Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 103


__ADS_3

"Assalamu'alaikum!"


Terdengar seruan salam dari pintu depan rumah Suryo, dan itu adalah suara Mila.


"Wa'alaikumsalam," jawab Suryo dari dalam ruang tengah rumahnya.


Kemudian Agus dan Mila yang baru datang dari rumah orang tua Mila itu masuk.


"Agus, Mila, ini adik kamu datang bawa kue," sapa Suryo kepada mereka.


Agus dan Mila kemudian ikut duduk bersama mereka.


"Dalam rangka apa nih?" tanya Agus sambil mencomot satu kue dari piring yang ada di depannya.


"Tasyakuran empat bulan kandungan Naya, Mas," jawab Gino sudah tidak sungkan lagi.


Agus tercengang sejenak, sampai mulutnya yang sedang mengunyah kue ikut berhenti. Sekilas melirik kecil kepada Nani. Karena yang Agus tahu selama ini ibunya itu tidak tahu kabar ini.


Akan tetapi setelah melihat wajah Gino yang berbinar bahagia itu artinya sang ibunda sudah tahu juga kabar ini. Dan apakah ini pertanda jika Nani sudah membuka tangan untuk Naya? Ah, rasanya Agus juga ikut bahagia membayangkannya.


Setelah berpisah dari Wulan, peringai Agus berubah total. Ia yang sebelumnya tidak begitu peduli dan mengentengkan tanggung jawabnya kepada kedua anaknya dan mengalihkan semua itu kepada Gino, tetapi kali ini Agus sudah bisa berperan menjadi bapak yang sebenarnya. Bertanggung jawab penuh atas segala keperluan kedua putranya.


Dan lagi Agus sendiri pernah merasakan ada di posisi Gino saat memutuskan menikahi Mila. Beruntungnya nasib dia tidak terlalu lama seperti yang di alami Gino. Nani bisa dengan cepat menerima Mila di rumah ini.


"Waah... Selamat! Artinya tak lama lagi aku sudah dijuluki pakde," kata Agus dengan senang.


Gino tersenyum bahagia. Melihat semua keluarganya menyambut kabar ini dengan suka cita.


"Mm... Dek Naya mana, Dek Gino?" tanya Mila tiba-tiba.


Padahal sudah tahu kalau Gino datang tidak pernah bersama Naya, tetapi siapa tahu kali ini Naya ikut menurut Mila.


Suasana tiba-tiba hening. Semuanya diam. Tetapi Gino langsung melirik kecil kepada Nani yang dari tadi hanya diam saja.


"Naya tidak ikut, Mbak," sahut Gino kemudian.


Wajah Mila langsung berubah pias.


"Loh, kenapa?"


"Ee... Naya--"


"Sudah adzan maghrib. Buruan sholat! Jangan ngobrol mulu!" ucap Nani yang kemudian langsung beranjak dari tempat duduknya dan kemudian masuk kamar.


Mereka semua kompak melihat ke arah Nani pergi. Setelah itu Suryo langsung menepuk bahu Gino, begitu Nani sudah masuk ke kamarnya.

__ADS_1


"Ajak Naya ke sini. Sudah sering ayah minta kamu bawa Naya ke sini. Lagian ibu kamu juga tidak marah-marah lagi meski tahu istri kamu hamil. Apa yang masih kamu ragukan?" ucap Suryo kepada Gino.


"Naya tidak pernah mau, Yah," jawab Gino sejujurnya.


"Kenapa?" Agus ikut bertanya.


Mereka bertiga menatap serius kepada Gino, ingin tahu alasan Naya yang kata Gino tidak pernah mau diajak ke rumah ini. Akan tetapi jawaban Gino adalah mengangkat kedua bahunya, yang berarti entah, tidak tahu alasan pastinya. Atau mungkin Gino yang berusaha menutup-nutupi alasan Naya tidak mau diajak ke sini lantaran takut menyinggung perasaan orang rumah.


"Kamu sama Naya sama saja!" ucap Suryo dengan nada kesal.


"Sama-sama cari aman! Padahal itu tidak baik jika diteruskan. Mau sampai kapan kamu mau membiarkan Naya tidak datang ke sini? Kalau dia memang menantu kami, seharusnya temuilah kami, ayah ibu di sini. Ayah ibu sudah pernah datang ke rumah kamu. Apakah itu masih belum cukup meyakinkan Naya kalau ibumu mau menerima dia sebagai istrimu?" lanjut Suryo dengan segala uneg-unegnya yang selama ini ia pendam lama.


"Kalau kalian menunggu ibumu mengatakan merestui kalian, rasanya itu sulit, Gino. Ibumu tidak mungkin mengatakannya. Tapi lihatlah sikap ibumu nanti. Kalau kamu masih tidak mau nekat membawa Naya ke sini, sampai kapanpun kamu tidak akan pernah tahu bagaimana sikap ibumu kepada Naya setelah ini. Apalagi setelah ibumu tahu kalau Naya mengandung anakmu. Ayah yakin, ibumu pasti berubah, Gino."


Setelah mengatakan itu, Suryo kemudian beranjak dari tempatnya. Memilih masuk ke kamarnya menyusul Nani. Jika ditumpahkan segala uneg-uneg yang masih banyak yang ingin ia katakan, Suryo takut dirinya yang tidak kuat sendiri, dan akhirnya berujung dengan tangis sedih merasakan nasib rumah tangga Gino masih tidak normal seperti yang lainnya.


