Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 62


__ADS_3

Saat tiba waktunya pulang dari kantor, Gino segera melajukan mobilnya menuju rumah Naya. Sebelum itu ia mampir membeli oleh-oleh makanan untuk keluarga Naya, dan sebungkus roti bakar rasa coklat khusus untuk Lala tak lupa Gino beli juga. Rasa bahagia pria itu terus saja memancar dari aura wajahnya yang sumringah. Sampai-sampai saat ini saja ia membayangkan jika sedang pulang menemui istri dan anak tersayang.


Sesampainya di rumah Naya, Gino langsung disambut oleh Lala yang saat itu sengaja menunggunya bersama Fifi. Karena memang tadi saat Gino mengabari Naya, wanitanya itu masih belum pulang dari warung bakso tempatnya bekerja.


Setelah dipersilahkan masuk oleh Fifi dan juga Rahma, maka kemudian Gino memilih menunggu Naya pulang sambil menonton TV bersama Lala. Bocah itu sumringah sekali, dengan begitu lahapnya menikmati roti bakar rasa coklat yang dibelikan Gino barusan.


"Teh nya diminum, Om," sapa Fifi yang datang sambil membawakan Gino teh hangat.


"Iya, terimakasih, Fi," jawab Gino.


Lalu Fifi meletakkan secangkir teh itu di meja yang tidak jauh dari Gino berada. Gadis itu terdiam sejenak, menatap Lala yang begitu akrab dan terasa nyaman berada dalam pangkuan Gino. Maka diam-diam Fifi mengambil gambar mereka, bermaksud akan mengirim hasil gambarnya itu kepada Naya. Tetapi karena keburu dipanggil Rahma, tanpa sengaja Fifi menjadikan foto Gino dan Lala itu sebagai story WA nya. Lengkap dengan tulisan yang Fifi tulis untuk menyuruh Naya cepat pulang karena calon suami sudah menunggu di rumah.


Tak ayal update story gadis itu langsung ramai yang melihat, termasuk juga dilihat oleh Wahyu.


"Fifi!" panggil Rahma sekali lagi, karena gadis itu tidak kunjung datang.


"Iya, Buk. Ini aku lagi jalan. Ada apa?"


Saat ini mereka berdua sudah ada di dapur.


"Belikan nasi goreng di gang depan ya? Mm... kamu mau beli juga tidak?" ucap Rahma.


"Ya mau dong, Buk."


"Kalau begitu beli tiga bungkus sama punya kamu."


"Buat siapa sih, Buk?" Gadis itu bertanya di saat Rahma sedang mengambil uangnya dari dalam dompetnya.


"Buat Gino. Ibu yakin kalau dia ke sini masih belum makan," kata Rahma yang kemudian menyerahkan uangnya kepada Fifi.


"Yang satunya buat siapa, Buk?"


"Buat mbak Naya mu. Kali aja dia datang bisa nemenin Gino makan," jelas Rahma.


"Wokey deh, Buk. Aku berangkat ya..."


Lalu Fifi berangkat untuk membeli nasi goreng di gang depan sambil mengayuh sepeda milik Riki.


***


Wahyu yang melihat story WA Fifi itu seketika merasa sakit hatinya. Dari pesan yang ditulis oleh Fifi itu sudah pasti kalau Naya belum pulang dari tempatnya bekerja. Kebetulan sekali saat ini keberadaan Wahyu tidak jauh dari tempat Naya bekerja, maka dengan sangat nekat pria itu berniat mendatangi Naya ke tempat kerjanya.

__ADS_1


Jam sudah menunjukkan hampir pukul lima sore. Saatnya Naya bersiap pulang karena Yuli sudah ada di warung lebih cepat datangnya.


"Keburu amat, Nay," sapa Yuli yang melihat Naya seperti tergesa-gesa.


"Iya, Yul, di rumah aku sudah ditunggu mas Gino," jelas Naya.


"Ciyeee... Yang mau jalan-jalan," celetuk Yuli menduga Gino dan Naya sedang berjanji untuk kencan.


Naya hanya tersenyum tipis. Memang ia belum bercerita kepada Yuli tentang rencana pernikahannya yang akan diadakan bulan depan.


"Aku pulang ya, Yul," pamit Naya pada akhirnya.


"Iya, hati-hati, Nay."


Tak lupa Naya juga berpamitan kepada bu Sugeng. Setelah itu Naya keluar dari warung itu untuk mengambil motornya.


Tetapi baru saja Naya duduk di jok motornya, handphonenya berdering. Buru-buru Naya mengambil handphonenya dari dalam tas kecilnya takut telpon itu dari Gino. Tetapi ternyata sebuah nomor asing yang sedang menelponnya. Walau merasa ragu untuk menjawabnya, tetapi kemudian Naya mengangkatnya karena takut ada sesuatu hal penting dari orang yang ingin mengabarinya sesuatu.


"Naya, lihatlah ke pertigaan," ucap suara lelaki dari seberang sana.


Deg.


Ternyata Wahyu sengaja mengganti nomor telponnya dengan yang baru setelah tahu kalau dirinya sudah di blok oleh Naya. Kali ini, Wahyu tidak akan melepaskan Naya sebelum mereka berbicara langsung.


Perlahan Naya melihat ke arah pertigaan di jalan depan. Dan ternyata memang sudah ada Wahyu di sana. Dari kejauhan pria itu tersenyum kepada Naya. Tanpa Wahyu sadari, kalau saat ini Naya seperti orang ketakutan yang sedang bertemu dengan seorang penjahat.


