Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 102


__ADS_3

Sedangkan keadaan di rumah Suryo sore itu, Nani sedang duduk di ruang tengah dengan wajah yang lesu. Dari pagi wanita paruh baya itu nampak tidak berselera makan, entah apa penyebabnya. Dan Mila kebetulan sedang pergi ke rumah orang tuanya bersama Agus. Di rumah itu hanya ada Suryo dan Nani. Kedua anak Agus sedang main ke rumah temannya dari siang tadi.


"Kamu belilah jajanan di luar kalau tidak selera makan nasi. Apa perlu aku telponkan Gino?" ucap Suryo kepada Nani.


Pria itu menyinggung nama Gino karena biasanya tiap hari minggu begini Gino akan datang ke rumah mereka. Tetapi tumben hingga sore begini Gino tidak datang. Biasanya anaknya itu akan selalu telpon untuk mengabari jika memang tidak bisa datang.


"Nggak usah telpon Gino. Biar saja. Lagian ini sudah hampir pukul empat," sahut Nani.


Terkesan seperti tidak apa-apa meski Gino tak datang kali ini, tetapi bahasa matanya berbicara lain. Karena setelah mengatakan itu, wajah Nani langsung menoleh ke luar jendela. Berharap anak kesayangannya itu datang walau sebentar.


"Atau mau titip sesuatu sama Agus?" tawar Suryo lagi.


Setelah Nani sempat dilarikan ke rumah sakit beberapa waktu lalu, membuat Suryo lebih protektif kepada istrinya.


Nani menggeleng. Akan tetapi setelah itu terdengar deru mesin mobil yang masuk ke halaman rumah mereka. Nani tersenyum tipis, karena sudah bisa menebak kalau yang datang itu adalah Gino. Sedangkan Suryo langsung beranjak dari tempatnya, pergi ke teras depan untuk menyambut Gino. Pria tua itu selalu berharap setiap Gino datang akan membawa Naya dan Lala juga. Akan tetapi saat ini Suryo harus menelan kekecewaan lagi setelah melihat Gino hanya keluar seorang diri dari mobilnya.


"Bawa apa itu, Gi?" tanya Suryo setelah melihat Gino membawa sebuah kotak yang berukuran agak besar.


"Ini kue, Yah," sahut Gino, yang kemudian mereka berdua sama-sama masuk ke dalam rumah.


"Kebetulan sekali, ibu kamu dari pagi tidak selera makan. Beruntung kamu bawa kue. Habis ada acara apa?" tanya Suryo.


Gino tidak menyahut. Pria itu malah tersenyum manis melihat ibunya yang juga tersenyum kepadanya.


"Gimana keadaannya, Bu, sehat?" sapa Gino kepada Nani, sambil kemudian bersalaman kepadanya, setelah sebelumnya meletakkan kotak kue itu di meja depan Nani duduk.


"Alhamdulillah. Ibu pikir kamu tidak datang hari ini," ucap Nani.


Gino menanggapi dengan tersenyum lagi. Kemudian pria itu beranjak ke dapur untuk mengambil piring sebagai tempat kue itu.


"Yang lain ke mana, Bu? Kok sepi?" tanya Gino sekembalinya dari dapur.


"Agus ke rumah mertuanya sama Mila. Putra Roby seperti biasa kalau minggu begini main-main ke rumah temannya," jelas Nani.


"Kenapa kamu banyak kuenya, Gi? Ada acara apa emang?" tanya Suryo masih penasaran.


Nani melongo melihat ke isi kotak itu.


"Ibu mau makan kue lapis," kata Nani yang kemudian mengambil satu kue dengan corak warna-warni itu dan kemudian memakannya.


"Ayah, silahkan di makan kuenya," ucap Gino setelah selesai memindah beberapa kuenya ke piring.


Suryo mengambil satu kue yang rasanya sedap. Sambil mengunyah kuenya, mata Suryo terus melirik kepada Gino yang nampak gelisah, terlihat dari pergerakan tangannya yang terus memainkan jari-jarinya.


Karena menaruh rasa curiga, akhirnya Suryo memiliki ide untuk memancing Gino agar mau berterus terang. Pria itu pun beranjak ke dapur, dan setelahnya memanggil Gino pura-pura meminta bantuan.


Gino yang mendengar dipanggil ayahnya, maka ia pun langsung menemuinya. Sedangkan Nani terlihat suka dengan jajanan yang dibawa Gino. Tak terasa wanita itu sudah habis dua kue yang di makan, efek dari pagi seleranya hambar.

__ADS_1


"Ada apa, Yah?" tanya Gino.


Suryo hanya melambaikan tangannya, kode agar Gino lebih mendekat kepadanya.


"Di rumah kamu ada acara?" selidik Suryo to the point.


Gino langsung mengangguk. Karena dari dulu ia memang lebih terbuka kepada Suryo daripada kepada Nani.


"Acara apa? Kok ayah tidak tahu? Tumben sebelumnya kamu nggak ngomong ke ayah, biasanya selalu minta pendapat ayah kalau mau ada apa-apa," ucap Suryo bercampur nada protes.


"Mm... Acara empat bulanan Naya, Yah," jelas Gino dengan suaranya yang diperkecil.


"Kok kamu tidak ngomong ke ayah, Gi?!"


Tentu Suryo kecewa setelah tahu dirinya tidak diberi kabar dengan momen penting untuk calon cucunya. Setidaknya Suryo bisa ikut mendoakan langsung di acara itu.


