
"Semalam kamu tidur di mana, Gi?" tanya Nani setelah barusan Gino bersalaman dengannya.
"Di rumahku, Bu," jawab Gino dengan jujur.
Sudah saatnya Gino mengaku kepada orang rumah jika ia sudah memiliki rumah sendiri. Apalagi setelah mendapati Nani mau berbicara lagi dengannya, membuat Gino semakin yakin untuk berterus terang soal rumah barunya.
"Rumah? Kamu punya rumah begitu?" tanya Nani. Kali ini nada bicara wanita itu sedikit tenang daripada saat mendengar Gino yang akan melamar Naya.
Gino mengangguk.
Pembicaraan Gino yang mengaku sudah memiliki rumah sendiri tak ayal membuat Vita dan Wulan ikut nimbrung mendengarkan.
"Kakak beli rumah di mana?" tanya Vita.
"Nggak jauh dari kantor."
Nani berekspresi datar. Sejujurnya ia kecewa karena Gino tidak ada rembug dulu dengan keluarga saat ia akan membeli rumah sendiri. Tetapi sebenarnya hatinya juga senang mendapati anak lelakinya bisa berdiri di atas kakinya sendiri, tidak seperti Agus.
Sejenak Nani melirik kepada Wulan. Melihat adanya wanita itu mungkin memang lebih baik Gino keluar dari rumah ini. Walau sebenarnya hatinya merasa tidak rela melepas Gino yang memang sangat penyayang dengan keluarganya. Gino adalah anak kesayangan Nani, tetapi ia juga tidak akan menghalangi Gino untuk hidup mandiri karena seharusnya menjadi laki-laki harus seperti itu menurut Nani.
Andai bisa memilih, Nani ingin Agus dan Wulan saja yang keluar dari rumah ini. Tetapi bagaimana dengan nasib kedua cucunya nanti? Anak-anak Agus tidak sepenuhnya diterima oleh Wulan sebagai anak tirinya, dan karena itulah yang membuat Nani terpaksa menerima Wulan tinggal di sini. Semata karena ingin melindungi cucu-cucunya dari ibu tiri seperti Wulan.
Melihat Nani yang diam saja, pria itu pun beranjak untuk bersimpuh didepan lutut Nani sambil menggenggam kedua tangan Nani.
"Maafkan aku, Ibu. Karena sudah mengecewakan hati ibu. Aku tidak bermaksud ingin menyakiti perasaan ibu. Tidak bermaksud ingin mengesampingkan ibu sehingga aku tidak bicara soal membeli rumah. Tapi aku ingin hidup mandiri, Ibu. Aku sudah dewasa," ucap Gino dengan sudut mata yang sudah berkaca-kaca.
Gino merasa lebih emosional saat mengungkapkannya. Mungkin karena juga sedang menginginkan restu Nani kepada Naya, yang sampai saat ini belum ia dengar dari mulut Nani.
"Tidak apa-apa, Gi. Ibu tidak marah. Ibu senang anak lelaki ibu bisa hidup mapan sebelum berumah tangga. Ibu bangga sama kamu," ucap Nani, tatapan matanya menatap haru pada Gino.
Walau Nani saat ini sedang dikecewakan dengan wanita pilihan Gino, tetapi naluri seorang ibu kepada anaknya tetap sayang.
Gino langsung memeluk kaki Nani, menangis sambil bersimpuh pada lutut ibunya. Entahlah, dari dulu ia sangat tidak mau menyakiti hati orang tuanya, terlebih hati ibundanya. Tetapi rasa cintanya kepada Naya juga teramat besar untuk ia lupakan. Seandainya Nani mau merestui nya, pastilah Gino akan sangat bahagia sekali.
Nani membiarkan saja Gino menangis. Tetapi tangannya mulai mengelus kepala Gino. Di saat Gino menangis itu datanglah Suryo. Ayahnya Gino itu pasti langsung penasaran dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
"Kenapa kamu menangis, Gino?" tanyanya langsung, mengira tangisan Gino soal menuntut restu lagi.
Gino langsung mengangkat wajahnya, mengusap bersih air matanya, kemudian berbalik menatap Suryo yang menatapnya penasaran.
"Kak Gino beli rumah baru, Ayah." Vita berbicara kepada Suryo.
Suryo tetap diam. Ia tetap penasaran dengan kenapa Gino menangis seperti itu.
"Sudahlah, besok jadi, Gi?" ucap Nani sengaja mengalihkan topik dengan acara lamaran besok.
