
Setelah makan malam bersama, akhirnya Naya dan Gino pamit kepada Rahma dan Abdul untuk pergi ke rumah bidan terdekat, sekaligus konsultasi masalah KB dengan bidan tersebut. Sengaja mereka memutuskan pergi ke bidan saja, daripada pergi ke klinik atau rumah sakit menemui dokter yang bagus, karena hal itu akan membuat mereka harus memakan waktu yang cukup lama antriannya.
Sedangkan kedua orang tua Naya akhirnya malam itu mau menginap di rumah Naya, karena Gino berhasil membujuk mereka. Dan tentang Riki, setelah tadi sempat ditelpon oleh Naya untuk mengajaknya menginap juga di rumahnya, ternyata Riki lebih memilih menginap di rumah teman karibnya, Irul. Karena kata Riki sekalian mengerjakan tugas kelompok bersama. Meski begitu, Naya dan kedua orang tua Naya, tidak mempermasalahkan penolakan Riki. Asal sudah tahu Riki malam ini tidur di mana, mereka sudah bisa tenang. Mereka percaya dengan Irul dan keluarga dari Irul, sebab Riki dan Irul memang sudah berteman lama sedari SD.
Sesampainya di rumah bidan yang dituju oleh Naya dan Gino, mereka berdua masih antri sebentar, karena kebetulan sekali malam itu rumah bidan tersebut sedang ramai pasien yang menunggu. Akhirnya setelah menunggu lebih dari setengah jam, tibalah giliran mereka yang masuk ke ruang tempat bidan itu bekerja.
Naya langsung menyampaikan tujuan kedatangannya setelah ditanyakan oleh bidan yang usianya bisa diperkirakan hampir sama dengan usia Rahma. Bidan senior, yang sudah banyak dipercaya masyarakat di sana, karena terkenal dengan keramahannya dan kesabarannya.
Bidan tersebut menyebutkan macam-macam alat kontrasepsi kepada Naya dan Gino. Dari masing-masing yang disebutkan, tentunya bidan tersebut juga menyebutkan efek sampingnya juga. Karena mendengar itu, akhirnya menimbulkan perdebatan kecil antara Naya dan Gino di depan bidan itu. Perdebatan yang cukup konyol, oleh karena pendapat Gino yang terkadang di luar jalur.
"Aku nggak mau loh, Dek, kalau punya kamu dipasang begituan. Kalau punyaku ketusuk gimana?" tolak Gino tanpa basa-basi dengan wajahnya yang meringis efek tiba-tiba terbayang saja.
Penyataan Gino yang seperti itu dipicu ketika bidan tersebut menjelaskan tentang KB IUD.
Naya langsung melongo mendengar ucapan suaminya yang keluar tanpa filter. Memalukan! Batin Naya mengumpat malu sendiri.
Sedangkan bidan yang sedang duduk di depan mereka sudah tidak kuat lagi menahan tawanya. Dari tadi Gino yang lebih banyak protes dan tanya. Saat bidan itu menjelaskan tentang KB Pil, Gino nampak ragu. Karena takut Naya lupa minum dan akhirnya berujung hamil lagi. Ketika menjelaskan tentang KB suntik, ekspresi Gino lebih meringis mendengarnya. Karena dari survei yang terjadi pada kebanyakan perempuan yang menggunakan KB suntik bentuk tubuh mereka akan lebih mengembang dari sebelumnya.
"Trus kamu maunya yang mana, Mas?" Naya sudah gemas dengan Gino.
"Menyesal aku ngajak kamu ke sini, Mas!" batin Naya bicara sendiri.
Gino menoleh kepada bidan tersebut, berharap masih ada pilihan lain yang lebih baik menurutnya.
"Kalau mau KB implan gimana?" kata bidan tersebut sambil menunjukkan gambar dan cara pemasangan KB tersebut.
Ekspresi wajah Gino lebih meringis daripada yang sebelumnya.
"Aku nggak setuju, Bu Bidan. Aku nggak tega lengan istriku di begitukan," kata Gino sambil menggeleng-geleng kepala.
Naya menghentak nafasnya merasa jengah. Kalau semuanya tidak setuju, mending tidak usah KB saja. Naya sudah frustasi sendiri mendengarnya.
"Ya udah, kalau semuanya kamu nggak setuju nggak usah KB aja," seloroh Naya putus asa.
"Jangan dong, Dek, kasihan Nana kalau dia harus punya adik. Nana masih bayi loh," protes Gino langsung.
