90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
16. Mabuk Part 2


__ADS_3

" Air.... Aku haus..." Ucap Claudia terus menarik tangan Adam. "Beri aku air aku ingin minum." Lanjut Claudia lagi.


Adam menarik tangannya dari pegangan Claudia lalu menuangkan air dari dalam ketel ke dalam gelas yang memang ada di atas meja.


"Kenapa harus minum alkohol jika tidak bisa mengontrol dirimu sendiri? Aku yakin kau dan teman-temanmu kembali memainkan permainan bodoh tentang tantangan itu." Ucap Adam.


Adam terus mengomel.


"Ngomong-ngomong berapa banyak yang kau minum? Seharusnya di usiamu yang masih muda seperti ini kau tidak boleh minum terlalu banyak. Apalagi kau masih seorang mahasiswa." Lanjut Adam terus saja mengomel.


Adam lalu duduk di samping tempat tidur Claudia, kemudian menarik Claudia untuk bangun agar bisa minum air. Tapi jangankan untuk memegang gelas airnya, untuk duduk saja Claudia tidak bisa. Hingga Adam harus turun tangan untuk membantunya duduk dengan bersandar di lengan kiri Adam, lalu dengan tangan kanan, Adam mengarahkan gelas air ke mulut Claudia. Lalu Claudia meminum air itu sampai habis.


Adam menaruh kembali gelas itu ke atas meja, dengan Claudia yang masih dalam pegangannya. Claudia tiba-tiba semakin mendekatkan kepalanya ke dada Adam dan bersandar dan mulai mengusap-usap bibirnya yang basah karena air. Adam menjadi kaku seperti patung. Claudia sendiri tak juga melepaskan dirinya dari berdekatan dengan Adam. Dia bahkan semakin mendekat dengan melingkarkan tangannya di leher Adam. Kemudian membenamkan wajahnya di dada bidang Adam. Seperti bergelayut manja pada suaminya dan terlihat begitu nyaman.


Tapi hal itu membuat napas Adam menjadi berat. Ia tak tahu kenapa, tapi dadanya berdebar begitu kencang. Tanpa berpikir panjang, Adam lalu menaruh tubuh istrinya itu kembali berbaring ke tempat tidur.


Dengan tubuhnya yang seperti berada diatas Claudia, ia berusaha menahan tubuh Claudia dan melepaskannya dengan pelan. Claudia tiba-tiba, kembali menarik Adam agar mendekat dengan menarik lehernya dengan tangannya yang masih melingkar disana.


Adam yang tak sigap, langsung menindih tubuh Claudia. Dia menjadi begitu terkejut dengan debaran jantung yang semakin tak terkendali. Dia menatap wajah cantik Claudia yang seolah semuanya ditujukan padanya. Adam berusaha menahan diri dengan berusaha membebaskan diri dari pelukan yang diberikan Claudia di lehernya. Namun semakin kuat ia berusaha, hal itu justru semakin membuat Claudia menariknya jauh lebih dekat padanya.


"Aku tidak mencium siapapun hari ini." Ucap Claudia tiba-tiba.


Claudia kembali mengigau. Suaranya terdengar begitu mabuk dan intonasinya seperti tak beraturan, tapi masih bisa dimengerti.


"Tidak, tidak. Aku tidak memainkan permainan apapun hari ini..." Ucap Claudia lagi.


Claudia semakin menarik Adam lebih dekat dan dekat lagi. Sudah tidak ada lagi jarak diantara keduanya. Adam benar-benar menindih wanita yang secara sah sudah menjadi isterinya itu. Tubuh keduanya benar-benar menempel, dan hanya dipisahkan oleh pakaian masing-masing saja.


Dan entah bagaimana awalnya, Claudia langsung mencium Adam dengan mata yang masih tertutup, membuat bibir keduanya kini menyatu. Claudia semakin mendalam kan ciumannya saat merasakan Adam tak membalas ciumannya.


"Cium balik.... ABG Tua." Ucap Claudia dengan mata yang masih tertutup.


Adam menjadi begitu dilema. Ia tahu bahwa Claudia melakukan semua ini karena berada dibawah pengaruh minuman keras. Jika dia membalas ciuman Claudia, itu artinya dia mengambil kesempatan dalam kondisi Claudia yang tak sadarkan diri. Jadi Adam memutuskan untuk tetap diam. Dan berusaha melepaskan diri dari Claudia.


