
Claudia melihat kearah layar ponselnya sesaat, lalu melihat kembali ke arah suaminya. Adam hanya bisa mengangguk kan kepalanya untuk memberikan isyarat kepada Claudia agar menerima panggilan telepon itu.
Lalu Claudia mengangkat panggilan itu dan menekan tombol speakernya kemudian mereka menebak siapa orang yang menelpon itu. Mereka tidak berbicara sedikit pun hingga membuat ruangan terasa sunyi bagi pasangan itu.
"Hai sayang."
Adam hanya terdiam, dia bisa saja terlihat marah tapi dia memilih tetap diam. Dia memberikan isyarat kepada Claudia untuk berbicara di mana Claudia terlihat terganggu dan merasa jijik saat mendengar suara pria itu.
"Siapa ini?" Tanya Claudia yang sebenarnya sudah menebak siapa yang menelpon dirinya itu.
"Ini aku sayangku, cinta pertama mu sayang." Ucap pria itu membalas ucapan Claudia dengan nada yang terdengar menjijikkan.
Claudia merasa ngeri mendengar kata cinta pertama, dia sangat ingin menjelaskan kepada pria itu bahwa semua itu tidak benar dengan langsung meninju wajahnya. Tapi Claudia tidak bisa melakukannya. Mereka ingin tahu kenapa dia menelpon, jadi Claudia pun bertanya.
"Apa yang kau inginkan? Bagaimana kau bisa mendapatkan nomorku."
"Aaawww... Apa kau pikir hanya suamimu saja yang berkuasa dan mempunyai anak buah yang bisa dia minta untuk melakukan hal apapun. Aku juga punya sayangku." Ucap Sean membual.
"Kenapa kau menelpon ku?" Tanya Claudia tidak sabar, dia tidak ingin berbicara dengan pria itu lebih lama lagi.
"Aaiiissshhh... Aku lupa. Iya.... siapa namanya itu... Siapa namanya itu... Oh iya, Kalina, benar... Iya, dia ada bersamaku sayang. Aku baru saja melihatnya di supermarket hari ini, sore tadi. Jadi aku pikir untuk membawa dia bersama ku. Kau tahu, aku suka mengoleksi sesuatu yang cantik bukan."
Sekarang hal itu membuat kedua pasangan itu saling menatap. Claudia tampak sangat terkejut, dia tidak bisa berbicara beberapa saat.
"Apa yang sudah kau lakukan dasar bajingan, kenapa kau menculik nya?" Teriak Claudia pada pria yang berada di seberang telepon itu.
"Uuhh, apakah itu termasuk menculik? Uuuuppss, aku minta maaf. Aku tidak mengetahui tentang hal itu." Ucap Sean bertingkah seolah tidak bersalah.
"Diam lah. Kenapa kau harus menculik nya? Bagaimana dia bisa ada hubungannya dengan mu? Apa yang kau inginkan darinya?" Claudia mulai tampak takut dan khawatir.
"Tunggu, tunggu, tunggu, tunggu, tunggu dulu. Apakah kesayanganku ini mulai cemburu? Aaaawww... sayang, aku tahu kaulah yang seharusnya bersamaku sekarang bukan begitu? Apakah kau cemburu karena aku membawanya bersamaku dibandingkan dirimu? Sekarang apa yang bisa aku lakukan sayang, kau bermain terlalu keras untuk bisa aku dapatkan. Itulah kenapa aku sedikit kesal, aku tidak suka orang yang keras kepala, kau tahu. Tapi jangan khawatir.
Bagaimanapun kesal nya aku padamu, aku akan tetap mencintaimu dan hanya dirimu. Dia hanya pion saja, tidak lebih dari itu.
Oh ya, satu hal lagi. Aku tidak punya kontak apapun dengan pria itu, siapa namanya? Oh ya benar, Will. Dia kekasih dari gadis itu bukan? Tidak, maksudku, aku tidak tahu apa aku sebenarnya bisa menelpon kekasih dari Kalina itu. Sayang, bisakah kau memberitahukan berita ini kepadanya juga? Anak buah pria itu juga tengah mencari gadis ini. Tapi gadis ini tidak pernah keluar dari supermarket tadi, mereka begitu bodoh."
Setelah menjelaskan semuanya Sean memutuskan panggilan itu. Claudia sangat panik dan kebingungan. Dia melihat kearah suaminya yang terlihat tenang dan diam. Adam terlihat sibuk memikirkan sesuatu, seraya mengusap dagunya. Matanya terlihat menatap kearah ponsel yang ada di atas meja.
Claudia sangat bingung, dia tidak bisa menebak apakah suaminya itu marah ataupun khawatir.
"Sayang, kenapa kau diam saja? Kalina di culik oleh pria itu. Apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa yang harus kita katakan kepada Will? Bagaimana aku harus menghadapi Will sekarang? Kalina diculik karena diriku. Oh tidak, aku ini orang yang sangat menyedihkan."
