
Keesokan harinya, dua hari sebelum pernikahan Naya, wanita itu kedapatan mens lagi. Padahal seingatnya masih bukan saatnya tamu bulanannya itu datang. Keluarga Abdul yang memang cenderung religi, tentu bertanya karena tidak melihat Naya sholat subuh tadi.
"Aku haid, Buk," jawab Naya saat ditanya oleh Rahma.
"Bukannya kalau kamu haid akhir bulan, Nay?" heran Rahma.
"Iya, nggak tahu kok datang pertengahan bulan."
"Bisa jadi karena kecapean, anakku kadang suka gitu kalau sudah capek badan sama pikiran," seru salah seorang saudara Naya, ikut nimbrung obrolan mereka.
Rahma memandang intens kepada Naya. "Capek pikiran? Kamu mikirin sesuatu, Nay?" curiga Rahma.
Rahma menebak kalau Naya pasti kepikiran tentang ibu mertuanya yang masih abu-abu kepada Naya.
Kemudian Naya menggeleng kepala.
Rahma menghentak nafasnya. Mereka sudah pernah sepakat untuk tidak lagi mau memikirkan tentang ibu Nani. Karena yang terpenting sekarang adalah masa depan Gino dan Naya. Yang tentunya berimbas kepada masa depan Lala juga.
"Calon pengantin malah haid, kasihan suaminya entar," celetuk salah seorang saudara Naya lagi, lengkap dengan cekikikan nya.
Tak ayal dari celetukan itu mengundang tawa dan menjadi candaan pagi itu. Candaan absurd yang mengarah tentang dunia pengantin baru. Meski Naya bukanlah seorang gadis yang masih baru mau menikah, tetapi mendengar obrolan saudara-saudaranya itu rasanya ikut geli. Sehingga Naya memilih pergi saja untuk kemudian berdiam diri didalam kamar.
Sejenak Naya berpikir sendiri, apa jangan-jangan mens nya datang lagi karena pengaruh suntik kemarin sore? Tetapi itu bisa jadi. Karena bidan itu kemarin menjelaskan juga kepada Naya kemungkinan adanya perubahan hormon tubuh kepadanya, setelah diam-diam suntik injeksi untuk jangka tiga bulan.
Yah, Naya memutuskan untuk menunda kehamilan untuk sementara. Bukan karena tidak siap memiliki buah hati dengan Gino. Tetapi karena tidak ingin gegabah lagi. Dirinya yang tidak sepenuhnya diterima oleh keluarga Gino, membuat Naya jadi pesimis. Apalagi statusnya yang pernah gagal membina rumah tangga, membuatnya nekat untuk KB dulu. Naya ingin melihat bagaimana sikap Nani ke depannya. Jika ada perubahan dan mau menerimanya dengan lapang dada, mungkin Naya tidak akan ragu lagi untuk memberi Nani seorang cucu. Akan tetapi jika Nani tetap angkuh kepadanya, Naya takut suatu saat dirinya tidak akan kuat lagi. Sebelum penyesalan itu datang, sebelum nanti terpaksa tetap bersama karena kasihan anak, maka Naya memutuskan untuk KB dulu.
Naya tahu apa yang dilakukannya itu adalah sebuah dosa, karena memang ia melakukan itu tidak jujur dengan siapapun, termasuk kepada Gino. Tetapi, apakah ia tidak boleh untuk egois sebentar? Memutuskan mau menikah dengan Gino saja, Naya sudah pasang muka tebal dari tatapan sengit Nani. Apalah daya, lelaki yang mau menikahinya itu adalah sosok yang sayang untuk ditinggalkan. Dan setelah menikah nanti harapan Naya hanyalah restu dari Nani yang semoga saja segera terucap.
__ADS_1
***
Tibalah saatnya hari pernikahan Naya dan Gino digelar. Akad pernikahan itu sebentar lagi akan terucap. Saat ini Gino sudah siap berangkat menuju rumah Naya. Tak lupa sebelum berangkat Gino masuk ke kamar orang tuanya terlebih dahulu, karena sang ibu yang memilih mengurung diri di sana sepagian.
"Bu," sapa Gino sambil duduk bersimpuh di depan Nani.
Nani menoleh sekilas, menatap Gino yang terlihat semakin tampan dengan setelan jas pengantin yang dipakainya. Tetapi kemudian Nani malah membuang mukanya menatap ke luar jendela kamar. Aura wajahnya terlihat dingin. Tak satupun kata yang keluar dari mulut Nani sepagian ini.
"Aku mau berangkat. Do'akan lancar ya, Bu," ucap Gino dengan sungguh-sungguh.
