
Gino terbangun ketika alarm di ponselnya berbunyi. Bertepatan dengan waktu sholat dhuhur tiba. Awalnya Gino berniat ingin tidur sebentar saja, ternyata ia tertidur lebih dari dua jam lamanya. Segera Gino bangkit dari tempat tidurnya, kemudian lekas menuju ke kamar mandi, mandi sekilas, dan setelah itu menunaikan kewajiban empat rakaatnya.
Setelah selesai, barulah Gino keluar dari kamarnya sambil menyeret koper yang tadi sudah ia siapkan untuk dibawa ke rumah Naya. Di ruang tengah nampak Nani sedang duduk memandangi Gino yang menyeret kopernya.
"Ibu kira kamu sudah pulang, Gi," seru Nani dengan sorotnya yang kecewa.
"Padahal sudah bapak bilang loh kalau kamu tidur di kamarmu, ibumu malah tidak percaya," sahut Suryo ikut duduk bersama Nani.
"Aku ketiduran, Bu, maaf ya... Aku pasti pamit ibu kok kalau sudah mau pulang," balas Gino lalu mereka bertiga duduk bersama di ruang tengah itu.
Nani yang mendengar kalimat pamit pulang dari Gino itu bertambah entah dengan hatinya. Wanita itu langsung beranjak dari tempatnya, masuk lagi ke kamarnya. Suryo dan Gino hanya bisa menghentak nafasnya melihat reaksi Nani yang masih tak ada perubahan.
"Besok-besok kalau ke sini lagi ajak Naya, Gi," ucap Suryo.
Pria itu ingin Nani dan Naya saling mengenal satu sama lainnya. Tidak terkesan saling menghindar seperti yang Suryo rasakan bila memperhatikan keduanya. Kalau Nani tetap angkuh, setidaknya Naya harus bisa mendekati dengan penuh kelembutan sehingga perlahan hati Nani akan luluh. Begitulah harapan Suryo.
"InsyaAllah, Ayah," sahut Gino.
"Loh, kok masih InsyaAllah, Gi? Kamu nggak ada keinginan bawa Naya ke sini apa? Ini rumah kamu, rumah ayah ibu, tentunya rumah Naya juga. Kami juga orang tuanya, bukan sekedar mertua saja!" protes Suryo.
Gino bergeming saja. Wajahnya tertunduk menatap lantai. Andai yang berbicara seperti itu adalah Nani, betapa bahagianya hatinya sekarang.
"Ibumu tadi masak, ayo kalau mau makan," ajak Suryo yang kemudian beranjak lebih dulu ke meja makan.
Gino masih termenung di tempat. Pikirannya kembali galau jika mengingat soal ibunya dan Naya. Sejujurnya Gino sangatlah ingin membawa Naya dan Lala ke rumah ini. Cuma Gino masih ragu untuk mengajaknya ke sini. Satu hal yang paling ditakutkan Gino adalah Naya akan dihina oleh Nani. Yaa... Walaupun yang menjadi sumber otak Nani membenci Naya sudah pergi dari rumah ini, yaitu Wulan.
"Gino!" panggil Suryo sekali lagi.
Gino menoleh kepada Suryo, dan kemudian beranjak dari tempatnya, tetapi malah masuk ke kamar Nani terlebih dahulu.
"Ibu," sapa Gino melihat Nani sedang duduk termenung di tepian ranjangnya.
Nani menoleh.
"Ayo makan, Bu," ajak Gino dengan lembut.
Langkah kakinya mendekati Nani. Tangannya terulur untuk meraih tangan Nani. Bersyukurnya Nani mau digandeng Gino. Dan mereka berdua akhirnya pergi gabung ke ruang makan.
__ADS_1
Di ruang makan itu hanya ada mereka bertiga. Putra dan Roby belum pulang dari sekolah. Lalu mereka segera menikmati makanannya, tetapi Nani menyantap makanannya dengan sedikit minat.
Melihat Nani yang seperti itu, Gino muncul ide lagi untuk mengembalikan keceriaan Nani.
"Bu, makan yang banyak, besok aku mau makan di sini lagi," kata Gino.
Nani bereaksi biasa saja.
"Ajak Naya juga, Gi," seru Suryo.
Seketika Nani menatap kepada Suryo, tetapi pria tua itu tidak mempedulikan tatapan sengitnya.
"Naya mantu ayah sama ibu, masa kamu tidak mau bawa istri kamu ke sini?" tambah Suryo, membuat Nani seketika menghentikan makannya. Selera makannya tiba-tiba menjadi hambar.
Gino tak langsung menjawabnya. Sekilas melirik kepada Nani. Ia paham kalau ibunya itu tidak nyaman membahas ini, tetapi biar bagaimana pun, Gino memang harus membawa Naya ke sini, karena Naya sudah menjadi bagian dari keluarga besarnya juga.
