Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 109


__ADS_3

Setelah mengatakan kalimat yang bermakna sebuah do'a kepada Naya, Nani beranjak dari tempatnya duduk dan kemudian ke dapur. Sedangkan Naya tetap termenung di tempat dengan pikirannya yang masih terngiang perkataan ibu mertuanya itu.


"Apakah ini berarti ibu sudah merestui ku?"


Kalimat seperti itu terus saja menghantui pikiran Naya. Seharusnya Naya senang, tetapi Naya masih ragu, takut tadi ia hanya salah dengar saja.


"Tante Naya." Tiba-tiba Roby menyapa Naya yang sedang kedapatan melamun.


"Eh, iya, Roby, ada apa?"


"Om Gino minta diambilin sarung sama handuk," seru Roby menyampaikan pesan Gino yang ternyata sudah datang, tetapi Naya tidak menyadarinya, dan lagi Gino masuk rumah lewat pintu samping.


"Om Gino sudah datang?" tanya Naya memastikan.


"Iya, Tante. Om Gino sekarang di kamar mandi belakang," jelas Roby yang kemudian berlalu begitu saja.


Hati Naya tiba-tiba merasa dongkol lagi. Ia masih kesal dengan Gino yang main pergi tanpa pamit kepadanya. Akan tetapi meski begitu Naya kemudian mengambilkan yang diminta oleh Gino di kamarnya.


Di dapur terlihat Nani sedang menyeduh teh hangat, entah untuk siapa. Naya berlalu saja, langsung mengarah ke kamar mandi.


"Mas," sapa Naya dari luar pintu kamar mandi sambil mengetuk pintunya.


Gino membuka pintu kamar mandinya.


Tanpa bicara apa-apa, Naya langsung menyerahkan sarung beserta handuk itu kepada Gino.


"Terimakasih, Dek," ucap Gino, tetapi Naya tidak menyahut. Wanita itu kemudian berlalu begitu saja dengan wajah dinginnya.


Gino yang melihat itu hanya bisa tersenyum tipis. Memang juga salahnya tidak pamit kepada Naya ke mana dirinya pergi tadi.


Naya masuk ke kamar Gino. Wanita itu segera menggelar sajadahnya, memakai mukenahnya, kemudian menunaikan kewajiban tiga rakaatnya seorang diri tanpa menunggu berjamaah dengan Gino.


Gino masuk ke kamarnya ketika Naya sudah selesai dengan sholatnya. Karena Naya sedang melepas mukenahnya kemudian melipatnya.


"Sudah sholat, Dek?" tanya Gino basa-basi, karena ia tahu istrinya itu saat ini sedang mode merajuk.


"Sudah!" sahut Naya tanpa menatap kepada Gino.


Gino tersenyum tipis lagi. Pria itu pun kemudian segera melaksanakan ibadah maghrib nya. Sedangkan Naya memilih berbaring di kasur, dengan posisi tubuh yang sengaja membelakangi Gino.


Usai sholat dan berdoa, Gino ikut naik ke ranjang dan main peluk saja kepada Naya, meski sekedar pelukan dari belakang tubuh Naya.


Awalnya Naya mau memberontak, tetapi ditahan oleh Gino.


"Aku kedinginan, Dek," ucap Gino sambil merapatkan pelukannya.


Naya bergeming saja. Rasanya sangat kesal, cuma malas nanya.

__ADS_1


"Kamu kok diem terus? Aku minta maaf," ucap Gino kemudian.


"Bilang aja kamu sengaja!" sungut Naya bernada ketus.


"Sengaja apa, Dek?"


Gino berusaha membalik tubuh Naya agar saling berhadapan, tetapi Naya sekuat tenaga untuk tetap dengan posisinya.


"Aku tadi pergi ke toko," jelas Gino kemudian.


Dan Naya diam lagi.


Gino beranjak dari tempatnya. Pria itu kemudian keluar dari kamarnya begitu saja. Dan Naya yang melihat itu semakin kesal dibuatnya. Ingin rasanya Naya nangis sekarang juga. Apa Gino tidak tahu kalau mood ibu hamil gampang baper?


Tak lama setelah itu Gino datang lagi ke kamarnya. Pria itu nampak menenteng satu kantong kresek berwarna gelap yang tak tahu isinya apa. Di tangan satunya, Gino membawa teh hangat untuk Naya.


"Teh nya diminum, Dek. Mumpung lagi hangat," ucap Gino sambil menyerahkan teh itu dihadapan Naya.


Awalnya Naya masih mau merajuk. Akan tetapi Gino tetap tidak pindah tempat seakan memaksa Naya untuk mau meminum teh nya. Akhirnya Naya beranjak duduk, dan kemudian mengambil teh itu dari tangan Gino.


"Diminum, itu ibu sudah cape-cape buat," seru Gino karena melihat Naya yang tak segera meminumnya.


