
"Endra, antar aku pulang." Ucap Claudia.
"Tapi, Di... Ini pesta ulang tahun mu." Balas Endra.
"Apa kau mau mengantarku pulang, atau aku bisa pergi sendiri." Ucap Claudia dengan nada mengancam.
Endra menggerakkan kepalanya dan setuju untuk mengantar Claudia pulang. Keduanya berjalan keluar dari dalam hotel. Claudia melempar kunci mobilnya pada Endra.
"Kau yang menyetir, aku sudah sangat mabuk." Ucapnya.
Mobil Claudia keluar dari parkiran hotel dan tak lama keduanya tiba di rumah Claudia. Claudia lalu turun dari dalam mobil.
"Selamat malam." Ucapnya berlalu meninggalkan Endra yang berdiri di depan mobilnya.
"Huh, serius! Selamat malam! Hanya itu saja? Apakah begini caramu berpamitan pada teman pria mu? Kau bahkan tidak mengizinkan aku untuk mencium mu." Protes Endra.
"Cium saja kakiku." Balas Claudia memutar bola mata dengan malas.
"Ya Tuhan, apa ini balasan atas pertolongan yang kuberikan padamu?" Ucap Endra lagi.
"Iya, aku memang meminta tolong padamu. Tapi sikapmu terlalu berlebihan. Aku menyesal telah menjadikanmu sahabat baikku. Kau melupakan batasan mu, kau melewati batas. Batas mu hanya di pipiku saja, bukan yang lain. Jangan lupakan itu." Ucap Claudia emosi.
Endra langsung mendekapnya dengan erat. Ia lalu menyelipkan rambut Claudia yang tampak berantakan ke belakang telinganya.
"Kapan kau akan menerima lamaran ku Di? Aku sangat menyukaimu." Ucap Endra dengan nada yang terdengar sedih.
"Endra, kau tahu sendiri bahwa aku tidak percaya akan cinta dan semua hal tentang itu. Aku tidak mempercayai sebuah hubungan baik itu pernikahan atau yang lainnya." Balas Claudia berapi-api.
Endra terdengar menghela napas dengan kecewa.
"Setidaknya berikan aku salam perpisahan yang benar." Ucapnya.
Claudia tertawa kecil dan mencium kedua pipi Endra bergantian.
"Selamat malam." Ucapnya.
Endra membalas mencium pipinya.
"Selamat malam, dan lagi, selamat ulang tahun." Ucapnya lalu keduanya berpisah.
Endra kembali ke rumahnya.
Claudia berjalan mendekati pintu. Tepat saat ia membuka pintu, Naomi berdiri disana menatap dirinya tajam dengan tangan yang terlipat di dadanya.
"Sudah berapa kali aku katakan untuk tidak membawa kekasihmu itu datang ke rumah. Kau itu wanita yang sudah menikah, setidaknya hargai akan fakta itu. Bagaimana bisa kau membiarkannya mencium mu dan kau bahkan balik menciumnya?" Ucap Naomi tegas.
Claudia tak memberikan respon.
"Bersiaplah, kau akan kembali ke rumah utama." Ucap Naomi lagi.
"Kenapa? Apa karena bos kalian itu ingin bertemu denganku?" Tanya Claudia.
Naomi tampak terkejut.
"Kau tahu?"
"Iya, aku tahu. Kalian semua tak ada niat untuk memberitahu aku." Balas Claudia.
"Kami tidak memberitahukan mu karena kami juga tidak mengetahui kedatangannya. Dia datang tanpa memberikan informasi, dia bilang dia ingin...."
"Aku tidak mau tahu apa yang dia inginkan. Aku tidak mau bertemu dengannya." Ucap Claudia menyela ucapan Naomi seraya berjalan masuk.
Naomi mengikutinya dari belakang.
"Apa? Apa maksudmu mengatakan hal itu Di? Apa?" Teriak Naomi.
