Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 38


__ADS_3

Gino menoleh kepada seseorang yang memanggilnya. Rupanya dia adalah Rahma.


"Ibu!" Gino langsung meraih tangan Rahma untuk bersalaman.


"Gimana Dek Naya sekarang? Dia kenapa bisa ada di sini?" tanyanya kepada Rahma. Wajahnya kentara cemas sekali.


Rahma tersenyum sekilas.


"Naya tidak apa-apa, Nak," kata Rahma yang seketika Gino menghentak nafas lega.


"Sekarang dia dirawat di mana? Aku ingin bertemu dia, Ibu," ucap Gino lagi.


Rahma terkekeh sendiri. Gino langsung menyorot heran.


"Nak, Naya sehat-sehat saja. Yang dirawat di sini itu Lala, anaknya Naya," kata Rahma menjelaskan.


Seketika Gino tercengang kaget. Meski bukan Naya yang sakit, tetapi kabar itu juga membuat Gino kaget mendengarnya.


"Ayo ibu antar."


Lalu mereka berdua berjalan beriringan menuju kamar Lala dirawat. Bocah itu sejak bangun tidur tadi mengalami muntah-muntah. Awalnya dianggap muntah karena masuk angin oleh Naya dan keluarganya. Tetapi hingga sampai matahari terbit gejala yang dialami Lala tidak mau berhenti. Karena dikhawatirkan bocah itu akan dehidrasi karena kekurangan cairan, akhirnya Naya memutuskan untuk membawanya ke UGD rumah sakit.


Hidup Lala memang ringkih sejak bayi. Entah akan sampai kapan bocah itu bisa hidup sehat dan tidak sakit-sakitan lagi. Memang sakit itu sudah kodrat manusia, akan tetapi Lala terlalu sering mengalaminya. Dan baru kali inilah Lala dibawa dan dirawat di rumah sakit. Itu karena Naya sudah tidak tega melihat Lala muntah-muntah seperti tadi. Biasanya Lala cukup dibawa periksa ke dokter umum, atau paling mahal diperiksa ke dokter spesialis anak jika obat dari dokter yang awal sudah tidak mempan. Tetapi yang terjadi tadi pagi sungguh membuat Naya nekat membawa Lala ke rumah sakit, walau nyatanya Naya sendiri tidak memiliki tabungan banyak untuk bayar biaya perawatannya.


Saat ini Rahma dan Gino sudah masuk ke kamar kelas tiga tempat Lala dirawat. Di ruangan itu ada enam bad pasien yang semuanya penuh orang sakit. Jadilah keadaan di kamar itu ramai oleh orang-orang yang datang menjenguk, membuat Gino seketika merasa kasihan membayangkan Lala tidak akan nyaman berada di kamar ini.


"Naya," sapa Rahma kepada Naya yang saat itu sedang tidur sambil berbantal lengannya.


Naya yang tidak benar-benar tidur, langsung terjaga.


"Mas Gino?" kaget Naya melihat Gino ada bersama Rahma.


"Dek, Lala sakit apa?" tanya Gino langsung.


Saat ini Lala sedang tidur dengan selang infus yang tertancap di tangannya. Membuat ekspresi Gino langsung sendu saat melihatnya.

__ADS_1


"Sakit biasa, Mas," sahut Naya dengan santai, tetapi tidak menutupi rasa sedih di wajahnya.


Gino terheran mendengar istilah sakit biasa yang dikatakan Naya. Apakah selama ini Lala memiliki riwayat penyakit akut menurutnya?


"Lala memang sering sakit-sakitan, Nak. Tapi cuma baru kali ini Lala dirawat di sini," jelas Rahma kepada Gino.


Perlahan Gino mencondongkan wajahnya ke wajah Lala. Lalu tanpa sungkan ia mencium pipi Lala di depan Naya dan Rahma. Pipi bocah itu terasa sedikit hangat, pertanda kondisinya masih belum begitu pulih.


Rahma yang melihat adegan itu seketika matanya langsung mengembun. Rasanya terharu melihat Gino yang begitu menyayangi Lala yang sebenarnya bukan siapa-siapa untuk Gino. Sedangkan ayah kandung Lala sendiri tidak tahu menahu dengan Lala setelah mereka bercerai. Kemudian Rahma memilih keluar dari kamar itu. Ia takut matanya yang mulai menitikkan air mata diketahui oleh Naya atau pun Gino.


