
Bukan hanya Gino yang gelisah menunggu Naya pulang, tetapi Rahma dan Abdul juga tak kalah gelisah menunggu Naya yang tak biasanya telat pulang tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Sudah berulang kali Gino mencoba menghubungi Naya, meski sambungannya aktif tetapi entah mengapa Naya tidak menjawab panggilan telponnya.
Tanpa mereka tahu saat ini yang terjadi kepada Naya ibarat sial yang bertubi-tubi. Pertama dipertemukan dengan Wahyu yang memberi kesan sangat menyakitkan perasaannya. Yang kedua kejadian ban motornya yang bocor. Saat ini Naya sedang mendorong motornya untuk mencari bengkel yang masih buka petang begini.
Beruntungnya kemudian Naya menemukan bengkel motor yang sebenarnya sudah mau tutup. Tetapi karena Naya memohon meminta tolong akhirnya bengkel tersebut terpaksa buka lagi.
"Waah... Kok bisa sampai dua paku gini, Mbak?" heran tukang bengkelnya setelah membongkar ban motor milik Naya.
"Lagi apes saja, Bang," sahut Naya dengan lesu, capek badan dan capek pikiran yang ia rasa sekarang.
Sambil menunggu tukang bengkelnya menyelesaikan pekerjaannya, Naya melongok ke sekitar mencari masjid terdekat yang ternyata tidak ada di sekitar tempat itu. Suasana petang perlahan bertambah gelap, lalu Naya mengecek ponselnya bermaksud ingin melihat jam karena belum sholat maghrib. Tak disangka begitu melihat ponselnya ternyata sudah banyak panggilan masuk yang tak terjawab dari Gino maupun Fifi. Segera Naya menelpon balik kepada Fifi, bukan kepada Gino.
"Ya ampun, Mbak... Dari tadi aku telponin nggak dijawab. Mbak sekarang di mana?" pekik Fifi begitu Naya menelponnya.
"Di bengkel, Fi," jawab Naya.
"Bengkel mana? Mbak Naya nggak kenapa-napa kan? Mbak nggak habis jatuh kan?" cerocos Fifi tak kalah panik dengan keluarga yang lainnya.
"Cerewet banget kamu!" umpat Naya.
Kepala yang merasa pening jadi tambah pusing setelah mendengar ocehan Fifi.
"Kita di sini khawatir sama Mbak."
"Iya, makasih sudah khawatirin mbak."
"Mbak Naya sekarang lagi di bengkel mana?"
"Di deket pertigaan Pangsud."
"Oke!"
Setelah itu sambungan telepon diputus sepihak oleh Fifi. Naya yang melihat itu hanya bisa heran sendiri, tetapi juga tak mau kepo kenapa Fifi langsung mengakhiri begitu saja.
"Masih lama ya, Bang?" tanya Naya karena berencana ditinggal sebentar untuk mencari musholla yang mungkin ada dalam gang-gang kecil di sekitaran sana.
"Lumayan, Mbak, kenapa?"
__ADS_1
"Mm... Aku belum sholat, aku mau cari musholla sekitaran sini di mana ya, Mas?"
"Sekitaran sini nggak ada, Mbak," jawab tukang bengkel itu.
Naya yang semula berdiri kembali duduk lagi. Apalah daya mau menunaikan kewajiban malah tidak ada tempat, maka terpaksa harus mengqodho dulu.
"Astaghfirullah... Ampuni aku ya Allah karena sudah lalai dengan kewajibanku," batin Naya bermonolog.
Sedangkan di rumah Naya saat ini Gino berencana ingin menyusul Naya ke bengkel.
"Hati-hati ya, Nak. Ini jadinya merepotkan kamu," ucap Rahma saat Gino pamit ingin menyusul Naya.
"Tidak apa-apa, Buk. Justru kalau nggak disusul aku khawatir ada apa-apa sama dek Naya," kata Gino.
Saat Gino sudah akan masuk ke mobilnya, Lala mendadak rewel ingin ikut juga. Meski sudah dirayu oleh Rahma dan Abdul, ternyata tidak mempan dan membuat bocil itu menangis histeris.
"Ayo, Lala mau ikut ya?"
Gino yang tidak tega melihat Lala menangis seperti itu mengambil tubuh bocah itu dari gendongan Rahma.
"Jangan dibawa, Nak. Takutnya entar malah ngerepotin kamu," cegah Rahma.
"InsyaAllah nggak, Bu. Biar sekalian ajak Lala jalan-jalan," ucap Gino yang sama sekali tidak keberatan membawa Lala bersama.
"Fifi mau ikut?" ajak Gino, siapa tahu gadis itu mau ikut.