"Aku sudah bilang, aku tidak ingin bertemu dengannya, aku tidak mau tahu tentangnya. Dan tentu saja dia tidak boleh datang kemari. Jika dia sampai datang, aku akan membuat onar. Dan kau yang harus bertanggung jawab, terserah padamu bagaimana kau menghadapi semuanya." Ucap Claudia dan berjalan ke lantai atas.
"Tapi Di, dia datang setelah dua tahun lamanya. Kenapa kau tak ingin menemuinya. Claudia.... Claudia...."
Naimi terus berteriak, namun Claudia sama sekali tak menghiraukannya dan bahkan langsung menutup pintu kamarnya.
****************
Adam masuk ke dalam rumahnya dengan raut wajah emosi. Ia melempar jasnya ke arah sofa di ruang tamu lalu melonggarkan dasinya.
"Selamat datang kembali Adam, bagaimana kabarmu?" Tanya Naomi.
Adam tak melihat ke arahnya.
"Aku baik." Balas Adam.
__ADS_1
"Ada apa? Kau terlihat sangat marah?" Tanya Naomi.
"Jangan tanya. Aku baru saja tiba disini dan harus menemui beberapa kolega bisnisku disebuah hotel. Mereka ada disana bersamaku, tapi kemudian..."
"Kemudian apa?" Tanya Naomi penasaran.
"Kemudian seorang gadis. Dia baru saja turun dari koridor dan... Dan langsung mencium ku. Aaarrggghhh anak muda jaman sekarang, semuanya hanyalah prank bagi mereka. Mereka bahkan tidak berpikir bagaimana perasaan seseorang yang mereka kerjain, atau sedang dalam situasi bagaimana orang yang mereka kerjain itu. Aahh aku memang tidak menyukai anak jaman modern seperti saat ini." Ucap Adam dengan wajah yang merasa jijik. "Ngomong-ngomong, lupakan hal itu. Dimana dia? Apa dia tidak ikut datang kemari bersamamu?" Tanya Adam.
Naomi terdiam, ia sedang berpikir untuk mengatakan apa pada Adam.
"Ada apa Omi? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Adam lagi.
"Dia tidak datang Dam. Dia bilang, dia perlu waktu." Ucap Naomi akhirnya.
Keduanya terdiam sesaat. Ekspresi wajah Adam tidak dapat diartikan.
"Dia masih saja butuh waktu. Apa 2 tahun tidak cukup? Aku datang dihari ulang tahunnya untu memberikannya kejutan. Setidaknya dia mau datang untuk menemui ku." Ucap Adam dengan raut wajah kecewa.
"Eemmm jangan berpikir yang aneh tentangnya. Kedatangan mu begitu mendadak dan membuatnya kaget, dia butuh persiapan aku rasa. Berikan dia waktu dan kalian pasti akan bertemu nanti." Ucap Naomi berusaha mencairkan suasana.
"Naomi..... Aku selalu menunggunya, memberikannya waktu untuk menjernihkan pikirannya selama dua tahun. Aku juga seorang pria. Aku ingin menjalani hidup berumah tangga dan mengurus semuanya disini. Aku tidak tahu apa kesalahanku dalam semua ini. Kenapa dia....." Adam berhenti bicara, ia terlihat sedih, begitu juga dengan Naomi.
"Tapi, Dam. Itulah kesalahan terbesar yang kau lakukan. Kau tidak seharusnya pergi meninggalkannya. Tinggal di luar negeri selama dua tahun bukan jalan terbaik untuk memberinya waktu buat berpikir. Aku tahu kau ingin memberinya waktu tapi kau bisa melakukan semuanya juga disini. Kepergian mu sebenarnya membuat semua semakin memburuk, tapi jangan risau beri dia waktu dua minggu lagi. Aku yakin kau bisa bertemu dengannya." Naomi berbohong lagi.
Keheningan menyelimuti keduanya selama dua menit.
