
Karena sholat ashar Gino yang sudah hampir mepet dengan waktu maghrib, maka pria itu pun memutuskan menunggu waktu sholat maghrib tiba di musholla. Sesekali ia mengecek ponselnya dan mendapati chatnya yang belum dibaca juga oleh Naya setelah ini Gino akan menanyakannya.
Tak terasa adzan maghrib pun berkumandang di musholla itu. Gino sudah duduk dengan tenang di shaf nya. Tak disangka saat sholat jama'ah maghrib itu akan dimulai, ternyata yang datang dan berdiri sejajar disamping Gino adalah Abdul.
Lalu keduanya menunaikan sholat maghrib itu dengan khusyuk. Saat kewajiban tiga rakaatnya selesai ditunaikan, Gino dan Abdul masih betah tidak beranjak dari tempatnya. Mereka saling menyapa, kemudian berbincang kecil layaknya mertua dan menantu.
Melihat wajah Gino yang sedikit gelisah, muncul rasa penasaran Abdul untuk bertanya.
"Kamu kenapa? Perut kamu sakit?" tanya Abdul setelah tak sengaja melihat Gino memegangi perutnya.
"Tidak, Pak. Hanya-- lapar!" kata Gino sambil nyengir malu.
Sejak pagi perut Gino tidak terisi makanan berat, efek kepikiran Naya. Hanya minum kopi saat istirahat kerja tadi.
"Oalaaah..." Abdul terkekeh sejenak.
"Mari kita cari makan, bapak juga belum makan dari siang tadi."
Abdul berdiri dari tempatnya, disusul kemudian Gino ikut berdiri. Lalu mereka berdua keluar dari musholla itu. Tetapi saat Abdul akan berjalan ke arah luar rumah sakit, Gino mencegahnya.
"Pak, tunggu dulu ya? Aku mau tanya Dek Naya, barangkali dia pingin makan sesuatu gitu," kata Gino yang kemudian berlari kecil masuk ke dalam rumah sakit.
Abdul malah ikut masuk ke dalam rumah sakit juga, tentu tanpa setahu Gino.
Dan di saat Gino akan tiba di ruangan tempat Lala dirawat, ia melihat pasangan suami istri keluar dari ruangan itu. Gino berlalu begitu saja, karena menganggap pasutri itu orang lain yang datang menjenguk ke pasien lain yang satu ruangan dengan Lala.
Tak disangka ternyata pasutri itu menyapa Abdul yang Gino baru tahu kalau Abdul ikut menyusulnya. Sejenak Gino menoleh sekilas kepada Abdul yang terlihat begitu akrab berbincang dengan pasutri itu. Tetapi yang berbeda kali ini tatapan Abdul kepada Gino. Pria itu terlihat agak gelisah begitu melihat Gino yang memperhatikannya berbicara dengan pasutri itu.
Gino berlalu lagi. Ia masuk ke dalam kamar Lala dirawat. Di sana ia melihat Rahma dan Naya berbicara dengan serius, dengan wajah Naya yang tertunduk lesu. Sepertinya Naya terlihat agak kesal, entah apa yang terjadi kepadanya.
Rahma yang mengetahui ada Gino, buru-buru menyudahi bicaranya kepada Naya.
__ADS_1
"Kamu dari kerja belum pulang ke rumah, Nak?" tanya Rahma to the point, sangat pintar mengalihkan topik pembicaraan dengan Naya dengan menanyai Gino.
"Iya, Buk," jawab Gino jujur.
"Mm... Bukannya aku mengusirmu, Mas, tapi lebih baik kamu pulang biar bisa istirahat yang cukup. Besok kamu masih masuk kerja kan?" Naya ikut bersuara.
Sejujurnya wanita itu sedang badmood setelah kedatangan adik dari mertuanya yang dulu. Pasangan suami istri yang berpapasan dengan Gino tadi adalah adik kandung dari mertua Naya dari mantan suaminya. Entah dari siapa mereka mendengar Lala ada di rumah sakit. Yang pasti Naya sangat tidak suka kedatangan dua orang tadi yang menurut Naya mereka hanya munafik. Cari muka didepan Naya dengan beralasan mereka sangat menyayangi Lala. Padahal wujud rasa sayang itu butuh pembuktian, bukan cuma sekedar ucapan saja.
Semenjak Naya bercerai, dari itu pula hubungan Naya dan keluarga mantan suaminya putus hubungan. Bahkan tidak ada satu pun dari keluarga mereka yang ingat dengan Lala. Seakan mereka menumpahkan segala tanggungjawab Lala hanya kepada Naya. Mereka tak lagi peduli dengan kewajiban yang sebenarnya, bahwa tanggungjawab nafkah itu masih mutlak kewajiban bapak. Karena selamanya tidak ada istilah mantan anak. Seharusnya mereka memahami itu.
