
Gino segera pamit pulang dari rumah pak lek Hadi begitu mendapati Naya banyak diamnya. Gino pikir pasti ada sesuatu yang sedang Naya pikirkan sekarang, dan Gino akan menanyakan itu setelah tiba di rumah saja.
Mereka tiba di rumah saat cuaca sangat terik. Lala tertidur saat ada di mobil, maka Gino membantu mengangkat tubuh Lala untuk membawanya ke kamar. Sedangkan Naya langsung masuk kamar karena ingin segera mengganti pakaiannya dengan pakaian rumahan. Tetapi di saat wanita itu akan keluar dari kamarnya, Gino mencegahnya untuk keluar.
"Tidur yuk, Dek," ajak Gino tiba-tiba.
Hari ini memang weekend, dan tidur siang akan menjadi sesuatu yang tak boleh dilewatkan oleh Gino senyampang libur bekerja.
Gino yang sebelumnya sudah sholat dzuhur di masjid saat perjalanan pulang tadi, tentunya akan merasa plong untuk menikmati tidur siangnya. Sedangkan Naya saat ini kebetulan lagi datang bulan.
Meski Naya tidak menjawab, Gino langsung menarik tangan Naya untuk kemudian sama-sama berbaring di kasur.
"Kamu dari tadi diem terus, ada yang dipikirkan?" tanya Gino to the point.
Naya berpikir lagi. Dan kali ini ia tidak akan canggung lagi untuk membahas soal anak kepada Gino. Memang selama menikah Gino tidak pernah membahas atau menanyakan kenapa Naya belum kunjung hamil. Baginya itu terlalu dini untuk Gino bahas, karena masih dua bulan juga usia pernikahannya.
Dan lagi kalau ada wanita yang tidak lekas hamil itu belum tentu masalahnya ada pada wanita itu. Bisa jadi juga karena dari si pria. Begitulah pola pikir Gino tentang kehamilan. Makanya ia tidak terlalu mempermasalahkan Naya yang masih belum hamil. Apa yang terjadi kepadanya saat ini, Gino akan senantiasa mengambil hikmah yang terbaik.
"Maaf ya, Mas," ucap Naya kemudian.
"Maaf kenapa?"
"Karena aku masih belum bisa membahagiakan kamu," kata Naya lagi.
Gino langsung maksud apa dibalik ungkapan maaf istrinya itu.
"Aku sudah sangat bahagia, Dek. Jadi kamu jangan merasa nggak enak gitu. Tuhan belum memberi kita momongan itu artinya Tuhan masih ingin kita menikmati masa bulan madu yang panjang. Hikmahnya seperti itu menurutku. Hehehe..."
Naya langsung manyun bibir mendengar ucapan suaminya. Dasar lelaki! Kenapa selalu berbinar tiap membahas tentang en4k-en4k.
"Beneran kamu nggak pa-pa? Itu tadi saja pak lek mu tanya," tanya Naya lagi sekedar memancing akan seperti apa jawaban Gino.
__ADS_1
"Wajar lah kalau beliau nanya, dan itu nggak perlu dimasukin ke hati. Kita nikah aja masih dua bulan, di luar sana banyak yang menikah bertahun-tahun belum dapat momongan contohnya Yuli sama Budi. Mereka tetap enjoy, masa kita nggak bisa contoh mereka," sahut Gino, benar-benar tidak mempermasalahkan hal itu.
Naya menghela nafas dengan lega. Dalam hati ia mulai berjanji bulan depan ia tidak akan KB lagi. Melihat cinta Gino yang tidak terbukti besar kepadanya, membuat Naya sudah bertekad bulat meski ibu mertua tetap seperti itu. Siapa tahu benar kata Yuli, Nani akan terbuka hatinya setelah mereka memiliki anak. Begitulah ucapan Yuli beberapa saat yang lalu ketika mereka saling bertemu.
"Ngelamun lagi? Mikir apa sih, Dek?" kepo Gino, ia yakin pasti masih ada hal lainnya yang diam-diam Naya pikirkan sendiri.