Gino tercengang mendengar pertanyaan Nani.
"Jadi, Ibu. Besok jam 2 kita berangkat." Gino berkata dengan sorot yang berbinar.
"Mana persiapannya? Apakah masih mau beli barang-barang yang mau dibawa besok?" tanya Nani.
"Sebagian sudah. Apakah ibu mau membantuku menyiapkannya?" pancing Gino penasaran dengan jawaban Nani.
Apakah ini pertanda jika Nani sudah mau menerima Naya sebagai pasangan hidup Gino?
Deg.
Kenapa bicara Nani seperti itu?
"Ibu." Gino meraih tangan Nani lagi untuk digenggam.
"Besok ibu mau ikut kan?" tanya Gino ragu-ragu.
Gino sudah tidak mempermasalahkan ucapan Nani yang menyerahkan segala urusan besok kepada dirinya. Yang terpenting sekarang adalah keikutsertaan Nani pada acara pentingnya besok.
Ternyata Nani menganggukkan kepalanya kepada Gino. Seketika senyum riang Gino terbit, rasanya sangat senang melihat Nani mau ikut mendampinginya besok.
"Terimakasih, Ibu, terimakasih," ucap Gino sambil menciumi tangan Nani berulang-ulang.
"Ibu ikut bukan karena ibu sudah merestui kamu dengan dia!" ucap Nani dengan dingin, tetapi sangat menusuk perasaan Gino saat mendengarnya.
__ADS_1
Gino langsung mengangkat wajahnya menatap Nani. Jadi?
"Gino," sapa Suryo memanggil Gino untuk beranjak dari tempatnya.
"Pergilah! Mungkin kalau kamu berembug dengan ayahmu itu lebih baik," ucap Nani yang kemudian beranjak lebih dulu dari tempatnya.
Nani berjalan masuk ke kamarnya. Sengaja mengunci pintu kamarnya agar tidak ada seseorang yang masuk ke sana.
Sedangkan Vita dan Wulan sedari tadi hanya saling pandang. Mendapati keluarganya yang tidak harmonis lagi karena Gino, Vita merasa benci dengan Naya. Ia menganggap semua ini karena Naya.
Wulan bersorak kecil dalam hatinya. Sungguh wanita itu merasa puas karena Gino belum juga mendapatkan restu dari Nani. Meski awalnya merasa kecewa saat mendengar Nani akan ikut besok, tetapi ia tidak kehabisan akal untuk membuat acara besok menjadi kacau. Lihat saja!
Gino dan Suryo saat ini sedang duduk berdua di gazebo yang ada di depan rumah. Sesaat ayah dan anak itu hanya saling diam, dengan wajah Gino yang tertunduk lesu.
"Hebat kamu, Gi! Ayah bangga sama kamu!" ucap Suryo sambil menepuk-nepuk pundak Gino.
Gino terkesiap mendengar pujian Suryo. Hebat apa? Hebat karena sudah menentang restu Nani?
"Ayah tidak menyangka kalau kamu akan memutuskan untuk membeli rumah sendiri. Jadi laki-laki memang seharusnya seperti itu. Lelaki hebat, lelaki yang tidak meminta-minta pada orang tua, tetap menyayangi kami meski dalam masalah seperti ini. Selalu membuka tangan ibumu dengan rejeki yang kamu punya. Barokah, Nak! Barokah!"
Gino tersenyum tipis mendengar ungkapan Suryo.
"Mm... Urusan ibumu yang masih alot dengan Naya, itu jangan terlalu dipikirkan. Suatu saat ayah yakin ibumu pasti menerima Naya. Ayah yakin wanita pilihanmu itu pasti orang baik. Tetap sabar, Gi. Menuju kebahagiaan itu memang butuh proses."
"Iya, Ayah. Terimakasih karena ayah sudah mau mendukungku. Aku tidak akan mengecewakan hati ayah. Aku akan membuktikan pada ibu kalau Naya adalah wanita baik."
Suryo tersenyum lega melihat Gino sudah bisa tenang.
"Tadi kamu menangis itu apakah ibumu mengutukmu?" tanya Suryo penasaran. Karena selama ini ia tidak pernah melihat Gino menangis.
"Tidak, Ayah. Ibu tidak sampai mengutukku. Aku yakin ibu menyayangiku. Hanya-- masih butuh waktu saja mungkin."
"Besok-besok ajak ayah dan ibu ke rumahmu ya?"
Gino mengangguk sambil tersenyum hangat.
__ADS_1
*