereka biasa meletakkan tas mereka.


Naya merogoh tasnya bermaksud ingin mengecek handphonenya. Dan betapa kagetnya Naya saat melihat ada sembilan panggilan telpon tak terjawab dari Gino.


"Ciyeee... Hape baru, Nay?" tanya Yuli sedikit menggoda Naya dengan menyikut lengannya.


Naya hanya tersenyum tipis. Saat ini ia sedang kepikiran Gino, apakah ada sesuatu hal yang penting menurutnya?


Tanpa berpikir lama Naya langsung menelpon Gino. Dan rupanya cepat dijawab oleh Gino.


"Maaf, Mas, tadi aku lagi kerja, jadi nggak tau kalau kamu nelpon," kata Naya merasa bersalah.


"Nggak pa-pa, Dek," sahut Gino dengan tertawa kecilnya.


Yuli yang saat itu sedang ada disamping Naya langsung memainkan alisnya, menggoda Naya tiada henti.


"Mm... Ada apa ya, Mas? Kamu telpon aku sampai sembilan kali soalnya."


"Ada sesuatu yang penting yang ingin aku bilang ke kamu," ucap Gino dengan serius.


"Apa, Mas?" Naya mulai serius mendengarkan.


Yuli dengan isengnya turut menguping percakapan Gino dan Naya.


"Aku kangen kamu," kata Gino dengan jelas.


Yuli yang mendengarnya langsung tertawa ngakak, sehingga dapat didengar oleh Gino.


"Kamu sama siapa, Dek?" tanyanya penasaran.


"Hallo, Gino! Heem... Yang lagi bucin. MasyaAllah..." Yuli ikut nimbrung percakapan mereka.


Gino hanya merespon dengan tertawa juga. Dan Naya hanya bisa tersenyum kikuk. Jujur, ia malu kedapatan seperti ini oleh Yuli.


"Oke, Gi! Puas-puasin ngomongnya, aku nggak ganggu lagi, aku mau pulang." kata Yuli yang kemudian pamit pulang dulu kepada Naya hanya dengan kode melambaikan tangan.


"Kenapa ketawa ngakak banget, Yul, ada yang lucu?" tanya bu Sugeng setelah Yuli keluar dari ruangan itu.


"Itu Naya, Buk. Dia lagi telponan sama tunangannya. Ya aku goda mereka dong," ucap Yuli yang seketika membuat bu Sugeng kaget.


"Kapan Naya tunangan? Kok aku nggak tahu?"


"Masih belum lamaran, Buk. Masih minggu depan katanya."


"Alhamdulillah..." seru bu Sugeng merasa senang.


"Ibu kalau penasaran sama tunangannya Naya tanya sendiri sama anaknya. Tapi sepertinya ibu harus segera cari karyawan baru, Buk."

__ADS_1


"Buat apa nambah karyawan lagi? Emang Naya mau berhenti?"


"Bisa jadi!" sahut Yuli sambil mengangkat kedua bahunya.


Lalu setelah itu Yuli pamit pulang kepada bu Sugeng.


Sedangkan Naya masih tetap ada di ruang belakang, masih betah bertelponan dengan Gino.


"Mas Gino nggak kerja?" tanya Naya karena melihat jam masih menujukan pukul dua siang.


"Ini sambil kerja," sahut Gino.


"Kalau gitu udah dulu ya, nanti ganggu mas kerja."


"Dek, pulang kerja aku mampir ke rumah ya? Kita masih belum beli seserahan buat kamu," kata Gino kemudian.


"Tapi pulangnya nggak malam kayak semalam kan, Mas?" tanya Naya khawatir meninggalkan Lala setiap malam.


"InsyaAllah nggak. Aku jemput jam empat ya, Dek?"


"Iya, Mas."


Setelah itu sambungan telpon mereka berakhir. Naya langsung keluar dari ruangan itu. Tetapi kemunculannya memang sedang ditunggu oleh bu Sugeng.


"Memang benar kamu mau berhenti kerja, Nay?" kata Bu Sugeng to the point.


Naya melongo mendengarnya. "Kata siapa, Buk?"


"Aku nggak ada ngomong gitu sama Yuli, Buk."


"Kamu tunangan dapat orang mana?"


Naya sedikit kaget saat mendengar bu Sugeng tahu kalau ia akan tunangan. Tetapi ia sudah bisa menebak siapa yang menyebarkan itu. Pasti Yuli.


"Mm... Orang Candi, Buk," aku Naya pada akhirnya.


"Kerjanya apa?" kepo bu Sugeng.


Naya agak ragu untuk mengatakannya. Bukan karena tidak pede mengakui pekerjaan Gino kepada bu Sugeng, tetapi merasa minder karena orang biasa seperti dirinya bisa dapat orang seperti Gino.


"Kalau cuma kerjanya masih nggak jelas menurutku mending nggak usah, Nay. Kamu itu kan janda anak satu. Setidaknya orang yang nanti menikahi kamu itu juga mau bertanggungjawab menanggung anakmu."


"Iya, Buk."


