
Naya langsung pamit pulang usai bersalaman dengan Gino. Tidak ada percakapan lanjut antara Naya dan Gino, hanya sebatas menyebutkan nama masing-masing. Naya terburu pulang karena sudah lewat dari jam biasanya ia pulang. Naya takut orang rumah khawatir menunggunya.
"Ehem! Gimana menurut kamu, Gi?" tanya Budi sesaat setelah Naya pulang.
Gino nampak berpikir. Baginya tidak bisa menilai seseorang hanya karena satu kali bertemu. Kalau maksud Budi yang ditanyakan adalah wajah Naya, menurut Gino Naya termasuk wanita yang cantik natural. Tanpa bantuan polesan make up seperti halnya wanita-wanita lainnya di tempat Gino bekerja. Hanya saja kecantikan Naya tertutup oleh wajahnya yang nampak sendu. Padahal kalau dibawa senyum pasti akan tambah cantik menurut Gino.
"Yah, malah ngelamun nih orang!" celetuk Budi sambil menyikut lengan Gino.
Gino tergeragap. Tetapi kemudian tersenyum tipis kepada Budi.
"Hmm.... Pasti langsung kesemsem dia, mas Budi. Sudahlah, gasken! Kita harus semangat jodohin mereka." ucap Yuli semangat sekali. Bahkan hanya karena melihat senyum Gino, wanita itu langsung mengartikan kalau Gino menyukai Naya.
Tetapi tiba-tiba ponsel milik Yuli berbunyi. Buru-buru wanita itu menjawabnya sambil melangkah masuk ke dalam rumah.
"Ayo masuk dulu, Gi. Sholat di sini. Sekalian mandi di sini nggak pa-pa, biar nyampe rumah enak sudah seger," ajak Budi yang kemudian mereka berdua ikut masuk ke dalam rumah.
"Aku numpang sholat saja, Bud. Soalnya kalau aku mandi aku harus ganti baju juga," kata Gino sambil menyincing lengan kemejanya, bersiap mau wudhu. Biasanya Gino selalu menyediakan baju bersih di mobilnya, tetapi untuk hari ini ia lupa membawanya.
Tak lama setelah itu Yuli muncul lagi.
"Mas, ke dokternya jadi nggak?" tanyanya kepada Budi, mengingat motor milik mereka tidak ada.
Budi nampak berpikir sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Ke dokter? Ayo aku antar." Gino menawarkan diri. Ia tahu kalau malam ini Budi dan Yuli ada janji temu dengan dokter spesialis kandungan, karena Budi sempat menceritakannya saat mengantarnya tadi.
"Ah, nggak usah, Gi, makasih. Kita bisa buat janji lagi besok," tolak Budi dengan halus.
"Nggak pa-pa, Bud. Nggak usah nggak enak gitu mukanya." Gino tetap kekeh ingin mengantar mereka ke klinik dokter yang akan mereka temui itu. Lalu Gino langsung beranjak menuju kamar mandi untuk berwudhu.
__ADS_1
Gino dan Budi adalah teman main semasa kecil di kampung mereka tinggal. Sebenarnya jarak usia Gino dan Budi cukup jauh, selisih empat tahunan. Tetapi usia tidak menjadi penghalang pertemanan mereka hingga saat ini. Cuma Budi lebih cepat ketemu jodohnya ketimbang Gino, sehingga Budi menikah lebih dulu dibanding Gino yang masih betah menjomlo di usianya yang tahun ini sudah genap tiga puluh tahun.
Padahal kalau dilihat dari garis keberuntungan masalah ekonomi jauh lebih baik Gino dari pada Budi. Pria itu saat ini bekerja di Bank, sedangkan Budi hanya pekerja tidak tetap alias serabutan. Penampilan Gino yang rapi dan menawan tentu menjadi daya pikat para cewe-cewe di tempatnya bekerja. Sayangnya tak satupun yang mampu membuat hati Gino tersentuh. Bukannya sombong dan pemilih wanita, tetapi urusan pasangan hidup Gino sudah enggan memikirkannya setelah tiga tahun yang lalu sempat gagal tunangan.
Dan rencana menyatukan Gino dengan Naya adalah memang inisiatif Budi. Itu karena Gino pernah meminta Budi mencarikan jodohnya saat beberapa hari kemarin tak sengaja bertemu. Walau Gino sudah tahu jika wanita yang ingin dikenalkan Budi kepadanya adalah janda beranak satu, tetapi Gino tidak keberatan hal itu.
Setelah Gino, Budi dan Yuli selesai sholat maghrib, mereka sama-sama keluar rumah untuk kemudian naik mobil dan segera pergi menuju klinik dokter kandungan yang sangat terkenal di kota ini.