"Dek, sebaiknya Lala jangan dirawat di kamar ini. Ini pasti tidak nyaman untuk Lala," kata Gino kemudian. Tangannya masih terus saja menggenggam tangan mungil Lala.


Naya hanya merespon dengan tersenyum tipis.


"Nggak pa-pa, Mas, Lala di sini. Toh besok aku akan membawanya pulang," ucap Naya.


"Apa itu sudah rekom dari dokternya?" tanya Gino.


Naya menggeleng perlahan.


"Aku tetap akan membawa Lala pulang, Mas. Biar nanti berobat jalan saja."


"Jangan, Dek, kasihan Lala. Dia butuh perawatan khusus sampai benar-benar sembuh."


"Iya, aku tahu. Tapi-- bagaimana dengan acara minggu besok?"


Gino terdiam seketika. Ia baru nyambung kalau minggu besok ia dan keluarganya akan datang ke rumah Naya untuk acara pertunangan. Akhirnya Gino hanya bisa garuk-garuk kepala sendiri. Keduanya sama-sama penting untuk Gino. Melamar Naya adalah impiannya, dan tidak akan pernah ia undur walau apapun rintangannya. Tetapi melihat kondisi Lala juga tak kalah penting baginya. Sungguh, Gino telah benar-benar menganggap Lala seperti anak kandungnya sendiri, walau hubungan dirinya dengan Naya masih sebatas calon tunangan.


"Atau-- kalau kamu mau acara minggu ini mundur aku--"


"Tidak! Jangan diundur, Sayang. Jangan dong..."


Gino langsung menolak tegas usulan Naya yang sebenarnya asal keluar. Pria itu pun pindah tempat berdampingan dengan Naya. Tangannya meraih tangan Naya, kemudian menggenggamnya dengan erat.


"Dek, tolong jangan diundur ya?" mohon Gino takut Naya berubah pikiran.

__ADS_1


Melihat tampang Gino yang memelas, senyum kecil Naya seketika terbit. Merasa lucu bercampur gemas melihat pria dewasa merengek didepannya.


"Haduh! Kita ganggu nggak nih?"


Tetiba ada Yuli dan Budi datang untuk menjenguk Lala.


Gino dan Naya sama-sama menoleh, tetapi pria itu tetap saja tidak mau melepas genggamannya.


"Ehem! Kita keluar dulu yuk, Sayang. Sepertinya kita mengganggu acara mereka," celetuk Budi sambil melirik ke arah tangan Gino dan Naya.


Naya langsung paham dengan lirikan Budi. Seketika wanita itu melepas tangan Gino dari tangannya.


"Eh, jangan! Kalian nggak ganggu siapa-siapa," ucap Naya menahan malu, karena pipinya mulai bersemu merah.


"Beneran nggak ganggu?"


"Nggak!" sahut Gino agak ketus, tetapi Yuli dan Budi paham jika itu cuma candaan dan tidak serius.


"Mm.. Dek, aku mau ke kamar mandi dulu ya," pamitnya meninggalkan Naya dan Yuli juga Budi di kamar itu.


Di luar kamar Gino bertemu dengan Rahma yang terlihat sedih. Wanita itu sedang duduk seorang diri, dan Gino tahu jika calon ibu mertuanya itu habis menangis.


"Ibu," sapa Gino kepada Rahma.


"Ibu tidak kenapa-napa?" tanyanya yang kemudian ikut duduk bersama Rahma.


"Nggak, Nak. Ibu tidak kenapa-napa," jawab Rahma kentara bohong.


Gino mengangguk saja. Tetapi ia tahu jika Rahma sedang bersedih. Entah apa yang sedang dipikirkannya, tetapi Gino sangat ingin membantu andai Rahma mau menceritakannya.


"Ee... Kamu mau ke mana?" tanya Rahma kemudian.


"Aku mau kd kamar mandi, Buk. Sekalian mau sholat, masih belum sholat ashar soalnya."


"Loh, buruan sana kalau masih belum sholat ashar kenapa dari tadi santai sekali?" sungut Rahma.

__ADS_1


Gino yang mendengar itu hanya bisa nyengir. Tetapi ia bersyukur memiliki calon ibu mertua yang bisa mengingatkannya soal kewajiban agama. Maka kemudian Gino pergi ke musholla yang ada di rumah sakit itu.


*


__ADS_2