
Hari berganti petang. Waktu sholat maghrib sudah tiba. Abdul dan Rahma lekas bergegas untuk pergi ke masjid yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah mereka. Sedangkan Naya memilih sholat di rumah saja.
Wanita itu menunaikan tiga rakaatnya dengan khusyuk. Bersyukurnya Lala tidak rewel, tetap duduk tenang dalam kamar bersama Naya, sambil asyik bermain balon yang tadi diberi oleh Wahyu.
Usai menyelesaikan sholatnya, Naya selalu memungkasi dengan do'a kebaikan yang ia panjatkan. Tiba-tiba saja pikirannya kembali teringat dengan ucapan Abdul, perkataan pak lek Sholeh, dan juga hinaan orang yang bertamu tadi. Membuat Naya tak terasa meneteskan air matanya. Sadar diri jika ia memanglah orang tak punya, tetapi semua bisa berubah bila Tuhan berkehendak. Naya sangat yakin kekuasaan Tuhan itu.
"Ya Allah... Jika memang hamba masih memiliki jodoh dari-Mu, jodoh yang terbaik untukku, untuk keluarga kami, seseorang yang mau menerima Lala dengan tulus, maka datangkanlah ia. Jangan Engkau halangi apapun itu, jika jodoh itu memang yang terbaik untukku. Aku mohon tunjukkanlah jalan-Mu. Permudahkanlah urusanku. Dan angkatlah derajatku dan juga derajat keluargaku, agar tak lagi menjadi hinaan orang-orang. Jauhkanlah kami dari orang-orang yang berniat dzolim terhadap kami. Sesungguhnya Engkau Maha Tahu dan maha adil. Hamba percaya kun fayakun-Mu. Ya Allah...."
Naya pernah mendengar jika orang teraniaya maka do'anya mudah dikabulkan. Atas dasar itu Naya sangat yakin, jika Tuhan melihat hinaan orang itu dan juga mendengar do'anya. Entahlah, sebenarnya Naya tidak ingin menjadi sosok pendendam. Tetapi hinaan dari orang itu dan juga dari pak lek Sholeh tadi yang membuat Naya seakan menuntut keadilan kepada Tuhan.
Sekilas Naya melirik kepada Lala. Air mata itu kembali berlinang dengan deras. Teringat ketika bocah polos itu bertanya tentang kemana ayahnya. Rasanya sungguh sedih. Karena bocah sekecil itu tidak akan paham dengan arti perceraian yang dilakukan Naya.
Tok tok tok
Pintu kamar Naya ada yang mengetuk.
"Naya," rupanya suara Rahma yang memanggil.
Buru-buru Naya menyusut air matanya.
"Iya sebentar, Buk," kata Naya sambil mulai melepas mukenahnya.
"Ibu masuk ya?" Lalu Rahma masuk begitu saja meski Naya tidak menjawabnya.
"Kamu habis nangis?" tanya Rahma langsung, setelah mendapati mata anaknya begitu sembab.
Naya bergeming saja. Ia pun duduk di tepi ranjang, diikuti Rahma yang juga duduk disampingnya.
"Omongan pak lek Sholeh nggak usah dipikirkan, Nay. Dia memang begitu orangnya. Untungnya bapak kamu berani melawan tadi," kata Rahma seakan tahu jika yang ditangisi Naya adalah tentang pak lek Sholeh, yang nyatanya memang benar.
"Iya, Buk. Aku nggak akan nangis cuma karena dihina seperti itu. Aku cuma minta do'a ibu, semoga Tuhan segera mendatangkan jodoh untukku. Supaya aku nggak nyusahin bapak ibu lagi," balas Naya sudah bisa tenang.
"Bapak sama ibu tidak pernah di susahkan kamu, Nay. Ibu senantiasa mendoakan kamu, juga adik-adik kamu, supaya kelak bisa menjadi orang yang bermartabat. Yang dermawan dan tidak sombong. Jadi kamu nggak usah sedih. Ibu yakin, cepat atau lambat Allah akan mendatangkan jodoh kamu. Jodoh yang bisa membahagiakan kamu, yang bisa menerima Lala sebagai anaknya juga," kata Rahma yang mana juga terselip doa dan harapan didalamnya.
__ADS_1
"Aamiin... Terimakasih do'anya, Buk." Naya langsung memeluk Rahma dengan erat.
Dan Rahma mengusap punggung Naya, mencoba menyemangati hati Naya yang dipastikan sedang rapuh.
"Oh iya, Nay, Fifi mana kok tadi nggak ikut kamu pulang?" Rahma bertanya tentang Fifi. Ia melepas pelukan Naya, menatap matanya lekat-lekat.
