Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 131


__ADS_3

Nani langsung berhambur mendekati Naya yang masih berdiri di tempatnya. Rasanya Naya masih tidak percaya melihat reaksi ibu mertuanya yang sangat senang dengan kedatangannya. Wanita tua itu langsung mengambil Nana dari gendongan Naya, sorot mata Nani sangat jelas sedang mengembun terharu.


"Oh, cucuku cantik sekali!" seru Nani sambil tersenyum bahagia melihat wajah Nana yang kebetulan sedang tidak tidur.


Celotehan khas bayi berusia tiga bulan ketika diajak berbicara membuat bayi itu tambah menggemaskan. Sampai-sampai Nani terus menciumi pipi gembul Nana dihadapan Naya dan Gino.


Gino langsung merangkul pada pundak Naya, dengan wajahnya yang full senyum. Rasanya bahagia luar biasa mendapati ibunya yang ternyata sangat menyambut dengan kedatangan Nana.


Sedangkan Nani sendiri sudah masuk ke dalam rumah sambil membawa Nana, sampai-sampai lupa tidak mengajak Gino dan Naya masuk juga. Suryo yang melihat pemandangan bahagia itu tentunya ikut merasa bahagia sekali. Bersyukur sekali jika Nani benar-benar menerima Nana sebagai cucunya.


"Ayo masuk, Dek Gino, Dek Naya," ajak Mila kepada Naya dan Gino.


Istrinya Agus itu entah mengapa masih belum juga melahirkan, padahal seingat Naya HPL kandungan Mila seharusnya bulan kemarin.


"Iya, Mbak," sahut Gino. Dan Naya hanya tersenyum tipis kepada Mila.


Lalu Mila ikut masuk ke dalam rumah. Menyusul kemudian Suryo yang sebelum itu tersenyum lebar kepada Naya dan Gino sambil melambaikan tangannya mengajak Naya dan Gino segera masuk, mengingat waktu adzan maghrib sudah kurang sepuluh menitan.


"Ayo, Dek!" ajak Gino yang Naya sendiri masih agak merasa canggung untuk masuk ke rumah mertuanya.


Selalu saja muncul rasa entah pada diri Naya tiap kali datang ke rumah mertuanya. Padahal baru saja melihat sendiri bagaimana Nana disambut dengan terbuka oleh Nani. Seharusnya Naya ikut bahagia dengan kenyataan ini. Tetapi tangisan Lala saat sebelum dirinya pergi tadi tiba-tiba menjelma lagi di benak Naya.


Perasaan kacau kembali Naya rasa. Tentang bagaimana nanti ia harus menjelaskan kepada Lala jika bertanya tentang semua ini. Kalaupun nantinya Lala tidak menanyakannya, setidaknya memori bocah itu sudah merekam kejadian tadi bersama dirinya, Gino dan Rahma.


"Dek, kamu masih memikirkan apa?" tanya Gino sambil menatap lekat pada netra Naya.


"Kamu lihat sendiri barusan bagaimana ibuku menerima kehadiran Nana. Apa kamu masih tidak percaya dan takut yang ibuku lakukan barusan hanya akting didepan kita?" lanjutnya.


"Tidak, aku tidak memikirkan itu, Mas. Aku-- ingat Lala," sahut Naya sambil menyeka air matanya yang lolos begitu saja mengalir di pipinya.


Gino menghela nafasnya dalam-dalam. Dadanya kembali merasa sesak jika teringat dengan perlakuan Rahma yang seperti tidak memikirkan bagaimana perasaan Lala. Padahal yang sebenarnya Gino tidak mau membedakan antara Lala dengan Nana, tetapi apa yang terjadi barusan secara tidak langsung Rahma lah yang telah membuat perbedaaan antara Lala dan Nana.


"Aku juga sama kepikiran Lala, Dek. Setelah ini kita langsung pamit pulang saja ya?" ucap Gino mencoba menenangkan perasaan Naya dengan iming-iming pulang cepat setelah ini.


Naya mengangguk setuju. Kalau bisa sebenarnya ia ingin langsung pulang saat ini juga, akan tetapi kumandang adzan maghrib menggema pertanda mereka saatnya untuk berbuka puasa.

__ADS_1


"Alhamdulillah," seru Gino penuh syukur.


Mereka masih betah berada di halaman rumah itu, hingga akhirnya mereka berdua disusul lagi oleh Suryo untuk mengajaknya masuk.


"Sudah adzan. Apakah kalian tidak mau berbuka puasa?" ucap Suryo.


Naya dan Gino sama-sama menganggukkan kepala dan kemudian masuk ke rumah itu. Di dalam rumah nampak Nani yang masih terus menggendong Nana, seakan lupa kalau sudah saatnya berbuka puasa karena terlalu senang menimang Nana.


"Naya, kamu makanlah dulu. Biar Nana ibu yang pegang," seru Nani menyuruh Naya untuk berbuka puasa lebih dulu.


Naya sebenarnya sungkan. Tetapi setelah mendapat anggukan dari Gino, maka akhirnya Naya makan juga.


