
Pagi harinya, tubuhku terasa kembali segar setelah mandi air hangat. Hari ini, menu utama acara liburan kami di Lucerne dengan cruise trip menuju Alpnachstad. Kami berlayar menuju ke Alpanachstad dan kemudian balik kembali ke Lucerne Bahnhof Quai.
Pemandangan kota Lucerne dari atas cruise memang memaksa kami untuk mengabadikannya dalam tangkapan kamera. Andreas mengambil begitu banyak gambar diriku dengan latar pemandangan kota Lucerne.
"Bagaimana hasilnya? Apa aku terlihat cantik?" Tanyaku.
"Tentu saja. Bahkan pemandangan kota Lucerne, tak mampu menandingi kecantikan mu." Jawab Andreas.
"Ya Tuhan, suamiku. Kenapa kau semakin gombal saja." Balasku.
"Aku gombal karena aku mencintaimu." Ucapnya yang semakin membuatku tertawa.
Sore harinya acara jalan-jalan kami lanjutkan ke area Old Town Lucerne yang merupakan tempat berbelanja berbagai oleh-oleh. Aku pikir Andreas tak akan mau ikut bersamaku, karena ku pikir kegiatan belanja bukanlah hal yang disukai seorang pria. Dan nyatanya, aku hanya menyempatkan diri membeli beberapa suvenir untuk dibawa pulang.
"Banyak sekali kau membeli suvenir itu." Ucap Andreas.
"Tentu saja. Karena aku akan memberikannya pada orang banyak. Aku punya Angelica, Merry dan yang lainnya." Balasku.
"Diantara semua orang yang kau sebut. Kenapa tak ada namaku?" Tanya Andreas memegang daguku.
"Kau memiliki tempat yang khusus di hatiku sayang." Balasku lalu menciumnya cepat.
"Itu bukan ciuman." Ucap Andreas yang kemudian menciumku lembut. "Ini baru ciuman." Lanjutnya.
**********
Hari berikutnya, agenda bulan madu kami berlanjut ke gunung. Mount Rigi tepatnya. Untuk mencapai sana kami harus menaiki kereta. Aku pikir cuacanya akan sangat dingin disana. Dan ternyata kekhawatiran ku tidak terjadi. Udara gunung di Mount Rigi sangat bersahabat. Bahkan sangat cerah untuk piknik. Sinar matahari yang hangat dan terang membuat kami cukup jelas menyaksikan pemandangan sepanjang perjalanan menuju puncak.
"Jika biasanya aku mencintai laut. Kali ini aku jatuh cinta pada gunung." Ucapku.
Arnold memelukku dari belakang dan berbisik,
"Jika kau jatuh cinta pada gunung. Lalu, bagaimana denganku? Apakah aku harus berbagi cinta dengan gunung?"
"Kau ini bicara apa sih." Balasku.
"Aku mau, kau hanya mencintai aku. Tidak boleh pada laut maupun gunung atau apapun itu. Kau hanya boleh mencintaiku."
Aku menggeleng dan tertawa pelan.
"Bagaimana dengan Tuhan? Apa aku tak boleh mencintai Tuhan?" Tanyaku.
Kali ini Andreas yang tertawa. Dia memutar tubuhku untuk menghadapnya.
"Apa?" Tanyaku.
Tanpa pikir panjang, Andreas menciumiku. Aku sontak mendorongnya karena malu.
"Ada apa?" Tanya Andreas.
"Apa kau tak lihat, ada begitu banyak orang disini. Malu.," Ucapku cemberut.
Lagi-lagi Andreas menarikku dalam pelukannya.
__ADS_1
"Sayang, ini luar negeri. Hal ini bebas untuk dilakukan." Ucap Andreas seraya kembali berusaha menciumku.
"Ayolah. Kita bisa melakukannya di apartemen nanti." Ucapku kesal.
Walau ini luar negeri, tetap saja aku merasa tak pantas berciuman di depan orang.
"Baiklah, baiklah." Ucap Andreas.
Setelah beberapa hari berada di Swiss, ku pikir kami akan kembali ke Tanah Air. Ternyata Andreas malah kembali membawaku liburan ke London. Dia bahkan sudah menyusun setiap agenda liburan yang akan kami lakukan.
Hari ini kami berangkat menuju London. Setelah menempuh perjalanan udara sekitar 45 menit, akhirnya kami tiba di London. Dari bandara kami langsung menuju hotel. Sesampainya di hotel, kami istirahat sebentar sembari bongkar tas dan bersiap-siap untuk berjalan-jalan ke pusat kota. Rencana awalnya sih kami mau mengunjungi London Zoo. Tapi setelah dipikir-pikir karena waktu sudah terlalu sore, kami memutuskan untuk jalan-jalan ke pusat keramaian.
Tujuan utama kami, tidak lain adalah Buckingham Palace. Seperti yang sudah diduga, di depan gerbangnya sudah penuh orang. Aku dan Andreas pun mulai mengambil pose terbaik untuk mengambil gambar.
