
Tanpa setahu Rahma, Abdul pergi ke rumah Arif. Kedatangannya ke sana karena ingin bertanya di mana alamat rumah Gino kepada Arif. Beruntungnya saat Arif pulang dari rumah Abdul tadi ia langsung pulang. Jadilah mereka bertemu kembali di rumah Arif.
"Ada apa, pak Abdul?" tanya Arif melihat kedatangan Abdul yang seperti terlihat penting sekali.
"Mau tanya alamat rumah yang tadi mau melamar Naya itu loh," bisik Abdul takut sampai didengar oleh istrinya Arif yang kebetulan ada diantara mereka.
Arif tersenyum senang menyambutnya. Sekilas Arif melirik istrinya, dan istri Arif paham dengan kode suaminya yang menyuruh masuk ke dalam rumah. Kemudian pria itu menyebutkan alamat rumah Gino yang rupanya masih tetap tinggal di alamat yang sama seperti saat Arif berkunjung ke rumah Gino semasa kuliah dulu. Setelah mengerti dengan yang dijelaskan Arif, barulah Abdul berpamitan.
"Loh, keburu sekali, Pak? Ini ada apa tanya alamat rumahnya Gino?" tanya Arif karena menurutnya Abdul memiliki gelagat mencurigakan.
"Tidak ada apa-apa, Ustadz, cuma ingin tahu saja," jawab Abdul.
Padahal yang sebenarnya Abdul ingin menyelidiki bagaimana keluarga Gino, bagaimana keseharian Gino di kampungnya, sebelum kemudian ia menyampaikan niat baik Gino itu kepada Naya. Wajar saja jika Abdul menyelidiki seperti itu, dan memang itu harus ia lakukan sebelum menyesal di kemudian hari.
Mendapati Abdul yang terkesan menutup-nutupi, maka Arif hanya bisa tetap berbaik sangka dengannya. Semoga saja Abdul bertanya alamat rumah Gino itu karena sekedar ingin tahu saja, bukan untuk niatan buruk lainnya.
Lalu Arif mencoba menghubungi Gino. Beruntungnya segera dijawab oleh Gino. Di sana Arif mengatakan kalau ia sudah menyampaikan amanahnya dan Abdul meminta alamat rumahnya.
"Aku rasa mungkin pak Abdul mau menyelidikimu, Gi," ucap Arif menyampaikan kemungkinan itu.
"Bisa jadi," sahut Gino. Menurut Gino wajar saja jika seorang bapak mencari tahu identitas pria yang mencoba mendekati putrinya.
"Bagaimana kalau akhirnya pak Abdul tahu tentang pekerjaanmu yang sebenarnya? Aku sudah terlanjur bohong sama dia. Duh, kalau begini aku jadi was-was, Gi!"
"Kalau nanti beliau tahu sendiri ya sudah. Aku nggak pa-pa. Mau beliau kecewa aku ikhlas. Aku serahkan semuanya kepada Allah. Karena jodoh itu rahasia Allah," ucap Gino menyerahkan segala takdirnya hanya kepada Tuhan.
Yah, setelah mendapat tantangan dari Nani tentang restunya kepada Naya, Gino lebih memilih pasrah saja dengan takdirnya. Walau jauh dari lubuk hati terdalamnya ia mengharapkan bisa berjodoh dengan Naya.
"Kalau misalnya pak Abdul marah padaku karena sudah bohong sama dia bagaimana, Gi? Ah, kamu sih, pakai nggak jujur aja dari awal." Arif yang tidak biasa berbohong itu merasa sangat menyesal.
"Kamu tinggal sampaikan saja alasanku seperti yang semalam. Aku minta maaf, Rif. Aku nggak maksud mau bikin kamu seperti ini."
__ADS_1
Sejenak Arif menghela nafasnya. "Oke! Itu berarti kamu ridho ya aku katakan yang sebenarnya kalau nanti pak Abdul datang lagi?"
"Iya. Sebelumnya terimakasih banyak ya, Rif," kata Gino kemudian.
"Iya, sama-sama. Sebelumnya aku minta maaf karena sudah ganggu kamu saat jam kerja begini."
"Oke, nggak masalah kok."
Lalu sambungan telepon mereka berakhir.
