
Gino hanya bisa tersenyum saat Naya mengaku jika ia benar-benar lupa dengan handphonenya. Dan lagi wanita itu bilang jika handphonenya masih ada di kamarnya dari semalam.
"Ya sudah, aku itu kepikiran, Dek. Semalam aku chat kamu, tapi sampai pagi kamu nggak baca. Sampai siang aku telpon hape kamu tetap nggak aktif," seru Gino dengan sendu.
"Iya, aku minta maaf sekali, Mas. Aku benar-benar lupa. Trus Lala juga pagi itu muntah-muntah, jadi aku tambah lupa."
Perlahan Gino meraih tangan Naya, kemudian menggenggamnya.
"Aku pikir kamu akan menghindariku karena masalah semalam," ucap Gino dengan tatapannya yang teduh.
Naya tersenyum getir mengingat kejadian semalam. Ah, semoga Gino tidak memintanya untuk menceritakannya, karena jujur Naya sudah enggan untuk membahasnya.
Memang semalam Naya berkeinginan untuk segera membicarakannya dengan Gino. Tetapi setelah melihat sikap Gino selama ada di rumah sakit, perhatiannya yang benar-benar tulus kepada Lala, rasa hormat Gino kepada kedua orang tuanya, sudah cukup membuat hati Naya tidak ragu lagi kepadanya. Menolak Gino seperti ia membuang kesempatan bagus untuk kehidupannya. Maka sudah seharusnya Naya membalas semua itu dengan rasa cintanya.
Pria itu telah benar-benar berhasil memiliki hati Naya dengan mudah. Menaklukkan Naya cukup dengan ikut menyayangi Lala. Karena komitmen Naya diawal, ia tidak akan menikah lagi jika orang itu tidak bisa menerima Lala sebagai anaknya. Walau kesannya agak mustahil mencari orang yang mau menerima keadaan dirinya, tetapi ternyata Tuhan menjawab do'a Naya melalui kehadiran Gino dalam hidupnya.
"Sudah lah, Mas, jangan bahas yang semalam. Aku malas!" sahut Naya dengan tegas.
Gino menatap Naya lebih lekat. Ia takut yang diungkapkan Naya itu hanya sekedar di mulut, tetapi hatinya menyimpan dendam.
"Aku tahu apa yang terjadi sama kamu semalam. Kalau kamu tidak mau menceritakannya tidak apa-apa. Cuma aku ingin memastikan perasaan kamu, apa kamu baik-baik saja? Katakan saja kalau ada yang mengganjal di hati kamu, Dek," ucap Gino masih belum puas kalau Naya tidak mengatakan apa yang dirasakannya sekarang.
"Nggak pa-pa, Mas. Namanya orang hidup pasti ada yang suka dan tidak. Apalagi dengan status aku yang begini, janda yang sudah punya ekor," ungkap Naya meniru ucapan Wulan yang menyamakan Lala sebagai ekor Naya.
Naya tertunduk mengatur nafasnya yang kembali sesak jika ingat hinaan Wulan semalam.
"Dek, tolong jangan bicara seperti itu. Aku tidak suka kamu bicara seperti itu!" Gino semakin mengeratkan genggaman tangannya.
"Aku memilihmu dengan ikhlas. Aku siap menerima kamu apa adanya kamu, termasuk Lala. Jadi aku mohon kamu jangan pernah bicara seperti itu lagi," ucap Gino dengan tulus.
Naya hanya bisa tersenyum tipis mendengar ungkapan Gino.
"Terimakasih, Mas, kamu sudah memilihku dengan keadaanku yang seperti ini. Tapi--"
Naya menjeda bicaranya, Gino mulai menatap penasaran kelanjutan bicara Naya dengan hati yang kembali cemas.
"Apa aku tidak sedang merebut kamu dari wanita lain?"
"Hah?"
Seketika Gino tergelak mendengar pertanyaan Naya.
"Dijawab, Mas, jangan pura-pura kaget," celetuk Naya menganggap Gino hanya akting.