"Aku akan berada disini selama tiga bulan. Sampai semester akhirnya, sampai dia lulus kuliah." Ucap Adam.
"Lalu setelah itu? Apakah kau akan kembali pergi lagi? Ayolah Adam, kau...." Naomi hendak mengatakan sesuatu.
"Tidak, tidak, bukan seperti itu. Aku juga mau menetap disini dan itu memang tujuanku. Tapi harapanku untuk tetap disini tergantung padanya juga. Jika dia mau memberikan kesempatan pada hubungan pernikahan kami, aku akan tinggal disini dan mengatur semuanya untuk dipindahkan disini selamanya. Tapi, jika dia tidak mengambil keputusan, maka aku akan kembali. Kau memintaku memberinya waktu dua minggu lagi, maka baiklah. Dia harus menemui ku setelah dua minggu. Ada banyak hal yang ingin aku katakan padanya. Setelah itu aku tidak akan mengganggunya selama tiga bulan, dia harus mengambil keputusan." Ucap Adam.
Naomi terdiam, dia juga terlihat sedih melihat Adam masih berharap akan hubungan pernikahannya dengan Claudia. Dia datang untuk memberikan kejutan di hari ulang tahun Claudia. Tapi gadis nakal itu pulang ke rumah bersama teman prianya dalam keadaan mabuk. Naomi menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Aah aku lupa satu hal. Bunga ini aku belikan untuknya, aku pikir akan bertemu dengannya hari ini. Naomi, bisakah kau memberikan bunga ini padanya." Ucap Adam.
Naomi menganggukkan kepalanya.
"Oh ya, bagaimana dia merayakan ulang tahunnya? Apakah dia pergi bertemu teman-temannya?" Tanya Adam.
Dalam hati Naomi, dia begitu marah. Pria dihadapannya ini menanyakan apakah isterinya bersenang-senang di hari ulang tahunnya. Dia membelikan isterinya bunga untuk diberikan saat bertemu dengannya. Saat ini dia malah tengah kesal karena orang asing yang tiba-tiba menciumnya.
"Iya, dia pergi merayakan ulang tahunnya bersama teman-temannya. Tapi dia pulang dengan cepat. Dia sebenarnya tidak terlalu menyukai pesta dan semua hal seperti itu...." Naomi berusaha menutupi kelakuan Claudia dengan semakin berbohong.
Adam tersenyum setelah mendengar ucapan Naomi.
"Aku harap, aku bisa bertemu dengannya sekali saja. Aku belum pernah melihatnya. Aku akan meminta Erik untuk membawa fotonya besok." Ucap Adam saat berjalan naik ke lantai atas.
Naomi berdiri dalam diam menatap Adam yang berlalu, ia mengutuk Claudia dalam hati.
**********
Keesokan harinya....
"Aku tidak tahu untuk apa aku berada disini. Aku sangat membenci semua ini." Ucap Claudia kesal.
Sementara Rose dan Diana tengah memilih gelang mereka masing-masing. Mereka tengah berada di Mall Starlight saat ini. Rose dan Diana tengah membeli hadiah untuk kekasih baru mereka. Dan Claudia ikut terseret menemani keduanya.
Setelah selesai memilih gelang, Claudia terlebih dulu keluar dari toko aksesoris itu dan berjalan menyusuri mall lalu berhenti di depan sebuah toko parfum mewah dan bermerk. Ia lalu masuk ke dalam disusul oleh kedua temannya.
"Hei Di, kenapa masuk kemari? Kau tahu kita tidak bisa membeli apapun disini?" Teriak Rose. "Ah, aku lupa bahwa gadis nakal kita ini punya sugar daddy yang menjadi mesin ATM nya." Ucap Rose menyenggol Diana, namun ia langsung berhenti bicara saat Claudia menatapnya dengan tajam.