Naya menatap lekat kepada Gino. Ibu yang buat? Memang spesial untuk dirinya apa?


Karena mendapat tatapan yang beda dari Gino, akhirnya Naya meminum teh itu. Setelah Naya meminumnya, Gino duduk disamping Naya sambil mengeluarkan isi dari kantong kresek itu.


"Ini ukurannya benar kan?" tanya Gino sambil menunjukkan nomor ukuran beha baru kepada Naya.


"Dari mana kamu dapat ini?" tanyanya penasaran.


"Aku beli untuk kamu. Ini juga!" Kali ini Gino mengeluarkan segitiga bahan intim milik perempuan kepada Naya.


Lagi-lagi Naya mengambil benda keramat itu dari tangan Gino. Malu! Walau sudah sama-sama tahu ukuran dari underwear mereka, tetapi apa yang dilakukan Gino sekarang sungguh diluar nalar Naya.


"Kamu dapat dari mana semua ini?" tanya Naya sekali lagi.


"Aku beli di toko, Dek. Kamu nggak percaya?"


Samar-samar bibir Naya seperti mau tersenyum, tetapi keburu ingat kalau saat ini ia sedang mode merajuk.


"Aku kepikiran baju kamu basah semua tadi. Makanya aku beli itu," jelas Gino.


"Kenapa nggak sekalian belikan aku daster buat ganti?"


"Nggak kepikiran, Dek. Lagian sudah ada bajunya mbak Mila juga. Aku diluar nahan dingin, nahan malu dilihat orang-orang beli gituan."


"Siapa suruh?"

__ADS_1


"Itu demi kamu, Sayang." Gino mulai gemas dengan Naya.


"Nggak mau dipake?" tanya Gino karena Naya hanya melihat-lihat saja pada underwear yang dipegangnya.


"Iya, sebentar lagi," sahut Naya.


"Aku minta maaf ya karena sudah pergi nggak pamit dulu ke kamu," ucap Gino sambil meraih tangan Naya.


"Iya, untuk kali ini aku maafkan. Tapi jangan diulang lagi. Tadi itu aku takut," seru Naya mulai curhat.


"Takut kenapa? Ibu jahat sama kamu tadi?"


"Nggak sih. Tapi-- Aku takut saja, Mas."


Sejenak Gino menghela nafasnya.


"Itu karena kamu masih belum terbiasa di sini, Dek. Besok-besok kita sering datang ke sini biar kamu terbiasa. Apakah ibu ada ngomong nggak enak sama kamu tadi?"


Naya menggeleng kepalanya, karena pada kenyataannya Nani tidak ada melontarkan kata-kata yang tidak mengenakkan, kecuali sebuah ucapan do'a kepada Naya mengenai kandungannya. Tetapi Naya tidak mau menceritakan itu kepada Gino. Biar dirinya saja yang tahu, sampai tiba saatnya nanti Gino akan tahu sendiri.


Hujan diluar kembali turun deras.


"Kita batalkan kontrolnya ya, di luar hujan lagi," seru Gino.


Naya mengangguk pasrah. Memang sudah musim hujan juga. Tahu begini tadi ia setuju saat Gino akan berangkat naik mobil. Semuanya tidak patut disesali. Karena yang meminta berangkat naik motor adalah Naya sendiri.


"Kita nginep di sini ya, Dek? Sekaliiii saja," mohon Gino kemudian.


Naya menatap Gino dalam-dalam. Mau menolak, tetapi hujan di luar turun sangat awet. Sepertinya akan reda sampai tengah malam nanti.


"Mau ya? Sekarang kita nggak boleh egois. Kita harus sama-sama jaga kesehatan kita. Apalagi kamu sedang mengandung anak kita, jadi kamu harus tetap sehat, nggak boleh sakit cuma karena hujan."


"Iya, kita nginep," sahut Naya kemudian.


Gino tersenyum senang. Kemudian ia meraih ponselnya, bermaksud akan menelpon Rahma untuk memberitahu kalau tidak bisa menjemput Lala malam ini.


"Biar aku yang ngomong ke ibu, Mas." Naya mengambil alih handphone itu dan kemudian berbicara kepada Rahma.


Selesai bertelponan, pintu kamar Gino ada yang mengetuk. Setelah dibuka ternyata Nani yang berdiri di ambang pintu kamar.


"Ayo makan!" ajak Nani kepada Naya dan Gino.


"Iya, Bu, sebentar lagi," sahut Gino.


Setelah pintu ditutup kembali, Gino mendekati Naya yang akan beranjak masuk ke kamar mandi.


"Dek, pasangnya di sini saja," seru Gino tiba-tiba. Bibirnya tersenyum aneh kepada Naya.

__ADS_1


"Iih... Itu sih maunya kamu!" sungut Naya. Merasa gemas dengan permintaan suaminya yang menyuruhnya memasang daL@m4n di depannya.


*


__ADS_2