
Waktu maghrib sudah usai. Gino, Naya dan Lala sudah siap berangkat ke rumah orang tua Naya untuk mengantar Fifi pulang. Kue yang tadi dibeli oleh Gino juga dibawa untuk cemilan waktu di jalan. Sebelumnya Naya sudah menelpon Rahma untuk tidak usah masak buat makan malam, karena ia akan membeli di luar untuk makan malam bersama keluarganya.
Kebetulan tak jauh dari tempat Naya tinggal ada warung penjual nasi goreng yang cukup viral lantaran satu porsinya yang sangat banyak, bisa dimakan oleh tiga atau empat orang. Maka dari itu Naya akan membeli nasi goreng itu sebanyak dua porsi, dan nanti akan mereka nikmati sama-sama dalam satu wadah. Duh, membayangkan saja sudah bakal seru duluan.
Waktu menunjukkan lewat pukul tujuh malam saat mereka tiba di rumah Abdul. Lala langsung lari ke arah Abdul yang sedang menunggu kedatangan mereka. Kakek dan cucu itu saling menyapa dan bercanda. Setelah itu, semuanya masuk ke dalam rumah.
"Gimana keadaan kamu, Nay? Sudah enakan?" tanya Rahma di saat seluruh keluarga Abdul sudah kumpul jadi satu di ruang makan.
"Alhamdulillah sudah enak, Bu," sahut Naya.
"Biasanya kalau sudah empat bulan itu sudah jarang mual lagi. Kamu jangan cape-cape, Nay. Istirahat yang cukup. Usia kandungan kamu itu masih rawan loh, Nay. Dijaga dan disayang, biar kamu dan bayi kamu nanti lahirnya sehat," pesan Rahma.
"Iya, Bu."
Gino melirik kecil kepada Naya saat mendengar pesan yang diucapkan oleh Rahma. Entah mengapa tiba-tiba ia merasa tidak sehatnya Naya tadi pagi karena ulahnya yang semalam. Sejak Naya hamil, baru semalam mereka main dua ronde. Jika benar karena itu, ke depannya Gino harus bisa tahan diri.
"Kenapa, Mas?" tegur Naya begitu sadar sedang dilirik oleh suaminya.
"Ah, tidak apa-apa. Aku cuma mikir ucapan ibu barusan. Apa kata ibu itu benar, Dek. Jadi keputusan kita untuk mengajak Fifi tinggal bareng kita itu sudah tepat," ucap Gino.
"Kalian mau Fifi tinggal bareng kalian?" tanya Abdul.
"Iya, Pak. Tapi kalau bapak mengijinkan," sahut Gino.
Abdul dan Rahma sama-sama diam, untuk mendengarkan alasan Gino ingin Fifi tinggal bersama mereka.
"Kita tadi sudah bahas ini, Pak. Dan Fifi setuju. Selama ini Lala jarang masuk sekolah setelah Naya hamil, dan jika terus seperti ini kasihan Lala," jelas Gino.
"Kalau Fifi nya sudah setuju ya sudah, tidak apa-apa," sahut Abdul kemudian.
Naya dan Gino sama-sama tersenyum lega mendapat ijin membawa Fifi oleh Abdul.
"Kalau begitu aku mau berkemas sekarang. Biar besok Lala bisa masuk sekolah bareng ante pipi, ya nggak, La?" ujar Fifi semangat sekali.
"Assyiiik... Besok Yaya sekoyah!" pekik Lala ikut senang.
"Nanti dulu berkemas nya, Fi. Sekarang kita makan dulu mumpung nasi gorengnya masih hangat," seru Rahma.
Lalu mereka semua menikmati makan malam bersama dengan perasaan suka cita.
***
Waktu berjalan dengan cepat. Tak terasa kandungan Naya sudah memasuki bulan ke tujuh. Seminggu lagi mereka akan mengadakan tasyakuran tujuh bulan kandungan Naya. Kalau daerah tempat Naya tinggal disebut dengan istilah 'Tingkepan'.
Tingkepan sendiri di daerah Naya biasanya dikhususkan untuk calon anak pertama dari pasangan suami istri. Berhubung ini adalah anak pertama untuk Gino, maka tradisi itu tetap dilaksanakan meski untuk Naya sendiri itu adalah anak kedua Naya.