"Lagian kamu sih, bawelnya ngalah-ngalahin mpok Tun!" omel Naya.
Gino hanya tertegun sejenak mendengar dirinya disamakan dengan ratu nyinyir yang ada di tempat Naya tinggal sebelumnya. Tetapi meski begitu, Gino tidak protes mendengar ucapan istrinya.
"Bu bidan, maaf ya kalau kedatangan kami cuma bikin rame begini," ucap Naya kepada bidan itu, merasa tak enak sendiri.
"Tidak apa-apa, Buk. Maklum kalau bapak begitu sama ibu. Namanya juga suami perhatian," ucap bidan tersebut sambil tersenyum. Benar-benar bidan penyabar emang.
"Jadi kalau ibu sendiri lebih berkenan mau pake yang mana? Sebenarnya masih ada pilihan yang lain, cuma saya nggak jamin suami ibu setuju itu," ucap bidan tersebut membuat Gino timbul rasa penasaran untuk mendengarnya.
"Bukan yang pake kond0m itu kan, Buk?" sela Gino.
Dari awal Gino memang kurang suka jika diharuskan menggunakan kond0m. Dan lagi Naya juga tidak suka. Wanita itu merasa tidak enak saja saat bercinta mesti menggunakan balon ajaib itu.
"Bukan, Pak," sahut bidan tersebut.
__ADS_1
Rupanya yang dimaksud oleh bidan itu adalah KB kalender. Yaitu dengan harus menghitung waktu ovulasi, agar disaat bercinta menghindari masa-masa subur itu. Mendengar itu, yang ada Gino jadi tambah bingung.
"Bagaimana, Pak? Menurut saya hanya KB yang seperti ini yang tidak banyak efek sampingnya untuk perempuan, karena tidak mempengaruhi hormon tubuh perempuan. Efeknya sih cuma hamil lagi, itupun kalau bapak tidak sabar dan tidak mengikuti aturan tanggal," kata bidan itu kemudian.
Gino menoleh kepada Naya, meminta pendapat wanita itu.
"Aku nggak mau ruwet. Males hitung-hitung kalender," ucap Naya menyampaikan keberatannya jika harus menggunakan KB kalender.
Dan lagi Naya juga tidak bisa menjamin suaminya itu bisa patuh dengan begituan. Belum-belum tempo hari sudah omes duluan.
"Jadi bapak ibu mau yang mana?" tanya bidan itu sekali lagi.
Gino dan Naya sama-sama diam. Kalau Naya sebenarnya sudah memutuskan untuk lebih baik menggunakan KB suntik. Karena lebih simple dan cukup mengingat tanggal kembalinya saja. Sedangkan diamnya Gino lebih berpikir kepada ternyata seperti ini perjuangan seorang perempuan. Kasihan sendiri jika mengingat macam-macam efek sampingnya. Tetapi lebih kasihan lagi jika harus punya banyak anak dalam waktu berdekatan.
"Aku sudah apa kata kamu, Dek," pasrah Gino akhirnya.
"Gitu kek dari tadi," sungut Naya tambah Gemes sendiri.
Setelah itu Naya menyampaikan kepada bidan itu tentang KB pilihannya. Dan bidan tersebut kemudian segera melaksanakan tugasnya.
"Terimakasih ya, Bu," ucap Naya setelah selesai disuntik, dan mereka sudah sama-sama kembali duduk berhadapan.
Gino menanyakan berapa biayanya. Tetapi setelah mendengar biaya yang disebut oleh bidan itu, rupanya Gino melebihkan biayanya.
"Loh, Pak, ini kelebihan," seru bidan itu.
"Tidak apa-apa, Buk. Hitung-hitung buat biaya konsultasi nya juga," sahut Gino.
Tetapi Gino memang sudah niat ingin memberikan sedikit rejekinya itu ke bidan itu. Maka Gino tetap memaksa bidan itu untuk mau menerimanya.
"Terima saja, Buk, kami mohon," sambung Naya.
"Iya, Buk, anggap saja itu sedekah dari saya atas kelahiran anak saya," lanjut Gino.
Bidan tersebut akhirnya mau menerimanya. Meski sebenarnya merasa tidak enak sendiri.
"Ya sudah, terimakasih kalau begitu. Nanti jangan lupa kembali lagi sesuai tanggal di buku itu," ucap bidan itu.
"Iya, Buk," sahut Naya.
"Jangan langsung dicoba loh, Pak. Setidaknya harus sabar dulu sampai beberapa hari," pesan bidan tersebut kepada Gino.
