Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 114


__ADS_3

Hingga malam harinya, kondisi yang dirasa Naya belum menunjukkan adanya peningkatan. Naya masih bisa beraktifitas seperti biasanya meski kata bidan pagi tadi kehamilannya sudah mengalami pembukaan dua.


"Kamu tidak apa-apa, Dek?" tanya Gino saat mereka sama-sama berbaring di kasur menjelang tidur malam.


"Nggak kenapa-napa. Memangnya ada yang beda sama aku, Mas?" Naya bertanya balik, karena memang dirinya merasa baik-baik saja.


"Nggak sih. Cuma aku perhatikan sepertinya kamu--" Gino tak jadi melanjutkan perkataannya.


Pria itu menatap lebih lekat kepada Naya. Memperhatikan wajah istrinya yang memang tidak kenapa-napa. Mungkin perasaan Gino saja yang cemas berlebihan.


"Cuma kenapa, Mas?" tanya Naya penasaran.


Lalu Gino beranjak duduk, sedangkan Naya masih berbaring di dekat Gino.


"Sini punggungnya aku pijitin, Dek," ucap Gino menyuruh istrinya untuk memiringkan badannya.


Naya menurut tanpa banyak protes. Dan lagi seperti sudah menjadi candu untuk Naya setiap malam dapat servis pijitan dari suami.


Dengan telatennya Gino memijiti punggung Naya. Begitu dirasa cukup, tangan pria itu pindah ke kaki Naya yang dipijit.


"Mas, aku pingin pas lahiran nanti kamu nemenin aku," ucap Naya, entah sudah ke berapa kalinya Naya mengatakan itu.


Rasanya jika sedang melahirkan tanpa ditemani oleh suami itu seperti kurang kekuatan. Setidaknya meski tidak bisa mengurangi rasa sakitnya kontraksi, tetapi dengan adanya suami menemani saat lahiran sudah menjadi penyemangat diri untuk tidak menyerah. Mengeluarkan buah cinta dari rahim itu rasanya nano-nano sekali.


"Pasti aku temani, Dek. Asal aku cepat dihubungi kalau memang sudah mau lahiran. Aku ingin jadi orang pertama yang menggendong anakku," jawab Gino yang mana ia memang menginginkan momen kelahiran anak pertamanya tidak terlewatkan olehnya.


Seandainya nanti Naya melahirkan di malam hari, Gino tidak khawatir lagi, karena ia selalu standby bersama dengan Naya. Akan tetapi jika akhirnya Naya akan melahirkan di siang hari maka tetap Gino akan pulang dari kantornya untuk menemani Naya.


Lama-lama pijatan tangan Gino merambat ke paha mulus Naya. Entah kenapa libido pria itu mendadak naik. Setelah dipikir-pikir memang sudah hampir dua minggu mereka tidak bercinta. Jadi tidak salah jika saat ini Gino menginginkannya.


Sedangkan Naya merasa pijatan tangan suaminya sudah berubah menjadi usapan lembut. Wanita itu menoleh sejenak, akan tetapi Gino malah memalingkan wajahnya seperti orang yang salah tingkah.


"Kenapa, Mas?" tanya Naya.


Tiba-tiba Gino menghentikan pijatan nya. Membenahi baju Naya yang semula tersingkap, dan menutupi tubuh Naya menggunakan selimut. Kemudian pria itu ikut berbaring di samping Naya.


"Tidurlah, Dek," ucap Gino setelah sebelumnya mengecup kening Naya.


Naya membalik badannya sehingga saling berhadapan dengan Gino. Tangan wanita itu memeluk lebih dulu pada Gino, lalu membenamkan wajahnya pada dada bidang suaminya, tempat ternyaman ketika hendak tidur.


Gino ikut melingkarkan tangannya di pinggang Naya. Satu tangannya mengusap lembut pada pucuk kepala Naya. Wanita itu perlahan memejamkan matanya, tetapi tidak dengan Gino yang merasa kesulitan mengatur libidonya yang seakan tak mau pergi.

__ADS_1


Hembusan nafas Gino dirasa berbeda oleh Naya. Sebab itu akhirnya Naya membuka matanya lagi. Lalu menatap pada suaminya yang rupanya belum terpejam.


"Kamu kenapa, Mas?" tanya Naya sekali lagi.


Gino tidak menyahut. Pria itu malah mengecup kening Naya lagi hingga cukup lama.


"Tidurlah, Dek, aku masih belum mengantuk saja," ucap Gino.


"Beneran kamu nggak lagi mikirin sesuatu?" kepo Naya.


Gino mengangguk.


"Kamu bohong!" ucap Naya dengan tegas.


"Aku nggak lagi mikirin apa-apa, aku serius," sahut Gino meyakinkan.


"Tapi kok nafas kamu kayak ngos-ngosan gitu?"


"Biasa aja kok, perasaan kamu aja kali," kilah Gino.


