
Jam 01.00 siang....
Claudia masuk ke dalam perusahaan Adam dengan terlihat begitu menggemaskan hari ini. Dia langsung menuju ruangan Adam, seperti yang sudah Adam katakan padanya. Tidak perlu untuk mengetuk pintu. Adam tengah bekerja menatap dengan layar laptopnya dan dia sengaja tidak melihat ke arah Claudia, saat Claudia masuk ke dalam ruangan nya. Dia tetap sibuk mengetik di laptopnya.
Claudia menelan ludah dan berdiri di tengah ruangan. Sementara Adam berusaha menahan dirinya agar tidak tersenyum. Claudia kembali menelan ludah dan memberikan tanda kepada Adam, bahwa dia ada di sana. Kali ini Adam melihat ke arahnya tapi tidak memandang matanya.
"Oh kau datang. Taruh saja makan siangnya di atas meja disana. Aku akan memakannya nanti saat aku sudah selesai bekerja." Ucap Adam sebelum kembali memandang ke layar laptop nya.
Claudia berdecak kesal lalu melangkah ke arah meja kemudian menaruh box makan siang itu di atas meja dan menunggu di sana selama 3 menit.
Karena tidak sabar, Claudia beralih dari meja dan berdiri di samping Adam. Melipat tangannya di dada, mendengus kesal, berdecak kesal, dan menghentakkan kakinya. Dia menghabiskan waktu 5 menit hanya berdiri di sana. Adam terus memperhatikan setiap gerakan yang dilakukannya dengan melihat dari sudut matanya, tapi tetap diam. Sangat sulit untuk adam mempertahankan aura dinginnya itu. Claudia terlalu menggemaskan untuk diabaikan, Adam terus berusaha tenang dan mengabaikan wajah Claudia. Dia tahu benar, jika dia melihat wajah claudia dia akan meleleh dan tidak dapat menahan dirinya.
Claudia sudah benar-benar tidak sabar, sekarang dia melangkah mendekat kearah meja kerja Adam dan menutup laptop Adam lalu menyingkirkannya dari hadapan Adam. Adam sendiri masih tetap tidak melihat kearah Claudia, dia tetap melihat kearah lain, berakting marah kepada claudia.
Claudia mengambil langkah kecil mendekat kearah Adam dan duduk di pangkuan nya. Claudia duduk menghadap wajah Adam seperti tengah menunggangi sebuah motor. Tingkat ketahanan diri Adam untuk mengabaikan Claudia langsung turun drastis.
Adam terus menggigit bibir bawahnya mencoba untuk terus mengabaikan tatapan mata Claudia. Claudia langsung merebahkan kepalanya di dada Adam dengan tangannya yang bergelayut manja di leher Adam.
"Pria tua.." (Adam tidak menjawab.)
"Dam..." (Adam masih tidak menjawab.)
"Sayang..." (Adam tetap tidak menjawab.)
Claudia mengangkat kepalanya memandang Adam dengan tajam lalu memegang kedua pipi Adam kemudian mulai meremasnya dengan frustrasi.
"Sayang, aku bicara padamu." Teriak Claudia.
Adam menutup matanya, jadi dia tidak perlu melihat wajah Claudia. Tapi dia sangat yakin bahwa Claudia tengah mencebik kesal dan Adam ingin sekali menciumnya dengan wajah yang seperti itu. Tapi dia tetap bisa mengontrol dirinya.
Claudia merasa sangat kecewa. Ini adalah pertama kalinya Adam begitu marah padanya. Dia terus meremas wajah adam. Kemudian karena dia begitu frustasi karena Adam tak kunjung membuka matanya, diapun menggigit pipi Adam dengan sangat keras. Adam yang merasakan sakit di pipinya langsung membuka matanya tapi saat mata mereka bertemu Claudia mulai menangis. Air matanya jatuh berlinang dengan bibirnya yang terlihat bergetar.
"Jika kau memang ingin perhatian dari ku maka minta maaf lah. Yakinkan aku, bahwa kau memang benar-benar meminta maaf." Ucap Adam akhirnya berbicara.
