Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 72


__ADS_3

Deru nafas Gino tersengal-sengal begitu cairan putih itu menguap dari pusakanya. Beruntung Gino segera mengangkat wajah Naya untuk menghentikannya, sebelum cairan itu menyembur masuk ke mulut Naya, karena Gino tak mau hal itu terjadi.


Naya yang melihat suaminya ambruk lemas hanya bisa tersenyum puas. Wanita itu memilih berbaring disamping Gino dengan berbantalkan lengan Gino yang telentang.


"Apa kamu dulu biasa begini, Dek?" tanya Gino dengan wajah yang nampak berbinar.


Naya hanya tersenyum tanpa mau menjelaskan. Jujur, ini adalah baru pertama kali bagi Naya. Dulu dengan suami yang pertama Naya tidak pernah melakukan seperti itu. Entah mengapa kali ini ia sangat nekat melakukannya. Dan sangat tidak menyangka reaksi suaminya terpuaskan karena perlakuannya.


Gino memiringkan badannya menatap Naya yang hanya polos setengah badan, berbeda dengan dirinya yang sudah polos total. Bibirnya terus saja tersenyum sumringah, jadi seperti ini rasanya pengantin baru. Ah, andai tadi itu mendarat di landasan yang sebenarnya, tentu Gino akan memintanya lagi. Tetapi Gino tidak mau egois, dengan menyuruh Naya melakukan seperti tadi yang menurut Gino apa itu tidak jijik?


Perlahan Gino merengkuh tubuh Naya, memeluknya lagi. Kecupan hangatnya mendarat di kening Naya cukup lama. Kemudian turun mendarat di bibir Naya.


"Ini yang nakal!" kata Gino sambil mencium bibir Naya lagi.


"Jangan ulangi lagi ya, aku sabar menunggunya kok!" kata Gino lagi sambil mengecup bibir Naya lagi.


"Kenapa, apa yang tadi tidak memuaskanmu, Mas?" tanya Naya penasaran dengan larangan Gino barusan.


"Bukan tidak puas, Sayang. Cuma-- Aku inginnya di sini," jawab Gino sambil tangannya memberanikan diri menyentuh inti Naya yang terbungkus aman.


Naya sedikit terkesiap Gino berani menyentuh inti miliknya. Tetapi kemudian wanita itu tersenyum kecil, lalu giliran ia yang mencium Gino dengan lummattan nya yang lembut.


Tok tok tok


Terdengar ketukan kecil dari pintu kamarnya.


"Mama!"


Rupanya suara Lala yang memanggil dari luar pintu kamar.


"Mas, pake bajunya. Ada Lala!" titah Naya yang kemudian Naya dan Gino sama-sama memasang bajunya.


Setelah selesai memakainya, Naya memilih pura-pura tidur lagi. Gino yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng heran dengan kelakuan istrinya. Lalu Gino yang membukakan pintu kamar itu.


"Papa!" pekik Lala dengan senang saat tahu yang membuka pintunya adalah Gino.


Gino duduk jongkok, menyamakan tinggi tubuhnya dengan Lala. Lalu setelahnya mengangkat tubuh Lala dan membawanya masuk ke kamar.


"Mamamu tidur tuh, bangunin sana!" kata Gino kemudian membiarkan Lala merangkak naik ke tubuh Naya.


"Mama, angun!" kata Lala sambil mengguncang-guncang lengan Naya.


"Mama!" teriak Lala lebih kencang.


"Coba papa yang bangunin ya?" Gino ikutan merangkak naik ke kasur.


Tetapi kemudian Naya membalik tubuhnya, tak lupa sambil bilang 'Bah' untuk mengagetkan Lala. Tak ayal Lala yang kaget langsung tertawa ngakak. Jadilah mereka bertiga bercanda sambil tertawa senang dalam kamar itu.


Terdengar bunyi toa masjid mengumandangkan adzan waktu ashar. Gino segera bergegas keluar kamar untuk mandi, dan kemudian akan pergi berangkat sholat di masjid, itu pun kalau sempat. Karena pria itu masih harus mandi wajib setelah keluar m4ni tadi.


Dan ternyata saat Gino selesai mandi, jamaah sholat ashar di masjid sudah di mulai. Tidak mungkin ia bisa mengejarnya. Maka terpaksa Gino beribadah di rumah saja.

__ADS_1


Saat Gino menunaikan kewajibannya itu, Naya membawa Lala keluar kamar agar suaminya bisa sholat dengan tenang. Di luar Naya bertemu dengan Fifi. Ia yang merasa tubuhnya lengket dan ingin mandi, maka Naya menitipkan Lala kepada Fifi. Kemudian Naya segera bergegas untuk mandi.


"Lala mana, Dek?" tanya Gino saat Naya sudah selesai mandi, mereka berdua sedang ada di kamar.


"Lagi main ditemani Fifi, Mas," sahut Naya. Kemudian duduk di depan meja rias nya sambil mengeringkan rambutnya yang habis keramas.


Gino mendekat. Ia mengambil handuk yang ada di tangan Naya. Sejenak pria itu mencium pucuk kepala Naya yang wangi dengan aroma shampo. Lalu membantu Naya untuk mengeringkan rambutnya.


"Sudah keramas apa sudah bersih, Dek?" tanya Gino.


"Belum, Mas, masih empat hari," jawab Naya.


"Berarti kurang berapa hari lagi?"