"Sssshhhhhh....." Adam menghentikan Claudia berbicara. "Santai sayang, tenanglah. Kita semua tahu dia sudah melakukan hal ini bukan, lalu kenapa kau masih panik?" Ucap Adam.
"Apa? Kenapa aku panik? Dan kita tahu dia akan melakukan sesuatu, tapi itu seharusnya kepadaku. Aku tidak pernah tahu dia akan menyakiti orang-orang di sekitarku. Bagaimana aku bisa menenangkan diriku sendiri." Ucap Claudia kesal kepada Adam yang tidak mengerti kenapa suaminya begitu tenang.
"Di... Kau masih baru dengan semua hal ini. Itulah kenapa kau berpikir seperti ini. Tapi tenanglah, kami sudah terbiasa menghadapi hal ini. Ini sering terjadi, orang-orang menyerang orang terdekat kita, daripada langsung melawan kita. Itu hal yang biasa, biarkan aku menelpon Will lebih dulu, oke! Kalina akan baik-baik saja, kita tidak perlu khawatir dan harus tetap tenang." Ucap Adam mencoba menenangkan Claudia dan menelpon Will.
Claudia masih merasa tidak tenang dengan situasi ini.
__ADS_1
'Bagaimana aku menghadapi Kalina sekarang? Dia mendapat masalah karena aku, dia tidak berhubungan dengan semua ini. Lalu kenapa dia? Dia sudah terbebas dari berurusan dengan Megan dan sekarang malah aku. Aaaarrrggghhh aku sangat ingin membunuh pria itu.'
"Iya, aku dengar itu Will, kau tidak panik bukan begitu? Jangan khawatir, kita berempat sudah menghadapi banyak hal bersama. Kita akan menyelesaikan masalah ini juga. Aku tidak akan membiarkan apapun terjadi kepada Kalina. Jadi jangan khawatir." Ucap Adam.
"Tentu saja, dan aku tahu itu. Aku tidak masalah dengan hal itu, aku tahu tidak ada sesuatu yang bisa disembunyikan antara aku dan kau. Masalah apapun yang datang kepada kita adalah masalah kita semua. Aku tahu itu, dan mari kita bertemu. Aku akan menelpon yang lainnya juga, oke !" Balas Will.
"Iya, aku akan datang. Jangan khawatir Kalina akan segera bersama kita, aman dan aku yakin itu. Kita masih menunggumu untuk bisa meminta maaf kepadanya bukan?" Ucap Adam mencegah untuk membuat situasi lebih tenang.
Claudia sangat syok dan terkejut. Hubungan antara mereka berempat begitu luar biasa dan Claudia tahu itu. Tapi hari ini, dia melihatnya sendiri. Claudia tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis."
Adam dengan segera berlari ke arahnya dan menarik Claudia ke dalam pelukannya.
"Sayang kenapa? Oh ya Tuhan, sayang jangan menangis. Aku ada di sini, bukankah kau berkata bahwa kau mempercayai aku? Sayangku, ku mohon jangan menangis sayang." Adam merasa tidak berdaya melihat Claudia yang menangis seperti itu. Adan tetap tidak terbiasa melihat istrinya menangis itu, karena hal itu membuatnya begitu terluka setiap kali melihat Claudia seperti itu.
Claudia berbalik memeluk suaminya lebih erat lagi dan menangis di bahu Adam.
"Ini semua terjadi karena aku. Aku tidak pernah tahu bahwa dia akan melakukan sesuatu hal yang seperti ini. Dia begitu jahat dan tidak mempunyai hati. Aku membencinya, aku bahkan tidak akan bisa bertemu dengan Kalina setelah semua ini. Aku tidak bisa menghadapinya." Ucap Claudia di sela tangisan nya itu.
"Cinta, lihat aku kemari yah, lihat aku." Adam membuat Claudia melihat kearah dirinya dengan memegang kedua pipi itu, Claudia dengan wajahnya yang menangis, kemudian Adam mencium kening Claudia.
"Aku janji, bahwa Kalina akan berada disini dengan kita dalam dua atau tiga hari. Aku janji, aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padanya dan tentang apa yang kau katakan. Jangan khawatir, Jolie, Nina dan Kalina, mereka semua sudah menghadapi hal yang seperti ini lebih dulu. Mereka tahu hubungan diantara kami semua. Kami suatu keluarga yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Tidak ada satupun dari kami berempat yang punya keluarga inti, kami semua adalah anak yatim atau tinggal dengan tidak ada keluarga. Kami mengerti satu sama lain sayang. Jangan khawatir. Ini hanya hal biasa, aku tidak akan pernah membiarkan sesuatu terjadi kepadamu sampai sekarang. Mereka bertiga sudah menghadapi hal seperti ini. Kalina tidak akan menyalahkan mu. Kau jangan khawatir Kalina akan tetap menyayangimu."