"Maaf, Yah. Semuanya mendadak. Aku pikir tasyakuran kandungan Naya masih minggu depan, tak tahunya ibu minta dimajukan karena barengan dengan acara sholawatan di rumah ibu," jelas Gino.


"Jadi acaranya di rumah mertua kamu?" tanya Suryo tambah heran karena bisa-bisanya besan lelakinya juga tidak memberitahu kepadanya.


Gino mengangguk.


"Ayah memanggilku ke sini mau minta tolong apa?"


"Tidak ada!" sahut Suryo sedikit ketus.


"Ooh... Kalau gitu aku ke depan lagi, Yah. Ibu takut curiga kalau kita lama-lama di sini," ucap Gino.


"Kamu masih mau merahasiakan sama ibumu? Sampai kapan?" tanya Suryo dengan serius.


"Aku-- mau memberitahu ibu. Sekarang," sahut Gino sedikit gugup karena hatinya yang sudah cemas duluan membayangkan reaksi Nani akan seperti apa setelah tahu kehamilan Naya.


Suryo tersenyum lega. Pria tua itu mendekat kepada Gino, kemudian menepuk bahu Gino berulang-ulang.


"Ayo, ayah akan temani kamu. Kalau ibumu msu marah, biar ayah yang jadi pawangnya. Hahaha..." kata Suryo mencoba menyemangati Gino agar tidak mundur lagi.


Lalu mereka berdua pergi ke ruang tengah, di mana Nani masih duduk di sana.


"Kuenya tidak di makan lagi, Bu?" ucap Gino ketika ia sudah duduk lagi bersama mereka.


"Sudah cukup, Gi. Ibu sudah makan dua kue. Rasanya enak. Kamu beli di mana?"


"Kue yang mana, Bu? Kalau kue basah ibu semua yang buat," jelas Gino mulai terbuka perlahan.


"Ooh... Kue lapis ini ibu mertua kamu yang buat?" Nani sedikit kaget. Bukan menyesal karena sudah tahu siapa yang buat, tetapi rasanya memang enak di lidah.


"Iya, Bu. Tapi kalau kue brownies itu Naya yang buat," jelas Gino lagi. Karena tadi ia melihat Nani juga memakan kue brownies nya.

__ADS_1


"Wah... Benarkah, Gi? Berarti mantu ayah pinter buat kue. Rasanya pasti enak tuh!" Kemudian Suryo mengambil satu potong kue brownies yang kata Gino itu Naya yang membuatnya.


Nani hanya diam, tidak berekspresi apa-apa lagi.


"Tumben bikin kue banyak begini, ada apa, Gi?" Suryo mulai memancing omongan agar Gino tidak menunda-nunda nya lagi.


"Tadi di rumah ibu ada acara sholawatan rutinan. Mm... Sekaligus tasyakuran empat bulan kandungan Naya," jujur Gino pada akhirnya.


"Naya hamil, Gi? Alhamdulillah..." seru Suryo dengan riang. Meski ia sudah tahu kabar ini sebelumnya, tetapi yang Suryo rasakan saat ini benar-benar senang.


"Empat bulan?" tanya Nani.


Gino dan Suryo sama-sama menatap kepada Nani.


"Iya, Nani. Tak lama lagi kita akan memiliki cucu, anaknya Gino. Ya Allah... Ayah senang sekali mendengar ini, Gi," ucap Suryo lagi, semakin menyemangati Gino dengan kata-kata yang ia ucapkan.


"Kenapa ibu baru tahu sekarang?" tanya Nani tiba-tiba.


Sebenarnya wanita itu sudah curiga pada saat pernikahan Agus dan Mila. Padahal ia sudah bertanya sendiri pada Naya saat itu, tetapi jawaban Naya katanya tidak sedang hamil. Dari sini, setelah mendengar kabar ini, Nani merasa semua itu memang sengaja disembunyikan darinya.


"Ibu," sapa Gino, membuat Nani yang sedang melamun seketika terkesiap.


"Aku-- minta maaf. Aku bukan maksud memberitahu ibu belakangan," ucap Gino.


"Ayah juga kamu baru beri tahu," sela Suryo. Pria itu sengaja berkata seperti itu agar Gino tidak dicari kesalahannya lagi oleh Nani.


"Iya, maaf, Ayah," ucap Gino sambil menoleh kepada ayahnya.


Suryo tersenyum lebar. Pria tua itu ternyata pintar main akting juga.


"Tidak apa-apa. Sementara kesalahan kamu yang ini kita maafkan. Karena kamu datang memberi kabar yang sangat membahagiakan kita. Iya tidak, Nani?"


Suryo sengaja memancing bicara Nani. Ingin tahu seperti apa respon istrinya dengan pertanyaannya itu.


Tak disangka, Nani ternyata menganggukkan kepalanya.


Gino tersenyum bahagia. Kedua matanya seketika mengembun, merasa terharu. Apakah ini pertanda ibunya sudah mulai merestui dirinya dengan Naya?


"Ibu," sapa Gino lagi.


Kali ini pria itu duduk bersimpuh tepat di depan lutut Nani.


"Do'akan kami, Bu. Do'akan istriku, anakku, supaya nanti terlahir sehat dan selamat," pinta Gino dengan sungguh-sungguh. Mata pria itu sudah berkaca-kaca.


"Iya," sahut Nani sangat singkat.


Entahlah, wanita itu masih pelit bicara bila menyangkut dengan Naya. Tetapi sejujurnya hati kecilnya tidak dapat berdusta jika ia juga bahagia mendengar Gino akan memiliki anak.

__ADS_1


*


__ADS_2