
Arif segera menelpon Gino saat merasa sudah waktunya Gino istirahat dari jam kerjanya. Satu panggilan belum dijawab oleh Gino, Arif terus mencobanya hingga akhirnya panggilan telepon itu terjawab setelah empat kali mencobanya.
"Assalamu'alaikum, Gi," sapa Arif dengan semangat.
"Wa'alaikumsalam. Maaf, Rif, baru jawab. Tadi aku masih sholat," ucap Gino mengatakan alasannya tidak segera menjawab panggilan telpon Arif.
"Ya, tidak apa-apa. Ini aku ganggu nggak? Kamu lagi jam istirahat kan?"
"Iya. Ini aku lagi di musholla kantor."
"Sudah maksi belum?" tanya Arif basa-basi.
"Belum. Ini ada apa ya? Apakah sudah ada jawaban dari Naya?" tanya Gino to the point. Sudah tidak sungkan lagi karena memang itulah yang ia tunggu dua hari ini.
Arif terkekeh dari seberang sana.
"Tahu aja kamu, Gi. Iya, aku ada kabar buat kamu."
"Tunggu, aku tarik nafas dulu biar nggak kaget." Gino malah melawak. Tapi nyatanya jantungnya memang sudah berdebar, takut yang didengar adalah penolakan dari Naya.
"Sudah kau tarik nafasnya? Jantung aman kan? Aku takut setelah aku ngomong jantung kamu malah lompat dari tempatnya." Arif sambil terkekeh saat mengatakannya.
"Nggak mungkin lompat juga lah. Ayo katakan, Rif. Aku sudah siap mendengarnya." kata Gino agar tidak membuang waktu.
"Naya menerima lamaran kamu." Arif mengatakannya dengan jelas.
Gino yang mendengar itu langsung tercengang di tempat. Ini tidak salah dengar kan?
"Gi, Gino!" Arif menyapanya lagi.
"Alhamdulillah...." seru Gino, terdengar helaan nafasnya yang berhembus lega.
"Iya, alhamdulillah. Ternyata temanku akhirnya nemu jodoh juga," timpal Arif.
"Oh ya, Gi. Nanti pulang ngantor, bisa kan mampir ke rumah? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan tentang syarat yang diminta Naya," kata Arif kemudian.
"Syarat? Syarat apa, Rif?" Gino mendadak resah. Takut syarat yang diajukan Naya diluar kemampuannya.
"Nanti aku ngomong di rumah. Syaratnya nggak ribet kok, cuma butuh nahan diri aja."
__ADS_1
"Aku penasaran, Rif, apa syaratnya?"
"Sabar, Bro! Kamu sekarang makan dulu sana. Biar kerjanya fokus. Sudah, nggak usah terlalu dipikirkan. Aku bilang syarat dari Naya itu tidak memberatkan. Percaya sama aku."
Setelah itu mereka menyudahi sambungan telponnya. Gino yang masih berada di musholla kantor langsung bersujud syukur. Merasa sangat senang karena ternyata lamarannya pada sang wanita pujaan diterima dengan baik. Meski masih penasaran dengan syarat yang diminta Naya, tetapi apapun itu selagi Gino mampu, ia akan mengusahakannya.
Senyum riang di wajah Gino membuat sebagian rekan kerjanya terheran-heran melihatnya. Gino yang biasanya tampil cool dan mahal senyum di kantor, hari ini mendadak murah senyum.
"Habis dapat lotre, pak Gino?" sapa seorang teman satu teamnya.
Gino hanya merespon dengan tersenyum lagi. Biarlah apa tanggapan mereka melihatnya begini. Yang terpenting hari ini i'm so happy kata Gino.
Bahkan ketika makan siang di kantin kantor, pria itu menikmati makanannya dengan begitu berselera. Maklum saja belakangan ini Gino kurang nafsu makan karena kepikiran lamarannya yang tak kunjung ada jawaban. Setelah hari ini tahu jawabannya, rasanya Gino akan balas dendam dengan makanan yang ia makan karena sudah membuat selera makannya buruk kemarin.
***
Gino segera pergi ke rumah Arif begitu pulang dari kantor. Sedari tadi senyum ceria di wajah pria berusia tiga puluh tahun itu tak pernah memudar. Hingga ketika Gino harus melewati depan rumah Naya untuk tiba di rumah Arif, degup jantungnya kembali berdetak resah. Belum apa-apa sudah nervous duluan. Tangannya tiba-tiba berkeringat dingin. Beruntung saat ini Gino naik mobil, jadi tidak akan kelihatan orang rumah Naya meski lewat di depan rumahnya.
Dan benar saja, Gino melihat Naya ada di halaman rumahnya sedang bermain bersama Lala. Senyum manis pria itu tambah melengkung sempurna, manakala sebentar lagi wanita itu akan menjadi miliknya.
Tetapi karena tujuannya kali ini adalah ke rumah Arif, maka Gino terpaksa menahan rindunya itu. Mungkin besok atau lusa Gino akan datang ke rumah Naya, untuk mengajaknya membeli cincin tunangan.