"Tidak, Om. Aku ada PR," jawab Fifi.
Maka kemudian Gino pergi untuk menyusul Naya sambil membawa Lala juga. Bocah itu langsung duduk anteng di samping Gino menyetir. Wajah riangnya kentara sekali, membuat Gino semakin menyukai calon anak sambungnya itu.
Sudah lima belas menitan Naya menunggu tukang bengkel itu menyelesaikan pekerjaannya. Sedangkan langit malam itu sudah bertambah gelap. Kemungkinan Naya akan tiba di rumah isya nanti. Itupun kalau urusan di bengkel cepat selesai.
Sebuah motor tiba-tiba berhenti di dekat bengkel itu juga. Naya yang semula menundukkan wajahnya menoleh untuk melihat siapa yang datang ke bengkel itu juga.
Tak disangka rupanya yang datang adalah Wahyu lagi. Sungguh membuat perasaan Naya menjadi entah lagi untuk meladeni pria itu.
"Motornya kenapa, Nay?" tanya Wahyu sambil langsung duduk tepat di samping Naya.
__ADS_1
Naya menggeser duduknya agar tidak berdekatan dengan Wahyu, tetapi pria itu seperti tidak tahu diri malah ikut menggeser semakin berdekatan dengan Naya.
Tak ayal kemudian Naya berdiri dan pindah tempat. Wahyu mengikuti lagi ke mana Naya beranjak.
"Mau kamu apa sih, Wahyu!" ucap Naya mulai ngegas.
Wahyu tersenyum getir. Pria itu tidak menjawab, malah menatap lekat kepada Naya.
Naya yang ditatap seperti itu langsung melengos ke arah lain. Semakin ke sini Wahyu semakin membuatnya ilfil. Dasar!
"Segitu bencinya kamu sama aku ya, Nay?" ucap Wahyu.
Naya memilih diam saja. Mau memberi pembelaan untuk mengatakan dirinya tidak membenci Wahyu rasanya sudah malas. Sejujurnya Naya tidak mau membenci siapapun, meski kepada orang-orang yang pernah menyakitinya sekalipun. Hanya rasa malas bertemu, itu saja yang dirasa Naya kepada orang-orang yang membuat hati dan perasaannya tidak nyaman. Termasuk kepada Wahyu.
"Nay!" Wahyu menyentuh pundak Naya dan membalik tubuh Naya dengan paksa.
"Aku mencintai kamu, Naya! Aku sangat sangat mencintai kamu!" ucapnya dengan tegas.
Sudah tidak peduli sedang ada di mana, yang dirasa pria itu saat ini ingin menyatakan perasaannya sekali lagi kepada wanita impiannya.
Bahkan tukang bengkel itu ikut memandang kepada Naya dan Wahyu. Sambil senyum-senyum sendiri, mengira Naya dan Wahyu pasangan kekasih yang lagi bertengkar.
Naya menurunkan tangan Wahyu dari pundaknya. Sesaat tatapan keduanya saling beradu lama. Dan setelah itu Naya menggelengkan kepalanya kepada Wahyu.
"Maaf, Wahyu. Aku tidak bisa membalas perasaan kamu. Ku mohon kamu mengertilah. Aku sudah akan menikah bulan depan," aku Naya, dan memang sudah seharusnya pria itu tahu kabar itu.
Wahyu menggeleng-geleng tak percaya mendengar ucapan Naya.
Dan disaat Naya dan Wahyu sedang berdua seperti itu, sebuah mobil berhenti di depan mereka. Naya dan Wahyu sama-sama menoleh kepada seseorang yang keluar dari dalam mobil tersebut. Setelah tahu siapa yang datang, seketika senyum Naya terulas manis. Biar saja, Naya sengaja melakukan itu didepan Wahyu.
"Mas," sapa Naya dengan full senyum.
Gino membalas dengan tersenyum manis pula. Dan Wahyu ibarat menjadi penonton yang terluka melihat pemandangan itu.
Setelah itu Gino membuka pintu samping Lala duduk. Setelah pintu itu terbuka, bocah itu langsung memekik kegirangan memanggil Naya.
"Loh, Lala ikut juga?" sapa Naya tak percaya.
__ADS_1
Gino membawa Lala sambil digendong. Wahyu yang melihat semua itu hanya bisa menahan rasa sesak di dadanya. Apalagi setelah tahu dengan mata kepala sendiri bagaimana wujud calon suami Naya, mendadak jiwa pria itu menjadi ciut. Tak perlu dibandingkan lagi antara dirinya dengan calon suami Naya, sebab tukang bengkel itu saja pasti bisa membedakan mana yang mapan dan mana yang pas-pasan.
*