
Gino terbangun dari tidurnya satu jam sebelum subuh. Pria itu sudah terbiasa bangun seperti itu tiap harinya, karena ia memiliki kebiasaan mengaduh kepada Tuhan melalui sholat sepertiga malamnya.
Dan Naya yang merasa kasurnya sedikit lega, tentu ikut bangun. Setelah dilihat ternyata suaminya sudah bangun dari tadi dan saat ini sedang khusyuk berdo'a kepada Tuhan. Ini merupakan kejutan baru bagi Naya. Ia sangat tidak menduga, ternyata dibalik penampilannya itu Gino ternyata sosok yang cukup religius.
Akhirnya Naya memilih bangun juga. Saat itu kebetulan Gino sudah selesai dengan do'anya.
"Mas, mau aku bikinin kopi?" tawar Naya sebagai awal dari tugasnya menjadi seorang istri.
Gino menggeleng kepala. Kemudian pria itu duduk di bibir ranjang, dan seketika menarik tangan Naya yang akan keluar kamar. Kemudian tanpa canggung memangku Naya dalam pangkuannya.
"Mau ke mana?" tanya Gino yang sebenarnya sudah yakin Naya akan menjawab akan keluar kamar.
"Keluar," sahut Naya singkat.
"Mau apa?" kepo Gino. Benar-benar pertanyaan mirip orang posesif.
"Mau pipis. Kamu tadi bilang nggak mau dibikinin kopi, ya sudah nggak jadi."
"Nggak jadi pipis?"
"Nggak jadi bikin kopi, Mas...." Naya dibuat gemas sendiri mendapati suaminya yang seperti lola.
"Udah ya, aku kebelet nih," ucap Naya sambil mencoba melepas tangan Gino dari pinggangnya.
Tetapi Gino tetap tak mau melepas pelukannya.
"Diem bentar," kata Gino sambil meletakkan dagunya di bahu Naya.
Hembusan nafas pria itu tentu langsung terasa sampai ceruk leher Naya. Membuat Wanita itu merasa merinding geli karena perbuatannya.
"Aku boleh ikut nggak?" tanya Gino tiba-tiba.
"Ikut ke mana?"
"Kamar mandi," jawab Gino ngadi-ngadi sekali.
"Ngapain? Mau lihat aku pipis?" Naya tergelak bertanya itu. Aneh tapi lucu.
"Kalau boleh," sahutnya santai sekali.
__ADS_1
"Nggak boleh suamiku." Naya sampai mencapit hidung mancung Gino dengan jarinya.
Gino dibegitukan hanya nyengir.
"Ya udah, buruan kalau mau pipis. Trus cepat balik ya?" kata Gino kemudian melepas pelukannya.
Naya tersenyum tipis sambil mengangguk kepala. Kemudian wanita itu beranjak keluar dari kamarnya.
Gino menunggu Naya kembali sambil berbaring lagi di kasurnya. Sambil menunggu adzan subuh yang masih sekitar setengah jam lagi. Tak lama setelah itu Naya masuk lagi ke kamar, sudah dengan wajahnya yang segar karena habis cuci muka.
Gino langsung menepuk bantal milik Naya, isyarat menyuruhnya untuk ikut berbaring menemaninya. Naya pun langsung menurut tanpa banyak protes.
Begitu Naya berbaring, Gino langsung memeluk Naya lagi. Sementara hanya seperti ini yang boleh ia lakukan, memeluk tanpa bisa menyentuh lebih. Sebenarnya mencium juga boleh, hanya saja Gino takut lepas kontrol jika melakukannya. Tahan dan tahan. Terowongan surgawi masih berpaling merah. Nasib!
"Dek, memangnya kalau kamu mens berapa hari?" tanya Gino tanpa malu lagi.
"Seminggu, kadang bisa sembilan hari," sahut Naya.
Membicarakan seperti ini sudah wajar diantara mereka, karena mereka sudah sah menjadi pasangan suami istri.
"Lama sekali," kata Gino sambil berwajah manyun.
"Nggak bisa cuma tiga hari gitu?" seloroh Gino yang sebenarnya itu tidak masuk akal.
Naya terkekeh kecil mendengarnya. Ia sangat paham kenapa suaminya itu bertanya tentang itu. Wajar saja kalau Gino sudah menginginkan itu, sebab sebelumnya ia tidak pernah menikah. Dan Gino juga berani sumpah jika dirinya masih perjaka di usianya yang cukup matang.
"Dek, maaf ya kalau aku belum bisa ngasi nafkah batin ke kamu," ucap Gino kemudian.
"Kebalik, Mas! Harusnya aku yang ngomong itu ke kamu," sahut Naya.
