
Dua hari ini adalah hari yang sangat mengejutkan untuk Naya. Diawali dengan kemarin pagi, saat Wahyu dengan gamblang nya menyatakan ingin melamar Naya. Lalu berlanjut di sorenya, saat pak lek Sholeh dan orang bawaannya datang melamar yang berujung penghinaan kepada Naya. Dan sekarang, kedatangan Gino ke rumahnya yang menyatakan ingin mengenal Naya lebih jauh tanpa ada rasa canggung sama sekali.
"Apa boleh, Dek?" tanya Gino sekali lagi, setelah melihat Naya hanya terdiam.
"Untuk apa kamu ingin kenal aku? Apa tujuanmu yang sebenarnya?"
Naya bertanya seperti itu karena jujur ia minder berteman dengan Gino, karena Naya pikir Gino bukanlah orang biasa, terbukti dari fasilitas mobil yang Gino pakai saat mengantar Budi pulang kemarin. Jadi tidak salah jika Naya curiga Gino punya tujuan tertentu ingin berteman dengannya.
"Aku hanya ingin berteman denganmu," jawab Gino. Pria itu terlihat sangat tenang, mungkin karena usianya yang sudah dewasa jadi lebih mudah mengimbangi emosinya.
Naya masih berpikir keras. Tiba-tiba perasaannya galau sendiri. Kenapa juga yang menolak berteman dengan orang yang berniat baik dengannya, tetapi tetap saja Naya masih minder untuk berteman dengan Gino.
"Tapi kalau kamu tidak mau berteman denganku itu tidak apa-apa. Maaf kalau aku mengganggumu," kata Gino sambil menundukkan kepalanya.
Lalu datanglah Rahma sambil membawa teh hangat dalam nampannya. Rahma meletakkannya di meja depan Gino duduk, dan mempersilahkan Gino untuk meminumnya.
"Terimakasih, Buk," kata Gino yang kemudian mencicipi teh hangat buatan Rahma.
"Mm... Kamu temannya Naya?" Rahma bertanya sambil ikut duduk di samping Naya duduk. Karena Rahma sebelumnya tidak pernah tahu dengan pria itu.
Dulu saat Naya masih gadis, tidak ada teman lelakinya yang berani main ke sini. Dan memang Naya sendiri tidak banyak memiliki teman lelaki. Dan itulah salah satu alasan Naya tidak berani membawa Wahyu datang ke rumahnya. Naya takut Wahyu nanti ditanya-tanya seperti Gino sekarang.
"Kita kenalnya kemarin lusa," sahut Gino yang otomatis membuat kening Rahma berkerut penasaran.
"Dia temannya suaminya Yuli, Buk." Naya ikut menjelaskan.
"Ooh..." Rahma mengangguk paham.
Dari sini Rahma bisa ambil kesimpulan jika Naya kenal dengan pria itu karena dikenalkan oleh Budi.
"Nama saya Gino, Buk." Gino memperkenalkan diri kepada Rahma.
Rahma tersenyum tipis. "Saya Rahma, ibuknya Naya."
Lalu tiba-tiba muncullah Lala yang langsung ikut naik ke atas kursi panjang tempat Naya dan Rahma duduk.
"Dia ini Lala, anaknya Naya." Tiba-tiba saja Rahma mengenalkan Lala juga kepada Gino.
Seorang ibu memiliki insting jika kedatangan Gino ke sini pasti ada sesuatunya. Makanya Rahma dengan tegas mengenalkan Lala kepada Gino juga.
Gino tersenyum sumringah kepada Lala. Satu tangannya melambai menyapa Lala yang sedang berpangku kepada Naya.
Setelah itu Rahma berlalu. Kembali membiarkan Naya dan Gino mengobrol berdua.
"Anakmu lucu, Dek. Usia berapa?" tanya Gino sambil menatap kepada Lala yang terlihat santai saja meski mereka tidak saling mengenal.
"Bulan depan genap dua tahun, Mas," jawab Naya sedikit mereda rasa gugupnya.