Melihat ada sesuatu yang mencurigakan pada Naya, maka saat ini pula Gino ingin menanyakannya. Apalagi dengan kejadian semalam yang membuat Naya menangis saat di mall, Gino juga akan membahasnya saat ini juga.
"Dek Naya," sapa Gino kemudian.
"Aku ingin bicara berdua sama kamu," ucapnya dengan yakin.
Sekilas Naya melirik kepada Rahma. Lalu Rahma mengangguk mengijinkan.
"Nay, kamu bisa pulang, tidur di rumah. Biar ibu sama bapak yang menjaga Lala," ucap Rahma sebelum Naya benar-benar pergi.
"Kalau kamu tidak pulang, siapa yang akan mengurus adik-adikmu di rumah? Mereka besok butuh sarapan sebelum berangkat sekolah. Ibu kepikiran Farhan, Nay. Jadi kamu pulanglah!"
"Iya, Naya. Bapak setuju kamu pulang saja." Abdul yang datang ke ruangan itu ikut bersuara.
"Bapak akan lebih khawatir kalau kamu yang bermalam di sini. Minggu besok kamu masih ada acara penting. Bapak tidak mau wajah kamu kusam kayak orang kurang tidur, padahal akan menyambut tamu penting," seloroh Abdul.
"Tuh, Dek, benar kata bapak tuh," celetuk Gino mengiyakan ucapan Abdul.
Karena kedua orang tuanya berkenan Naya pulang, akhirnya Naya hanya bisa patuh dengan kemauan mereka. Kemudian Naya dan Gino pamit pulang kepada Abdul dan Rahma.
"Dek, mm... sebelum pulang kita mampir makan dulu ya? Aku lapar, Dek, dari pagi belum keisi nasi," kata Gino saat mereka berjalan menuju pintu keluar rumah sakit.
__ADS_1
"Kenapa tidak makan? Kamu puasa, Mas?" tanya Naya penasaran alasan Gino tidak makan seharian.
"Jelasinnya nanti, Dek, kalau perutku sudah terisi. Sumpah aku sekarang laper banget," ucap Gino yang seketika menarik tangan Naya masuk dalam genggamannya.
Saat ini mereka berdua sudah duduk tenang dalam mobil mereka. Meski di rumah sakit itu ada kantinnya, tetapi Gino memang malas memakan masakan rumah sakit. Lalu mereka berdua keluar dari rumah sakit itu untuk segera mencari rumah makan yang tentunya akan Gino tanyakan Naya maunya makan di mana.
Akhirnya keduanya memutuskan untuk makan di warung lesehan penjual aneka seafood dan lalapan. Sambil menunggu pesanan mereka datang, Gino mencoba menghubungi orang rumah untuk memberi kabar jika malam ini ia tidak pulang.
Sengaja Gino berpindah tempat agak berjarak dengan Naya saat menelpon orang rumah, karena ia sadar apa yang akan dikatakannya itu sebuah kebohongan atau sekedar alasan untuk Gino memberitahu keluarganya.
Tak disangka ternyata yang menjawab telpon rumah di rumah Gino adalah Suryo, jadinya Gino bisa dengan santai berbicara dengan ayahnya.
"Iya, kamu baik-baik ya, Gi," kata Suryo langsung mengijinkan setelah Gino berkata terpaksa menginap di kantor karena ada urusan penting tentang pekerjaannya.
"Mm... Ibu mana, Ayah, aku ingin pamit sama ibu juga." Gino bertanya keberadaan Nani.
"Ibumu sudah tidur," dusta Suryo.
Padahal yang sebenarnya Nani tidak pulang ke rumah juga. Nani mengatakan jika ia akan bermalam di rumah Vita.
"Baiklah, Ayah. Besok tolong sampaikan ke ibu, Ayah."
"Iya."
Lalu telpon mereka berakhir. Gino segera kembali ke tempat Naya duduk. Tak lama setelah itu pesanan makanan mereka selesai dibuat. Lalu keduanya segera menikmati makanannya dengan nikmat.
"Dek," sapa Gino sesaat setelah mereka selesai makan.
"Kenapa hape kamu tidak aktif terus?" tanya Gino dimulai dari masalah handphone.
Naya langsung bereaksi kaget. Jujur ia lupa jika ia sudah punya handphone.
__ADS_1
"Maaf, Mas. Aku-- lupa!"
*