Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 105


__ADS_3

Selesai makan, Naya langsung masuk kamarnya, diikuti oleh Gino juga.


"Jangan langsung tidur, Dek, nggak baik," kata Gino mengingatkan. Mengira istrinya masuk kamar karena ingin segera tidur.


"Nggak, aku cuma mau berkemas pulang," sahut Naya yang kemudian mulai mengemasi baju-bajunya ke dalam tas.


"Pulang sekarang?" tanya Gino. Ia pikir Naya masih mau menginap satu malam lagi di sini.


Naya mengangguk. Kalau sudah begini, Gino hanya bisa manut. Meski sudah agak malam karena jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, akan tetapi anggap saja sebagai pengulur waktu untuk tidak lekas tidur dengan kondisi perut yang masih kenyang.


"Lala gimana, Dek? Kasihan dia sudah enak-enak tidur entar kebangun," ujar Gino.


"Aku gendong biar nggak kebangun," balas Naya.


Gino diam saja. Meski begitu ia tidak akan membiarkan Naya menggendong Lala setelah ini.


Naya sudah selesai mengemasi baju-bajunya di tas. Setelah itu mereka berdua keluar kamar. Dan ternyata Abdul terbangun dari tidurnya karena tak sengaja mendengar obrolan Naya dan Gino di kamarnya yang sengaja tidak menutup pintu kamarnya.


"Kalian mau pulang malam ini?" tanya Abdul.


"Iya, Pak," sahut Naya.


"Aku mau ambil Lala, Pak," kata Naya yang kemudian melangkah akan masuk ke kamar ibunya, tetapi langsung ditahan oleh Abdul.


"Biar bapak saja," kata Abdul. Bagaimana mungkin akan membiarkan Naya yang sedang mengandung akan menggendong Lala yang sudah terlelap nyaman.


Setelah Abdul keluar dari kamarnya, buru-buru Gino mengambil Lala dari gendongan Abdul. Rupanya Rahma ikut terbangun setelah dibangunkan oleh Abdul yang mengatakan jika Naya dan Gino ingin pulang malam ini juga.


"Kenapa nggak nginep lagi sih? Besok kamu kan bisa berangkat kerja dari sini, nak Gino?" ucap Rahma yang merasa cemas mendapati anak dan menantunya pamit pulang malam-malam.


"Aku sih iya, Buk, tapi dek Naya yang minta pulang sekarang," jawab Gino.


"Ya sudah lah, hati-hati kalian, ini sudah malam." Pasrah Rahma pada akhirnya.


Setelah itu mereka berdua beranjak ke halaman depan, dengan diantar oleh Abdul dan Rahma. Setelah Naya dan Gino sudah melajukan mobilnya, barulah Abdul dan Rahma masuk rumah lagi.


"Pak, kamu nggak nanya apakah Gino sudah ngasih tahu ibunya soal kehamilan Naya?" tanya Rahma begitu mereka sama-sama sudah berbaring dalam kamarnya.


"Astaghfirullah! Aku lupa, Buk," sahut Abdul yang benar-benar lupa dengan itu.


"Ya sudahlah, besok-besok bisa ditanyakan lagi ke Gino."


"Iya, Buk. Tadi aku ketiduran di depan TV."


"Ah, kamu memang sudah kebiasaan!"

__ADS_1


Sejenak keduanya sama-sama temenung cukup lama.


"Andai Gino benar-benar sudah mengatakan kepada ibunya, aku harap semoga setelah ini ada kebahagiaan buat anak kita, Buk. Jujur aku masih terus kepikiran dengan Naya. Sampai kapan anak itu bisa hidup bahagia seutuhnya," ucap Abdul sambil menatap kosong pada langit-langit kamar.


"Iya, Pak. Aamiin... Aku berharapnya juga seperti itu," timpal Rahma mengamini harapan mereka yang selama ini selalu tersemat dalam do'a mereka.


***


Gino dan Naya tiba di rumah kembali saat waktu menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Naya bertugas mengunci pagar rumah, karena Gino mengangkat tubuh Lala masuk rumah untuk dibawanya ke kamar tidur Lala. Setelah semuanya terkunci aman, barulah Naya bisa berbaring dengan nyaman di kamarnya. Di susul juga Gino, yang sudah tahu-tahu buka baju dengan alasan gerah.


"Dek, nggak ganti baju yang nyaman?" tanya Gino terdengar ambigu di telinga Naya.


"Nggak perlu. Ini juga nyaman buat tidur," jawab Naya yang kebetulan sedang memakai baju kebanggaan emak-emak yaitu baju daster.


"Aku takut kamu gerah loh," timpal Gino semakin aneh.


Naya menatap was-was pada Gino. Sudah tahu daster yang dipakainya panjangnya sebatas lutut, lengannya juga pendek. Gerah dari mana coba?


"Kalau gerah kan tinggal nyalain AC, Mas," balas Naya.


Gino menggeleng.