"Pasti sangat menyenangkan jika bisa tinggal di istana sebesar itu." Ucapku.
"Apa kau ingin tinggal di rumah yang sebesar itu?" Tanya Andreas.
"Ah, tidak juga. Aku bisa tinggal dimanapun, selama itu bersamamu. Bahkan di kolong jembatan pun tak masalah.* Ucapku berusaha gombal.
"Hahaha sejak kapan gadis kecil ku ini berubah jadi wanita gombal." Ucap Andreas terbahak.
Aku ikut tertawa dan setelah itu kami kembali mengambil gambar dengan latar Buckingham Palace. Setelah puas foto, kami mulai berjalan ke arah tempat turis lain, yaitu Big Ben. Jalur yang kami ambil ketika menuju ke Big Ben adalah jalan kecil yang memotong St. James Park.
Sama seperti sebelumnya, taman ini juga ramai dengan warga lokal yang sedang piknik atau para turis yang sekedar menikmati cuaca yang tengah nyaman sekali.
Dari arah Buckingham Palace menuju Big Ben ini ternyata cukup banyak spot keren yang bisa dimanfaatkan untuk mengambil gambar. Sebagai contohnya, beberapa kotak telepon berwarna merah yang memang khas banget kota London diletakkan sedemikian rupa dengan latar belakang Big Ben sehingga para turis bisa bergantian foto di sana. Aku pun tak mau kalah dengan turis yang lain. Aku mulai berpose dan Andreas yang mengambil gambar diriku.
"Apa kau tak lelah memotret ku?" Tanyaku pada Andreas dan hanya dibalas dengan gelengan kepala.
"Tidak usah. Aku memang suka memotret, jadi tenang saja." Balas Andreas.
"Ya sudah, terserah kau saja." Ucapku lagi.
Perjalanan kami lanjutkan kembali. Ku pikir kondisi di depan Buckingham Palace sudah yang paling ramai, ternyata di daerah Big Ben jauh lebih parah. Ada begitu banyak orang. Aku yang selama ini tinggal di kota kecil, dimana kalau jalan rasanya lenggang, tidak perlu zig zag kanan kiri demi menghindari orang, saat ini berasa stress luar biasa. Tidak cuma penuh dengan manusia, daerah ini juga ramai dengan kendaraan yang lalu lalang.
Kepalaku jadi pusing dengan kondisi yang begitu ramai. Perlahan aku memijit keningku yang berdenyut.
"Kenapa sayang? Apa kau sakit?" Tanya Andreas dengan raut wajah panik.
"Aku tidak apa-apa. Hanya pening melihat begitu ramai orang dan kendaraan." Ucapku.
"Kalau begitu kita kembali saja ke hotel daripada kau sakit."
"Aaahh tidak. Aku tidak apa-apa." Ucapku seraya kembali berjalan.
Andreas pun mengekor di belakangku. Dari Big Ben kami melanjutkan perjalanan dengan melewati jembatan di atas sungai Thames. Dari jembatan kami bisa foto-foto ke arah London Eye yang berada di daerah Southbank.
London Eye alias kincir putar raksasa yang terletak persis di tepi sungai Thames ini sepertinya menjadi salah satu pusat wisata yang digemari para turis, karena ketika kami sampai di sana antriannya panjang sekali. Aku yang sudah pusing melihat orang banyak mengurungkan niat untuk menaiki kincir putar raksasa itu, dan memilih melanjutkan perjalanan menuju Covent Garden.
Untuk mencapainya kami harus berjalan kurang lebih 1,6 km dari London Eye melewati jembatan Jubilee Bridge.
Melewati jembatan Jubilee kami berjalan ke arah Trafalgar Square dan foto-foto sebentar.
__ADS_1
Sampai di Covent Garden kami malah merasa tidak ada yang menarik dengan keadaan sekeliling.
"Ternyata walaupun tempat ini menjadi salah satu yang direkomendasikan, tidak ada yang bisa kita lakukan disini." Ucap Andreas.
Aku sontak menahan tawa melihat ekspresi kekecewaan dari wajah Andreas yang sudah mengagendakan tempat ini untuk kami kunjungi. Dan ternyata ketika kami sampai di sini malah bingung mau berbuat apa. Mau masuk ke cafe sudah kemalaman, mau masuk pertokoan juga tidak ada yang menarik perhatian kami berdua. Akhirnya setelah sekedar melewati dalamnya saja kami memutuskan untuk langsung pulang. Tapi sebelumnya, kami menyempatkan diri untuk mencoba fish and chips dulu di food court mall seberang hotel.
"Bagaimana menurutmu rasa Fish and Chips ala London?" Tanya Andreas.
"Hmmmm…. Biasa aja. Sayang mereka tidak menyediakan Remouladsås dan cuma punya saos tomat atau mayo biasa. Kalau ada pasti nyam nyam banget deh…" balasku.
