
Hari minggu telah tiba. Seluruh keluarga Abdul sudah bersiap untuk berangkat ke rumah Gino. Sesuai kemauan Naya, mereka hanya membawa rombongan satu mobil yang ikut ke rumah Gino sekarang. Ada Abdul dan Rahma, ayah dan ibunya Fifi, juga ustadz Arif. Mereka semua berenam termasuk Naya.
Sedangkan Lala sengaja tidak dibawa. Meski sebenarnya Naya merasa sedih, sesuai kesepakatan keluarga lebih baik Lala tidak ikut. Bocah itu saat ini sudah dibawa Riki dan Farhan pergi ke alun-alun kota untuk bermain. Sedangkan Fifi bertugas untuk menjaga rumah.
Soal terhalang nya restu dari ibundanya Gino kedua orang tua Naya sudah mengetahui itu. Naya yang menceritakannya. Sebab ia tidak ingin menyimpan kesedihan itu seorang diri. Dan lagi Gino tidak masalah meski Naya memberitahu hal itu kepada Abdul dan Rahma. Maka dari itu mereka sepakat untuk tidak membawa Lala dengan tujuan agar bocah itu tidak memiliki momen buruk yang kemungkinan akan terjadi di rumah Gino nanti.
Fifi pun juga mengetahui hal itu. Ia diminta oleh Naya untuk tidak ember kepada siapapun, termasuk kepada Irwan dan Wahyu.
"Cukup kamu ember saat aku didekati mas Gino, Fi. Saat ini aku dengan sangat meminta sama kamu untuk tutup mulut dari mereka. Atau-- kamu ingin aku memberitahu bapak ibu tentang apa-apa yang kamu lakukan bersama Irwan?"
Sengaja Naya menggertak Fifi seperti itu saat pertama kali Fifi mendengar perihal itu. Aslinya Naya bukanlah orang yang seperti itu, tetapi bila hal itu sampai ke telinga Wahyu, apa katanya nanti?
Sedangkan keadaan di rumah Gino juga sudah ramai dengan keluarganya yang nanti akan menyambut kedatangan keluarga Abdul. Semua persiapan suguhannya sudah di pesan melalui catering. Dan akhirnya yang ditunggu-tunggu telah datang. Rombongan keluarga Abdul sudah tiba di depan rumah Gino.
Rahma yang baru tahu bagaimana kondisional rumah Gino berekspresi biasa saja. Awalnya ia mengira keluarga Gino adalah orang yang sangat kaya raya, sehingga menentang Naya untuk menjadi bagiannya. Ternyata masih sama saja dengan kebanyakan orang kaya lainnya, meskipun akui jika finansial dirinya memang berada di bawah mereka, tetapi Rahma tidak berkecil hati dengan keadaannya.
Suryo berada di barisan pertama yang menyambut kedatangan Abdul dan keluarga. Berdiri disebelahnya adalah Nani. Wanita itu nampak tersenyum datar menyambut kedatangan mereka. Jangan tanya bagaimana ekspresi Gino saat ini. Senyum bahagianya terus terbit bagai sinar mentari pagi yang menghangatkan seluruh bumi.
Setelah itu Suryo mempersilahkan mereka masuk. Mereka semua langsung diajak duduk bersama di ruang keluarga. Gino dan Naya duduk berdampingan. Dan tak lama setelah itu muncullah Wulan yang datang membawakan minuman untuk mereka.
Sesaat tatapan mata Wulan langsung menatap sinis kepada Naya. Gino yang melihat itu seketika langsung meraih tangan Naya, kemudian menggenggamnya dengan erat.
"Anggap saja dia tidak ada," bisik Gino kepada Naya.
"Iya. Dia aku anggap jadi babu kamu kok," balas Naya sambil berbisik juga.
Seketika Gino langsung terkekeh. Lucu juga ungkapan Naya. Dan lagi sekilas Wulan memang mirip pembantu mereka yang sedang menyuguhkan minuman untuk tamu.
Dua keluarga yang melihat Gino dan Naya senyum-senyum tentunya ikut bahagia, terkecuali Nani yang tetap berekspresi datar. Entahlah, kenapa hati wanita itu sama sekali tidak tersentuh meski melihat sendiri bagaimana bahagianya Gino sekarang.
Tak lama kemudian, usai bincang-bincang dua keluarga itu, acara makan pun dimulai. Sengaja Gino mengajak Naya duduk terpisah dengan keluarga yang lain. Supaya ketika mengobrol nanti tidak ada rasa sungkan jika tidak ada keluarga yang mendengar.
"Lala kok nggak ikut, Dek?" tanya Gino di sela-sela mereka sedang menikmati makanannya.
Naya hanya menggeleng. Gino tidak memaksa Naya untuk mengatakan alasan Lala tidak ikut. Pria itu kemudian hanya mengulas senyumnya, sembari kembali menggenggam tangan Naya.
"Terimakasih ya, Dek, sudah mau berjuang sama-sama. Aku nggak akan janji apa-apa sama kamu. Tetapi selama nyawa ini melekat, aku akan terus melindungi kamu dan Lala dari orang-orang seperti dia," ucap Gino sambil melirik kepada Wulan yang ternyata sedang menyorot mereka dari tempat lain.
Pria itu menganggap hanya Wulan lah yang menjadi iblis dalam keluarganya. Karena sudah sering pria itu menangkap dengan telinganya sendiri bagaimana wanita itu menghasut Nani untuk selalu membenci Naya.
__ADS_1
"Kenapa kamu bisa betah serumah sama dia, Mas?" tanya Naya penasaran.
