
Pengamen itu selesai menyanyikan satu lagu yang di request Gino. Gino segera memberi tanda terimakasih kepada pengamen itu dengan selembar uang kertas merah.
"Wah, ini banyak sekali, Kak!" kata pengamen itu merasa takjub dengan uang pemberian Gino.
"Nggak pa-pa, itu rejeki kamu. Aku suka lagunya. Good job ya, semoga kelak jadi orang sukses," ucap Gino pada pengamen itu.
"Terimakasih, Kak. Terimakasih do'anya. Mm... Semoga apa yang kakak harapkan segera terwujud ya, Kak. Semoga bisa cepat dapat cintanya si mbak," celetuk pengamen itu.
Naya yang mendengarnya jadi tersedak makanannya sendiri.
"Pelan-pelan, Dek," kata Gino yang kemudian memberikan Naya air minum.
"Oke! Spesial buat kakak berdua, saya akan nyanyikan satu lagu lagi buat kalian."
Lalu pengamen itu memetik senar gitarnya lagi, menyanyikan satu lagu romantis dari penyanyi yang sama yang tadi Gino request kepadanya.
Gino yang mendengarnya tersenyum puas kepada pengamen itu. Karena memang Gino menyukai semua lagu yang diciptakan dari penyanyi aslinya. Naya yang mendengarnya menjadi baper dengan lagunya. Seperti ada persekongkolan antara Gino dan pengamen itu, karena lagu-lagu yang dibawanya seperti kisah mereka saat ini.
Setelah menyelesaikan satu lagu, si pengamen itu kemudian berpindah tempat. Naya dan Gino sudah selesai makan. Dan seorang pelayan angkringan itu datang membawakan pesanan Gino.
"Ini nanti buat orang rumah, Dek," kata Gino sambil menenteng dua kresek berisi makanan yang sama seperti yang dimakan barusan.
"Banyak sekali, Mas," balas Naya tak enak sendiri.
Tetapi Gino hanya tersenyum. Kemudian mereka berdua kembali ke mobilnya. Dan bersiap pulang.
Waktu menunjukkan hampir pukul setengah sepuluh saat Gino tiba di rumah Naya. Abdul dan Rahma sengaja tidak tidur demi menunggu Naya pulang.
"Dek," sapa Gino sesaat sebelum mereka turun dari mobilnya.
Naya menoleh, urung keluar dari mobilnya.
"Ini buat kamu," ucapnya sambil menyerahkan handphone baru yang tadi dibelinya kepada Naya.
"Buat aku?" Naya tak lekas menerimanya. Ia masih kaget mendengar itu.
"Iya, ini buat kamu. Bukannya kamu tidak punya hape?"
Naya mengangguk pelan.
__ADS_1
"Ambil lah!" kata Gino sambil meletakkan ke tangan Naya.
"Tidak usah, Mas. Ini berlebihan buatku."
Naya masih menolaknya karena tidak enak sendiri. Baru pertama kencan sudah dibelikan handphone baru.
"Plis lah jangan ditolak, aku sedih nih." Wajah Gino dibuat sok melas, tetapi Naya tahu itu hanya akting.
"Kalau kamu nggak ada hape, trus caraku hubungi kamu gimana? Kalau nanti aku kangen kamu gimana?"
Naya melirik kecil kepada Gino yang ternyata juga banyak bicaranya kalau sudah saling kenal. Gino yang dilirik Naya malah senyum-senyum kepada Naya.
"Apa kamu tidak suka dengan tipe nya? Ini sama dengan punyaku." Gino mensejajarkan handphone baru itu dengan miliknya.
"Ini terlalu bagus, Mas. Pasti ini belinya mahal."
Walau Naya tidak tahu berapa uang yang dibayar Gino saat membeli handphone ini tadi, tapi Naya tidak bodoh amat dengan harga pasaran handphone dengan logo apel gigit itu.
Gino diam saja. Pria itu malah keluar dulu dari mobilnya, kemudian mengitarinya untuk membukakan pintu untuk Naya. Tak lupa Gino membawa makanan yang tadi dibelinya.
Sedang di teras rumah Naya sudah berdiri Abdul dan Rahma. Mereka berdua tadi sempat penasaran kenapa Naya dan Gino, apa yang dilakukan mereka sehingga tidak segera turun dari mobilnya.
Abdul dan Rahma hanya bisa tersenyum. Mau marah, mereka sudah bukan anak ABG lagi. Pun mereka juga sudah sebagai calon tunangan.
Setelah itu Abdul mempersilahkan Gino masuk tetapi Gino langsung menolak dengan alasan sudah terlalu malam dan ingin segera pulang.