Lalu Gino merogoh dompetnya dari saku celananya. Pria itu mengeluarkan KTP miliknya dan menunjukkannya kepada Naya.
"Lihat, Dek, statusku masih perjaka. Belum pernah menikah. Itu artinya aku masih single," kata Gino dengan tegas.
"Pacar masa nggak punya?" selidik Naya, mengira Wulan adalah pacar Gino atau paling tidak mantan pacar yang tidak terima ditinggal putus.
"Nggak ada!"
"Mantan pacar yang masih cinta mungkin?"
__ADS_1
"Nggak ada mantan pacar. Aku-- sudah lama hidup jomlo," jelas Gino. Semoga saja Naya tidak bertanya panjang tentang masa lalu Gino yang pernah gagal tunangan.
"Terakhir kapan punya pacar?"
"Sudah lama. Sekitar-- Sudah lebih tiga tahun mungkin."
"Putusnya karena apa?"
"Astaga! Kenapa dia tiba-tiba mewawancaraiku begini?" batin Gino bermonolog.
Meski begitu memang seharusnya antara mereka sudah tidak ada yang perlu dirahasiakan. Karena Gino juga pernah meminta Naya untuk saling terbuka satu sama lain. Jika itu kisah masa lalu, tetap akan menjadi cerita masa lalu saja. Sekedar pelajaran untuk hidup agar bisa mengambil hikmah yang tepat dari kejadian yang lalu.
"Serius kamu mau tahu alasan aku putus sama dia?" Gino malah balik bertanya, sebenarnya hanya mengulur-ulur waktu saja.
Naya mengangguk semangat.
"Ayo... Cerita dong, Mas. Kamu sudah tahu masa laluku, jadi aku juga ingin tahu cerita kamu."
"Ceritaku menyedihkan, Dek. Aku pernah ditinggal minggat sama calon tunangan," aku Gino dengan jujur.
Naya melongo mendengar cerita Gino. Sungguh ia tidak menyangka ada seorang wanita yang tega meninggalkan pria sebaik Gino.
"Aku ditinggal karena aku memang ngaku kerja jadi tukang kebun sama dia. Mungkin dia tidak pede punya tunangan yang bekerja seperti itu," jelas Gino.
"Padahal sebenarnya aku cuma ngetes aja. Ternyata dia tidak benar-benar tulus suka sama aku," lanjutnya.
Dari ini Naya paham mengapa awal-awal kenal Gino juga mengaku bekerja sebagai tukang kebun kepadanya. Ternyata itu memang tak-tik pria itu tiap kali mendekati wanita yang ingin ia pilih sebagai pasangan hidupnya.
"Dan-- hikmah dari cerita itu yaitu aku di pertemukan sama kamu." Gino mengatakannya sambil menangkup pipi Naya dengan kedua tangannya. Gemas pingin cium, tapi takut Naya marah kalau sampai kejadian.
Kemudian Naya mengambil KTP Gino yang teronggok di meja. Ia mencermati nya sambil senyum-senyum sendiri. Rasanya tidak menyangka dirinya yang janda bisa memiliki calon yang masih perjaka. Jika begini rasanya ingin sekali Naya pamer pada mantan suaminya. Sebab dulu saat Naya menggugat cerai, mantan suaminya itu pernah jumawa kepada Naya kalau laki-laki bisa memilih wanita cantik dan yang masih perawan meskipun sudah duda. Dengan sombongnya pula mantan suami Naya juga mengatakan jika wanita janda ujung-ujungnya pasti akan dapat jodoh pria tua. Kalau pun dapat yang seumuran pasti itu hasil dari merebut suami orang. Begitulah hinaan mantan suami Naya kepadanya yang tak mungkin ia lupakan seumur hidupnya.
"Kenapa senyum-senyum, terpesona ya lihat fotoku?" goda Gino kepada Naya.
Naya langsung mencebikkan bibirnya dan meletakkan KTP Gino di meja.