"Permisi. Boleh saya lihat yang berwarna hitam itu." Ucap Claudia menunjuk sebuah botol parfum limited edition pada pelayan yang berjaga.
Pelayan itu memberikan botol parfum mewah itu pada Claudia.
"Tolong hati-hati." Ucap pelayan itu pada Claudia, mengingat parfum itu sangat mahal.
"Ya Tuhaaan, aku sudah mencari parfum ini sangat lama. Sudah satu tahun lamanya. Ini parfum favorit ku. Akhirnya aku menemukannya." Ucap Claudia begitu senang.
"Dasar orang kaya." Ucap Rose dan Diana bersamaan.
Claudia menatap keduanya dengan tatapan mengancam.
"Sekali lagi kalian bicara yang tidak-tidak, aku akan melempar kalian berdua keluar dari sini."
Claudia hendak berbalik dan menatap ke arah pelayan. Namun ia mendapati sepasang pria dan wanita masuk ke dalam toko diikuti oleh seorang pria berjalan di belakang mereka. Claudia menatap pria yang berjalan dibelakang pasangan itu, dia terlihat begitu familiar.
Dan benar saja, itu adalah Erik. Dan akhirnya Claudia menyadari bahwa pria dan wanita yang ada dihadapan Erik adalah Adam Wijaya, suaminya. Claudia dengan cepat berbalik dan berharap Erik tak mengenalinya.
Claudia ingin segera membayar parfum itu pada pelayan agar ia bisa segera keluar dari dalam toko tanpa harus bertemu dengan Erik dan suaminya.
__ADS_1
"Mbak tolong bill nya, saya akan membelinya." Ucap Claudia.
Tiba-tiba wanita yang datang bersama Adam menyambar botol parfum itu dari tangan Claudia.
"Ah, ini dia yang aku cari selama ini." Ucap wanita berpakaian seksi dengan rambut sebahu itu.
"Mmmm permisi mbak, maaf sebelumnya. Tapi saya sudah lebih dulu membelinya. Jadi tolong minggir." Ucap Claudia.
"Kau memintaku untuk minggir, dasar bocil. Kau yang minggir, aku akan membelinya." Ucap wanita itu.
Claudia terlihat kesal.
"Sekali lagi maaf Tante." Ucapnya. "Aku yang lebih dulu melihatnya, jadi aku yang akan membelinya. Jadi Tante harap minggir."
Claudia lalu meminta pelayan untuk membungkus parfum itu. Tapi pelayan itu seperti tidak menggubris ucapannya hingga membuat Claudia semakin kesal.
"Hei kau mau mati ya. Cepat bungkus." Teriak Claudia.
Pelayan wanita itu tak mengindahkan ucapan Claudia, hingga Claudia hampir meninju wajahnya, ketika....
"Hei, sikap macam apa yang kau tunjukan ini. Berhenti..." Ucap seorang pria yang suaranya terdengar begitu tegas, hingga membuat semua orang terdiam.
Semua orang berbalik dan menatap ke arah pria itu termasuk Claudia. Wanita yang berebut parfum dengan Claudia berlari ke arah pria itu dan memegang tangannya.
"Sayang, lihat bocil itu. Aku ingin membeli parfum itu, tapi anak itu mengatakan ia sudah membelinya lebih dulu. Hingga dia marah dan mulai membuat keributan. Sikapnya begitu buruk dan arogan sekali." Ucap wanita itu dengan nada manja.
Claudia merasa ingin muntah, terlebih pria yang dipanggil sayang oleh wanita itu ternyata adalah Adam, suaminya.
'Naomi bilang dia kembali pulang untuk menemui ku. Dasar pembohong, nyatanya dia ada disini dengan kekasihnya. Jadi itulah alasan mengapa dia berada di hotel kemarin.'
"Tentu saja, kau bisa memilikinya." Ucap Adam pada wanita itu.
"Maaf Tuan, Anda bisa menanyakan pada pelayan itu. Akulah orang yang lebih dulu melihat parfum ini dan ingin membelinya." Ucap Claudia.