"Hai, Om boleh kenalan nggak?" sapa Gino kepada Lala sambil mencoba meraih tangan mungil itu.
Lala tidak memberontak meski tangannya dipegang oleh orang asing seperti Gino. Dan ketika dengan beraninya Gino mencium tangan mungil Lala, bocah itu malah tertawa dengan riang.
__ADS_1
"Nabi suka mencium tangan anak kecil, Dek. Karena mereka suci, tidak memiliki dosa," kata Gino menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman kepada Naya.
Naya hanya tersenyum kikuk. Kisah itu memang benar. Naya sering melihat para habib mencium tangan anak kecil seperti yang dilakukan Gino barusan.
"Oh iya, aku dengar kamu kerja di warung bakso bareng Yuli ya?" tanya Gino membicarakan hal lainnya demi bisa mengobrol lain dengan Naya.
Naya mengangguk.
"Sudah lama?"
"Lumayan lama. Tepatnya saat aku cerai sama ayahnya Lala." Sengaja Naya menambah kalimat terakhirnya itu agar Gino dengar dengan jelas kalau wanita yang diajaknya berteman adalah seorang janda.
"Kenapa dia tidak kaget mendengar aku menyebut janda?" batin Naya kembali penasaran.
"Kamu betah kerja di sana?" Gino bertanya lagi.
"Apa dia sedang menginterogasiku?" batin Naya bertanya heran.
Tetapi kemudian Naya menganggukkan kepalanya.
Gino tersenyum tipis melihatnya. Sebelumnya Gino sudah tahu berapa gaji bekerja di warung bakso itu dari Yuli. Sangat minim dan Gino rasa tidak akan cukup meski untuk makan sebulan satu orang. Jadi, apa yang membuat Naya betah bekerja di tempat itu? Padahal Gino juga sudah tahu dari Yuli kalau Naya ini saat sekolah termasuk tiga besar juara kelas. Atas dasar kepintaran yang dimiliki Naya itu seharusnya akan mudah bagi Naya untuk mencari pekerjaan yang lebih layak daripada sebagai pelayan bakso. Minimal bekerja di toko-toko besar contohnya.
"Mas Gino sendiri pekerjaannya apa sekarang?" Naya balik tanya. Enak saja dia sudah tahu banyak tentang dirinya. Kali ini Naya juga harus tahu siapa dan seperti apa pria yang sangat ingin Budi kenalkan kepadanya selama ini.
"Aku tukang kebun, Dek," dusta Gino. Memang sengaja.
"Aku nggak percaya," sahut Naya sedikit terkekeh. Kemarin saja penampilannya rapi sekali mirip orang kerja kantoran. Walau sekarang penampilan Gino sangat santai, hanya mengenakan kaos polos dengan celana panjang. Tidak ada yang mewah dari yang dipakainya.
Gino ikut tersenyum melihat tawa kekeh Naya.
Naya hanya mencebikkan bibirnya.
"Mobil itu milik majikan aku. Kemarin itu aku habis ngantar boss ku, nggak tahunya di jalan ketemu Budi yang lagi butuh bantuan. Pekerjaanku merangkap jadi sopir juga, Dek."
Naya manggut-manggut mendengarnya. Masuk akal juga cerita Gino. Sekilas senyum tipis Naya terbit. Cowok setampan Gino ternyata tidak gengsi bekerja sebagai tukang kebun. Biasanya yang bekerja jadi tukang kebun itu kebanyakan sudah bapak-bapak.
"Mm... Dek Naya apa punya nomor hape? Aku boleh minta nggak? Maksudku kita tukeran nomor hape, boleh?" tanya Gino mulai lebih berani.
Naya menggeleng kepalanya. "Maaf, Mas, aku nggak punya hape," kata Naya dengan kalem.
Gino tercengang sesaat. "Masa sih, Dek?"
Mana ada jaman modern seperti ini ada orang yang masih tidak punya handphone. Minimal handphone jadul lah kalau memang tidak punya yang android.
"Kamu nggak percaya?"