Akhirnya mereka bertiga menyelesaikan makannya. Di rumah itu memang tidak mempekerjakan seorang pembantu, jadilah Nani yang beranjak beres-beres di meja makan itu. Gino sendiri meskipun terlahir sebagai anak lelaki di keluarga itu juga lihai membantu di dunia perdapuran. Jadilah Gino ikut membantu membersihkan dengan mencuci piring kotor di dapur.
Setelah selesai Gino langsung berpamitan kepada ibunya. Nani kembali diam saja saat Gino meraih tangannya bersalaman. Dan Suryo turut mengantar Gino hingga pria itu bersiap masuk ke mobilnya.
"Yang sabar, Gi. Ayah yakin suatu saat ibumu pasti mau membuka hatinya. Percaya sama omongan ayah," ucap Suryo, tidak pernah bosan terus menyemangati Gino.
"Buruan bikinin ayah ibu cucu, jangan nunda-nunda lagi," bisik Suryo dengan sedikit terkekeh.
Gino terhenyak mendengarnya. Kemudian hanya bisa tersenyum tipis lagi. Pak Suryo tidak tahu saja kalau sampai saat ini anaknya itu masih perjaka, karena landasan masih berpalang merah.
"Senyum-senyum!" goda Suryo sambil menepuk-nepuk bahu Gino.
"Aku pulang, Yah," kata Gino kemudian. Ia pun bersalaman kepada Suryo.
"Ingat pesan ayah, kalau ke sini lagi bawa Naya. Ayah tidak mau denger alasan apapun. Kalau tidak mau bawa Naya, mending kamu jangan ke sini!" kata Suryo dengan serius.
Gino tertegun mendengarnya. Ini bagaikan memakan simalakama menurutnya. Mendadak bingung. Karena ada dua hati yang harus ia jaga perasaannya, yaitu perasaan Nani dan Naya. Ia tidak mau melukai hati keduanya. Ia tidak mau melihat wajah Nani yang kesal jika dipertemukan dengan Naya. Ia pun juga tidak ingin melihat Naya bersedih lagi karena sikap Nani kepadanya. Ah, bingung!
Suryo tidak lagi menuntut jawaban Gino untuk mengiyakan permintaannya. Ia sangat paham apa yang sedang dirasakan Gino sekarang. Tetapi biar bagaimana pun, Suryo sangat berharap antara mertua dan menantu itu saling dekat dan saling menyayangi.
Lalu kemudian Gino pergi dari rumahnya, dan segera melajukan mobilnya ke rumah Naya.
__ADS_1
Satu jam kemudian Gino tiba di rumah Naya. Pria itu menempuh perjalanan lebih lama menuju rumah Naya karena memang menyetir nya sedikit lamban dikarenakan pikirannya yang sedang galau. Biasanya jarak tempuh dari rumah Gino ke rumah Naya hanya butuh waktu kurang lebih empat puluh lima menit, tetapi kali ini sampai satu jam lamanya.
Melihat Gino datang, Naya langsung pura-pura tidur di kamarnya. Ada surprise yang sudah ia siapkan untuk Gino.
Suasana di rumah sudah nampak rapi seperti biasanya saat Gino masuk ke rumah itu. Tumben sekali sepi, ke mana orang rumah kata Gino. Segera Gino masuk ke kamarnya sambil menyeret kopernya. Melihat Naya yang sedang tidur siang, Gino mengangkat kopernya takut menimbulkan bunyi berisik dan akan membuat Naya terbangun dari tidurnya.
Pria itu meletakkan kopernya di sudut kamar, masih malas untuk membongkar isinya. Rasanya ingin ikut berbaring menemani Naya. Dan kemudian Gino merangkak naik ke kasurnya. Berbaring dengan pelan disamping Naya yang sedang tidur miring membelakangi nya. Perlahan tangannya melingkar di pinggang Naya, kembali memeluk seperti biasanya.
Naya bergeliat, lalu berbalik badan menghadap kepada Gino.
"Maaf, terbangun ya?" kata Gino merasa kasihan sudah mengganggu tidur siang Naya.
Naya menggeleng kecil sambil menyunggingkan senyumnya.
"Mas," sapa Naya dengan lembut.
"Hem," Gino menyahut bergumam.
"Pintunya sudah di kunci nggak?"
Gino terhenyak heran. Tetapi kemudian paham dengan kode yang dipasang istrinya. Segera Gino beranjak untuk mengunci pintu kamarnya. Dan setelah itu kembali berbaring di samping Naya. Memeluk Naya dengan semakin erat.
"Sudah aku kunci, Sayang," serunya dengan sorot mata mengerling nakal.
Naya tersenyum manis kepada Gino.
Wanita itu kemudian bergeliat lagi, mencoba lepas dari pelukan Gino.
"Mas, aku gerah," kata Naya yang kemudian membuka satu kancing atas bajunya.
Gino terkesiap melihatnya.
Apakah Naya mau cicil versi kedua?
Apakah readers menunggu scene ini?
Komen dong readers....
__ADS_1
Hehehe....
*