"Gi, aku serius nanya, gimana pendapatmu tentang Naya? Kamu tertarik nggak?" Budi bertanya saat mereka masih dalam perjalanan.
Gino melirik sekilas kepada Budi yang duduk di sampingnya. Sedangkan Yuli saat ini duduk di kursi belakang mereka. Yuli nampak sibuk dengan ponselnya, sehingga tidak nimbrung satu kata pun percakapan Budi dan Gino.
"Dia dulu cerai karena apa?" tanya Gino pada akhirnya.
Budi tersenyum tipis, penasaran juga dia.
"Di selingkuhi suaminya," jawab Budi apa adanya.
"Suaminya selingkuh pasti ada faktornya dong?" Gino bertanya seperti itu karena yakin pasti ada penyebab utamanya sehingga memicu perselingkuhan dalam rumah tangga.
"Mantan suami Naya itu kerjanya sales. Tiap hari selalu ketemu dengan sales perempuan yang bahenol dan cantik-cantik. Lama-lama kepincut dengan teman kerjanya. Dan akhirnya ketahuan sama Naya, yang mau tak mau berujung cerai, karena Naya sudah terlanjur sakit hati sama perlakuannya yang tambah semena-mena sama Naya." Kali ini Yuli yang menjelaskan penyebab Naya berpisah dengan suaminya.
"Hanya karena kecantol cewek seksi maksudnya?" Gino bertanya tambah penasaran.
"Hem!" Yuli dan Budi sama-sama mengiyakan.
"Padahal kalau dia dandan, menurutku dia nggak mungkin kalah sama cewe-cewe sales itu," seloroh Gino yang tentu membuat Budi dan Yuli terperangah mendengarnya.
"Gimana Naya bisa dandan, Gi, suaminya itu pelit sama Naya. Naya jarang diberi nafkah," jelas Budi agak geram jika ingat dengan mantan suami Naya itu.
__ADS_1
Giliran Gino yang dibuat tertegun. Entahlah apa yang dipikirkannya saat ini.
"Jadi gimana menurut kamu, Gi? Sebelumnya maaf kalau aku tidak mencatikanmu perempuan yang masih ori. Nggak tahu kenapa kok aku tiba-tiba feeling kalau kamu dan Naya akan jodoh," ucap Budi dengan bertanya lagi bagaimana kelanjutan Gino mengenai Naya.
"Alamat rumahnya di mana?" tanya Gino tiba-tiba.
Tentu Budi langsung menjelaskan dengan detail alamat rumah Naya kepada Gino. Entah nanti Gino lanjut main ke rumah Naya atau tidak, semoga saja ini pertanda baik.
"Apa dia nggak ada nomor hape?" lanjut Gino.
"Nggak ada. Naya nggak punya hape. Pernah punya dulu, tapi dijual sama Naya karena butuh biaya obat anaknya." Yuli ikut menjelaskan lagi.
"Masa sampai sekarang nggak punya?" Gino masih tidak percaya. Setidaknya dengan tahu nomor hapenya, Gino bisa lanjut berkenalan dengan Naya lewat chat.
"Kalau nggak percaya coba tanya aja nanti sama orangnya langsung."
Gino manggut-manggut saja.
"Kalau kamu sampai berjodoh sama Naya, kalian pasangan serasi. Kamu tinggi, Naya juga bodynya bagus kayak model iklan sabun mandi," seloroh Budi mulai ngadi-ngadi.
"Ehem!" Spontan Yuli berdeham dengan keras. Bukan cemburu, cuma kok bisa gitu loh ngomongin bodynya perempuan lain di depan istrinya. Haddeeuh....
"Apa, Sayang. Kamu juga cantik dan seksi kok, sama-sama mirip model, tapi model iklan sabun cuci piring." Budi tertawa ngakak.
Yuli langsung meninju lengan Budi dengan keras. Pasangan suami istri satu itu memang sering saling mengejek tiap kali berguarau, tetapi tidak pernah mengurangi rasa cinta mereka berdua.
"Iya, dia-- cantik!" sahut Gino kemudian, mengakui adanya Naya yang memang memiliki tubuh tinggi proporsional bak seorang model seksi.
Tak terasa akhirnya mereka sudah tiba di tempat tujuan. Segera Budi dan Yuli turun dari mobil Gino. Mereka berdua pulangnya nanti akan naik ojol. Setelah Budi dan Yuli mengucapkan terimakasih, kemudian Gino kembali melajukan mobilnya menuju rumah.
__ADS_1
*