
Nani dan Suryo pulang setelah mereka selesai makan bersama. Sebenarnya Gino sudah berusaha mencegahnya karena saat mereka pulang waktunya mepet dengan maghrib, setidaknya dengan mereka menunaikan kewajiban tiga rakaatnya terlebih dahulu di sini mereka akan tenang dalam perjalanan pulang.
Tetapi Nani yang dari awal sudah tidak sabar ingin segera pulang, dengan berat hati akhirnya Gino mengijinkannya. Dan Suryo kali ini hanya bisa manut apa kata istri. Lalu kedua orang tua Gino itu akhirnya pulang juga.
Kumandang adzan maghrib sudah terdengar dari toa masjid yang cukup jauh jika ditempuh dengan jalan kaki dari rumah mereka. Karena itu mereka memutuskan untuk sholat di rumah saja. Andai ada di rumah Naya, tentu mereka akan memilih sholat berjamaah di masjid karena jaraknya yang cukup dekat.
Gino menggelar sajadahnya lebih dulu, di susul oleh Naya yang juga menggelar sajadahnya dibelakang Gino. Lalu mereka berdua beribadah dengan khusyuk sambil berjamaah. Sedangkan Lala diam asyik di ruang tengah sambil menonton film kartun kesukaannya.
Selesai memungkasi sholatnya dengan memanjatkan do'a kebaikan kepada Tuhan, kemudian mereka berdua beranjak turun dari tempat sholat nya. Tetapi siapa sangka ternyata Lala sudah tertidur begitu saja di ruang tengah itu. Dan itu sungguh membuat Naya heran sendiri karena tadi siang tidur Lala cukup lama, baru jam segini kok sudah tidur lagi.
Buru-buru Naya mengecek kondisi tubuh Lala, takut putrinya itu demam karena tertidur pada waktu yang tak biasanya. Bersyukurnya suhu tubuh Lala normal saja, membuat Naya akhirnya bisa bernafas dengan lega.
"Biar aku pindah ke kamar, Dek," ucap Gino langsung mengangkat tubuh Lala, memindahnya ke dalam kamar tidur Lala.
Naya yang melihat itu sudah maksud apa tujuan Gino menidurkan Lala di kamar Lala sendiri. Tetapi ia sudah tidak bisa protes, karena sudah saatnya juga ia menyerahkan seluruh jiwa raganya kepada suaminya sebagai wujud nafkah batin untuk suaminya.
"Tadi Lala nggak bobok siang, Dek?" tanya Gino setelah mereka berdua sudah keluar dari kamar Lala.
Karena setahu Gino, Lala tidak mungkin tidur di jam-jam awal seperti ini, kecuali kalau sedang tidak enak badan.
"Justru tadi siang Lala tidurnya paling lama daripada kemarin-kemarin," jelas Naya.
Gino tidak merespon lagi, tetapi pria itu malah pergi ke luar rumah. Terdengar bunyi gembok pagar yang sedang dikunci oleh Gino, membuat Naya tiba-tiba muncul ide jail untuk mengerjainya.
"Mas, kok sudah di kunci? Ini masih sore loh?" tanya Naya mulai mancing jawaban Gino.
"Ini tandanya sudah tidak menerima tamu datang. Aku mau bobok," kata Gino sambil mengerling aneh.
Setelah selesai mengunci pagar rumah, Gino akan mengunci pintu rumah juga, tetapi langsung dicegah oleh Naya.
__ADS_1
"Biar aku saja nanti yang kunciin. Mas kalau sudah ngantuk tidur saja, aku masih belum ngantuk. Aku mau duduk santai di sini," kata Naya sambil mulai duduk di ruang tamu itu.
Gino menatap aneh kepada Naya. Bukannya pria itu masuk ke kamarnya, malah ikutan duduk bersama Naya. Tangannya mulai usil meraba-raba pada perut Naya.
"Geli, Mas, jangan gini ah!" Naya pura-pura menolak sentuhan seduktif yang dilakukan suaminya.
"Bobok yuk, Dek," ajak Gino layaknya bocil yang sedang merengek kepada ibunya.
"Nggak ngantuk, Mas," jawab Naya sambil sok sibuk main-main handphonenya.
Gino semakin menatap dalam kepada Naya, tetapi yang ditatap pura-pura acuh seperti tidak tahu.
"Lagi lihat apa sih?" kepo Gino sambil mengambil handphone Naya dan kemudian melihatnya.