Claudia yang merasa frustrasi semakin mengeratkan pelukannya lalu berguling ke kanan dan membuat posisi keduanya bertukar. Posisi itu membuat Adam menjadi frustrasi, rahangnya mengeras. Dia terus berusaha untuk tidak merespon apapun yang dilakukan Claudia.


Claudia terus melancarkan serangannya dengan mencium Adam. Dimulai dari wajah, leher dan dadanya. Sekuat tenaga, Adam berusaha untuk menahan dirinya dan mencoba untuk bangkit.


Tapi Claudia tak tinggal diam. Ia terus saja sibuk mencium suaminya itu dan membuat semua berat tubuhnya bertumpu pada tubuh Adam. Usaha yang dilakukannya, pada akhirnya membuat Adam menyerah. Adam memegang pinggang Claudia, lalu melingkarkan pelukannya dengan erat.


Kali ini, Adam yang mendominasi ciuman mereka. Ciuman yang begitu haus dan bersemangat. Hal itu membuat Claudia menggeliat dan sesekali mengeluarkan suara ******* setiap kali Adam menyentuhnya. Dengan tangan Adam yang mulai menjelajahi setiap inci tubuhnya. Adam semakin menggila dan memperdalam ciumannya. Ia dapat merasakan alkohol dari mulut Claudia. Rasa yang justru semakin membuatnya bernafsu.


Tapi, tiba-tiba gadis yang menjadi lawannya berciuman itu diam dan tak lagi membalas ciumannya. Adam menghentikan ciumannya dan melihat kebawah tubuhnya dimana Claudia yang berbaring dan sudah tertidur pulas.


Dan begitulah akhirnya. Gadis yang mabuk itu akhirnya tertidur. Bisakah dibayangkan? Dia tertidur disaat keduanya tengah bercumbu mesra.


Adam benar-benar tidak percaya dengan apa yang terjadi.


"Dasar gadis nakal. Aku yakin, dia hanya sedang mengerjai ku." Ucap Adam kesal dengan napasnya yang berat.


Adam memandangi Claudia sesaat, lalu berjalan keluar dari kamarnya.


***********


Pagi berikutnya, Adam tak membangunkan Claudia. Karena dia pikir Claudia butuh waktu hari ini, dan dia bisa membangunkan dirinya sendiri. Jadi Adam melakukan rutinitas paginya seperti biasa lalu berangkat ke kantor.

__ADS_1


Claudia akhirnya bangun pukul 12.30, itu pun karena ia mendapat sebuah panggilan telepon. Suara ponselnya begitu keras. Pertama, Claudia melempar bantal ke arah sisi dari asal suara ponsel yang bising itu terdengar, tapi tidak berhasil menghentikan kebisingannya.


"Adam tolong. Aku tidak bisa jogging hari ini." Ucap Claudia dengan mata yang masih terpejam.


Claudia lalu kembali mengambil bantal untuk menutup kepalanya, tapi suara bising ponsel tetap terdengar.


Merasa gagal, Claudia akhirnya duduk diatas tempat tidur. Mengusap matanya, dengan kondisi yang masih mengantuk. Ia menunggu guyuran air yang akan disiramkan ke wajahnya tapi tidak ada. Jadi, Claudia dengan perlahan membuka matanya sedikit, lalu dengan penuh. Saat itu ia pun menyadari bahwa Adam tak ada di dalam kamar. Begitu juga dirinya tak sedang berada di dalam kamar mandi.


Karena rasa kantuk yang sepenuhnya sudah hilang, Claudia mulai berusaha mengingat semua yang terjadi tadi malam. Dan satu-satunya hal yang ia ingat terakhir kali adalah, ia dan Endra tengah menari dengan gila di lantai disko. Hanya itu. Dia sama sekali tak mengingat yang lainnya, semuanya kosong.


Claudia lalu mengambil ponselnya dan melihat 3 panggilan tak terjawab dari Endra lalu meneleponnya.


Setelah selesai mengobrol dengan Endra, ia akhirnya menyadari bahwa Adam yang membawanya kembali ke rumah ini.