Claudia lalu mengusap air matanya dengan kedua tangannya segera. Bibir bawahnya masih begitu bergetar, hingga dia tidak dapat berbicara. Claudia pun mencoba untuk mengucapkan beberapa kata.
"Maafkan aku. Aku hanya marah kepada Megan, karena dia kau menjadi terluka. Kau bahkan tidak memikirkan aku, ketika kau menempatkan dirimu sendiri di sebuah misi yang penuh resiko. Dia dan janji yang kau buat kepada papanya sangat begitu penting untukmu yang bahkan membuatmu tidak berpikir bahwa kau adalah seseorang yang sudah berkeluarga sekarang, kau sudah mempunyai keluarga sekarang. Aku menunggumu di rumah, kau melupakan semuanya."
Sekarang kata-kata yang diucapkan oleh Claudia membuat hati Adam sakit. Dia tahu benar, bahwa dia mengambil resiko itu untuk istrinya sendiri. Tapi tetap saja, dia lupa bahwa di rumah, Claudia menunggu dirinya. Cara claudia mengatakan bahwa dirinya adalah seorang pria yang sudah berkeluarga, cara Claudia mengatakan bahwa dia adalah istri dari Adam. Adam benar-benar menginginkan hal ini. Dia selalu menginginkan sebuah keluarga, sebuah keluarga kecil. Seseorang yang bisa membuatnya untuk pulang ke rumah di akhir hari. Seseorang yang selalu membuatnya merasa nyaman di rumah.
Adam menarik gadis itu dalam pelukannya, memeluknya dengan sangat erat. Wajah Claudia kini menghadap dada Adam.
"Maafkan aku sayang. Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak akan pernah melakukan hal itu lagi. Aku janji. Tidak peduli dimana pun aku berada, aku akan selalu kembali ke rumah untukmu. Aku janji, kau adalah cintaku, keluargaku. Untuk seorang anak yatim piatu seperti aku, kau adalah segalanya bagiku. Kau segalanya bagiku." Ucap Adam.
"Aku juga berjanji padamu bahwa aku tidak akan pernah berasumsi yang tidak-tidak tentang kau dan Megan mulai sekarang. Sampai sesuatu memang benar-benar terjadi, aku tidak akan pernah berasumsi apapun lagi. Sayang aku janji. Aku minta maaf. Percaya padaku, aku tidak berselingkuh darimu. Kemarin, aku hanya mencoba untuk kabur darimu. Aku minta maaf." Balas Claudia yang juga ikut berbicara.
Mereka tetap seperti itu untuk beberapa saat dalam pelukan masing-masing. Sampai suara perut Claudia membuat keduanya tercengang.
Adam melepaskan pelukan mereka lebih dulu.
"Sayang, kau belum makan?" Tanya Adam khawatir.
Claudia mengangguk kan kepalanya dengan menggigit bibirnya karena malu.
"Kenapa cinta? Oh ya Tuhan, ayolah. Kau seharusnya memberi tahu aku sejak tadi. Ayo kita makan."
Claudia bangun dari pangkuan Adam dan mereka pergi ke meja dimana makanan diletakkan.
Saat Adam tengah menyajikan makanan di piring, Claudia terlihat kagum akan taplak meja yang menutupi seluruh meja. Dia tengah memegang taplak itu dan tidak menyadari bahwa Adam hanya menyajikan makanan dalam satu piring.
Adam mengambil satu potongan pertama dari makanan itu lalu mengarahkan nya ke bibir Claudia dan saat itulah Claudia berhenti memainkan taplak meja. Dia melihat kearah Adam dan langsung mengambil sumpit itu dari tangan Adam. Dia ingin memberikan sulapan pertama kepada Adam.
Adam memang mengambil suapan pertama itu. Hari ini Claudia lah yang menyuapi Adam dan dia makan dengan tangannya sendiri.
__ADS_1
"Apakah kau memang memasak sup ini sendiri?" Tanya Adam.
"Iya, Jhon dan Nila yang memberitahu dan membantu ku untuk memasaknya. Kenapa? Apakah tidak enak?" Tanya Claudia tampak khawatir.