"Di betah-betahin. Setelah kita menikah, aku akan keluar dari rumah ini. Kita bisa tinggal sama-sama di rumahku," jelas Gino.
Naya hanya tersenyum kecil saat mendengarnya. Urusan itu biarlah apa kata nanti. Naya sendiri sudah takut untuk berharap lebih bisa bersama dengan Gino kelak. Apa kata takdir, begitulah prinsip hati Naya saat ini.
"Dek, setelah ini jangan ikut pulang ya?"
Naya langsung menatap horor kepada Gino.
"Jangan natap gitu dong, Dek, berasa aku kayak mau ngajak kamu ke lobang neraka aja," seloroh Gino.
Pria itu paham apa arti tatapan Naya. Mungkin Naya pikir Gino akan membiarkan Naya untuk berlama-lama di sini, untuk mengenal keluarganya lebih dalam, tetapi bukan seperti itu tujuan Gino meminta Naya tetap tinggal sebentar. Gino ingin mengajak Naya melihat rumah barunya. Itu saja!
"Trus kenapa kamu memintaku tetap di sini? Aku nggak mau ya, Mas, kalau kamu suruh aku kenalan sama kakak iparmu itu," protes Naya sebelum tahu tujuan Gino yang sebenarnya.
"Nggak! Kamu nggak perlu kenal dia. Dia cuma orang luar kok! Nggak penting!"
"Beneran?"
Gino mengangguk sambil tersenyum.
"Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan sama kamu," ucap Gino dengan lembut.
"Kalau aku bilang sekarang nanti nggak kejutan lagi."
Naya nampak berpikir.
"Mau ya, Dek? Nanti aku yang bilang deh sama bapak."
"Tapi jangan lama-lama ya, Mas. Aku kepikiran Lala," setuju Naya pada akhirnya.
Gino mengangguk senang.
Tak lama setelah itu keluarga Abdul berpamitan pulang. Dan Gino dengan percaya diri meminta Naya untuk tetap tinggal sebentar kepada Abdul. Walau sejujurnya Abdul merasa cemas membiarkan Naya berada bersama keluarga Gino, tetapi ia yakin jika Gino pasti akan melindunginya dan tidak akan membuat Naya bersedih karenanya. Maka akhirnya Abdul mengijinkan permintaan Gino itu.
Rombongan keluarga Abdul sudah pulang. Tinggallah Naya dan Gino yang masih berdiri di teras rumahnya. Sedangkan keluarga Gino sudah masuk kembali ke dalam rumah untuk kemudian beberes.
"Masuk yuk, Dek," ajak Gino.
__ADS_1
Wajah Naya seketika gelisah. Jujur, ia mendadak minder dan ciut. Saat ini keluarganya sudah pulang, tinggal dirinya seorang. Bagaimana nanti jika tiga wanita di rumah Gino menyerangnya?
"Mm... Begini saja. Kamu ikut aku ke kamarku, biar aman dari Wulan," seru Gino yang sudah tidak sudi menyebut kata mbak kepada Wulan.
"Ada di kamar kamu malah tambah nggak aman, Mas!" sungut Naya. Dasar ngadi-ngadi sekali usulan Gino.
Gino terkekeh.
"Kenapa? Takut aku makan?"
Naya memberengut. Tetapi sungguh membuat Gino bertambah gemas melihatnya.
"Tenang saja, Dek. Aku ini jinak dan insyaAllah kuat iman," ucap Gini berusaha meyakinkan ketakutan Naya.
Perlahan Gino meraih tangan Naya, menggandeng nya untuk masuk ke dalam rumah.
"Hai, mbak Naya," sapa Vita saat mereka berpapasan di ruang tengah.
Naya membalas sapaan adik iparnya itu dengan tersenyum hangat.
"Kita ngobrol sebentar yuk?" ajaknya kepada Naya.
"Ee... Maaf ya, Vita, lain kali saja. Kakak masih ada urusan sama mbakmu," ucap Gino.
Bukannya tidak ingin antara Vita dan Naya saling mengenal, tetapi Gino tahu jika adiknya itu juga satu komplotan dengan Wulan, yang tentunya juga harus dihindari jika berniat ingin mendekati Naya.
Kemudian dengan santainya Gino membawa masuk Naya dalam kamarnya. Tidak peduli lagi bagaimana reaksi Vita yang terkaget-kaget melihat Gino yang menurutnya nekat sekali.
"Kenapa matung di sini? Habis lihat apaan sih?" kepo Wulan yang tiba-tiba muncul di belakang Vita.
"Janda itu sekarang lagi di kamar sama kakak," seru Vita dengan wajah kesalnya.
"Apa! Serius kamu?" Wulan langsung melotot tak percaya.
Vita mengangguk.
"Wah, ini tidak bisa dibiarkan! Kita harus bilang ke ibu, Vita."
Kemudian Vita dan Wulan pergi mencari Nani. Akan tetapi di saat mereka berdua berhasil mengadu kepada Nani, reaksi Nani sungguh diluar dugaan.
__ADS_1
"Biar saja apa kata mereka. Suka-suka mereka mau bagaimana. Itu bukan urusanku!" kata Nani, terkesan rela membiarkan Gino bersama Naya, padahal sejujurnya hatinya terlampau kecewa dengan Gino yang tetap kekeh memilih wanita janda seperti Naya. Sehingga Nani sudah tidak mau tahu lagi dengan Gino. Seandainya ada apa-apa yang terjadi kepada Gino, Sungguh, Nani tidak peduli lagi!
*