Mungkin lebih baik tidak melewati jalan itu saja menurut Naya. Dan setelah itu Naya menstater motornya, kemudian melaju pergi melewati jalan yang pastinya harus putar arah kalau ingin sampai ke rumah. Tak disangka ternyata Wahyu mengikuti ke mana Naya pergi. Naya yang sadar kalau dirinya sedang dibuntuti oleh Wahyu, seketika merasa gelisah. Maunya apa pria itu?


Hingga sampai di jalanan yang cukup sepi untuk dilewati, Wahyu mulai memepetkan motornya untuk bisa berdekatan dengan motor Naya.


"Naya, kita harus bicara!" ucap Wahyu memaksa Naya untuk menghentikan laju motornya karena motor pria itu seperti ingin menghadang jalannya.


"Maaf, Wahyu, sepertinya sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan," balas Naya dengan sedikit mengeraskan suaranya karena laju motornya masih terus berjalan.


Tetapi seketika Wahyu langsung menghentikan motornya tepat didepan motor Naya, membuat wanita itu mau tidak mau terpaksa berhenti juga.


Wahyu turun dari motornya. Dan Naya hanya bisa menghentak nafas beratnya, karena sempat kaget dengan aksi Wahyu barusan.


"Kita harus bicara, Nay!" kata Wahyu sambil meraih tangan Naya untuk ditarik turun.


Tetapi Naya langsung melepas tangan Wahyu yang sedang menggenggamnya.

__ADS_1


"Tidak usah pegang-pegang," kata Naya masih bersuara rendah karena takut menyinggung perasaan Wahyu.


Kemudian Naya turun dari motornya. Saat ini mereka berdua memilih duduk di trotoar jalanan itu.


"Mau bicara apa? Katakan cepat! Aku harus segera pulang karena--"


"Sudah ditunggu oleh calon suami kamu!" ucap Wahyu menyela bicara Naya yang belum selesai.


Padahal sebenarnya Naya ingin beralasan karena sebentar lagi mau maghrib atau petang, dirinya harus segera pulang sebelum benar-benar gelap.


"Bahagia sekali kamu sekarang, Nay, Selamat!" ucap Wahyu yang terdengar seperti ejekan di telinga Naya.


"Kamu ibarat seseorang yang berbahagia di atas penderitaan orang lain. Hebat!" Wahyu mengatakannya sambil bertepuk tangan dan tersenyum getir.


"Apa maksud kamu, Wahyu? Sebenarnya kamu mau membicarakan apa sama aku? Siapa yang sedang berbahagia di atas penderitaan orang lain? Aku maksud kamu?"


Entahlah, sebenarnya Naya sangat tidak mau terlibat masalah dengan siapapun. Tetapi sepertinya pria di depannya itu sedang membesarkan masalah yang seharusnya sudah selesai. Karena memang antara dirinya dengan Wahyu sebelumnya tidak pernah ada ikatan apapun.


"Iya, kamu orangnya!" Wahyu sampai menunjuk kepada Naya saat mengatakannya.


"Nggak usah pake nunjuk!" sungut Naya sambil menepis tangan Wahyu yang menunjuk tepat di mukanya.


"Dari awal aku sering bilang ke kamu, jangan mengharapkan aku! Apa kamu tidak paham dengan kalimat itu?!" Naya mulai terpancing emosi menghadapi Wahyu yang tidak mau menerima kenyataan.


Dari sini Naya semakin ilfil untuk mengenal Wahyu. Karena sikapnya yang egois, yang selalu memaksakan kehendaknya walau sudah sering ditolak olehnya.


"Iya, aku sangat paham! Tapi kenapa kamu langsung menerima kehadiran pria itu padahal antara kalian tidak saling mengenal? Jangan memberi alasan karena itu perjodohan, karena aku tidak percaya itu, Nay! Kamu langsung menerimanya karena dia lebih mapan daripada aku. Aku sangat terhina diperlakukan seperti ini sama kamu, Nay!"


Kedua tangan Naya sudah mengepal erat mendengar ucapan Wahyu yang terus menuduhnya seperti perempuan matrealistis karena telah memilih Gino. Seandainya ia mau melepas amarahnya begitu saja, mungkin tamparan itu sudah mendarat keras di pipi Wahyu. Tetapi sebisa mungkin Naya terus menekan kesabarannya. Karena kalau ia menuruti hawa naffsu, dirinya juga yang akan rugi.


Gemuruh di dada Wahyu sama membuncahnya seperti yang dirasa Naya. Sorot mata pria itu terlihat nanar. Berbeda dengan Naya yang kedua matanya sudah mengembun. Sekali mengedip mungkin air matanya akan tumpah. Tetapi sekuat hati Naya tidak ingin menangis didepan Wahyu. Yang akan membuatnya terlihat lemah di mata pria itu.


Handphone milik Naya memekik, memecah keheningan antara mereka berdua. Segera Naya mengecek siapa yang menelponnya saat ini, ternyata itu panggilan telepon dari Gino.


Naya tidak menjawabnya, malah memasukkan handphonenya ke dalam tas kecilnya lagi. Kemudian ia berdiri dari tempatnya. Sekilas menoleh kepada Wahyu yang sedang menundukkan wajahnya menatap jalan beraspal.


"Maaf, Wahyu. Aku mengenalmu dengan baik. Tapi jika kamu terus begini denganku, maaf kalau pada akhirnya aku membencimu," ucap Naya sebagai salam perpisahan kepada Wahyu.


Pria itu mengangkat wajahnya menatap Naya yang mulai bersiap melajukan motornya lagi. Dan kemudian Naya pergi. Tanpa mau menoleh lagi kepada Wahyu.


*

__ADS_1


__ADS_2