"Tidak sayang, ini sangat enak. Percaya padaku." Ucap Adam sebelum mengecup bibir Claudia dengan cepat.
Setelah makan siang, Adam tidak pergi ke meja kerjanya dan tetap duduk bersama Claudia.
"Sayang, ujian ku akan dimulai besok. Aku masih sedikit bingung dengan beberapa pelajaran ku ini. Jadi aku membawa buku pelajaran ku di dalam tas ku. Apakah kau bisa membantu ku?" Tanya Claudia dengan wajah menggemaskan.
Dan, mana mungkin Adam bisa menolaknya.
"Tentu saja cinta, sini biarkan aku melihatnya."
Sudah 4 jam setelah Claudia datang di kantor Adam. Semua orang di kantor begitu terkejut. Mereka tidak pernah melihat bos mereka mengambil waktu istirahat begitu lama. Padahal Adam memang tidak sedang istirahat. Dia juga tidak meminta untuk orang lain agar tidak datang ke ruangannya. Para karyawan tetap bisa datang ke ruangannya untuk memperlihatkan pekerjaan mereka. Tapi mereka tampak begitu terkejut saat melihat bos mereka duduk di sofa hanya dengan menggunakan kemeja dan celana panjang tanpa rompi dan jas yang biasa ia kenakan. Terlihat tengah membantu gadis yang membawakan makan siang untuknya dengan mengerjakan tugas kuliahnya.
Adam tidak kembali ke meja kerjanya tapi benar-benar berhenti dengan pekerjaannya sendiri. Dia tidak menghentikan siapapun yang masuk ke dalam membawa berbagai dokumen yang perlu diperlihatkan kepadanya tidak juga mengunci pintu. Dia tidak takut orang-orang melihat dirinya bersama Claudia.
Claudia adalah istrinya, bukan pacar rahasianya. Jika itu bukan keinginan Claudia, Adam pasti sudah memberitahu semua orang bahwa dia sudah menikah dan Claudia adalah istrinya.
Claudia berada di kantor Adam sampai sore hari, dia terus belajar dan Adam melanjutkan pekerjaannya dengan duduk di sampingnya.
Seorang karyawan masuk ke dalam ruangan Adam untuk meminta tanda tangan Adam dari sebuah dokumen penting. Ketika dia keluar dari ruangan Adam, dia di halangi oleh teman-temannya.
Para karyawan lain bertanya padanya, apa yang terjadi. Jadi dia pun menjelaskan semuanya.
"Aku masuk ke ruangan bos, dia tidak berada di meja kerjanya tapi malah duduk di sofa. Bekerja menggunakan I-Pad nya di sana, dan..." Dia berhenti bicara.
"Dan apa?" Teman-temannya yang heboh itu terus penasaran.
"Dan gadis itu berbaring di sofa dengan kepalanya berada di pangkuan Tuan Adam dan membaca buku pelajarannya. Mereka terlihat begitu dekat, maksudku terlihat begitu nyaman satu sama lain. Hal itu pasti bisa membuat semua orang menebak bahwa mereka berdua memang begitu intim. Kita semua tidak pernah melihat Tuan Adam begitu mesra dengan Nona Megan. Kita juga sudah melihat Nona Megan memeluk Tuan Adam, Tuan Adam juga memeluknya. Tapi kemesraan yang diperlihatkan Tuan Adam dengan gadis misterius di dalam itu benar-benar berbeda. Aku bahkan tidak dapat menjelaskan detailnya. Tangan kiri Tuan Adam berada di...."
"Di mana? Di mana?"
Para karyawan terus berbicara sepanjang hari. Mereka pernah melihat Megan mengunjungi kantor beberapa kali sebelumnya, saat Adam belum pergi ke Kanada. Tapi setelah dia pergi ke kanada dan kembali lagi selama seminggu saat 2 tahun yang lalu, kemudian kembali lagi ke kanada. Akhirnya setelah 2 tahun dia kembali ke negara ini tapi tidak pernah dalam hidup mereka semua yang bekerja di dalam Wijaya Grup ini, mereka melihat Adam Wijaya yang seperti ini.