"Ya Tuhan, dia tahu aku mabuk. Dia mendapati aku mabuk dan tak sadarkan diri. Ah, sial sekali. Dia pasti akan membuatku melakukan homeschooling sekarang. Aaarrghh kenapa? Kenapa aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri?"


Claudia mulai mengecek seluruh tubuhnya, memeriksa apakah ada bekas memar atau ruam di tubuhnya atau bekas apapun itu.


"Tidak. Tidak ada apapun disini. Dia tidak mengambil kesempatan, dia tidak juga memukuliku. Terima kasih Tuhan." Ucap Claudia merasa lega.


Dengan kepala yang masih pening, Claudia turun dari lantai atas menuju ruang makan.


"Nona Muda, Anda sudah bangun. Apa Anda mau saya buatkan sarapan atau sekalian makan siang saja?" Tanya Jono saat melihat kedatangan Claudia.


"Aku tidak tahu, aku sepertinya tidak bisa makan apapun. Kepalaku sangat pening." Balas Claudia seraya memijit keningnya.


Setelah beberapa menit, Jono kembali dengan membawa segelas minuman. Claudia tidak tahu apapun itu. Ia lalu menatap Jono dan menunggu penjelasan.


"Minuman itu akan membantu menghilangkan pening di kepala Anda. Silahkan dinikmati Nona. Saya akan membuatkan Anda sup yang enak dan menyehatkan. Anda akan merasa lebih baik." Ujar Jono.


Waktu habis....


Claudia tengah duduk di ruang kerja Adam, belajar karena dia tengah takut.


Iya! Si Claudia itu akhirnya bisa takut juga. Ia takut jika Adam kesal dan akan marah padanya. Jika Adam sampai tahu bahwa dia melewati pembelajaran di kampus hari ini dan dia juga tidak melakukan semua tugasnya. Adam bisa jauh lebih marah lagi.


Claudia menyadari bahwa Jono tengah menyiapkan makan siang di dapur.


'Tapi, dia sudah membuatkan ku sup tadi. Jadi untuk siapa dia membuatkan makan siang itu?' pikir Claudia.


"Aha, aku tahu. Dia pasti membuatkannya untuk Adam." Ucap Claudia.


Claudia terlihat berpikir serius.


"Aku melanggar janji yang aku buat. Apa aku harus minta maaf? Apakah pria bertampang dingin itu bisa menjadi orang yang pemaaf? Atau doa sendiri tidak tahu bagaimana caranya untuk memaafkan?" Ucap Claudia terus bertanya pada dirinya sendiri.


Setelah berpikir, Claudia akhirnya memutuskan untuk lebih meminta maaf. Dia tak ingin ada masalah antara dirinya dan Adam yang akan mempengaruhi perceraian nanti.


"Bagaimana jika aku memasak makan siang untuknya dan mengantarnya sendiri ke kantornya? Siapa tahu dia bisa tersentuh dengan apa yang aku lakukan dan tidak punya pilihan lain selain memaafkan kesalahanku." Ucap Claudia.


Claudia kemudian menyemangati dirinya sendiri seraya memutar pundaknya.


"Hmmmm kau sangat pintar Di." Ucap Claudia memuji dirinya sediri.


Claudia berdiri, lalu masuk ke dalam dapur.Beberapa saat, sebelum menjadi koki sehari, ia memperhatikan Jono yang terlihat sibuk dengan peralatan masaknya di dapur.

__ADS_1


"Hhmmmmm Jon, aku sedang berpikir tentang.... Maksudku, bagaimana jika aku yang membuatkan makan siang untuknya hari ini?" Ucap Claudia.


Jono awalnya tampak terkejut, tapi ia dengan cepat tersenyum ke arah Claudia.


"Benarkah? Ya Tuhan, Tuan Muda pasti akan sangat senang. Tentu saja Nona. Bagaimanapun juga dapur ini, semuanya milik Anda. Anda akan selalu menjadi bos disini. Apakah Anda perlu bantuan? Atau Anda mau saya memandu Anda?" Tanya Jono.


Merasa canggung dengan tanggapan yang diberikan Jono, Claudia pun membalas, "aahh, sebenarnya, tidak usah. Terima kasih. Kau bisa tetap disana menyelesaikan pekerjaanmu. Akh akan meminta bantuan jika aki perlu nanti."