Naya tergelak sejenak. Ia sangat paham kalau suaminya sudah tidak sabar. Tetapi sepertinya bersih mens Naya akan lebih cepat dari biasanya, karena barusan saja sudah sisa flek saja. Mungkin benar, mens kali ini efek dari suntik KB.


"Katanya mau sabar menunggu," ucap Naya.


"Iya, bisa sabar kok, cuma nanya aja."


"Mm... Kamu ada hairdryer tidak, biar cepet kering rambutnya," lanjut Gino.


"Nggak ada, lagian aku juga nggak suka pake hairdryer. Biar gini aja," kata Naya yang memang tidak suka menggunakan hairdryer tiap selesai keramas.


"Kita keluar yuk, Dek, sama Lala juga."


"Ke mana?"


"Jalan-jalan aja. Kita makan di luar, mumpung aku masih libur."


"Yakin?" tanya Gino.


Pria itu sudah hafal bagaimana watak mpok Tun, sehingga ia merasa kasihan kalau Naya akan kena nyinyiran wanita itu lagi.


"Biar aja, aku nggak mau gabung sama mereka kok, cuma mau ngambil anakku," kata Naya sudah tidak peduli dengan adanya mpok Tun.


"Lagian Fifi kenapa bisa gerombol bareng dia sih?" batin Gino ikut kesal mendapati Fifi ada di sana.


"Dek, aku temani ya?"


"Serius?"


Gino mengangguk. Sungguh ia tidak mau terjadi apa-apa dengan Naya dan juga Lala oleh mulut pedas mpok Tun. Kemudian ia pun ikut jalan bersejejer dengan Naya menemui Fifi di tetangga samping rumah.


"Wah, manten baru pada keramas nih?" celetuk salah satu ibu-ibu yang ada di sana.


Naya dan Gino hanya tersenyum kikuk. Bisa-bisanya ibu-ibu itu memperhatikan mereka sedetail begini.


"Hem... Pantesan anaknya dibawa main ke sini, jadinya emmaknya lagi indehoy," sahut mpok Tun dengan gaya mulutnya yang khas orang julid.


Sejujurnya Naya sangat malu dibegitukan oleh mpok Tun, apalagi ibu-ibu yang lain ikut tertawa menganggap perkataan mpok Tun adalah sekedar gurauan. Sedangkan Gino mengambil Lala dari pangkuan Fifi. Sekilas pria itu memandang tajam kepada Fifi, membuat gadis itu seketika takut karena tak pernah melihat sorot mata Gino yang seperti ini kepadanya. Maka kemudian Fifi beranjak pergi dari tempat itu.

__ADS_1


"Permisi, Bu, kita ke sini cuma mau bawa Lala," kata Gino menyapa ibu-ibu di sana.


Ibu-ibu yang lain nampak tersenyum ramah kepada Gino. Berbeda dengan reaksi mpok Tun yang seperti sangat iri melihat Naya bahagia dengan suaminya.


"Eh, suaminya Naya, siapa nama kamu?" tanya mpok Tun dengan nada ketusnya.


"Nama saya Gino, Buk."


"Ibu, ibu! Panggil mpok Tun, aku bukan ibu kamu!" sargahnya sengit.


Gino hanya tersenyum getir. Dalam hati mulai bertanya sendiri, kenapa tetangga di sini pada betah punya tetangga nyinyir seperti mpok Tun? Tapi kalau dari cerita Naya, mpok Tun memang nyinyir hanya kepada keluarganya saja. Kepada tetangga yang lainnya, mpok Tun biasa saja.


"Gimana rasanya nikah sama janda, pasti lobangnya sudah longgar dong?" tanya mpok Tun sungguh diluar dugaan, hingga ibu-ibu yang ada di sana langsung melongo mendengar pertanyaannya.


Gemuruh di dada Naya langsung membuncah. Ingin sekali rasanya merobek mulut bar-bar mpok Tun itu. Tetapi jika melihat reaksi Gino malah tersenyum tipis kepada mpok Tun.


"Mpok mau tahu?" Gino sengaja balik tanya.


"Mas, ngapain diladenin sih?" protes Naya sambil berbisik.


Gino balik tersenyum aneh kepada Naya.


"Biar Naya janda, tapi rasanya nikmat mirip gadis. Aku bersyukur menikahi Naya. Aku tidak tertipu sama gadis jaman sekarang yang rasanya sudah janda!" sahut Gino.


Entah dapat dari mana Gino ungkapan seperti itu. Padahal dirinya saja masih belum tahu lubang surgawi itu. Sedangkan mpok Tun yang mendengar ucapan Gino mulutnya langsung terkunci rapat. Mungkin ia tersindir karena ucapan Gino. Karena kenyataannya, satu anak gadis dari mpok Tun dulu pernah hamil di luar nikah.


Setelah itu Gino dan Naya pergi dari tempat itu.


"Mas, kamu ngomongnya kok gitu sih?" tanya Naya terheran-heran sendiri dengan ucapan Gino.


"Salah ya?"


"Nggak sih. Cuma--"


"Cuma apa, Dek?"


"Anaknya mpok Tun dulu ada yang gadis rasa janda itu loh, Mas," seru Naya sambil berbisik kepada Gino.


"Hah, beneran, Dek?"


Mendengar itu Gino malah terkekeh sendiri.


"Dek,"


"Iya, Mas."


"Kita harus cepat pindah ke rumahku. Aku nggak mau tiap hari bertemu dengan mpok Tun."


Naya hanya diam.


"Nanti aku coba ngomong ke bapak ibu."

__ADS_1


Naya akhirnya mengangguk setuju.


*


__ADS_2