****************
Hari berikutnya di dalam mobil.....
Adam tengah mengantar Claudia ke kampus untuk ujian. Erik berada di kursi penumpang di samping sopir, sementara pasangan Tuan dan Nyonya Wijaya itu duduk di bangku belakang.
"Sayang, apa kau yakin kau tidak membutuhkan sesuatu?"
"Iya, aku yakin dan kau sudah bertanya padaku hal ini, lima kali sejak pagi tadi."
"Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi. Sekarang kemari lah berikan aku sebuah ciuman."
"Ssssshhh Dam.... Apa yang kau...? Kita tidak berduaan di sini."
"Terus kenapa? Memangnya aku perduli?" Ucap Adam dan langsung mulai menciumi leher Claudia.
"Dam hentikan." Claudia mencoba untuk mendorong Adam menjauh, tapi tidak bisa.
Adam sudah mendekatkan tubuhnya pada Claudia. Memeluk Claudia dengan erat. Claudia terus mencoba untuk menjauh dari pelukan Adam.
"Dam, kau pria mesum. Syuuh... Syuuuhh... Menjauh dariku. Ya Tuhan, seseorang tolong selamatkan aku. Adam lepaskan..." Claudia dengan putus asa meminta tolong di mana semua orang di dalam mobil tidak menghiraukan nya bahkan oleh suaminya sendiri yang tengah menggigit telinganya.
Merasa geli karena sensasi itu Claudia semakin berteriak minta tolong, tapi suara tawanya itu menjadi bukti bahwa semua orang tentu saja tidak menghiraukan permintaan tolong darinya itu.
"Cintaku, tenanglah. Aku hanya mencoba untuk membuatmu merasa hangat. Di luar sana begitu dingin." Ucap Adam menggoda Claudia.
"Kau sudah membuatku seperti orang yang berada di Kutub Utara. Aku sudah menggunakan pakaian yang begitu tebal. Syuuuhh... Aku tidak butuh kehangatan darimu."
__ADS_1
"Baiklah, tapi aku yang membutuhkan kehangatan itu. Aku merasa kedinginan." Ucap Adam sebelum menekan tubuhnya kepada Claudia.
Terus memeluk, meremas dan mencium Claudia seperti sebuah bantal.
"Uuuuhh... Uuuhhh.... Oh Ya Tuhan... Oh Mama selamatkan aku, seseorang tolong selamatkan aku. Monster ini mencoba untuk membunuhku. Papa... Mama... Selamatkan aku... uhu.. uhu..."
Claudia terus berteriak. Adam terus menggelitik dan juga memeluknya. Sopir dan Erik yang duduk di depan tampak tersenyum. Mereka tidak pernah melihat Adam seperti itu. Menjadi seseorang yang penuh tawa, kebahagiaan, periang dan juga nakal.
"Erik, naikkan suhu pemanas dalam mobil ini. Bos mu kedinginan disini." Perintah Claudia.
Tapi Claudia tidak mendapatkan respon apapun. Siluman disampingnya terus menggigit lehernya.
"Erik.... Erik... Apa kau sudah mati?" Teriak Claudia, tapi tidak ada seorangpun yang merespon.
Adam terus menciumi leher Claudia. Sampai saat lidahnya menyentuh kulit Claudia yang terasa sensitif, Claudia tanpa sadar mengeluarkan suara ******* yang langsung membuat dirinya menutup mulut secepat mungkin. Hal itu membuat Adam tertawa kecil.
Claudia ingin sekali menyumpahi Adam. Adam langsung mencium Claudia dan memasukkan tangannya ke dalam pakaian Claudia. Dan mulai meraba dada Claudia.
Setelah beberapa saat menciumi Claudia, Adam lalu mengambil ciuman terakhirnya dan melepaskan Claudia. Claudia terlihat begitu memerah dan sedikit berantakan. Adam sejak tadi sudah menjilati wajahnya. Claudia merasa dirinya seperti sebuah sajian makan malam untuk seekor harimau yang sudah melahapnya.
