
Dengan bantuan para warga, aku akhirnya bisa membawa Andreas ke rumah sakit.
Tiba di rumah sakit, Andreas langsung dibawa masuk ke ruang ICU. Tanganku gemetaran, aku takut jika terjadi sesuatu pada Andreas. Aku berdiri hanya seorang diri di depan ICU. Kemudian aku kembali berlari ke mobil untuk mengambil ponsel dan mulai menelepon Angelica.
"Halo, ada apa Kak Andreas?" Terdengar suara Angelica diseberang telepon.
"Angelica ini aku." Ucapku dengan suara bergetar.
"Velicia!" Suara Angelica terdengar terkejut saat menyebut namaku.
"Iya. Tolong..."
"Kau sudah bisa bicara. Aaahh senangnya. Bagaimana ceritanya?" Tanya Angelica memotong ucapan ku.
"Tolong cepat datang kemari." Ucapku dengan terisak.
"Ada apa?" Tanya Angelica lagi.
"Cepat datang ke rumah sakit. Andreas... Andreas..."
"Kak Andreas kenapa?" Kali ini suara Angelica terdengar panik.
"Datanglah..." Ucapku lalu memutuskan sambungan telepon.
Rasanya aku sudah tak sanggup berbicara dan berdiri. Tubuhku melorot dan terduduk di lantai.
'Kenapa bisa jadi seperti ini?'
Aku tidak bisa membayangkan jika sesuatu yang buruk menimpa Andreas. Aku tak akan bisa melanjutkan hidupku lagi tanpa dirinya. Saat tengah terisak, aku mendengar langkah kaki mendekat. Dan aku melihat sosok Arnold yang berdiri bersandar di tembok dengan raut wajah yang tak bisa aku artikan.
Entah dari mana kekuatan yang aku punya hingga aku bisa berdiri dan mendekat ke arah Andreas. Aku mulai meneriakinya dan memukulnya dengan seluruh tenaga yang aku punya.
"Untuk apalagi kau kemari? Kau itu penjahat. Kau tidak pantas untuk dimaafkan. Kau tega melakukan semua ini pada kakak mu sendiri. Kau bukan manusia, kau binatang." Teriakku sambil memukul dadanya dengan sekuat tenaga.
Arnold sama sekali tak bergeming. Dia sepertinya membiarkan aku melakukan semuanya. Dia sama sekali tak menghalangi aku untuk memukul dadanya. Hingga akhirnya perhatianku teralihkan saat pintu ruang ICU terbuka. Aku segera mendekati seorang perawat yang berpakaian serba hijau.
"Bagaimana keadaan Andreas?" Tanyaku.
"Harap tenang Bu. Tolong siapapun anggota keluarga yang mempunyai golongan darah AB+ segera ikut saya untuk melakukan donor darah. Pasien kehabisan banyak darah dan rumah sakit sedang kehabisan pasokan darah tersebut." Ucap perawat itu.
__ADS_1
Aku terdiam.
'Bagaimana ini? Golongan darahku O.'
"Ambil darah saya. Saya adiknya dan kebetulan memiliki golongan darah yang sama." Ucap Arnold tiba-tiba.
"Baik. Kalau begitu mari ikut saya." Ucap perawat itu lalu berjalan pergi disusul Arnold yang mengekor dibelakangnya.
'Ya Tuhan, tolong selamatkan Andreas. Jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya.'
Tak lama Angelica akhirnya muncul dan aku langsung menghambur ke pelukannya.
"Andreas ... Andreas...." Isak ku.
"Tenanglah. Sekarang katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Angelica.
Aku mulai menceritakan kronologinya kepada Angelica. Ia sepertinya ikut marah dengan apa yang sudah dilakukan Arnold. Tapi aku salut dengan gadis ini. Dia tampak begitu kuat dan tak menangisi atas apa yang terjadi pada Andreas. Dia justru menenangkan aku.
"Tenanglah. Kak Andreas itu orang yang kuat dan pantang menyerah. Aku jamin dia akan pulih. Luka seperti itu tak akan membuatnya mati. Apalagi, dia punya kau yang belum sempat untuk dinikahi. Yakinlah, dia akan kembali pada kita dengan selamat." Ucap Angelica menguatkan ku.
Setelah satu jam berlalu, dari ujung koridor aku melihat sosok Tuan Besar Setyawan berjalan mendekat ke arah ruang ICU. Dari raut wajahnya, dapat aku katakan bahwa dia juga khawatir dengan kondisi Andreas.
"Itu semua karena ulah putera kesayanganmu yang bodoh itu." Jawab Angelica.
Aku tak menyangka Angelica bisa berani bicara dengan nada yang keras seperti itu.
"Apa maksudmu?" Tanya Tuan Besar Setyawan.
Arnold tiba-tiba ikut hadir kembali di depan ruang ICU.
"Silahkan tanyakan pada putera kesayanganmu itu. Jika sampai sesuatu yang buruk menimpa Kak Andreas. Aku tak akan segan-segan membuat perhitungan denganmu Kak Arnold." Ucap Angelica.
