
Pagi menjelang. Sampai waktunya sarapan pagi tiba, ternyata pesan singkat yang dikirim Gino kepada Naya belum terbaca juga oleh Naya. Dan sudah berulang kali Gino mencoba menelponnya ternyata tetap tidak aktif dari semalam. Membuat perasaan Gino tiba-tiba resah. Ia takut Naya sedang menghindarinya karena masalah semalam.
Pria itu pun sampai menolak sarapan bersama dengan alasan buru-buru berangkat kerja. Padahal sebenarnya ia ingin mampir ke rumah Naya dulu sekedar ingin memastikan ada apa yang terjadi.
Suryo langsung mengiyakan ketika Gino pamit berangkat kerja pada jam yang terlampau pagi dari biasanya. Akan tetapi Nani langsung mencerca Gino, menuduh anaknya itu kurang ajar dan lebih mementingkan Naya daripada kumpul bersama keluarga.
Biasanya ketika Gino berangkat lebih awal, ia akan membawa dua ponakannya juga untuk diantar ke sekolahnya. Tetapi kali ini tidak. Itulah yang membuat amarah dua wanita di rumah Suryo meletup-letup mengatai Gino.
"Tidak usah mengelak lagi, Gino! Kamu pasti akan menemui janda itu kan?!" bentak Nani saat Gino mulai melangkah keluar teras rumah.
Langkah kaki Gino seketika berhenti, masih dengan posisinya yang membelakangi ibunya. Entahlah, meski tuduhan Nani itu benar, tetapi Gino merasa malas untuk berterus terang setelah mendengar obrolan Nani dan Wulan seperti terlibat persekongkolan semalam.
"Ibu, percuma ibu mau menasehati apapun sama orang yang sudah buta kena pelet janda gatal itu!" Wulan ikut bersuara.
Gino yang mendengar sendiri hinaan Wulan kepada Naya hanya bisa mengepalkan kedua tangannya erat, tetapi hatinya sangatlah bergemuruh ingin balik menghina kakak ipar laknatnya itu.
"Diam! Diam! Berhenti pagi-pagi bikin gaduh! Kalian ini apa-apaan? Mirip orang tidak berakhlak! Mengatai orang tapi lupa berkaca diri!" ucap Suryo dengan tajam tetapi seketika membuat mulut dua wanita itu bungkam.
Gino langsung pergi begitu saja. Ia sudah tidak peduli lagi dengan orang rumah yang cek-cok karena dirinya. Melihat Gino yang seperti itu membuat Nani kembali meracau dengan umpatannya. Gino seakan tuli dan tidak mau mendengarkannya lagi. Maka ia pun melajukan mobilnya keluar dari rumah itu.
"Lihat anakmu itu, Pak! Semakin hari dia semakin kurang ajar denganku! Itu yang ingin kamu lihat? Menjadi anak durhaka sama ibunya sendiri?" Nani balik cek-cok dengan Suryo.
Suryo hanya diam tidak menimpali apa-apa kepada istrinya yang sedang diselimuti api amarah. Malah pria itu ikut-ikutan pergi dari rumahnya dengan menaiki motor tua kesayangannya. Dan berhasil membuat amarah Nani semakin membara, terus mengoceh dengan mengatai Suryo dan Gino.
Wulan yang melihat itu semua diam-diam tersenyum tipis. Dengan begini akan minim harapan untuk Gino bisa bersama Naya menurutnya. Dua putra Agus yang melihat Wulan seperti itu mulai saling berbisik.
"Kak, aku kasihan sama om Gino," kata Roby, anak Agus yang paling kecil.
"Iya, Dek. Kak Putra juga kasihan sama om Gino. Padahal om Gino baik ya, Dek. Om Gino baik sama semua orang di sini. Kenapa nenek sama ibu Wulan marah-marah sama om Gino?" Putra ikut bersuara.
"Kenapa ibu tiri kita jahat sama om Gino ya, Kak?" Roby balik bertanya dengan polosnya.
"Sssttt... Diem, Dek! Kakak tahu itu. Makanya ayo kita dukung om Gino, Dek."
__ADS_1
Mereka yang dari kecil biasa disayang Gino, tentu ikut tidak terima ketika Wulan, ibu tiri mereka ikut membenci Gino.
"Caranya dukungnya gimana, Kak?" Roby bertanya lagi.
Kemudian ketika Putra akan membisiki Roby, tiba-tiba Wulan muncul lagi.
"Ngapain kalian bisik-bisik? Sudah, cepat berangkat sekolah sana!" hardik Wulan kepada Roby dan Putra.