Akhirnya Gino kemudian pulang. Dan Naya langsung disorot heran oleh kedua orang tuanya, terutama dengan yang ditenteng Naya sekarang.
"Ini-- Hape baru, aku dibelikan mas Gino," jelas Naya, menjawab rasa penasaran Abdul dan Rahma.
"Waah... Coba ibu lihat, Nay." Rahma merasa senang dan kepo dengan handphone baru Naya.
"Naya, itu kamu benar-benar dibelikan apa kamu yang minta?" tanya Abdul, takut kalau Naya berubah jadi wanita suka minta-minta pada laki-laki.
"Tidak, Pak. Aku saja kaget pas mas Gino ngasi ini barusan. Memang tadi waktu dia beli nggak bilang apa-apa. Aku pikir mas Gino beli buat dirinya sendiri, nggak tahunya malah buat aku," jelas Naya.
Abdul mengangguk lega. Setelah itu Abdul lebih dulu masuk ke kamarnya karena sudah merasa ngantuk. Tetapi Rahma masih betah bersama Naya, untuk kepoin ke mana saja mereka tadi keluar.
"Semoga saja kebaikan Gino bukan cuma di awal ya, Nay. Semoga apa yang dilakukan sama kamu itu murni sikap aslinya, bukan sikap yang dibuat-buat," ucap Rahma setelah mendengar cerita Naya.
__ADS_1
"Iya, Aamiin, Buk." kata Naya mengamini harapan Rahma kepada Gino.
***
Gino tiba di rumahnya saat jam menunjukkan hampir setengah sebelas malam. Kedatangannya memang ditunggu-tunggu oleh Nani. Wanita itu dari tadi kepikiran karena Gino tidak biasanya pulang selarut ini. Dan juga merasa kesal karena menganggap Gino tidak berpamitan dengannya. Padahal tadi Suryo sudah mengatakan jika Gino mungkin pulang malam karena masih akan mampir ke rumah Naya.
Gino yang tidak tahu kalau dirinya sudah ditunggu Nani, masuk ke rumah dengan pelan. Tetapi tiba-tiba dikagetkan dengan lampu yang tiba-tiba menyala, rupanya Nani yang melakukannya.
"Hem... Sekarang kamu tambah tidak tahu aturan ya, setelah kenal sama janda itu!" kesal Nani tiba-tiba menuduh Naya sebagai dalangnya.
"Ibu!" Gino sangat kaget mendengar umpatan Nani.
Pria itu berjalan mendekat kepada Nani, bermaksud ingin bersalaman dengannya. Tetapi Nani buru-buru menghindar, dengan sengaja masuk ke kamarnya setelah membuat perasaan Gino tidak karuan.
Gino hanya bisa mematung di depan pintu kamar orang tuanya. Sudut matanya sudah mulai mengembun, merasa tertusuk dengan hinaan Nani yang mengatakan Naya adalah wanita yang berpengaruh buruk kepadanya.
"Maafkan aku, Ibu. Maafkan aku," lirih hati Gino seiring tetes air matanya yang mulai mengalir.
"Baru pulang, Gi?"
Tiba-tiba Gino dikagetkan dengan suara Wulan yang entah sejak kapan berdiri di belakangnya.
"Iya, Mbak," sahut Gino sambil menyusut air matanya.
"Kamu nangis?" tanya Wulan memperjelas.
Gino bergeming saja.
"Kalau sudah tidak enak di awal jangan diteruskan, Gi. Entar kuwalat tahu rasa kamu!" ucap Wulan sok-sok menasehati.
Gino tersenyum getir menatap Wulan.
"Terimakasih nasehatnya, Mbak. Tapi aku tetap dengan pilihanku. Suatu saat hati ibu pasti mau menerima Naya, asal tidak ada lidah busuk yang suka mencampuri urusan orang!" kata Gino sangat tajam.
Wulan yang mendengarnya tentu merasa geram. Ia tidak pernah melihat Gino sejahat ini bicaranya. Jujur, Wulan merasa tersindir dengan ucapan Gino. Atau apa jangan-jangan Gino tahu jika dirinya turut menjadi pupuk kebencian Nani untuk bisa menerima Naya. Gawat!
Melihat Wulan yang hanya mematung dengan bibir yang gemetar, Gino pergi begitu saja. Pria itu tersenyum sinis, dalam hati ia berjanji tidak akan membiarkan siapapun yang berencana akan menjadi penghalang kebahagiaannya untuk bersama Naya. Apalagi posisi Wulan di sini hanya sebatas ipar, yang bisa dikatakan sebagai orang luar, Gino tidak akan takut untuk melawannya.
*
__ADS_1