"Loh, kok cuma sedikit nasinya, nak Naya? Ayo ditambah, itu lauknya masih banyak. Kamu itu kan menyusui, masa ngambil makannya cuma segitu?" ujar Suryo setelah melihat Naya yang mengambil makanan di piringnya sangat sedikit.


"Begini sudah cukup, Yah," sahut Naya.


Yang terpenting perutnya sudah terisi, karena Naya tidak ingin berlama-lama di sini. Bayangan wajah sedih Lala seketika melintas lagi, membuat selera makan Naya kurang bersemangat.


Mereka semua menikmati makan buka puasa dengan nikmat, kecuali Naya. Setelah selesai makan Naya langsung mengambil Nana dari Nani.


"Sekarang ibu yang makan," ucap Naya.


"Mbak, aku titip Nana ya, aku mau sholat dulu," ucap Naya menyempatkan dengan keberadaan Mila.


"Oh iya, Dek." Mila menyambutnya riang.


Kemudian Naya dan Gino melaksanakan kewajiban tiga rakaatnya dengan bersama. Dan benar saja, setelah mereka selesai sholat, mereka segera pamit pulang.


"Kenapa buru-buru sekali?" keget Nani merasa tak rela membiarkan mereka pulang dengan cepat.


"Aku masih ada acara lainnya, Bu," dusta Gino.


"Acara apa? Ibu masih kangen Nana."


Mendengar itu seketika Naya tersenyum getir. Kalau memang serindu itu yang dirasa Nani kepada Nana, ke mana ia selama ini? Mengapa tidak melihat Nana ke rumah walau cuma semenit saja?

__ADS_1


Sedangkan Naya hanya diam saja. Tetapi tatapan matanya tak bisa berdusta jika saat ini ia sedang ada yang dipikirkan. Suryo peka dengan itu.


"Baiklah, kalau begitu kalian hati-hati di jalan," ucap Suryo langsung mengijinkan tanpa banyak tanya.


"Kenapa terburu-buru?" Nani bertanya lagi, sudah dengan kedua matanya yang mengembun.


"Maaf, Bu," ucap Naya pada akhirnya.


Meski Nani masih keberatan mereka pulang cepat, tetapi ia juga tidak bisa menahan mereka.


"Naya!" Tiba-tiba Nani mencegah Naya saat Naya akan naik ke mobilnya.


"Iya, Bu," sahut Naya agak gugup, takut tiba-tiba Nani kembali berubah dingin kepadanya.


"Bawa anakmu ke sini juga," ucap Nani yang membuat Naya langsung tercengang karena masih tidak paham apa maksudnya.


"Nana?" tanya Naya mengira Nani memintanya jika datang ke sini membawa Nana lagi.


"Bukan. Anakmu yang satunya. Kakaknya Nana," sahut Nani.


Naya dan Gino langsung saling bertatapan, heran dan kaget.


"Kakaknya Nana juga cucuku. Tolong bawa dia juga ke sini. Ibu tunggu, Nay. Kapan kalian mau ke sini lagi?" kata Nani dengan suaranya yang bergetar menahan tangis.


"Iya, Bu. Lain kali aku pasti bawa Lala." Gino langsung menyahut senang. Tetapi Naya hanya diam saja. Masih tidak percaya dengan apa yang telah didengarnya itu.


"Kenapa barusan kalian tidak mengajak Lala juga?" tanya Nani pada akhirnya.


Naya dan Gino sama-sama kebingungan mencari alasan yang tepat. Jika dikatakan yang sebenarnya itu tidak mungkin. Tetapi jika dikatakan dengan alasan sakit takutnya kuwalat.


Tetapi Nani tidak memaksa tahu jawabannya. Karena ia sendiri merasa mereka datang ke sini tidak membawa Lala itu pasti karena dirinya. Tetapi yang dirasa oleh Nani sekarang adalah berdamai dengan keadaan. Menerima kenyataan dengan pilihan Gino, yaitu turut menyayangi apa yang saat ini telah menjadi kebahagiaan Gino.


"Aku pamit, Bu," pamit Naya sekali lagi tanpa mau menjawab pertanyaan Nani.


Akhirnya Nani mengangguk mengijinkan. Sekali lagi wanita itu berpesan kepada Naya untuk membawa Lala juga jika ingin datang ke rumahnya lagi. Dan dalam perjalanan pulang, senyum bahagia itu terpancar dari Naya. Karena malam ini adalah menjadi malam yang indah untuk keluarganya. Bahkan Naya sudah tidak sabar untuk segera sampai di rumah orang tuanya. Ia sangat ingin menyampaikan kabar bahagia ini kepada Rahma dan Abdul.

__ADS_1


Gino pun juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasa Naya. Sampai tak terasa pria itu menitikkan air mata bahagia, saking merasa bahagianya. Mungkin setelah berbicara baik-baik dengan Rahma, setelah itu ia akan membawa Lala untuk berkunjung juga ke rumah Nani.


*


__ADS_2