Aku menjadi bingung. 'Apakah Tuan Besar Setyawan memang tidak tahu apa yang terjadi? Lalu siapa yang memberitahunya bahwa Andreas masuk rumah sakit.'
"Arnold, cepat jelaskan pada Papa. Apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan Andreas?"
"Pa... Aku benar-benar tidak sengaja. Aku kalut dan dikuasai emosi. Tanpa sengaja aku menusuk Andreas dengan pisau." Ucap Arnold.
Plakkk!!!
__ADS_1
Untuk pertama kalinya dalam hidupku. Aku melihat Tuan Besar Setyawan menampar Arnold. Selama ini Arnold selalu menjadi anak kesayangan Tuan Besar Setyawan.
"Kau bodoh. Hanya karena sakit hati melihatnya sendiri bersanding dengan Velicia kau malah bertindak bodoh. Cinta selalu membuatmu menjadi orang bodoh. Kau sampai menyakiti saudara kandungmu sendiri. Dulu aku melarang mu menjalin hubungan dengan wanita bernama Viona itu karena dia tak baik untukmu. Tapi kau tidak mendengarkan aku dan membuat dirimu terjebak dengannya. Dan sekarang.... Ya Tuhan Arnold. Apa sih yang ada di otakmu." Ucap Tuan Besar Setyawan.
Arnold tampak tertunduk. Ia sedikitpun tak bicara apa-apa. Entah karena dia memang merasa bersalah. Atau hanya karena dia lemah setelah melakukan donor darah.
"Sekarang kau lebih baik pergi dari sini dan renungkan semua kesalahanmu." Titah Tuan Besar Setyawan.
"Kau tidak boleh pergi begitu saja. Kau harus bertanggung jawab atas semuanya. Bila perlu kau harus mendekam di penjara." Teriakku kala Arnold berjalan menyusuri lorong rumah sakit meninggalkan aku bersama Angelica dan Tuan Besar Setyawan.
Setelah kepergian Arnold, kami semua terdiam dan menunggu Dokter keluar dari ruang ICU. Dan tepat saat operasi berlangsung selama satu setengah jam, Dokter pun keluar. Kami bertiga bergegas mendekati Dokter.
"Bagaimana keadaan anak saya Dokter?" Tanya Tian Besar Setyawan.
"Pasien sudah melewati masa kritis. Syukurlah tadi bisa cepat mendapatkan donor darah dari saudara pasien. Sekarang pasien masih dalam keadaan tidak sadar disebabkan darah yang keluar terlalu banyak. Luka tusukan yang cukup besar membuat kami lebih lama menangani pasien karena harus memastikan tak ada organ dalam yang terkena tusukan. Tapi tidak perlu khawatir, sekarang pasien sudah stabil. Sebentar lagi pasien akan dibawa ke ruang rawat inap." Ucap Dokter itu menjelaskan semuanya kepada kami.
Setelah itu Dokter pun berlalu, dan tak lama menyusul perawat yang mendorong ranjang Andreas menuju ruang rawat inap. Aku kembali menangis melihat Andreas yang terbaring dengan selang oksigen yabg terpasang di hidungnya.
Angelica merangkul pundak ku dan membawaku berjalan mengikuti arah perawat membawa Andreas.
Kami tiba di ruang inap Andreas. Aku langsung duduk disampingnya dan mengusap keningnya lalu menciumnya lembut.
"Kau harus segera bangun. Kau sudah berjanji untuk menjagaku. Dan kau berhutang sebuah pernikahan padaku." Ucapku.
Tuan Besar Setyawan mendekat dan mengusap kepalaku.
"Aku kenal Andreas dengan baik. Meski dia jarang bersamaku, tapi dia tetap putera yang sangat aku kenal. Dia pria yang pantang menyerah. Aku yakin dia akan segera kembali padamu." Ucap Tuan Besar Setyawan lalu berjalan keluar.
"Kau berjaga lah disini. Aku akan kembali sebentar lagi. Aku harus mengurus semua administrasi dan harus pulang mengambil pakaian ganti dan juga makanan untukmu." Ucap Angelica.
"Terima kasih." Balasku.
"Tidak perlu berterima kasih. Sudah menjadi tugasku sebagai adik ipar mu." Ucap Angelica tersenyum lalu berjalan keluar.
Kini tinggal aku berdua bersama Andreas di dalam ruangan. Ku tatap wajahnya yang teduh. Aku benar-benar tak bisa membayangkan jika aku harus kehilangan dia. Sudah cukup derita yang aku rasakan selama ini karena mencintai orang yang salah. Aku ingin hidup bahagia. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersama Andreas. Aku ingin memberikan cintaku sepenuhnya padanya.
"Bangunlah. Aku mencintaimu. Jadikan aku isterimu secepatnya. Ku mohon, bertahanlah untukku." Ucapku seraya kembali menciumi pipi Andreas.
'Tuhan, tolong selamatkan dia...'
__ADS_1
Bersambung....