Sepanjang hari, suara dentingan demi dentingan terdengar cukup keras dari arah dapur. Ciprata minyak berterbangan kemana-mana. Melihat semua yang terjadi, membuat Jono berpikir bahwa segala macam alat masak, piring, sendok dan yang lainnya bisa mengeluarkan suara yang begitu berisik. Semuanya terdengar seperti perang yang tengah berlangsung di dapur.


Beberapa saat kemudian, jam menunjukan pukul setengah lima, dan suara bising di dapur mulai mereda. Supir, pelayan, tukang kebun, tukang sapu penjaga, dan para pekerja lainnya, mereka semua tampak berdiri di depan dapur. Menyaksikan misi yang dilakukan Claudia akhirnya selesai dengan begitu banyak perjuangan. Akhirnya, setelah mereka melihat Claudia memasukan makanan ke dalam kotak makan siang, mereka sama sekali tidak bisa membantu, melainkan hanya bisa mengusap keringat yang bercucuran di kening mereka, seraya berdoa.


Menyelesaikan pekerjaannya, Claudia menggigit bibirnya kemudian berpikir apa yang akan dilakukan selanjutnya.


'Selanjutnya menemui Adam yang keras kepala itu.' pikir Claudia.


Claudia lalu naik ke lantai atas menuju kamarnya untuk bersiap-siap.


"Tapi, bukankah sekarang sudah lewat waktu makan siang. Malah lebih tepatnya makan malam, dan itupun beberapa jam lagi." Ucap tukang kebun pada Jono.


Jono menatap pria berkumis itu.


"Memangnya kenapa? Nona Muda sudah membuatnya dengan penuh cinta dan perjuangan. Aku yakin Tuan Muda akan mengerti." Balas Jono.


**************


Situasi di pusat kota tempat pusat bisnis, dimana gedung perusahaan Adam berdiri kokoh dengan 88 lantai yang menjulang tinggi ke angkasa berdampingan dengan gedung yang berada disebelahnya yang hanya setinggi 66 lantai.


Perusahaan Adam, memiliki banyak bisnis. Diantaranya, teknologi tinggi, transportasi, kosmetik, pakaian, hiburan dan yang lainnya.


Entah bagaimana, Claudia jadi berpikir. Ada begitu banyak tanggung jawab yang diemban oleh suaminya itu.


Saat dia masuk ke dalam gedung perusahaan Adam dengan memegangi kotak makanan, dia berlari menuju sekumpulan orang-orang yang sudah selesai bekerja dan hendak berjalan keluar gedung untuk pulang.


Claudia mengenakan sweater garis-garis colorful dengan dipadukan celana jeans hitam dan sepatu sneaker.


Mata Claudia bahkan melihat dirinya sendiri yang mengenakan pakaian seperti itu. Ia merasa begitu aneh.


Sekali menatapnya saja, orang-orang akan mengetahui bahwa ia adalah seorang mahasiswa. Claudia yang terlihat masih begitu muda, energik dan fresh malah membuat sebagian orang yang melihat menganggapnya masih duduk di bangku sekolah menengah atas.


Sungguh seorang gadis muda yang menggemaskan dan tidak biasanya kehadiran orang seorang seusia dirinya di tengah kantor mereka. Kehadiran Claudia, benar-benar mengundang perhatian. Semakin banyak orang yang keluar dari ruangan mereka memperhatikan kehadiran Claudia. Mereka berpikir, apa yang dilakukan gadis muda menggemaskan ini di kantor mereka. Dan siapa yang ingin ditemuinya.


"Permisi gadis kecil. Apa ada yang bisa aku bantu?" Tanya seorang wanita yang berdiri di meja resepsionis pada Claudia yang memang terlihat kebingungan.


"Aku kemari untuk bertemu Adam." Ucap Claudia.


Bersambung.....


Mereka sudah tinggal serumah seperti pasangan suami istri.


Adam benar-benar sudah jatuh cinta pada istri kecilnya itu.


Claudia sendiri sudah menjadi lembut dan semakin lembut setiap harinya, dan bisa saja dia juga akab mencintai suaminya. Aku rasa sampai sesuatu nantinya terjadi.


Menurut kalian sebagai reader bagaimana? 😁

__ADS_1


Stay terus ya, tungguin kelanjutan kisah ini... 🥰


__ADS_2