
Keesokan harinya Naya bisa bersantai di rumah. Sekarang adalah hari sabtu, Gino libur dari pekerjaannya, jadilah pria itu seharian ini ikut berperan seperti ibu rumah tangga. Membantu pekerjaan Naya tanpa harus terburu-buru seperti saat ada Lala di rumah ini. Karena ketika ada Lala tentunya mereka harus memberi waktu untuk memperhatikan bocah itu.
Sedangkan Naya hari ini benar-benar di ratukan oleh Gino. Padahal kondisi Naya pagi ini sedang baik-baik saja. Untuk memasak pun Gino tidak memperbolehkannya. Pria itu bahkan sudah memesan makanan lewat aplikasi online untuk sarapan mereka.
Akhirnya Gino menyelesaikan pekerjaan rumahnya ketika jam menunjukkan lewat pukul delapan. Setelah itu mereka sarapan bersama.
"Dek, setelah ini aku mau ke rumah ibu, kamu mau ikut?" ucap Gino yang memang setiap weekend menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah orang tuanya.
Tentunya jawaban Naya adalah menolak ikut. Sebenarnya Gino tahu kalau Naya pasti menolak, cuma pria itu tidak pernah bosan menawarkan kepada istrinya siapa tahu mau ikut.
"Mungkin aku pulang agak lambat, Dek. Ibu sakit, jadi aku mau bawa ibu periksa dulu nanti," jelas Gino yang baru tahu kabar itu dari Suryo subuh tadi.
Dokter yang biasa Nani datangi kebetulan prakteknya buka sore, makanya Gino pamit pulang agak lambat kepada Naya karena masih mau mengantar Nani periksa. Meskipun di rumah ada Agus, tetapi Nani lebih nyaman pergi bersama dengan Gino.
"Kalau gitu aku ikut. Kamu anter aku ke rumah ibu, aku mau sama Lala. Jadi nanti kamu bisa jemput aku dari rumah ibu," ucap Naya.
Gino pikir Naya akan berubah pikiran untuk mau ikut ke rumah Nani setelah mendengar kalimat pertamanya, ternyata tidak. Akhirnya Gino setuju saja dengan permintaan Naya, daripada Naya hanya akan sendiri seharian ini di rumah.
Selesai sarapan kemudian mereka bersiap-siap untuk berangkat.
Tak berapa lama, Naya sudah tiba di rumah orang tuanya. Kebetulan saat itu Lala tidak ada karena sedang dibawa main naik sepeda keliling kampung oleh Abdul. Gino langsung pamit pergi kepada Rahma, tanpa memberitahu alasannya kenapa terburu-buru pergi dan tak mau duduk sebentar saja.
"Gino mau ke mana, kok kamu nggak ikut?" tanya Rahma setelah melihat mobil Gino berlalu dari rumahnya.
"Mau ke rumah ayah ibu," sahut Naya.
"Ooh..." Rahma ber-oh saja.
Rahma juga sudah tidak heran kenapa Naya tidak ikut Gino ke sana. Dan Rahma tidak akan memaksa Naya untuk selalu ikut Gino ke rumah orang tuanya, karena Rahma tahu bagaimana seandainya berada di posisi Naya.
"Gimana periksa nya semalam?" tanya Rahma tentang kondisi bayi di kandungan Naya.
"Alhamdulillah baik kata dokter. Janin aku kuat. Sepertinya dia pengertian, Buk, kalau aku sering ditinggal papanya kerja," jelas Naya.
Merasakan perbedaan dari kandungan yang pertama di mana Naya sangat ringkih, berbeda sekali dengan kehamilan yang sekarang. Meski sama-sama ada drama morning sickness, tetapi tidak separah saat Naya mengandung Lala dulu.
"Dia sudah pengertian dari dalam perut, kalau papanya harus bagi waktu sama neneknya," ucap Naya lagi dengan sendu.
Dan Rahma yang mendengar itu hanya bisa mengelus punggung Naya untuk tetap bisa tegar dengan jalan kehidupannya yang sekarang. Kunci terpentingnya adalah Gino. Selama Gino bisa memperlakukan Naya dan Lala dengan baik, membuat mereka selalu bahagia, Rahma masih bisa menerima kenyataan pahit tentang Nani.
"Ayo didalam, Nay. Hari ini ibu masak oseng pepaya muda," ucap Rahma mengalihkan pembicaraan.
"Waah... Enak tuh, Buk. Aku mau makan lagi."
__ADS_1
Rahma tersenyum senang mendengarnya. Setidaknya nafsu makan Naya sudah sedikit membaik daripada bulan kemarin yang hanya mau makan yang manis-manis saja.
***
Gino sudah tiba di rumahnya. Kebetulan hari ini Suryo tidak ada di rumah karena ada urusan penting di rumah kerabatnya. Berhubung kondisi Nani sakit, maka Suryo terpaksa berangkat sendiri ke rumah kerabatnya itu.
"Assalamu'alaikum, Ibu," sapa Gino tiba-tiba masuk ke kamar Nani.
"Wa'alaikum salam," jawab Nani dengan suaranya yang serak.
Nani beranjak duduk dari tidurnya. Wanita itu menyenderkan punggungnya pada papan ranjang. Setelah itu Gino bersalaman kepadanya.
"Sendiri, Gi?" tanya Nani.
Gino mengangguk, walau dalam batinnya bersuara tumben ibu tanya seperti itu. Biasanya Nani tidak pernah tanya Gino datang sendiri atau bersama Naya. Memang baru kali ini Nani bertanya seperti itu.
"Ibu sudah makan belum?" tanya Gino yang ikut duduk disamping Nani.
"Sudah, tadi Mila masak sop ayam, ibu sudah makan," jawab Nani.