"Aku nggak pake baju jangan nyalain AC. Entar kalau aku kedinginan gimana?"


"Lagian kamu juga kenapa nggak pake baju? Tumben?" Naya meneliti dengan lekat tubuh suaminya yang hanya mengenakan celana pendek.


Sekali lagi Naya menyorot aneh pada suaminya. Sebenarnya ia sudah mencium gelagat mesum dari suaminya itu, cuma Naya memilih pura-pura tidak peka saja. Hitung-hitung ngerjain suami. Hihihihi...


"Tidur, Mas. Ini sudah malam. Aku juga sudah ngantuk," kata Naya yang kemudian berbalik badan, sengaja memunggungi suaminya.


Gino bergeser mendekati Naya.


"Dek," sapa Gino sambil meraba-raba pada punggung Naya.


"Hem," Naya menyahut hanya bergumam.


"Aku pijitin ya?" Lalu Gino mulai memijit pelan pada punggung Naya.


Naya membiarkan saja suaminya melakukan itu. Dan lagi memang setelah hamil, Gino seperti beralih profesi menjadi tukang pijat Naya sebelum tidur. Pria itu melakukannya dengan suka rela, tanpa pernah diminta oleh Naya sebelumnya.


Mendapati pijatan lembut dari tangan suami, membuat Naya lekas mengantuk. Hampir saja mata itu terpejam, tetapi tiba-tiba saja Gino membalik tubuh Naya untuk telentang.


Beralih tangan pria itu memijit pada kaki Naya, yang kemudian perlahan naik ke paha.


"Mas, jangan di paha, geli!" tolak Naya karena memang benar-benar geli.

__ADS_1


"Ya sudah, aku pindah ke sini ya?" kata Gino yang tiba-tiba saja tangannya langsung nemplok di buah kenyal sang istri.


"Iih... Apaan sih?" Bukan Naya tidak suka, cuma ya....


"Kali aja juga butuh pijatan, Dek. Kasihan loh, selama ini ini tuh menggantung di sini apa nggak capek?"


Dan tangan Gino langsung meremmas buah kenyal itu alih-alih sebagai pijatan katanya. Jujur, Naya mulai terbawa arus karena perbuatannya. Tanpa disadari, Naya mulai memejamkan matanya dengan bibir yang menggigit kecil efek geli-geli nikmat.


Melihat ekspresi itu, senyum Gino langsung menyeringai. Pria itu pun kemudian mencondongkan wajahnya lalu kemudian mencuri ciuman di bibir Naya yang sedang di gigit oleh Naya.


Naya menyambut ciuman itu dengan seduktif. Tentunya dengan pergerakan tangan Gino yang sudah berkeliaran ke mana-mana. Mereka melepas pagutannya saat sama-sama membutuhkan asupan oksigen.


"Buka ya?" ucap Gino yang sebenarnya sudah berhasil mengacak-acak lubang kenikmatan milik istrinya dengan jemarinya.


Naya yang sudah diambang melayang hanya bisa mengangguk pasrah. Malam ini akan menjadi malam panjang bagi mereka berdua. Penyatuan raga yang menguras keringat namun berakhir dengan kenikmatan yang luar biasa.


"Dek, kenapa kamu semakin candu? Aku suka!" ucap Gino sambil kembali mencium singkat pada bibir Naya, sesaat setelah mereka sama-sama meraih puncak kenikmatan surga dunia.


Gino akui setelah Naya hamil, kemampuan istrinya dalam permainan ranjang menurutnya lebih hot dan menantang. Seperti menjadi candu yang dahsyat sehingga ingin mengulangnya berulang-ulang.


"Benarkah?" kata Naya yang sibuk mengelap tetesan keringat di wajah Gino.


"Benar, Sayang."


"Jujur aku-- ingin mengulangnya sekali lagi," lanjut Gino.


Naya menyeringai tipis.


"Kamu tidak capek, Dek?" tanya Gino melihat wajah istrinya yang tidak protes mendengar ungkapannya.


Naya menggeleng sambil tersenyum manis. Entahlah, malam ini sepertinya ia belum mengantuk sama sekali.


"Serius loh, Dek. Aku beneran pingin lagi nih..."


"Boleh, Sayang. Aku milikmu. Boleh kamu sentuh sepuasmu."


"Serius masih kuat?" Gino sudah mulai mengungkung di atas tubuh Naya.


"Hei, kamu jangan remehkan perempuan!" Naya sengaja menyentil ujung hidung mancung Gino.


"Kamu tahu tidak kenapa obat kuat hanya untuk laki-laki? Kenapa tidak untuk perempuan juga?" ucap Naya sambil mengerling nakal.


Gino tersenyum lebar. Ia paham apa maksud perkataan istrinya. Yah... Obat kuat memang diciptakan untuk laki-laki karena untuk lebih kuat menghadapi perempuan.


Bagaimana ladies, betul tidak? Hahaha...

__ADS_1


*


__ADS_2