
Akhirnya Gino pulang dari rumah Naya setelah tadi berbincang sebentar dengan Abdul. Tetapi yang mereka bicarakan bukan soal perasaan Gino, melainkan perbincangan absurd antara menantu dan mertua. Sedangkan kepada Naya sendiri, Gino masih tetap menutup mulut.
"Beneran sudah nggak kenapa-napa, Mas?" tanya Naya merasa khawatir dengan Gino yang selalu menjawab tidak apa-apa di saat Naya bertanya tentang perasaannya saat ini.
Saat ini mereka berdua sudah ada di halaman depan, Naya sedang mengantar Gino yang bersiap pulang.
"Iya. Aku tuh cukup lihat senyum kamu aja semua masalahku sudah hilang, Dek," ucap Gino.
Mungkin mau merayu Naya, tetapi sorot matanya tetap saja terlihat sedang banyak pikiran.
"Heem... Makin ke sini jurus gombalmu makin lebay!" celetuk Naya sambil terkekeh kecil.
Gino hanya tersenyum. Biar saja dikatakan alay, yang ia mau hanya ingin melihat senyum wanitanya selalu ada.
"Hati-hati di jalan ya, Mas. Jangan lupa telpon kalau sudah sampai rumah," ucap Naya kemudian.
"Aku masih mau mampir ke rumah Arif sebentar, Dek. Trus habis itu pulang."
"Pulang ke mana?" kepo Naya.
Naya bertanya seperti itu karena takut Gino akan pulang ke rumahnya sendiri tanpa pamit kepada orang tuanya. Seperti yang pernah Gino lakukan setelah terlibat perseteruan dengan ibunya.
"Ke rumahku," jawab Gino ambigu.
"Iya, rumah kamu apa rumah ibu?"
"Mm... Kalau aku nginep di sini malam ini boleh nggak?" Gino malah balik tanya.
"Iih, Mas, aku ini serius nanya, kamu malah usul yang nggak mungkin aku ijinin!"
Gino menyeringai saja.
"Aku tuh pinginnya kamu nggak berubah sama ibu, Mas. Meski ibu nggak suka sama aku, tapi kamu sebagai anaknya tolong jangan bermusuhan sama ibu," seru Naya.
Jujur, Naya takut kehadiran dirinya dalam kehidupan Gino akan membuat Gino durhaka kepada kedua orang tuanya, terlebih kepada ibunya. Sebab ia sangat tahu betapa besar pengaruh do'a seorang ibu untuk anaknya. Naya tidak mau akan terjadi karma atau paling buruk adzab yang akan menimpa mereka. Itulah yang masih menjadi keraguan hati Naya untuk menikah dengan Gino.
Bukan karena tidak mencintai Gino. Bukan! Hanya saja Naya masih belum nekat untuk melawan restu dari ibunya Gino. Itu saja!
__ADS_1
Naya tahu kalau lelaki yang saat ini menjadi tunangannya itu adalah lelaki nekat. Mungkin jika Naya mengatakan setuju menikah besok, maka pasti akan Gino wujudkan, walau dengan tanpa restu Nani sekalipun.
"Makasih ya, Sayang, kamu selalu jadi penyejuk hatiku di saat perasaanku sedang kalut," ucap Gino sambil membelai pipi Naya.
Pria itu sangat bersyukur telah dipertemukan dengan wanita yang bisa menjadi pengendali di saat dirinya sedang ingin berontak dengan keadaan.
Naya meraih tangan Gino dari pipinya. Kemudian tanpa canggung Naya mencium tangan Gino, layaknya seorang istri yang bersalaman dengan suami. Hal itu tentu membuat perasaan Gino seketika berdesir. Sehingga mulut Gino terdiam, tertegun dan terharu dengan pemandangan yang selama ini ia impikan bersama Naya.
"Hati-hati ya," ucap Naya sekali lagi, melepas kepulangan Gino dari rumahnya.
Gino tersenyum manis sekali. Ah, andai Naya sudah sah menjadi istrinya saat ini, sudah pasti Gino akan cium kening itu, seperti halnya seorang suami yang berpamitan kepada istrinya.
"Senyum-senyum, nggak jadi pulang?" heran Naya.
"Pinginnya. Boleh nggak sih?"
"Nggak boleh! Sudah pulang sana!"
Naya sampai mendorong lengan Gino untuk segera naik ke motornya. Bukan suatu usiran yang kejam, tetapi usiran yang syarat manja.