Naya dan Gino sepakat untuk mengadakan tasyakuran itu dengan sederhana saja. Tidak perlu siraman di luar rumah sehingga menjadi tontonan kerabat lainnya. Naya memutuskan untuk siraman di dalam kamar mandi dan itu tidak apa-apa, karena itu hanya tradisi yang bisa dikemas secara meriah atau tidak semuanya tergantung pada yang menjalani.
__ADS_1
Bukan Gino tidak mampu untuk mengadakan tasyakuran secara mewah, akan tetapi itu sudah kemauan Naya, maka Gino pun hanya bisa menghormatinya. Dan lagi acara itu masih seminggu lagi.
Sore ini rencananya Naya akan pergi kontrol ke dokter kandungan. Mereka sudah siap-siap berangkat.
"Mas, naik motor aja yuk?" pinta Naya karena kebetulan mereka berangkat berdua saja, sedangkan Lala dan Fifi kebetulan sedang ada di rumah kakek neneknya.
"Di luar agak mendung loh, Dek," ucap Gino sambil menatap langit sore yang sedikit mendung, karena memang sudah memasuki musim hujan.
"Cuma mendung, siapa tahu nggak jadi hujan. Lagian naik motor itu asyik, bisa terhindar macet pula," seru Naya yang sangat ingin naik motor sekalian sambil peluk-peluk suami tersayang.
"Iya sih," setuju Gino kemudian. Karena mereka sebelumnya sudah buat janji dulu kepada dokter yang akan didatangi, jadi dengan menaiki motor mereka bisa segera sampai ke tempat tujuan tanpa terlambat.
Lalu mereka berdua pun berangkat ke klinik tempat dokter yang akan mereka datangi dengan naik motor. Mereka tiba sepuluh menit sebelum giliran mereka. Sayangnya, tiba-tiba saja dokter yang akan mereka temui ada panggilan operasi saecar. Berhubung sudah terlanjur sampai di tempat, maka mereka memutuskan untuk kembali lagi sesuai ucapan perawat yang mengatakan jika dokter akan kembali lagi sekitar dua jam lagi.
"Kita cari masjid yuk sekalian sholat maghrib," ajak Gino.
Naya mengangguk setuju. Lalu mereka berdua pergi dari klinik itu untuk mencari masjid terdekat.
Tiba-tiba saja hujan turun dengan deras saat mereka belum menemukan masjid. Sejenak Gino menepikan motornya untuk mengambil jas hujan. Sialnya ternyata di jok motornya tidak ada jas hujan. Alhasil mereka berdua akhirnya basah kuyup.
"Trus gimana ini, Mas?" ucap Naya.
"Kita pulang!" seru Gino.
Lalu mereka berdua kembali menerjang hujan. Meski kebasahan tetapi Naya sangat senang. Wanita itu memeluk erat pada tubuh Gino. Tak tahunya Gino mengajak pulang ke rumah orang tuanya, dan Naya hanya bisa pasrah saja karena sudah terlanjur sampai juga.
"Loh, om Gino kok hujan-hujanan?"
"Iya, kehujanan di jalan, Put," sahut Gino.
"Dek, kamu lewat pintu samping saja. Hati-hati ya takut jalannya licin," seru Gino kepada Naya.
"Iya, Mas."
Kemudian Naya berjalan pelan menuju pintu samping rumah. Tetapi sebelum Naya membuka pintunya, pintu itu sudah ada yang membuka duluan dari dalam.
"Naya!" kaget Nani melihat ada Naya di depan pintu.
Nani membuka pintu niatnya akan membuang sesuatu, karena wanita itu sedang memegang timba berisi air.
Sejenak mereka saling bertatapan. Mata Nani langsung mengarah pada perut Naya yang sudah buncit sempurna, apalagi kondisi baju Naya yang basah membuat bentuk perut itu semakin jelas.
"Kenapa hujan-hujanan? Masuk, Nay!" kata Nani kemudian.
Naya mengangguk saja tanpa bicara apa-apa. Sejujurnya perasaan Naya selalu cemas sendiri bila datang ke rumah mertuanya dan berhadapan dengan Nani seperti sekarang.
"Ganti bajumu di kamar mandi," tunjuk Nani pada kamar mandi yang ada di dapur.