Gino hanya tersenyum kikuk pada bidan itu.
"Tapi kalau memang sudah tidak sabar sebenarnya pakai kond0m itu nggak masalah," lanjut bidan itu.
Naya dan Gino hanya bereaksi sama-sama memasang senyum pepsodent. Setelah itu mereka keluar dari ruangan bidan itu. Beruntung pasien berikutnya baru datang. Sebab kalau ternyata pasien itu menunggu dari tadi, bukan tidak mungkin Naya dan Gino akan mendapatkan lirikan tidak mengenakkan karena sudah berlama-lama menunggu mereka keluar.
"Mas, kita langsung pulang aja," pinta Naya saat mereka sudah dalam perjalanan pulang.
"Lah, nggak jadi kencan?"
__ADS_1
"Nggak! Kamu sih kelamaan di rumah bidan tadi," ucap Naya masih sewot jika teringat ucapan Gino saat konsultasi tadi.
Gino hanya diam saja. Sejurus kemudian, tiba-tiba motor mereka belok ke arah minimarket. Gino berhenti sebentar di sana.
"Ada yang mau dibeli, Mas?" tanya Naya karena merasa tidak ada yang perlu dibeli lagi. Kebutuhan sembako masih tersedia.
"Iya. Kamu tunggu di sini aja," kata Gino yang seketika membuat Naya curiga.
"Mau beli apa sih?" kepo Naya.
"Ada deh! Mm... Kamu mau yang rasa apa, Dek? Strawberry, permen karet, Vanila, Colla?" kata Gino menyebutkan macam-macam rasa yang Naya tidak tahu itu rasa makanan atau minuman apa.
"Emang mau beli apa?" Naya masih penasaran.
"Ayolah sebutkan saja salah satu dari yang aku sebut itu," ucap Gino nampak tidak sabar.
"Apapun, asal bukan Colla," sahut Naya sekenanya. Dan lagi perempuan yang sedang menyusui tidak baik jika harus mengkonsumsi minuman yang mengandung soda menurut Naya.
Senyum di bibir Gino merekah lebar. Setelah itu Gino masuk ke minimarket itu, dan Naya tetap menunggu di tempat seperti permintaan Gino. Akan tetapi dari luar Naya bisa melihat jika suaminya itu sedang memilih sesuatu yang biasanya memang diletakkan didekat kasir. Setelah Naya mencermatinya, ia hanya bisa mendengus jengah setelah tahu apa yang dibeli suaminya.
"Sudah dapat?" tanya Naya ketika Gino sudah kembali, pura-pura tidak tahu apa yang dibeli oleh pria itu.
"Sudah dong," sahut Gino sambil mengerling.
Tiba-tiba sebuah cubitan kecil mendarat di pinggang Gino.
"Aduh, aduh, kok nyubit sih, Dek?" Gino mengaduh kesakitan.
"Dasar omes! Bilang aja kalau mau beli begituan. Mana tadi pake banyak-banyak protes sama bukan bidan. Nggak tahunya tetap mau pake itu kan?" sungut Naya sudah tidak peduli sedang protes di mana.
"Ini pakenya pas darurat saja, Dek," sahut Gino sangat santai.
Lagi-lagi Naya hanya melengos jengah. Ada-ada saja alasannya.
"Kamu kalo lagi cemberut gitu aku jadi gemes loh, Dek," ucap Gino tiba-tiba.
"Ah, sepertinya harus dicoba sekarang. Aku sudah kepalang gemes," lanjut Gino yang kemudian melajukan motornya meninggalkan area minimarket itu.
"Jangan ngadi-ngadi deh, Mas. Nggak bisa sekarang. Di rumah ada bapak ibu," tolak Naya dengan alasan cukup masuk akal.
"Emang kenapa kalo ada bapak ibu? Mereka tidurnya di kamar berbeda?"
"Iiih... Bisa nggak sih tahan dulu?"
"Atau mau belok hotel nggak, Dek? Enak tuh, di sana kamu bisa bebas mendessah sepuas kamu," celetuk Gino ngadi-ngadi sekali.
"Mas Ginooooooo...!!!"
*
Mohon maaf readersku... Othor kemarin libur up dua hari karena kesehatan yang kurang baik. Semoga kalian masih setia sama cerita ini ya... Dan jangan lupa mampir juga yuk di novel baru othor yang judulnya "Belenggu Cinta Yang Lalu"
__ADS_1
Othor tunggu kalian ya... 🤗