Naya setuju dengan pendapat bu Sugeng. Meski menikah kalau pada akhirnya dirinya masih kerepotan bekerja demi membiayai Lala, buat apa menikah? Sendiri lebih baik daripada harus hidup bersama orang yang tidak mau bertanggungjawab dengan baik.


Beruntungnya saat ini yang akan menjadi calon tunangan Naya adalah pria kantoran, yang bisa dikatakan tidak perlu bingung memikirkan pendapatan setiap bulan. Asal pintar-pintar mengatur pemasukan dan pengeluaran saja, agar bisa mencukupi setiap bulannya.


"Naya, ibu tanya pekerjaan tunanganmu itu apa kok nggak dijawab?" tanya bu Sugeng sekali lagi.

__ADS_1


"Ee... Dia kerja di kantor, Buk," ucap Naya dengan pelan.


"Waah! Hebat juga kamu, Nay!" pekik bu Sugeng dengan riang. Turut senang mendengar Naya dapat lelaki pekerja kantoran.


Naya yang mendengar pujian bu Sugeng hanya bisa tertunduk malu.


"Kantor apa? Di mana?" Bu Sugeng semakin kepo akut.


"Di-- B#I."


Kedua mata bu Sugeng langsung melotot kaget. Bibirnya tersungging senyuman, lalu perlahan mengusap lengan Naya merasa terharu mengetahui nasib hidup Naya tidak akan seburuk seperti yang sudah-sudah.


"Selamat ya, Nay. Aku ikut senang dengarnya. Semoga kamu sama tunanganmu itu akan menjadi jodoh dunia akhirat. Jodoh yang bisa memberikanmu kebahagiaan, juga untuk kebahagiaan anakmu."


"Aamiin... Terimakasih do'anya, Buk."


"Tapi kalau tahu calon kamu kerjanya di Bank, aku kepikiran ucapan Yuli. Jangan-jangan nanti kamu nggak dibolehin kerja lagi, Nay."


Naya hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Bu Sugeng. Bukan mengiyakan rasa kekhawatiran bu Sugeng, tetapi merasa bingung mau menanggapinya bagaimana.


"Mm... Buk, aku pamit pulang ya," ucap Naya yang kemudian setelah bersalaman dengan bu Sugeng ia keluar dari tempat itu.


Kepulangan Naya yang cepat hampir berbarengan dengan jadwal Fifi pulang sekolah. Rencananya Naya ingin sekalian jemput Fifi ke sekolahnya. Tetapi ketika Naya sudah hampir tiba di sekolah Fifi, dari kejauhan ia melihat Fifi berboncengan dengan Irwan.


Diam-diam Naya mengikuti kemana Fifi dan Irwan pergi. Ia was-was Fifi akan berbuat nekat lagi dengan pergi tanpa ijin seperti kemarin. Tetapi ternyata arah jalan mereka menuju jalan rumah. Dan Naya menepi di tempat yang agak berjarak dengan Fifi dan Irwan yang juga sedang menepi.


Kemudian nampak Irwan dengan santainya mencium pipi Fifi di pinggir jalan. Membuat Naya yang melihatnya jadi risih sendiri. Bukan karena sok suci, tapi duo sejoli itu seperti tidak tahu tempat saja berbuat seperti itu.


Melihat Fifi yang sepertinya akan membalas ciuman Irwan, Naya langsung membunyikan klaksonnya dengan berulang-ulang. Sehingga Fifi dan Irwan terusik dan sama-sama menoleh ke arah suara klakson itu.


"Gawat! Ketahuan mbak Naya, Yang!" Fifi langsung ketakutan.


Irwan juga nampak gusar. Terlihat Naya dari kejauhan hanya geleng-geleng kepala, heran sekali dengan kelakuan mereka.


"Duh, maaf, Yang... Terus gimana ini?" Irwan merasa sangat bersalah.


"Mau gimana lagi, sudah kepalang juga! Udah kamu cepat pergi sana!" usir Fifi kepada Irwan.


Gadis itu takut bukan hanya Naya yang melihatnya, tetapi yang paling ditakutkan adalah ketahuan Abdul.


Setelah mendapati Irwan pergi, lalu Naya melajukan motornya mendekati Fifi yang sudah berjalan lebih dulu.


"Naik, Fi!" kata Naya mengajak Fifi untuk boncengan bareng.


Fifi langsung naik berboncengan dengan Naya.


"Soal tadi aku masih bisa rahasiakan. Tapi aku berharap itu yang terakhir, Fi. Biar cinta tapi tolong jangan diobral! Setidaknya kamu ingat bapak ibu kamu di rumah. Mereka menitipkan kamu sama bapak ibu. Kalau kamu tidak benar, akan banyak orang yang terluka karena kamu." ucap Naya syarat penuh nasehat penting untuk remaja labil seperti Fifi.


Fifi yang mendengar ucapan Naya itu hanya bisa tertunduk tanpa mau menyangkal lagi. Percuma juga ngeles, toh Naya sudah melihatnya dengan mata kepala sendiri. Ah, sial!

__ADS_1


*


__ADS_2