Adam memperbaiki posisi duduknya di kursi mobil dan membantu Claudia untuk duduk juga. Claudia mengambil tisu basah dari belakang dan membersihkan wajahnya saat Adam tertawa melihat dirinya.
"Dasar mesum. Apakah aku ini terlihat seperti makanan, sehingga kau menjilati seluruh wajahku seperti ini. Aku membencimu karena hal ini." Ucap Claudia terus mengomel."Bibirku juga sakit. Cepat ambil lipbum dari dalam tasku." Ucap Claudia sembari merapikan rambutnya.
Adam mengikuti perintah Claudia dan mengambil lipbum itu untuk istrinya. Tapi senyuman nakal itu masih terus diperlihatkan oleh Adam.
Mobil berhenti tepat di depan pintu gerbang kampus Claudia.
"Sayang, di luar begitu dingin. Biarkan kami mengantar mu sampai di dalam kampus. Daripada kau harus berjalan melewati lapangan di cuaca yang dingin seperti ini." Ucap Adam.
"Tidak... Tidak... Tidak... Tidak boleh. Para penggemar wanita mu akan menggangguku sepanjang hari jika sampai melihatmu. Aku tidak mau mengacaukan ujian ku." Balas Claudia.
"Baiklah, kalau begitu berikan aku cuman terakhir." Pinta Adam lagi.
Claudia memutar mata malas sebelum mencium bibir sang suami dengan penuh cinta.
"Byee...."
"Byee... sayang. All the best." Balas Adam. "Erik buka pintu mobil untuknya." Perintah Adam dan tersenyum kepada istrinya, sebelum gadis itu menghilang dari dalam mobil.
***************
Adam kembali menjemput sangat istri setelah perkuliahan selesai. Mereka sekarang sudah berada di jalan pulang ke rumah. Adam kembali begitu nakal dan selalu memeluk Claudia. Sementara Claudia terus berbicara tanpa henti. Membahas apa yang terjadi selama ujian, siapa yang melakukan ini dan itu, siapa yang menyontek, siapa yang dimarahi. Pertanyaan mana yang benar-benar tidak disangka akan keluar dalam soal ujian, dan setelah ujian selesai Claudia menceritakan bahwa ia pergi membeli es krim. Adam tadi menjemput Claudia saat dia tengah memakan es krim favorit nya.
Claudia terus menikmati es krim nya dan sambil berbicara. Disamping itu, suaminya yang nakal itu terus memandangnya dengan nakal dan memeluknya sedikit tidak sabaran. Claudia tidak masalah akan hal itu, dia tetap sibuk berbicara. Tangan, mata, bahkan kaki Adam, semuanya menempel pada Claudia.
Malam harinya....
"Dam tidak, lepaskan aku. Aku butuh istirahat, aku masih ujian besok." Claudia seperti terdengar menangis tapi sebenarnya tidak, saat suaminya hendak memaksanya untuk melakukan *ehem* *ehem*
"Lalu kenapa sayang? Kau pasti akan tidur dengan nyenyak setelah kita melakukannya satu ronde. Satu kali saja sayang, ku mohon."
"Aaargggghhh, ya Tuhan, selamatkan aku. Aku tengah di perkaos... Tidaaakk..." Claudia terus berusaha melepaskan diri dari pelukan Adam. "Dam... Aku tengah datang bulan." Ucap Claudia.
"APAAAAA.....?" Adam langsung duduk dengan wajahnya yang terkejut karena mendengar apa yang dikatakan Claudia.
Claudia lalu mengambil kesempatan itu dan berlari keluar dari dalam kamar untuk menyelamatkan keperawanannya.
Adam tidak mengikutinya, dia terus tertawa sampai berguling diatas tempat tidur.
"Baiklah kau gadis nakal, aku akan memakan mu habis-habisan nanti. Setelah ujian mu selesai, tunggu dan lihat saja." Ucap Adam dengan terbahak sebelum menarik selimut menutupi dirinya lalu tidur.
Bersambung.....
__ADS_1