Mila adalah istri baru Agus. Wanita itu jauh lebih baik dari Wulan. Setelah kedatangan Mila di rumah ini, Nani hampir tidak pernah ikut berkecimpung di dapur. Semua di handle oleh Mila. Mungkin Mila lah jodoh Agus yang sudah tepat. Semoga saja mereka menjadi jodoh dunia akhirat, selalu bersama sampai maut memisahkan. Begitulah doa tulus Gino untuk rumah tangga Agus dan Mila.
Sedangkan Nani seiring waktu berjalan hidup serumah dengan Mila, akhirnya wanita itu mau menerima Mila sebagai menantunya. Mungkin karena sikap Mila yang memang baik di rumah ini, juga kepada anak-anak Agus sikap Mila sangat berperan seperti ibu kandung mereka.
Terdengar suara orang muntah dari luar kamar Nani. Refleks Gino menoleh ke arah pintu kamar yang kebetulan terbuka. Mendengar suara itu, tentu Gino langsung kepikiran dengan Naya.
"Mila hamil muda, Gi," ucap Nani memberitahu Gino kalau kakak iparnya sedang mengandung anaknya Agus.
"Benarkah?" Wajah Gino langsung berbinar senang mendengar itu.
Nani mengangguk.
"Setiap hari Mila muntah-muntah. Tapi untungnya masih kuat bantu di rumah. Apalagi kondisi ibu yang sakit begini. Sebenarnya ibu kasihan lihatnya," ucap Nani.
Gino bisa melihat jelas sorot mata Nani yang sudah menyayangi Mila. Tidak seperti saat pertama Agus membawa pulang ke sini. Beruntung sekali Mila bisa cepat diterima oleh Nani. Jujur, Gino cemburu. Kenapa dengan Naya ibunya tidak bisa lekas menerimanya seperti kepada Mila?
"Bu, aku mau ke depan, ibu istirahat dulu, nanti sore kita ke dokter," pamit Gino kemudian.
Sebelum benar-benar keluar dari kamar Nani, Gino membantu Nani berbaring. Membenarkan posisi tidurnya agar terasa nyaman. Setelah itu Gino keluar dari kamar Nani. Kemudian berbelok ke arah Mila yang terdengar masih muntah-muntah di halaman belakang.
"Mbak, minum dulu," sapa Gino kepada Mila sambil membawakan segelas air putih untuknya.
Mila menoleh kepada Gino. Wajahnya nampak pucat. Kemudian wanita itu menerima pemberian air minum dari Gino.
__ADS_1
"Terimakasih, Dek Gino," kata Mila yang kemudian menenggak minumannya hingga tandas.
"Semoga lekas sehat ya, Mbak," ucap Gino lagi.
Mila mengangguk sambil tersenyum ramah. Kemudian Gino berlalu dari tempat itu, beranjak masuk ke kamarnya sendiri.
Di dalam kamar, Gino meraih ponselnya dan kemudian mendial nomor telpon Naya. Tak berapa lama panggilan telponnya dijawab oleh Naya.
"Hum, ada apa, Mas?" sapa Naya dengan suara lemasnya, membuat Gino seketika beranjak duduk dari tidurnya karena cemas mendengar suara Naya yang tak bergairah diseberang sana.
"Dek, kamu nggak pa-pa kan? Nggak pusing? Nggak mual? Vitamin dari dokter tidak lupa dibawa kan?" cerca Gino sangat khawatir sekali dengan Naya.
"Nggak, aku nggak pa-pa, Mas," sahut Naya masih tidak bersemangat menjawab.
"Trus kenapa suara kamu lemas begitu?"
"Aku--"
Lalu terdengar suara Naya batuk-batuk, membuat Gino semakin cemas pikirannya.
"Dek, Dek Naya!" sapa Gino memastikan kalau Naya masih bisa mendengar suaranya.
"Hum, ada apa, Mas? Barusan aku minum dulu, tenggorokan rasanya serik," jawab Naya.
"Aku cemas sama kamu, Dek. Kamu gimana sekarang?"
Setelah melihat kondisi Mila tadi, Gino memang langsung kepikiran Naya. Tak disangka rupanya mereka sama-sama hamil dalam waktu yang hampir bersamaan. Seandainya saat itu Gino lekas diberi momongan, mungkin kandungan Naya saat ini sudah menginjak tujuh bulan. Sayangnya Gino masih harus menunggu beberapa bulan untuk Naya bisa hamil, tidak seperti Agus yang hanya menunggu satu bulan kemudian Mila hamil.
"Aku baik-baik saja, Mas. Ini barusan aku lagi bobok cantik tapi kamu nelpon jadi aku bangun," jelas Naya kemudian.
Akhirnya Gino bisa bernafas dengan lega setelah mendengar kondisi Naya yang baik-baik saja. Rupanya suaranya yang lemas tadi karena efek bangun tidur.
"Dek, aku punya kabar baik," kata Gino kemudian.
"Kabar apa, Mas?"
"Istrinya mas Agus juga lagi hamil muda."
"Benarkah?" Naya tak kalah senangnya mendengar berita itu.
"Iya, Dek. Itu artinya selisih usia anak kita sama anaknya mas Agus nggak jauh, Dek. Nanti mereka bisa jadi teman main yang seru karena masih seumuran. Aku sudah tidak sabar menunggu saat itu tiba," ucap Gino dengan semangat sekali.
Tanpa Gino sadari, hati Naya terasa sedih lagi membayangkan itu. Apakah saat bahagia itu akan tiba kepadanya? Apakah ada harapan anaknya nanti bisa diterima dengan tangan terbuka oleh Nani? Bisakah bayinya nanti merasakan gendongan hangat dari Nani? Apakah semua itu bisa terwujud nanti?
__ADS_1
*