Bagi Gino sudah tidak masalah Nani tetap kekeh tidak mau ikut menyaksikan akad nikahnya. Yang terpenting sekarang adalah meminta do'a tulus dari ibunya.
Sedangkan reaksi Nani tetap bergeming saja. Dan saat Gino meraih tangan Nani untuk kemudian menyaliminya, Nani tidak menolak.
Suryo yang melihat pemandangan itu dari ambang pintu kamar, tak terasa meneteskan air matanya melihat Gino yang harus seperti itu. Dalam hati lelaki tua itu selalu tersemat do'a kebaikan untuk Gino. Sebuah permohonan do'a yang akan membuat putranya selalu merasa bahagia luar biasa bersama keluarga kecilnya nanti.
Akhirnya rombongan keluarga Gino bertolak ke rumah Naya. Gelaran akad nikah Gino dan Naya akan dilaksanakan tepat pukul dua siang. Hanya tinggal Nani seorang diri yang tidak ikut serta. Entahlah, akan sampai kapan Nani akan seangkuh itu untuk menerima kenyataan yang ada.
Kurang dari lima belas menit sebelum akad di mulai, rombongan keluarga Gino sudah tiba di rumah Naya. Gino langsung didudukkan berhadapan dengan pak penghulu, juga ada Abdul dan dua orang saksi yang sudah ditunjuk Abdul untuk menjadi saksi pernikahan Naya dan Gino.
Acara berlangsung dengan sangat lancar. Gino mengucapkan ikrar akad pernikahan dengan tegas dan tanpa perlu diulang. Lantunan do'a dari seorang kyai yang Abdul undang pada hari itu, telah menjadi penutup dari acara akad nikah hari ini.
Naya tetap berada di kamarnya. Ada bidadari kecilnya yang senantiasa menemani Naya sedari tadi. Setelah mendengar lantunan do'a itu dibaca, ia pun turut menengadahkan tangan, mengamini dengan tulus semua do'a kebaikan yang ia harapkan akan sebaik kehidupan pernikahannya nanti.
Tak lama setelah itu seseorang membuka pintu kamar Naya, ternyata Abdul dan Rahma yang membukanya. Tetapi setelah itu Gino masuk ke kamar itu, untuk menyerahkan mas kawin nya kepada Naya, juga untuk menyematkan cincin pernikahannya.
Adegan seperti itu tak luput dari jepretan handal tukang fotografer dadakan, yaitu Fifi. Gadis itu saat ini sudah lega hati Naya memilih Gino sebagai pasangan halalnya. Sebab dari yang ia tahu dan lihat, Gino memang seorang lelaki yang baik untuk Naya maupun untuk Lala.
__ADS_1
Hingga pada malam harinya, suara musik gambus mulai memeriahkan pesta pernikahan itu. Tamu-tamu undangan bertambah ramai. Apalagi ketika sebagian teman terdekat Gino dari kantornya yang datang, suasana menjadi tambah ramai dan seru. Rata-rata mereka menyeru akhirnya soldout juga kepada Gino. Meski begitu, teman-teman Gino tidak ada yang masalah Gino menikah dengan seorang janda yang punya anak. Semua bersikap welcome kepada Naya. Sehingga membuat Naya tersenyum lepas, karena merasa memiliki teman yang seru seperti mereka.
Malam semakin tua. Akhirnya Suryo dan sebagian keluarga yang menetap tadi berpamitan pulang kepada Abdul. Setelah itu mereka berpamitan kepada Gino dan Naya juga.
"Kalau merasa capek, tinggal tidur saja nggak pa-pa. Jangan ikut-ikutan seperti bapak-bapak," seru Suryo kepada Naya, setelah memperhatikan mata menantunya yang sayu.
Naya hanya tersenyum tipis menanggapi pesan Suryo.
"Iya, Yah. Setelah ini kita mau istirahat kok," ucap Gino.
Kemudian Suryo dan lainnya pulang dari rumah Naya.
"Dek, kamu capek kan? Ayo istirahat! Biarkan saja mereka begadang," ucap Gino mengajak Naya untuk tidur.
Naya langsung mengiyakan ajakan Gino. Setelah itu mereka berdua masuk rumah dan segera masuk ke kamar.
Di dalam kamar itu Gino segera melepas bajunya tanpa sungkan dihadapan Naya. Tersisa kaos oblong putih yang melekat di tubuhnya.
"Aku belum sholat isya, mau jama'ah nggak, Dek?" ucap Gino sambil mulai menyincing celananya hingga selutut.
"Aku-- nggak sholat, Mas," sahut Naya dengan pelan.
Gino balik menatap heran.
"Aku lagi mens," jujur Naya kemudian, lengkap dengan senyum nyengir efek malu.
Haa?
__ADS_1
*