Gino mengangguk. Ia memang tidak percaya. Meski Yuli juga bilang kalau Naya tidak punya handphone, tetapi siapa tahu selama ini Naya sengaja berbohong. Itu menurut Gino.
"Dulu aku punya hape, Mas. Tapi itu dulu, pas aku masih belum cerai. Tapi setelah itu aku jual. Anakku sakit-sakitan. Aku butuh uang buat berobat Lala. Makanya aku jual." Cerita Naya apa adanya. Seakan tidak canggung lagi bercerita kepada pria yang baru dikenalnya itu.
"Apa nggak beli lagi? Hape itu kebutuhan loh, Dek."
__ADS_1
Naya kembali menggeleng.
"Nggak pingin beli, Mas. Memang hape itu kebutuhan, cuma aku ingin menghindari fitnah. Aku tidak mau orang-orang salah sangka. Jadi janda itu beban berat, Mas. Dikit-dikit diomongin orang. Makanya aku sebisa mungkin menghindari hal yang bisa berdampak buruk ke aku."
Gino hanya terdiam mendengar penjelasan Naya. Pria itu sedikit merasa tersentil dengan ungkapan Naya yang ingin menghindari fitnah. Apa kabarnya dengan dirinya yang main datang ke rumah Naya tanpa memberi kabar sebelumnya kepada Naya?
"Dek Naya, aku minta maaf," ucap Gino merasa tak enak sendiri.
"Minta maaf soal apa, Mas?"
"Karena aku sudah lancang main datang ke rumahmu tanpa bilang dulu sama kamu," jawab Gino sambil menatap tepat di netra hitam Naya.
"Kenapa tatapannya teduh sekali?" batin Naya seperti terpana dengan tatapan mata Gino.
"Apakah tetanggamu julid semua, Dek?" Gino sedikit memelankan suaranya saat bertanya itu.
Naya tertawa kecil lagi.
"Setahuku tidak. Tapi hati orang siapa yang tahu, mana yang suka sama aku mana yang tidak suka."
Gino tersenyum mendengar jawaban Naya. Itu benar. Dalamnya laut masih bisa diukur, tetapi dalamnya hati orang siapa yang tahu?
Adzan maghrib berkumandang. Gino menoleh keluar rumah, melihat ke arah suara toa masjid yang berbunyi tak jauh dari rumah Naya.
"Rumah kamu dekat masjid ya?" tanya Gino.
Naya mengangguk. Dalam hati sebenarnya Naya bertanya-tanya sendiri, nih orang kapan pulangnya, sudah maghrib begini lagi.
"Aku mau sholat di masjid, Dek. Sekalian aku pamit pulang," kata Gino kemudian.
"Iya, Mas."
"Ibu mana?"
Naya melongo mendengar Gino bertanya ibunya.
Tetapi kemudian Gino tersenyum, melihat wajah Naya yang kebingungan rasanya kok menggemaskan menurut Gino.
"Ya sudah, titip salam sama ibu, Dek. Aku pamit pulang." Lalu Gino beranjak berdiri dari tempatnya.
Kemudian pria itu mengulurkan tangannya kepada Naya. Wanita itu menyambutnya sedikit canggung.
"Kapan-kapan boleh lah aku main ke sini lagi. Assalamu'alaikum, dek Naya," ucap Gino yang kemudian keluar dari rumah Naya.
Naya masih tercengang di tempatnya.
"Apa! Mau datang ke sini lagi?" batin Naya terheran-heran.
"Wa'alaikumsalam..."
Bukannya Naya yang menjawab salam Gino, tetapi Rahma yang menjawabnya. Kebetulan Rahma sedang bersiap akan sembahyang ke masjid. Ia mendengar Gino mengucap salam, tetapi tidak dijawab oleh Naya.
__ADS_1
"Sholat maghrib, Nay." Rahma sengaja menepuk lengan Naya sedikit keras. Begitu mendapati Naya yang cuma terbengong menatap kepergian Gino yang menuju ke jalan masjid.
*