"Bagaimana jika aku tidak membiarkanmu untuk membelinya karena aku yang akan membelinya?" Ucap Adam yang semakin membuat Claudia marah.
Tapi, alih-alih marah, Claudia memilih menarik napas panjang lalu....
"Mbak, tolong di bungkus, dan berikan sebuah ucapan untukmu yang tersayang dari Adam Wijaya." Ucap Adam yang membuat wanita disampingnya tersenyum penuh kemenangan.
Hal itu membuat Claudia kehilangan batas kesabarannya. Claudia berbalik menatap Adam.
"Hei, kau pikir kau itu siapa hah?" Teriak Claudia. "Kau pikir kau bisa membeli semuanya karena kau punya segalanya. Tidak akan pernah, Tuan Adam Wijaya. Tidak bisa. Aku yang melihatnya lebih dulu, jadi aku yang akan membelinya. Tidak perduli kau siapa, semua orang bodoh disini boleh takut padamu. Tapi tidak denganku. Aku, Claudia tidak akan pernah takut padamu." Teriak Claudia.
Rose dan Diana bergegas mendekat ke arah Claudia dan berusaha menenangkannya.
"Tenanglah Di, biarkan saja. Ayo kita pergi dari sini." Ajak Diana dan Rose berusaha menarik Claudia keluar dari dalam toko tapi tidak bisa.
"Lepaskan aku." Teriak Claudia. "Kalau aku bilang aku menginginkannya, maka itu akan menjadi milikku." Ucap Claudia penuh amarah. "Dengarkan aku Tuan Adam, aku tidak perduli apa yang ingin kau buktikan dihadapan kekasihmu, tapi aku bukan boneka mu, aku melihatnya lebih dulu, maka aku akan membelinya. Itu saja." Ucap Claudia lagi.
"Benarkah? Apa kau pikir sugar daddy mu itu punya nyali untuk berhadapan denganku? Dia pasti tak punya nyali, jadi jangan berani-beraninya melawanku." Ucap Adam.
Darah Claudia semakin mendidih, ia sudah tak tahan.
"Beraninya kau?" Teriaknya.
Orang-orang yang melihat mereka berseteru tampak kaget karena kelancangan Claudia melawan Adam.
"Hei bocil, urus temanmu itu. Hentikan dia, apa kalian tahu siapa yang tengah dilawannya itu. Dia adalah pemilik tempat ini. Cepat bawa dia prgi atau dia akan berada dalam masalah besar." Ucap orang-orang itu yang semakin membuat Rose dan Diana terkejut.
Rose dan Diana berusaha menarik Claudia untuk keluar dari dalam toko tapi tidak bisa. Claudia dan Adam saling menatap, terutama Claudia sorot matanya penuh kebencian. Adam sendiri merasa rahangnya mengeras karena kesal, ia lalu berteriak.
"Erik.... Erik...." Teriaknya.
Erik yang dari tadi sedang menerima telepon bergegas mendekat ke arah Adam.
"Ada apa Tuan?" Tanya Erik.
Pandangan Erik beralih pada Claudia yang dipegangi oleh Rose dan Diana dengan raut wajah emosi.
'Apa yang sebenarnya terjadi?' pikir Erik.
"Nona Claudia, apa yang anda lakukan disini? Ada apa sebenarnya?" Ucap Erik dengan nada sopan dan lembut.
Semua orang terlihat heran, begitu juga dengan Adam. Claudia memicingkan mata pada Erik, Erik pun seolah mengerti. Ia lalu menatap Adam.
"Ia Tuan Muda, kenapa Anda memanggil saya?" Tanya Erik.
"Seret bocah ini keluar dari sini." Teriak Adam meski sebenarnya ia penasaran dengan interaksi antara Erik dan gadis yang ada dihadapannya itu.
Bersambung....
__ADS_1