Gino sudah tiba di rumah Arif. Pria itu langsung disambut hangat oleh Arif yang kebetulan sedang duduk santai di teras rumahnya.
Gino hanya merespon dengan tersenyum lagi. Kemudian Arif mempersilahkan Gino masuk ke rumahnya. Dan karena kedatangan Gino memang sudah ditunggu oleh Arif, maka tidak perlu lama istrinya Arif datang membawakan dua kopi susu untuk mereka.
"Ayo diminum dulu, Gi," ucap Arif yang kemudian mereka meminum kopinya bersama.
"Rif, apa persyaratan yang diminta Naya? Katakanlah! Aku dari tadi penasaran itu," kata Gino usai menikmati kopinya.
Arif tersenyum sekilas. "Naya minta jangan terburu-buru menikah. Dia ingin kalian saling kenal dulu."
Gino menghela nafas lega. Pikirnya syarat apaan, ternyata cuma seperti itu. Pria itu pun akhirnya mengangguk setuju. Setidaknya ia juga butuh waktu untuk meluluhkan hati Nani yang saat ini masih dingin dengan pilihan Gino kepada Naya.
"Baik, Rif. Kalau hanya itu syaratnya aku setuju," ucap Gino dengan mantap.
"Alhamdulillah..." seru Arif dengan lega.
"Jadi kapan rencananya keluarga kamu akan datang ke rumah Naya? Biar nanti aku sampaikan ke pak Abdul," tanya Arif soal kepastian Gino akan datang bersama keluarganya.
__ADS_1
"Setelah ini aku rembug sama ayah ibu. InsyaAllah dalam minggu ini pastinya."
Arif tersenyum kecil mendengar jawaban Gino. Kemudian terdengar kumandang adzan maghrib berbunyi dari toa masjid. Arif yang bertugas menjadi imam hari ini tentu langsung bergegas menuju masjid, diikuti Gino yang juga pergi ke masjid bersama Arif.
Kebetulan sekali saat sudah sampai di teras masjid mereka bertemu dengan Abdul dan Rahma yang juga akan sholat berjamaah di masjid. Awalnya Abdul dan Rahma kaget melihat Gino ada di masjid ini, tetapi melihat Arif yang ada disampingnya mereka kemudian paham dengan kedatangan Gino kemari.
Gino mendekat kepada Abdul dan Rahma. Ia pun kemudian bersalaman dengan dua orang tua yang setelah ini akan menjadi mertuanya.
"Sama siapa ke sini?" tanya Abdul basa-basi.
"Sendiri, Pak."
Jika dilihat dari penampilannya Abdul dan Rahma sudah menebak jika pria itu baru pulang kerja.
"Mari!" ajak Abdul kepada Gino untuk masuk ke masjid.
Dan akhirnya mereka masuk ke masjid, dengan Rahma yang terpisah tempat menuju tempat jamaah perempuan.
Sholat jamaah maghrib usai dilaksanakan. Satu persatu jamaah yang datang ke masjid itu kembali pulang. Tinggal Gino yang masih betah duduk di masjid bersama dengan Abdul. Arif sendiri pamit pulang dulu. Ia sengaja memberi kesempatan kepada Abdul dan Gino untuk saling berbicara sebagai calon mertua dan calon menantu.
Sedangkan Rahma yang melihat situasi masjid sudah sepi, ia ikut gabung bersama Abdul dan Gino.
"Terimakasih, Pak, Buk, sudah mau menerima lamaran dariku untuk mempersunting dek Naya," kata Gino dengan mantap.
Abdul dan Rahma sama-sama tersenyum tipis.
"Tapi apa kamu sudah tahu syarat yang diminta oleh Naya?" tanya Abdul.
"Sudah, Pak. Arif sudah mengatakan kepadaku. Dan aku siap menunggu, sampai dek Naya siap menikah denganku," ucap Gino.
Abdul tersenyum lagi mendengar Gino menyanggupi syarat yang diminta oleh Naya.
"Dan aku sebagai orang tua Naya juga punya syarat untuk kamu," ucap Abdul kemudian.
"Syarat yang jika kamu langgar, kamu akan mendapatkan resikonya," lanjut Abdul dengan tegas.
"Apa syaratnya, Pak?" Gino mulai gugup. Takut-takut syarat yang diminta Abdul itu ia tidak mampu mewujudkannya.
"Syaratnya mudah. Cukup kamu tidak menyakiti hati anakku. Kamu yang memilih dia, jadi kamu juga harus mempertanggungjawabkan. Kamu tahu anakku itu pernah terluka dengan pernikahannya yang dulu. Aku tidak mau melihat anakku menangis lagi karena hal yang sama. Kamu paham maksudku kan?"
__ADS_1
Gino langsung mengangguk. Permintaan seperti itu Gino sanggup mewujudkannya. Karena memang rasa cinta pria itu yang sudah terlanjur dalam kepada Naya.
*