Rupanya yang dilihat Naya hanya berita terkini yang ada di google, membuat Gino seketika meletakkan handphone Naya ke meja dan lalu pria itu langsung berbaring dipangkuan Naya.
"Jangan main hape lagi, mainin aku aja sekarang," kata Gino tiba-tiba.
Naya melirik kecil, ia tetap betah ingin menguji suaminya seberapa kuat Gino menghadapinya. Sejujurnya ia sudah ingin tertawa mendengar ucapan suaminya. Mainin? Mainin burung maksudnya? Hahaha...
Walau sebenarnya menguji-uji seperti ini tidak baik Naya lakukan pada Gino, tetapi entah mengapa Naya tertarik untuk mengujinya lebih dulu.
Akhirnya Naya memilih patuh tidak mengambil handphonenya, akan tetapi wanita itu malah duduk bengong menatap pada pintu. Gino ikut melihat ke arah pintu, sedetik kemudian kembali menatap Naya.
"Lagi mikirin apa, Dek? Apa ada sesuatu yang kamu pikirkan?"
Tiba-tiba Gino kepikiran dengan kedatangan ibunya tadi. Mungkin saja Naya kepikiran itu saat ini.
Naya bergeming saja. Malah ia kemudian mengangkat kepala Gino dari pahanya, kemudian beranjak masuk ke kamarnya. Gino yang melihat itu hanya bisa menatap heran. Tetapi kemudian pria itu beranjak juga, setelah sebelumnya mengunci pintu rumahnya terlebih dulu.
__ADS_1
Tepat saat Gino akan masuk ke kamar menyusul Naya, tetapi mereka berdua malah berpapasan di ambang pintu, karena Naya yang akan keluar dari kamarnya lagi. Tetapi kemudian Naya berlalu lebih dulu, dan Gino lagi-lagi hanya terbengong di tempat.
Fix! Pasti ada sesuatu yang dipikirkan Naya sekarang. Begitulah dugaan kuat hati Gino. Terlihat Naya masuk ke kamar mandi. Dan Gino memutuskan menunggu Naya di kamarnya, setelah itu perlahan Gino akan bertanya apa yang sebenarnya terjadi dengan diamnya Naya sekarang.
Entah kenapa Naya agak lama ada di dalam kamar mandi, sehingga Gino kembali melihat dari pintu kamarnya yang ternyata Naya masih ada di dalam kamar mandi. Ingin rasanya Gino mendobrak pintu kamar mandi itu, takut terjadi apa-apa dengan Naya. Akan tetapi kemudian terlihat handle pintu kamar mandi berputar, pertanda Naya akan keluar dari sana.
Buru-buru Gino pergi masuk lagi ke kamarnya. Dan pria itu langsung duduk berselonjor bersandar di papan ranjang sambil pura-pura main handphone.
"Kok nggak ada masuk?" batin Gino resah lagi setelah Naya tak kunjung masuk ke kamar.
"Apa dia marah karena aku ajak tidur? Masa iya marah cuma karena itu?"
Ceklek.
Handle pintu kamar berbunyi. Dan Gino langsung menoleh ke arah pintu. Muncul Naya yang masuk ke kamar sudah dengan penampilan yang berbeda. Membuat detak jantung Gino seakan copot begitu saja.
Sebuah gaun tidur berbahan tipis dengan warna soft sebatas lutut melekat seksi di tubuh Naya, dengan pengait yang hanya sekecil spaghetti di bahunya. Sungguh pemandangan yang mampu membuat Gino melongo di tempat. Apakah ini kode untuk ninuninu?
"Mau minum nggak, Mas?" tawar Naya, karena kebetulan saat ini ia membawa satu gelas air putih di tangannya.
Gino masih tertegun tak berkedip, melihat Naya yang berjalan perlahan mendekatinya.
"Ooh... Nggak mau? Ya udah, aku aja yang minum," kata Naya sambil meminum air itu tepat didepan Gino.
Gino terus saja memandangi Naya yang meminum di depannya. Tetapi tatapan pria itu malah terfokus pada dua bukit kembar yang sangat jelas tidak sedang terbungkus apa-apa di sana. Perlahan mata Gino turun menatap ke daerah inti Naya. Apa di sana juga sudah tidak ada segitiganya?
Ah, Naya... Kau sungguh menggodaku!
*
__ADS_1