__ADS_1
Naya langsung masuk ke kamar mandi itu. Meski ia sendiri kebingungan setelah ini harus memakai baju apa. Dan lagi Naya tidak ingin merepotkan ibu mertuanya yang langsung sigap membersihkan air yang menetes dari baju Naya setelah Naya masuk barusan.
"Mas Gino ke mana sih?" gumam Naya seorang diri dari dalam kamar mandi.
Meski sudah ada dalam kamar mandi, Naya tak segera melepas pakaiannya sebelum ada baju ganti untuknya. Sejenak Naya mengintip ke luar dari pintu kamar mandi, sudah tidak ada ibu mertuanya di sana. Lalu ke mana Gino?
Terdengar suara orang melangkah dari ruang dalam rumah, buru-buru Naya menutup pintunya lagi. Akan tetapi kemudian terdengar pintu kamar mandinya ada yang mengetuk. Setelah dibuka ternyata ada Nani sambil membawa baju ganti untuk Naya.
"Pakai ini. Itu punya Mila. Orangnya tidak ada. Biar nanti ibu yang ngomong sama Mila," ucap Nani yang tentunya membuat Naya tertegun dengan sikapnya yang ia lakukan kepada Naya.
"Terimakasih, Bu," balas Naya dan kemudian mengambil baju itu.
Beruntung di rumah ini juga ada kakak iparnya yang sama-sama hamil, jadi Naya tidak kerepotan untuk mencari pakaian yang muat untuknya.
Naya menutup pintunya lagi saat Nani pergi. Meski sudah dapat pakaian ganti, sayangnya untuk bagian underwear nya tidak ada. Apa iya harus pakai baju saja dengan kondisi losdoll di dalam? Ah, bisa-bisa memalukan!
Berhubung tubuh Naya sudah mulai menggigil kedinginan, maka kemudian terpaksa Naya mengganti pakaiannya meski tanpa mengenakan underwear pada bagian intimnya.
Naya keluar dari kamar mandi itu, bermaksud ingin mencari Gino di dalam rumah. Mungkin suaminya itu saat ini ada di dalam kamarnya.Tetapi lagi-lagi Naya berpapasan dengan Nani yang sedang duduk di ruang tengah.
"Gino tidak ada," ucap Nani memberitahu kepada Naya.
"Ah, mas Gino! Pasti dia sengaja ninggalin aku sendiri di sini!" umpat Naya kesal sendiri dalam hati.
Memang sudah sering Gino mengajaknya datang ke rumah ini, akan tetapi Naya selalu beralasan ini itu untuk menghindarinya. Dan Gino memang tipekal lelaki sabar. Meski selalu mendapat penolakan dari Naya, pria itu tidak pernah marah satu kali pun kepada Naya.
"Mas Gino ke mana, Bu?" Naya memberanikan diri bertanya kepada Nani, sudah kepalang kepo ke mana Gino pergi dan tidak pamit kepadanya.
"Kata Putra Gino keluar tadi. Hujan-hujanan lagi," jawab Nani.
Naya terdiam berpikir. Hujan-hujanan lagi? Memang Gino mau pergi ke mana coba?
"Duduk, Nay, jangan berdiri terus," ucap Nani kemudian.
Naya ikut duduk berdua bersama Nani. Wanita itu celingukan melihat sekitar rumah yang sepi, sepertinya Suryo sedang tidak ada di rumah. Agus dan Mila juga. Cuma ada Putra dan Roby di rumah ini bersama Nani.
Hujan di luar perlahan mulai reda. Tetapi Gino tidak kunjung kembali ke rumah ini. Membuat perasaan Naya tiba-tiba dongkol sendiri kepada Gino. Awas saja kalau datang setelah ini.
"Sudah berapa bulan, Nay?" tanya Nani, cukup mengagetkan Naya yang saat itu sedang melamun.
"Ee... Sudah tujuh bulan, Bu," sahut Naya agak gugup.
Nani tersenyum tipis, tetapi Naya tidak tahu itu, karena Naya keburu menundukkan wajahnya setelah menjawab pertanyaan Nani barusan.
"Semoga lahirannya lancar ya, ibu dan bayinya selamat dan sehat."
Deg.
__ADS_1
Naya langsung mengangkat wajahnya ketika mendengar ucapan itu keluar dari mulut Nani.
*