
Kondisi bayi sungsang dalam kandungan Naya didengar juga oleh Nani dan Suryo, itu karena Gino yang menceritakannya datang ke rumah orang tuanya. Tak ayal kabar itu membuat Suryo langsung sedih. Sedangkan Nani hanya diam saja, tanpa ikut menimpali apapun saat Gino dan Suryo bercakap-cakap.
"Jangan biarkan Naya kecapean, Gi. Kasihan dia," ucap Suryo yang menganggap kejadian pada kandungan Naya itu karena kecapean.
"Kalau bisa kamu tangani pekerjaan rumah yang berat-berat, jangan biarkan Naya yang melakukannya. Mana perutnya sudah besar gitu, masih urus Lala juga, ditambah pekerjaan rumah yang tidak ada habis-habisnya," pesan Suryo kepada Gino.
Padahal tanpa Suryo menasehati seperti itu, selama ini Gino sangat rajin membantu pekerjaan rumah. Sampai-sampai Naya sendiri mirip ratu di rumahnya. Dari urusan menyapu dan mengepel, cuci piring, hingga mencuci pakaian, Gino lakukan semuanya tanpa minder, tanpa takut citranya sebagai laki-laki akan turun derajat, seperti yang pernah dikatakan orang-orang kalau laki-laki yang seperti itu kelompoknya laki-laki takut istri. Gino tidak seperti itu. Gino bukan takut istri, tetapi prinsipnya dalam berumah tangga adalah saling bekerjasama.
Belum lagi setiap malam menjelang tidur, Gino selalu memijiti punggung Naya, tanpa Naya minta sebelumnya. Setiap Naya singgung dengan gantian memijat, Gino selalu menolak. Alasannya karena Gino kasihan melihat Naya yang kemana-mana dengan perut besarnya. Mungkin Gino melihat Naya yang seperti itu merasa capek sendiri melihatnya.
"Iya, Ayah, aku pasti selalu bantu pekerjaan Naya di rumah," sahut Gino dengan patuh.
Suryo tersenyum lega mendengarnya. Sebenarnya hal seperti itu sudah tidak perlu diragukan lagi oleh Suryo, karena Suryo tahu bagaimana Gino dulu yang memang sering membantu pekerjaan ibunya dibanding Vita, adik perempuannya.
"Jujut aku susah, Yah," ucap Gino dengan wajah yang masih sendu.
"Susah kenapa?"
"Aku takut Naya nanti lahirannya caesar," tutur Gino.
"Kalau memang harus caesar ya nggak pa-pa. Ikuti anjuran dokter. Dokter yang tahu mana yang terbaik dan tidak untuk Naya sama anakmu," ucap Suryo.
"Masalahnya Naya tetap ingin lahiran normal," sahut Gino mengingat obrolannya dengan Naya keesokan harinya setelah kontrol pada dokter itu.
"Semoga saja masih bisa normal," timpal Nani tiba-tiba.
Suryo dan Gino sama-sama menatap kepada Nani. Sebelumnya mereka pikir diamnya Nani itu karena tidak peduli lagi kepada Naya, ternyata sebenarnya dalam hati Nani ikut merasa cemas sebagai sama-sama perempuan. Nani memiliki tiga orang anak, dan semuanya terlahir secara normal dulu. Mendengar pilihan terakhir untuk Naya harus menjalani operasi caesar, Nani pun ikut merasa ketar-ketir sendiri mendengarnya.
"Jangan dipikirkan sekarang. Itu masih dua bulan lagi lahirannya. Siapa tahu besok-besok posisinya normal lagi," lanjut Nani.
__ADS_1
"Aamiin..." Gino langsung mengamini ucapan Nani yang ia anggap sebagai doa darinya.
Suryo menghela nafas panjangnya. Benar, tidak perlu terlalu dipikirkan. Karena yang terpenting sekarang adalah support kepada Naya agar tidak stress karena memikirkan takut lahiran secara caesar. Dan juga support kepada Gino yang jadi kelimpungan sendiri karena Naya yang keras kepala dengan anti caesar.
"Jadi kapan acara tingkepan Naya, Gi?" tanya Suryo mengalihkan pembicaraan.
"Minggu ini, Yah. Acaranya diminta ibu lagi. Kata ibu biar tidak repot di rumah. Kalau diadakan di rumah ibu masih banyak saudara ibu yang bantu," jelas Gino.
"Iya, tidak apa-apa. Turuti saja apa kemauan mertua kamu. Lagian tujuannya juga baik, dan lagi kondisi kandungan Naya juga seperti ini," sahut Suryo.