"Satu malam doang, sekali saja lah, Dek," nego Gino. Siapa tahu iseng-iseng berhadiah. Haha...
Abdul dan Rahma yang diam-diam memperhatikan mereka dari dalam ikut senyum-senyum sendiri. Jika melihat mereka bahagia seperti itu, rasanya Abdul tidak begitu mempermasalahkan mereka jika kemudian hari tetap menikah meski tanpa restu ibundanya Gino.
"Ya udah deh aku pulang. Tapi aku mau tanya satu hal, dan kamu wajib jawab," ucap Gino kemudian.
"Mau tanya apa?"
"Nikah yuk, Dek, akhir bulan ini," kata Gino dengan mantap.
Naya terdiam mendengarnya. Sudah sering Gino bertanya untuk kesiapannya menikah, cuma pertanyaan malam ini kenapa sangat membuat hatinya berdegup resah?
"Jawab dong, Dek. Ini aku mau ke rumah Arif sekalian mau tanya tanggal yang baik dan cantik untuk pernikahan kita," seru Gino.
"Kamu serius mau ke rumah ustadz Arif mau tanya soal itu?" tanya Naya kemudian.
Gino mengangguk yakin, walau niat awalnya bukan tentang itu untuk datang ke rumah Arif. Ada sesuatu hal yang ingin Gino bicarakan dengan Arif. Katakanlah curhat masalah melawan restu.
__ADS_1
"Dek, dari awal aku itu selalu serius sama kamu. Meski kamunya kadang suka ragu sama aku, tapi aku tetap akan serius sama kamu. Jadi gimana jawabannya? Apa kamu masih mau setahun lagi?"
"Ya nggak setahun juga. Tahun depan umur kamu pasti tambah tua. Hihi..."
"Heem... Ngejek nih?"
Gino tahu kalau Naya hanya bercanda soal umurnya yang lebih tua delapan tahun dengan Naya.
"Nggak ngejek, aku bicara kenyataan." Kali ini Naya mulai terkekeh.
"Makanya, Dek, apa kamu tidak kasihan sama aku? Mau ya, Dek?"
"Jangan akhir bulan, itu kecepetan," seru Naya yang dari itu Gino menyimpulkan kalau Naya sudah siap diajak menikah.
Gino tersenyum lega. Kemudian pria itu mengulurkan tangannya kepada Naya.
"Aku mau salaman lagi kayak yang tadi," ucap Gino.
Maka kemudian Naya mengulang salaman seperti yang tadi. Setelah itu Gino akhirnya pergi dari rumah Naya, untuk kemudian bertujuan ke rumah Arif.
Gino yang memang sebelumnya sudah mengabari Arif soal kedatangannya, memang sudah ditunggu oleh Arif sambil duduk santai di teras depan rumahnya. Dua cangkir kopi hitam dan sepiring pisang goreng sudah tersedia di meja itu.
"Assalamu'alaikum, Rif," salam Gino kepada Arif.
"Wa'alaikumsalam. Duduk sini, Gi."
Lalu mereka berdua duduk bersama di kursi santai yang ada di teras itu.
"Kopinya diminum dulu lah. Maaf sudah agak hangat, kamunya sih lama," seru Arif. Karena dari chat Gino yang memberitahu kalau mau datang kepada Arif itu sudah dari setengah jam yang lalu.
Setelah itu keduanya sama-sama menikmati kopi dan suguhan itu.
"Gimana, gimana, mau cerita apa?" tanya Arif kemudian.
"Dosa nggak sih, Rif, kalau aku menikah tapi ibu masih alot merestui ku?" tanya Gino to the point, sudah tidak canggung sama sekali membahas tentang itu kepada Arif.
"Yang dikatakan dosa itu lihat konteksnya dulu seperti apa. Misal, kalau kamu kekeh pingin nikah dengan perempuan maksiat, ibumu sudah melarang karena tahu itu tidak baik untuk kamu, dan kamu tetap melanggar, mungkin itu bisa berujung adzab nanti. Tapi kalau tentang kamu dan Inayah sebenarnya hanya soal gengsi ibumu saja. Inayah perempuan yang baik, dan niat kamu bersama Naya benar-benar tulus lillahita'ala. Aku rasa-- niat tulus itu lebih baik disegerakan. Jangan lupa sambil berdo'a, Gi, semoga Allah lekas membuka hati ibumu untuk bisa menerima Inayah. Supaya mata ibumu terbuka, mana menantunya yang baik mana yang menjadi toxic," ucap Arif panjang lebar.
__ADS_1
Gino mengangguk paham.
*