"Nggak ada, aku nggak ngelamun kok," dusta Naya sambil merapatkan pelukannya kepada Gino.
Gino menyambut pelukan itu dengan hangat.
"Oh ya, Mas, kalau kelak aku hamil kamu maunya punya anak cowok apa cewek?" tanya Naya mulai tertarik membahas soal anak.
Gino berpikir sambil menatap pada plafon kamar.
"Cowok sama cewek sama aja," jawab Gino kemudian.
"Kalau aku sih pinginnya punya anak cowok, karena sudah ada anak cewek," balas Naya sambil senyum-senyum sendiri membayangkan punya anak yang lengkap, cowok dan cewek.
"Tapi kalau nanti kita punya bayi aku pingin mas janji satu hal sama aku," pinta Naya dengan serius.
Gino balik menatap lekat pada netra Naya, sembari menunggu apa yang akan dikatakan olehnya.
"Kita merawat anak kita sama-sama. Intinya kerjasama. Hanya aku dan kamu yang merawat anak kita, tanpa bantuan tangan lainnya. Aku hamil itu kan juga karena kamu. Aku nggak mau kamu cuma ambil enaknya doang. Jangan cuma bikinnya aja yang kerjasama," ucap Naya.
"Pasti aku bantu lah, Dek. Bikinnya aja sampe keluar-keluar keringat, masa iya aku tega lihat kamu kerepotan sendiri urus anak kita," sahut Gino sambil mencapit hidung Naya karena gemas.
"Awas aja kalau ingkar janji," sungut Naya yang sebenarnya tidak serius mengancam Gino, karena Naya yakin suaminya itu bukanlah tipe orang yang gampang lepas tanggungjawab.
"Iya, aku janji!" Gino sampai meraih jari kelingking Naya kemudian menautkannya dengan jari kelingkingnya.
"Punya bayi itu repot loh, Mas. Harus ekstra sabar. Nggak semudah dengan kata-kata," kata Naya ingin menegaskan kalau memang memiliki bayi itu luar biasa rempongnya. Terkecuali kalau mau menyewa babysitter, tetapi sayangnya Naya tidak mau bayinya diasuh oleh tangan orang lain.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Aku tahu gimana repotnya punya bayi," balas Gino.
Soal urusan merawat bayi Gino sudah terlatih, sebab dulu ia juga ikut andil ketika Roby masih bayi.
Naya meminta Gino untuk kerjasama merawat bayinya bukan tiada alasan. Dulu saat Lala masih bayi, ayahnya Lala sama sekali tidak pernah membantu Naya sedikitpun. Semuanya seakan diserahkan sepenuhnya kepada Naya dan Rahma, sedangkan ayahnya Lala sendiri tidur dengan nyaman meski saat itu Lala rewel karena sedang sakit atau hal lainnya. Maka dari itu Naya berpesan kepada Gino sebelum terlambat, agar suaminya itu tidak memiliki sikap seperti mantan suaminya yang mau enaknya sendiri.
"Mm... Dek, bersihnya masih lama nggak sih?" tanya Gino disaat Naya akan memejamkan mata.
"Kenapa, Mas?"
"Aku jadi pingin," ucap Gino sambil mulai uyel-uyel di dada Naya.
"Pingin apa?" tanya Naya mulai was-was.
"Pingin itu..."
Tangan Gino mulai meraba ke mana-mana.
Naya mundur perlahan. Ini gawat! Andai tidak sedang palang merah, ayo gasken!
"Dek," sapa Gino dengan suara beratnya.
"Sumpah udah tegangan tinggi loh, Dek," ungkap Gino tanpa malu.
Naya terhenyak mendengarnya.
"Trus aku harus hisap gitu?"
"Kalau kamu mau, tapi kalau nggak mau bantu kocok aja deh."
"Iiiih.... Mas! Kamu meresahkan deh!"
__ADS_1
*