"Biasa aja!" sahut Naya, padahal sebenarnya hatinya mengagumi ketampanan pria di depannya itu.
Ketampanan Gino awet dan terawat. Mungkin karena ia selama ini bekerja enak dan memang dituntut untuk selalu good looking. Ah, entahlah! Melihat itu semua rasanya Naya bisa pamer bojo di depan mantan suami nanti. Hahaha...
"Ayo kita pulang, Mas," ajak Naya kemudian.
"Tunggu sepuluh menit lagi lah," tolak Gino. Ia memang masih ingin berlama-lama dengan Naya, mumpung tidak pulang ke rumah.
"Mas," Naya memohon.
Wanita itu sejujurnya kepikiran dua adiknya di rumah. Belum lagi Fifi. Ia takut Fifi akan diam-diam mengajak Irwan main ke rumah. Mengambil kesempatan mumpung tidak ada orang rumah. Karena setahu Naya, Fifi termasuk gadis yang nekat.
"Oke, asal ada syaratnya!" ucap Gino tiba-tiba ada ide untuk mengerjai Naya.
Naya menatap jengah. Sumpah ini orang makin ke sini makin banyak maunya. Tetapi Naya suka.
"Panggil aku sayang dulu," pinta Gino dengan pedenya.
__ADS_1
Naya melotot tak percaya. Dasar modus!
"Nggak mau? Ya sudah aku ganti syaratnya kalau begitu."
Lalu Gino menunjuk pipinya menggunakan jarinya.
"Nggak mau panggil sayang, maka harus ganti dengan sayang di pipi," ucapnya tambah ngelunjak.
Spontan Naya bertambah melototkan matanya.
"Nggak! Bukan muhrim!" tolak Naya sambil kemudian beranjak berdiri dari tempatnya.
Gino terkekeh lucu melihat Naya. Memang menolak, tetapi rona pipinya tidak bisa mengelak jika Naya sedang menahan malu.
"Iya deh," ucap Gino pura-pura pasrah, tetapi tangannya menahan tangan Naya untuk beranjak.
Seketika Gino mencium tangan Naya cukup lama, membuat wanita itu seketika mematung mirip orang kesetrum yang sudah tidak bisa bergerak lagi.
"Tenang, Nay, tetap tenang jangan gugup! Kamu bisa malu-maluin kalau begini." batin Naya mengumpat diri sendiri yang merasa jantungnya mulai tidak aman karena ulah Gino.
Gino yang melihat Naya tertegun hanya bisa mengulas senyum bahagianya. Kemudian pria itu berdiri, dan Naya mulai tersadar dengan keterpesonaannya kepada Gino.
"Ayo, sayang," kata Gino tanpa canggung lagi.
Naya pasrah saja saat pria itu menuntunnya hingga kemudian kembali masuk ke mobilnya. Kemudian mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan menuju pulang.
"Sekarang hari apa, Dek?" tanya Gino disaat mereka masih dalam perjalanan.
"Malam sabtu. Kenapa, Mas?"
"Aku tidak sabar menunggu hari minggu. Hehe..."
"Memang hari minggu ada apa?" Naya balik menggoda Gino dengan berpura-pura lupa dengan acara minggu besok.
"Dek Naya sayang....." Gino melirik gemas kepada Naya, yang ia tahu kalau Naya sedang menggodanya.
"Apa? Ada yang salah?" Naya semakin tertarik untuk mengerjai Gino.
"Ah, ya sudah lah! Pokoknya hari minggu aku mau tag tanggal buat pernikahan kita!" Gino balik mengerjai Naya.
"Loh, katanya mau menungguku siap?"
"Kapan aku bilang seperti itu?"
"Mas Ginooooo!!!"
"Apa, Sayang?"
"Tauk ah!"
"Ya sudah!"
"Iiiih... Nyebelin!"
__ADS_1
Seketika Gino tertawa ngakak. Kenapa Naya selucu itu kalau sedang ngambek?
*