Belum sempat Naya menjawab, diluar kamar terdengar Abdul sedang menceramahi Fifi yang baru datang. Rahma ikut keluar kamar. Wanita itu sebenarnya sudah geram dengan Fifi, cuma masih berusaha ditahan mengingat Fifi hanya sebagai keponakan. Andai yang berbuat seperti itu anak-anak Abdul dan Rahma, bisa dipastikan mereka tidak akan selesai diceramahi tiga hari tiga malam.
Naya memilih tidak keluar kamar. Masa bodoh Fifi dimarahi Abdul dan Naya. Salah sendiri pergi tidak pamit. Naya juga kesal dengan Fifi.
Terlihat Lala sudah merengek meminta kelon. Agar tidak sampai rewel, maka Naya segera menidurkan nya. Sayup-sayup mata Naya ikutan ngantuk, yang akhirnya Naya ikut tertidur bersama Lala.
Keesokan harinya, seperti biasa Naya pergi berangkat kerja. Meski hari ini hari minggu, tetapi di tempat kerja Naya itu tidak ada hari liburnya. Kecuali Naya yang minta ijin libur, barulah bisa libur. Dengan jaminan gajinya tidak bisa diterima dengan utuh.
Sedangkan orang rumah tidak ada yang memiliki kegiatan apapun, kecuali bersantai ria di rumah. Bagi keluarga Abdul, tidak ada istilah liburan meski weekend sekalipun.
Tak terasa waktu sudah menjelang sore. Tiba saatnya Naya pulang dari kerjanya. Wanita itu memilih segera pulang ke rumah. Sebelum itu Naya mampir dulu ke penjual roti bakar di pinggir jalan, teringat jika Lala doyan makan itu.
Sesampainya di rumah, Naya langsung disambut riang oleh Lala. Apalagi setelah melihat oleh-oleh yang dibawa Naya untuk Lala, membuat bocil itu langsung menyantapnya dengan lahap. Semua orang rumah sengaja menggoda Lala dengan pura-pura ingin mengambil rotinya, sehingga Lala jejeritan karena posesif dengan rotinya.
Terdengar ucapan salam dari luar rumah.
Naya langsung beranjak untuk melihat siapa yang datang. Dan benar-benar tak disangka, rupanya yang datang berkunjung saat ini adalah Gino.
"Wa-- Wa'alaikumussalam," jawab Naya agak gugup.
Entah mengapa jantung Naya terasa berdetak lebih cepat dari biasanya. Rasanya gugup luar biasa. Mirip seseorang yang lagi bertemu dengan pacarnya.
"Siapa, Mbak?" Fifi ikut ke teras menemui Naya. Karena melihat Naya yang tak kunjung masuk lagi ke rumah.
"Ee.... Ee..."
"Assalamu'alaikum, Ibu," salam Gino begitu melihat Rahma ikut keluar rumah.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam," jawab Rahma.
"Mau cari siapa ya?" tanya Rahma kepada Gino.
"Mau bertemu dengan Naya," sahut Gino sambil mencuri pandang kepada Naya.
"Ooh...." Rahma ber-oh panjang. Lalu menatap kepada Naya yang mirip orang linglung.
"Ee... Masuk, Mas," ucap Naya kemudian, mempersilahkan Gino masuk ke rumahnya.
Hari sudah senja, saat Gino datang ke rumah Naya. Pria itu saat ini sudah duduk tenang di ruang tamu rumah sederhana itu. Bersama Naya yang duduk berseberangan dengannya. Sedangkan orang rumah yang lain memilih masuk ke ruang lainnya. Kecuali Fifi yang memilih masuk kamar. Bisa dipastikan jika saat ini Fifi pasti sedang nguping apa yang nanti dibicarakan Naya dan Gino.
"Maaf, Dek Naya, kalau aku datang tanpa bilang kamu dulu," ucap Gino memulai pembicaraan.
Deg.
Degup jantung Naya kembali berdetak lebih kencang. Saat dirinya dipanggil dengan sebutan seperti itu oleh pria yang baru dikenalnya sebatas nama saja.
Naya hanya mengangguk pelan. Mau protes pun rasanya percuma, toh sudah terlanjur datang. Lagian Gino bertamu ke rumah ini dengan sopan.
"Mm... Kamu tahu dari mana rumahku?" tanya Naya penasaran sekali. Walau dalam hati sudah menduga jika mungkin Gino tahu alamat rumahnya dari Budi, suaminya Yuli.
"Aku tanya ke Budi. Dan-- Kemarin aku juga nggak sengaja ngikutin kamu," terang Gino.
"Ngikutin? Kapan?"
"Kemarin pagi, pas kamu lagi nganter adik kamu sekolah. Aku-- terus ikutin kamu, tapi sampai gang depan saja."
Naya memberanikan diri menatap Gino yang sepertinya tipekal cowok pede sekali. Terbukti dari sekarang ini.
"Mm... Dek Naya, bolehkah aku mengenalmu lebih jauh?"
Deg.
__ADS_1
*