Sedangkan kali ini hanya ada Gino, Agus dan Mila di ruang tengah itu. Melihat suasana yang berubah sendu, akhirnya Mila memutuskan untuk beranjak lebih dulu, dengan alasan akan menelpon Putra dan Roby untuk segera pulang dari rumah temannya. Sebenarnya wanita itu pergi karena ingin memberikan kesempatan kepada Gino dan Agus untuk saling bertukar cerita.


"Gino, menurutku apa yang dikatakan ayah itu benar. Kalau kamu tidak berani membawa Naya ke sini dengan alasan Naya yang tidak mau, itu artinya kamu tidak tegas. Sebagai suami kamu harus tunjukkan sikap tegas dan pantang menyerah. Menikah tanpa restu itu memang beresiko. Tapi kamu harus bisa meyakinkan Naya. Jangan sampai selamanya Naya sama ibu akan terus begini. Sama-sama angkuh! Harusnya kamu tahu ibu memang keras kepala, jadi jangan dilawan dengan sama-sama menghindar begini. Contoh aku, Gi! Mas mu ini nekat bawa pulang Mila ke sini, padahal ibu jelas-jelas nggak suka sama dia. Tapi akhirnya bagaimana? Kamu bisa lihat sekarang kan?" ucap Agus panjang lebar.


Gino hanya tertunduk tanpa mau membantah apapun wejangan dari Suryo maupun dari Agus. Tetapi dari ini, Gino akan bertekad akan membawa Naya ke rumah ini. Apapun caranya!


Agus beranjak dari tempatnya. Sebelum itu, ia menepuk bahu Gino juga sebagai wujud penyemangat. Setelah Gino hanya seorang diri, pria itu pun menghentak nafasnya dengan kasar. Kemudian ikut beranjak dari tempatnya untuk menunaikan kewajiban tiga rakaatnya dalam kamarnya.


***


"Belum, Dek. Ini aku baru selesai sholat," jawab Gino.


"Oh, ya sudah. Nanti kalau sudah pulang hati-hati ya," ucap Naya lagi.


"Kamu mau dibelikan apa?" tawar Gino, siapa tahu istrinya lagi ngidam pingin makan sesuatu.


"Nggak, Mas. Di rumah banyak makanan begini," sahut Naya.


"Gino." Tiba-tiba Nani muncul dari pintu kamar Gino.


"Iya, Bu." Gino menjawab sapaan ibunya tanpa mematikan sambungan telponnya kepada Naya.


"Kamu mau makan malam di sini? Ibu masak pepes ikan cakalang campur daun kemangi sama perkedel kentang," ucap Nani.


Naya yang mendengar masakan yang disebutkan Nani tiba-tiba ingin makan juga. Apalah daya mereka saat ini terpisah jarak.


"Mm... Iya, Bu," sahut Gino tidak tega menolak tawaran ibunya yang mengajaknya makan malam bersama.


Nani hanya tersenyum mendengar jawaban Gino. Kemudian wanita itu menutup pintu kamar Gino lagi dan berlalu pergi.

__ADS_1


"Mas," sapa Naya setelah obrolan mereka sempat terjeda barusan.


"Iya, Dek."


"Aku ngiler pepes ikan nya. Apalagi ada campuran daun kemangi nya, pasti mantap tuh," ucap Naya sungguh-sungguh.


Bayangannya sudah sangat menginginkan memakan olahan ikan laut itu dengan nasi hangat. Wah, pasti nikmat!


"Baiklah, nanti aku bilang ke ibu," sahut Gino.


"Kamu mau ngomong apa ke ibu, Mas?"


"Tinggal bilang kamu ngidam," jawab Gino santai.


Naya tercengang mendengarnya. Dari sini ia sudah bisa menebak jika mungkin ibu mertuanya sudah tahu tentang kehamilannya. Tetapi saat ini Naya tidak mau meributkan masalah itu. Ia hanya ingin makan pepes ikan buatan ibu mertuanya sekarang juga. Titik!


"Sudah ya, Dek, aku mau ke ibu, mau minta itu buat kamu."


"Iya, Mas. Duh, semoga masih kebagian. Aku sudah nggak sabar ingin cepat makan."


Gino tersenyum sendiri. Baru kali inilah Naya mau makan ikan lagi setelah sempat menjadi musuh karena bau amisnya yang suka membuatnya mual.


Setelah itu sambungan telepon mereka berakhir. Gino segera keluar kamar untuk menemui Nani yang sedang menyiapkan makanan di meja makan.


"Barusan telponan sama siapa, Gi?" tanya Nani saat Gino duduk di kursi makan.


"Naya, Bu," jawab Gino.


Seluruh keluarga sudah kumpul duduk bersama di kursi makan masing-masing, kecuali Putra yang masih belum pulang juga dari rumah temannya.


"Ibu, pepes ikannya masih ada tidak?" tanya Gino.


"Adanya yang di piring itu. Kenapa, Gi?"


"Naya--"


"Naya ngidam?" sela Suryo menduga-duga.


Gino hanya menyeringai.


"Ya sudah, ini jangan di makan!" Suryo langsung memindah piring berisi pepes ikan itu.


Nani mengambil piring itu, lalu kemudian pergi ke dapur. Tak tahunya Nani membungkus pepes ikan itu ke dalam wadah plastik. Setelah selesai, kembali lagi ke ruang makan.


"Ini, bawa pulang!" ucap Nani.

__ADS_1


*


__ADS_2