Naya memilih diam, tetapi netra mereka masih saling memandang.


"Dek," ucap Gino kemudian.


Suara pria itu sedikit lebih berat dari sebelumnya.


"Apa?" sahut Naya dengan bertanya.


"Aku--"


Gino nampak ragu untuk mengatakannya jika saat ini dirinya sedang on. Mengingat dan melihat perut Naya yang sudah besar sempurna, rasanya sedikit kasihan jika istrinya itu dimintai jatah ninuninu. Pasti akan tidak nyaman untuk Naya menurut Gino.


"Kenapa? Kamu kok aneh malam ini, Mas," ucap Naya lagi yang semakin meyakini jika ada sesuatu yang mungkin ragu untuk dikatakan oleh Gino kepadanya.


"Aku kangen," ucap Gino tanpa ragu lagi.


Naya tercengang sesaat.


"Halah, jadi lagi pingin?" ucap Naya sedikit terkekeh lucu melihat suaminya yang berbeda dari biasanya jika sedang mengajaknya bercinta.


Untuk malam ini, ajakan suaminya itu terlalu banyak drama menurut Naya. Tetapi meski begitu lucu juga sih. Hehehe...

__ADS_1


Gino menyeringai menatap Naya.


"Mau dong," rayu Gino sambil mencapit kecil ujung hidung Naya.


"Gimana ya?" Naya pura-pura agak keberatan dengan ajakan suaminya.


"Nggak mau ya?" Wajah Gino sudah agak murung.


Sebenarnya Naya sedang kepikiran dengan pesan bidan tadi pagi yang menyuruhnya untuk rajin bercinta dengan suami saat kehamilan besar begini untuk merangsang si bayi bisa cepat keluar.


"Dek," sapa Gino sekali lagi.


Tangan pria itu sudah berhasil membuang selimut yang dipakai Naya. Bahkan rok yang dipakai Naya sudah tersingkap, hingga paha mulusnya kembali terekspos. Usapan lembut pria itu memicu pergerakan seduktif untuk Naya. Hingga akhirnya Naya pun ikut ter4ngs4n9 karenanya.


Mendapati Naya yang mulai melenguh karena perbuatannya, Gino tidak mau membuang kesempatan emas. Bibir pria itu menyapa bibir Naya. Mengulum nya dengan hisapan lembutnya. Suara decapan itu sesekali terdengar manja. Membuat libido mereka terasa semakin naik.


Puas saling bertukar saliva, Gino beranjak duduk untuk membuka bajunya sendiri. Menyisakan celana boxernya dengan isi didalamnya yang nampak lebih besar efek sudah tegangan tinggi. Sedangkan Naya sendiri pakaiannya masih lengkap.


Lalu kemudian Gino mulai menggerayangi tubuh Naya. Satu persatu tangannya mulai melepas kancing baju Naya, hingga akhirnya terlepas total. Setelah itu, Gino mengangkat tubuh Naya untuk duduk juga. Di saat Gino akan melepas baju Naya, malah Naya menahannya.


"Mas," ucap Naya yang seketika membuat Gino ketar-ketir takut Naya menolak lanjut.


"Apa, Sayang?" Tangan Gino membelai lembut pada pipi Naya.


"Pelan-pelan ya," pinta Naya.


Gino tersenyum lega, karena ternyata Naya tidak menolaknya, cuma memintanya untuk mengurangi kecepatan hentakan.


"Iya, aku tidak akan membuatmu tidak nyaman. Kamu bilang saja kalau nanti ngerasa nggak enak atau ada yang sakit," ucap Gino.


Naya mengangguk. Untuk malam ini Naya sudah pasrah. Setidaknya malam ini ia akan berusaha memuaskan suaminya meski perutnya sudah membuncit sempurna. Anggap saja ini adalah bekal untuk libur lama nanti.


Setelah melucuti seluruh yang melekat pada tubuh Naya, Gino membaringkan Naya lagi. Pria itu kembali mencium bibir Naya. Satu tangannya bermain lincah pada bukit kembar yang ukurannya sudah lebih besar dari sebelumnya.


Naya menikmati permainan suaminya dengan nyaman. Dessahan mulutnya sesekali keluar dengan nakal. Membuat Gino semakin terpancing untuk melakukan yang lebih dari itu.


Hingga kemudian tangan pria itu mulai menyambangi jalan lahir bayinya. Di sana landasan itu rupanya sudah basah. Tanpa mengulur waktu lagi, Gino sudah siap meluncurkan rudal nya. Semenjak Naya hamil besar, Gino tidak pernah meminta Naya untuk aktif dalam bercinta. Lebih sering dirinya yang aktif bergerak, dan Naya cukup menikmatinya saja.


Mulut Gino terlihat melafalkan do'a. Sebelum kemudian rudal itu mulai meluncur pada landasannya.


*

__ADS_1


__ADS_2