Abdul terus mencari alamat rumah Gino sesuai yang disebutkan oleh Arif. Rupanya rumah Gino berbeda kecamatan dengannya. Cukup ditempuh waktu sekitar setengah jam saja ketika perjalanan lalulintas sedang lancar.
Akhirnya saat ini Abdul telah tiba di depan alamat rumah yang persis seperti yang dikatakan Arif. Sejenak Abdul termenung dari seberang jalan memandangi bangunan rumah yang cukup besar bila dibandingkan dengan rumah miliknya.
"Apa benar ini rumahnya?" batin Abdul masih tidak percaya jika itu adalah rumah Gino.
Dengan pekerjaan Gino yang katanya hanya sebagai tukang kebun, sangat tidak masuk akal jika dibandingkan dengan bangunan rumahnya.
"Permisi bapak-bapak, saya mau tanya," sapa Abdul begitu ia sudah berhadapan dengan tiga orang bapak-bapak itu.
"Iya, Pak, mau tanya apa?" sambut satu orang yang bertubuh gempal kepada Abdul.
"Mau tanya alamat rumah Gino," kata Abdul.
"Gino yang kerja di Bank itu?" Salah satu bapak-bapak itu ikut menyahut.
"Bukan. Gino yang saya cari orangnya kerja jadi tukang kebun."
Mereka bertiga nampak saling memandang kebingungan.
"Setahu saya yang namanya Gino itu kerjanya di Bank, Pak. Di blok ini yang namanya Gino cuma satu, itu rumahnya," tunjuk pria yang paling kurus diantara mereka bertiga itu ke arah rumah bercat gading yang tadi.
__ADS_1
Abdul mengikuti arah orang itu menunjuk yang ternyata sama dengan rumah yang Arif berikan padanya. Abdul tak lantas langsung percaya, ia masih ingin memastikannya lagi tentang Gino yang sebenarnya.
"Gino yang saya cari itu orangnya tinggi, kulitnya bersih, katanya dia bilang kerja jadi tukang kebun, dan dia juga belum menikah," ucap Abdul lagi.
"Memang iya Gino belum menikah. Anda punya fotonya tidak, Pak?"
Abdul menggeleng kepala. Kemudian tiga orang bapak-bapak itu kembali saling berbisik kebingungan. Dan Abdul pun sama merasakan bingung. Ini yang salah siapa? Apa dirinya yang salah alamat, atau apakah Arif yang salah memberikan alamat?
Ah, mungkin lebih baik kembali ke rumah Arif saja. Sekalian menyampaikan penemuan fakta tentang Gino yang ia dapatkan di sini. Lalu setelah itu Abdul langsung pamit dan kembali pulang ke rumah.
Abdul kembali datang ke rumah Arif. Tetapi pria itu harus menunggu sejenak karena Arif sedang mengimami sholat Ashar berjamaah di masjid. Setelah cukup lama menunggu akhirnya Arif datang juga.
"Loh, pak Abdul?" Arif pura-pura kaget melihat Abdul datang lagi ke rumahnya.
"Ada apa, Pak?" Lalu Arif ikut duduk di kursi yang ada di teras rumah Arif itu.
"Begini, Ustadz, apa ustadz tidak salah kasih saya alamat rumahnya Gino itu?"
Arif menggeleng kepala. "Itu alamatnya sudah benar, Pak. Gino sendiri yang ngasi saya kartu nama."
Abdul mengerutkan keningnya heran. "Tukang kebun kok punya kartu nama. Hebat juga!" batin Abdul bermonolog.
"Boleh saya lihat kartu namanya, Ustadz?" tanya Abdul sudah tidak sabar ingin memastikan kebenarannya.
Lalu Arif masuk ke rumahnya untuk mengambil kartu nama Gino. Setelah itu Arif langsung menyerahkannya kepada Abdul.
Abdul yang membaca kartu nama itu langsung tercengang kaget. Ternyata ia tidak salah alamat tadi. Dan apa yang dikatakan orang-orang tadi tentang Gino ternyata itu benar.
"Kenapa ustadz bilang dia kerjanya tukang kebun? Padahal di kartu namanya pekerjaannya sebagai pegawai Bank?" tanya Abdul sedikit kecewa karena kenapa bisa Arif menutupi soal profesi Gino yang sebenarnya.
"Kalau dari awal sudah tidak jujur begini bagaimana saya bisa percaya dia bisa menjadi suami Naya?"
__ADS_1
*