Kedua anak Agus itu langsung terkesiap kaget. Setelah itu langsung pergi keluar rumah untuk kemudian berangkat sekolah sambil mengayuh sepedanya masing-masing.
"Wulan!" teriak Nani memanggil Wulan.
"Ck! Itu nenek-nenek ngapain sih manggil-manggil." decak Wulan sangat kesal.
"Itu kenapa Putra sama Roby berangkat sekolah kamu biarkan pake sepeda sendiri?" tanyanya kepada Wulan, masih dengan nadanya yang kesal.
"Biasanya juga gitu kok, Bu," sahut Wulan juga ikut ketus.
"Roby itu masih SD, kamu malah biarkan lewat jalan raya sendirian."
"Kamu kan sudah jadi ibunya, Wulan!" Nani yang sudah emosi bertambah emosi mendapati Wulan yang berani menjawabnya.
"Ck!" Wulan berdecak dengan sangat keras.
Akan tetapi kemudian wanita itu pergi ke kamarnya, dan menutup pintu kamarnya dengan keras. Membuat Nani yang melihatnya terlonjak kaget saking kerasnya dentuman pintu kayu itu.
"Astaghfirullah! Punya mantu kok ya iblis kayak dia!" umpat Nani kepada Wulan.
Kemudian Nani ikutan masuk ke kamarnya, tetapi setelah itu keluar lagi sambil membawa tas kecil. Saat ini ia ingin pergi ke rumah Vita, adiknya Gino. Siapa tahu di sana ia menemukan dukungan dan ketenangan dari keadaan yang membara di rumahnya.
Sedangkan Gino saat ini sudah tiba di depan rumah Naya. Akan tetapi keadaan di rumah Naya pagi ini terlihat sepi, seperti tidak ada orang sama sekali. Untuk mencoba bertanya pada tetangga terdekat kebetulan tidak ada orang yang lewat. Kemudian Gino berusaha menelpon Naya lagi, tetapi handphonenya tetap tidak aktif.
Akhirnya Gino pergi dari rumah itu dengan perasaan yang lebih gelisah. Seandainya saat ini ia tidak harus pergi ke kantor, mungkin Gino akan menunggu Naya di rumahnya. Tetapi nanti sore sepulang dari kantor, Gino tetap akan datang lagi ke rumah Naya.
__ADS_1
Waktu berjalan begitu cepat. Sore hari saatnya Gino pulang dari kantor. Tetapi seharian ini konsentrasi kerja pria itu sungguh kacau, karena handphone Naya tetap tidak dapat dihubungi.
Bahkan tadi saat waktunya istirahat, pria itu sampai melewati jam makan siangnya akibat kepikiran Naya. Dan saat ini, begitu tiba waktunya pulang kerja maka Gino segera pergi ke rumah Naya lagi.
Beruntungnya sore itu di rumah Naya sudah ada Fifi.
"Om mau ketemu mbak Naya ya?" tanya Fifi begitu melihat Gino turun dari mobilnya.
"Iya. Dia ada kan?"
Fifi menggeleng kepala.
Otomatis Gino langsung mengerutkan keningnya, perasaannya tiba-tiba menjadi was-was berpikir sesuatu yang buruk tentang Naya.
"Mbak Naya ada di rumah sakit, Om," tutur Fifi yang membuat Gino langsung kaget.
"Rumah sakit mana?" tanyanya langsung tanpa bertanya dulu siapa yang sakit.
"Rumah sakit Husada."
"Oke! Terimakasih ya," ucap Gino yang kemudian langsung masuk lagi ke mobilnya.
Setelah itu Gino melajukan mobilnya menuju rumah sakit yang disebutkan oleh Fifi. Di perjalanan itu perasaan Gino mulai resah. Ia takut sesuatu yang berbahaya menimpa pujaan hatinya. Sesampainya di rumah sakit, Gino jadi ingat jika ia lupa bertanya kepada Fifi di mana Naya dirawat. Sambil mengumpat diri maka kemudian Gino bertanya kepada suster yang berjaga.
"Maaf, Pak. Tidak ada pasien atas nama Naya," ucap suster itu.
"Coba di cek lagi, Sus. Dia baru masuk tadi pagi," pinta Gino.
Suster itu mencari lagi nama yang disebutkan oleh Gino. Akan tetapi hasilnya tetap tidak ada.
"Gino!"
Tetiba terdengar suara wanita yang memanggil Gino dari arah belakang.
__ADS_1
*