Gino terkekeh sendiri. Entahlah, efek gagal dapat jatah malam pertama, pikirannya tiba-tiba sering ambyar.
"Ah, iya. Mm... Pokoknya nanti kamu harus tanggungjawab ke aku," lanjut Gino.
"Tanggung jawab apa?"
Gino tidak menyahut, tetapi tatapannya yang berubah mengerling membuat Naya paham apa maksudnya. Katakanlah Gino meminta layanan yang memuaskan darinya.
Sedetik kemudian Naya tersenyum tipis. Lalu dengan nekatnya Naya mencuri ciuman di bibir Gino. Sekedar menempel, tetapi sangat membuat Gino tercengang dengan kelakuannya.
__ADS_1
"Tanggungjawab nya aku cicil ya?" kata Naya sambil senyum-senyum senang mendapati reaksi suaminya yang masih mirip orang tidak sadar.
Akan tetapi kemudian Gino membalas mencium bibir Naya. ******* yang lembut, tetapi disambut dengan ******* yang cukup hot dari Naya.
Kegiatan mereka terpaksa berhenti saat terdengar suara adzan subuh berkumandang dari toa masjid. Naya tersenyum puas melihat suaminya yang mungkin kaget dengan permainannya yang sudah lihai. Janda gitu loh...
Akan tetapi kemudian Gino ikut tersenyum tipis. Kemudian dengan romantisnya jemari Gino mengusap bibir Naya yang basah karena salivanya.
"Sholat dulu sana, sudah subuh," seru Naya yang kemudian Gino langsung beranjak duduk dari tempatnya.
Setelah itu Gino keluar dari kamarnya. Ternyata di luar kamarnya Abdul dan Rahma juga sedang siap-siap untuk berangkat jamaah ke masjid. Jadilah mereka bertiga berangkat bersama ke masjid.
Setelah tahu kedua orang tuanya juga Gino berangkat ke masjid, Naya keluar dari kamarnya. Wanita itu langsung menuju kamar orang tuanya untuk melihat Lala. Ternyata bocah itu masih terlelap nyaman. Meski sudah diangkat Naya untuk dipindah ke kamarnya, Lala tidak terbangun sama sekali.
Lala sudah terbaring nyaman di kamar Naya. Sejenak wanita itu menciumi pipi anaknya. Baru pisah tidur semalam rasanya sudah kangen berat. Mungkin ia perlu bicara lagi dengan Rahma tentang permintaan Rahma agar Lala tidak lagi tidur dengannya. Seorang ibu yang dipaksa tidur pisah dengan balitanya, siapa yang tidak berat hati?
Setelah itu Naya keluar dari kamarnya. Seperti biasa, kegiatan pagi Naya dimulai dari dapur. Setelah menjadi istri hal pertama yang harus ia lakukan adalah membuatkannya minuman hangat di pagi hari. Jadilah Naya membuatkan dua cangkir kopi hitam, untuk Gino dan Abdul, juga segelas teh hangat untuk Rahma.
Tak lama kemudian Rahma dan Abdul sudah kembali dari masjid. Mereka masuk lewat pintu samping rumah yang langsung terhubung dengan dapur. Melihat kopi dan teh sudah tersedia, maka dengan senang hati Abdul dan Rahma menikmatinya sambil duduk santai di sana.
Naya celingukan mencari Gino yang tidak muncul dari belakang mereka. Padahal Gino sendiri masuk ke rumah itu lewat pintu depan. Tetapi karena langsung masuk ke kamar, jadi wajar kalau Naya tidak melihatnya datang.
"Mas Gino bukannya tadi berangkat sama bapak ibu?" tanya Naya kepada Abdul dan Rahma.
"Iya, kenapa, Nay?" tanya Rahma.
"Kok nggak ikut pulang? Apa jangan-jangan ketemu sama ustadz Arif terus mereka ngobrol ya?"
"Barusan yang ngimami sholat bukan ustadz Arif," seru Abdul.
Daripada penasaran, kemudian Naya beranjak ke ruang depan, siapa tahu Gino datang lewat depan. Akan tetapi setelah melihat sudah ada sandal milik Gino di rak sandal, wanita itu balik masuk ke kamarnya.
Rupanya saat ini Gino sedang berbaring menemani Lala yang masih tertidur nyenyak.
"Kirain kamu masih di masjid, Mas," sapa Naya kepada Gino.
Gino tersenyum saja. Sesekali ia melihat kepada Lala. Bocah itu sangat lucu dan menggemaskan. Yang seketika membuat otak Gino terbayang andai esok ia memiliki anak, pasti juga akan comel seperti Lala.
Ah, membayangkan punya anak? Proses membuat anak saja masih belum, ya nasib....
__ADS_1
*