"Apa kau ingin ku buatkan makanan yang lain nanti di hotel?" Tanya Andreas.
"Tidak perlu. Ini saja sudah membuatku kenyang." Balasku.
Dengan perut kenyang dan hati senang, kami kembali ke hotel untuk beristirahat. Namun, bukannya bisa beristirahat. Andreas malah menggodaku hingga membuatku pasrah diperlakukan dengan lembut diatas ranjang.
"Selamanya kau hanya akan menjadi milikku. Aku mencintaimu." Ucap Andreas.
"Aku juga mencintaimu." Balasku.
Momen bulan madu ini memang benar-benar begitu indah, persis seperti yang dikatakan orang. Setelah menikah dan sah menjadi suami istri, momen bulan madu menjadi momen yang paling ditunggu. Segalanya akan terasa begitu indah. Semua keindahan dan kesempurnaan cinta seakan selalu mewarnai hari-hari pengantin baru saat bulan madu.
Tapi, ada juga yang bilang momen bulan madu yang terasa indah itu tak akan bertahan lama. Karena seiring berjalannya waktu, rasa itu akan hilang dengan sendirinya saat mengetahui sikap pasangan yang mulai berbeda. Tapi aku yakin, Andreas akan selalu bersikap manis padaku.
Andreas pasti akan selalu mencintaiku, baik saat ini, esok dan seterusnya. Aku akan berusaha menjadi isteri yang terbaik baginya. Menjaga janji suci pernikahan kami selamanya, baik dalam suka maupun juga duka. Tak perduli jika ia tak memiliki harta sekalipun, walau kami hanya bisa tinggal disebuah gubuk kecil di tengah pedesaan.
Mungkin ucapan ku ini terdengar berlebihan, tapi pada kenyataannya aku sangat bahagia bersama dengan Andreas.
Banyak orang yang tidak berharta, bukan orang besar, bukan pejabat, dan bukan orang penting, tapi dia bisa bahagia dalam pernikahannya. Bahkan ia bisa lebih sering tertawa dan tersenyum dibandingkan orang yang punya banyak yang dan kedudukan tinggi. Kuncinya ada pada rasa. Dan rasa itu aku dapatkan dari Andreas.
Saat aku bisa merasa nyaman dan tenang bersama Andreas, itu sudah jadi sebuah kebahagiaan yang istimewa. Bisa sekadar mengobrol santai dan lebih banyak tertawa dengan Andreas, itu menjadi sebuah keindahan tersendiri. Ada rasa nyaman dan rasa cukup yang senantiasa mengiringi pernikahan kami, maka sudah tentu kebahagiaan bisa senantiasa dalam genggamanku.
Rasa saling percaya dan saling mengutuhkan satu sama lain juga menjadi pondasi penting pernikahan. Tanpa ada rasa saling percaya, hubungan bisa penuh kecurigaan. Tanpa ada rasa untuk saling mengutuhkan satu sama lain, hubungan bisa timpang dan rentan menghadapi perpisahan atau kehancuran. Dan aku tidak menginginkan hal itu.
Bahkan cinta pun tak lepas dari rasa. Seringkali sulit untuk mendefinisikan cinta karena semuanya cuma bisa dirasakan.
'Andreas Setyawan, aku benar-benar mencintaimu.'
Sebelum aku mengenalmu, kurasa biasa saja hidup ini. Tanpa ada rasa sepi lagi apa-apa sunyi. Apalagi setelah kepergian kedua orang tuaku. Hidupku benar-benar hampa.
Namun setelah kau hadir, semua berubah. Aku menjadi pribadi yang lebih kuat dan kembali menemukan arti hidupku. Kau, membuatku mengerti arti luka pada sebuah harapan. Membuatku malu pada masa silam yang harusnya sudah bisa ku lupakan.
Tapi, waktu saat itu tak berpihak kepada kita hingga membuat kita terpisah. Aku tak pernah menyalahkan mu, bahkan berfikir ini semua karena mu pun tidak. Sebab aku jadi banyak belajar setelahnya.
Tidak ada lagi marah-marah nggak jelas ataupun merengek-rengek yang membuatkan orang-orang pusing dibuatnya. Tidak ada lagi kata-kata kasar yang aku ucapkan pada siapapun mereka yang telah sengaja menyakitiku meski penuh dengan bisa.
Karena mu, aku tahu. Yang seperti manapun keadaanya. Bagaimanapun kondisinya, aku harus tetap kuat dan sabar menghadapi semua apapun masalahnya. Karena mu, juga. Aku merasa menjadi orang yang lebih baik kini dari sebelumnya.
Terima kasih, untuk semua yang sudah kau berikan padaku semenjak nya.
Aku pun akhirnya terlelap dalam pelukan pria yang kurang lebih 14 hari sudah menyandang status sebagai suamiku ini. Ku harap, cinta kita akan terus berkembang selamanya.
Terima kasih suamiku....
__ADS_1
Bersambung.....