"Persiapannya sudah kamu beli?"
"Katanya ibu juga yang menyiapkan semua, Yah."
"Biar ibu yang siapkan, Kamu bilang ke ibumu," seru Nani kemudian.
"Apakah ayah masih belum boleh tahu jenis kel4min cucu ayah?" tanya Suryo yang memang Gino sengaja merahasiakan jenis kel4min anaknya dengan alasan supaya surprise.
Gino menggeleng sambil tersenyum.
"Yang paling penting sekarang itu keselamatan mereka. Urusan cowok atau cewek itu sama saja," sahut Nani dengan bijak.
"Iya, do'a ayah ibu sangat penting buat kita," ucap Gino.
Entahlah, padahal Gino sudah tahu kalau bayinya adalah berjenis kel4min perempuan. Tetapi biar sajalah. Biar tetap menjadi surprise saat lahiran nanti. Dan Naya juga seperti itu kepada keluarganya. Mereka sepakat tidak memberitahu jenis kel4min anak mereka kepada siapapun juga.
"Waah... Padahal ayah pinginnya dapat cucu cewek loh, Gi. Di sini cucu ayah dua-duanya cowok. Dan bayi yang dikandung Mila katanya juga cowok. Siapa tahu anak kamu nantinya cewek, Gi," seru Suryo yang sangat mendambakan keturunan perempuan.
"Kalau ternyata anaknya Gino cowok juga memang kenapa?" tanya Nani yang tampak gemas dengan Suryo.
__ADS_1
"Ya tidak apa-apa juga, aku tetap akan terima sebagai cucuku. Namanya juga berharap, siapa tahu Tuhan kabulkan."
Keturunan keluarga Suryo dan Nani kebanyakan laki-laki. Suryo dan Nani sendiri hanya memiliki satu anak perempuan, yaitu Vita. Sedangkan cucu-cucu mereka laki-laki semua. Termasuk anaknya Vita yang dulu meninggal saat masih bayi juga berjenis kel4min laki-laki.
***
Hari yang ditunggu telah tiba. Saat ini di rumah orang tua Naya sibuk dengan persiapan acara tingkepan atau tasyakuran tujuh bulan kandungan Naya. Semua perlengkapan yang harus ada ketika siraman nanti semuanya disiapkan oleh Nani, termasuk kue-kue yang nanti akan dibawa pulang oleh orang-orang yang diundang untuk mengaji di rumah Rahma. Rahma hanya tinggal menyiapkan nasi dan lauk saja untuk makan orang-orang yang datang mengaji.
Proses siraman berjalan dengan lancar. Naya tetap memutuskan untuk melakukan siraman di dalam kamar mandi rumahnya. Apalagi memiliki tetangga julid seperti mpok Tun yang tidak ada pernah benarnya setiap apa yang dilakukan oleh keluarga Naya. Demi menghindari tergeraknya hati yang nantinya ikut panas karena nyinyiran mpok Tun, maka Naya memilih mengadakan acara tasyakuran itu dengan sederhana saja.
Sayangnya, momen penting itu tidak dihadiri oleh kedua mertua Naya. Katanya dikarenakan kondisi Nani yang kurang sehat. Entah itu benar atau hanya alasan saja. Karena yang Naya perhatikan saat Gino mengatakan itu seperti sedang ada sesuatu yang sengaja ditutupi olehnya.
Meski begitu, Naya tidak mau mempermasalahkan. Yang terpenting buatnya sekarang adalah kesehatan dirinya dan bayinya. Kebahagiaan batinnya juga. Jadi Naya sudah tidak mau memusingkan urusan-urusan yang bisa membuat pikirannya stress sendiri. Karena itu juga pasti akan berpengaruh kepada bayi yang dikandungnya.
"Kapan waktunya kontrol lagi, Nay?" tanya Rahma disaat santai bersama Naya.
"Masih minggu depan, Buk," sahut Naya.
"Semoga nanti ketika USG bayi kamu posisinya sudah normal ya, Nay," ucap Rahma.
"Aamiin... Aku minta doa nya ya, Buk."
"Ibu selalu mendo'akan, Nay. Semoga nanti lahirannya lancar dan gampang."
"Aamiin..." Kedua kalinya Naya mengamini ucapan Rahma.
Selama ini Naya sudah rutin melaksanakan saran dokter untuk mengembalikan posisi bayi sungsang nya. Tinggal menunggu hasilnya saja nanti. Harapannya semoga bayi dalam kandungan Naya bisa kembali ke posisi normal.
*
__ADS_1