Malam itu Adam pergi untuk melakukan misi penyelamatan terhadap Kalina. Claudia begitu khawatir. Bahkan Claudia tidak bisa tidur sama sekali, Adam pun berhasil meninggalkan rumah setelah membuat Claudia merasa nyaman terus di kamar. Dan dia juga membuat sekeliling rumah menjadi aman sebelum pergi.
Adam tahu bahwa dia akan membutuhkan 2 hari untuk bisa kembali. Yang lainnya juga melakukan hal yang sama. Jolie dan Nina juga diberikan pengamanan yang kuat di sekitar rumah mereka.
**********
Membutuhkan waktu beberapa saat untuk membuat tubuh Claudia duduk tegak dan terbangun dari tidurnya. Setelah itu dia mengingat apa yang terjadi semalam.
Claudia lalu melihat kearah ponselnya yang berada di dalam laci dan lagi panggilan itu berasal dari nomor yang tidak diketahui. Hal itu semakin membuat Claudia khawatir. Dia mengingat semua yang terjadi tadi malam, dia lalu melihat sekeliling kamarnya untuk mencari di mana suaminya, tapi tidak ada siapapun di sana. Mengabaikan ponselnya yang berdering Claudia berlari turun ke lantai bawah mencoba mencari wajah yang familiar itu, dia mencari ke semua tempat, taman ruang belajar, dapur, tempat olahraga ruang, tamu, taman belakang, tempat parkir dan semuanya. Tapi tidak ada tanda-tanda dari suaminya.
Dia berlari ke arah tempat tinggal para pelayan dan mencari Nila.
Melihat mereka ada di rumah belakang pada jam yang saat seperti ini di pagi hari, semua panik dan khawatir. Namun mereka sudah bisa menebak alasannya. Claudia bernapas begitu berat tidak bisa untuk berbicara saat ini, dia hanya terlihat memberikan tanda-tanda bicaranya.
"Oh Tuhan Nona Muda, tenanglah apakah anda ingin minum air? Kenapa anda berlari di sekeliling rumah? Anda begitu berkeringat. Silahkan duduk dulu Nona Muda."
Nila membuat Claudia duduk dengan tenang di sebuah kursi. Pelayan lain lalu mengambil air untuk Claudia dan yang lainnya mengusap punggung Claudia.
"Tenanglah Nona, Tuan tidak kembali sejak semalam tapi jangan khawatir, Tuan sudah terbiasa untuk melakukan misi seperti ini. Tuan akan kembali ke rumah secepatnya. Anda hanya harus bersabar dan tetap mendoakan yang terbaik. Cinta yang anda miliki akan membuat Tuan kembali, percaya pada saya." Ucap Nila.
Claudia menyerahkan gelas air minum itu kembali pada Nila.
"Nona, Tuan sudah berjanji kepada anda bukan? Tuan tidak pernah melanggar janjinya. Tuan akan kembali dan mereka berempat sangat hebat dan sempurna dalam pekerjaan mereka. Mereka tidak pernah gagal dari misi apapun yang mereka lakukan." Lanjut Nila.
Tapi Claudia tidak bisa tenang, dia masih mengingat saat terakhir kali Adam pulang ke rumah mereka dengan lengannya yang tertembak. Dimana saat itu pertama kalinya Claudia menyadari bahwa dia mencintai Adam. Claudia menggelengkan kepalanya menunjukkan dia tidak setuju dengan apa yang dikatakan Nila.
"Tidak, tidak, tidak, Nila. Bagaimana jika dia membuat dirinya terluka lagi. Terakhir kali luka itu ada di lengannya bagaimana jika kali ini..."
__ADS_1
Nila menempatkan jemari nya di bibir Claudia, menutup mulutnya nya agar tidak membuatnya bicara lagi.
"Tidak Nona Muda, jangan biarkan kata-kata itu keluar dari bibir anda. Nona adalah keluarga yang dimiliki Tuan, Nona segalanya bagi Tuan, istri Tuan. Kata-kata yang akan Nona katakan akan selalu menjadi takdir bagi Tuan. Jadi jangan biarkan hal yang buruk keluar dari bibir Nona sekarang juga. Tuan akan aman di sana sampai Nona masih terus berdoa di sini. Jadi tolong berdoa lah yang benar dan selalu berpikir positif."
Sekarang Claudia mengingat terakhir kalinya dia menyumpahi Adam dan hal itu menjadi kenyataan. Claudia menutup matanya dengan rasa ketakutan.
"Oke Nila, aku tidak akan membiarkan kata-kata buruk keluar dari mulutku ini. Dia akan aman bukan?"Tanya Claudia polos.
"Tentu saja Nona." balas semua para pelayan untuk tetap membuat Claudia merasa tenang.
Sampai Claudia mengingat bahwa ponsel nya masih berdering di kamar. Sekarang Claudia menyadari bahwa yang menelpon itu adalah nomor yang sama yang meneleponnya semalam. Claudia dengan cepat berlari ke arah kamar melewati tangga, dimana ponsel nya masih berdering. Orang itu pasti terus-menerus menelpon Claudia sejak tadi.
Menjawab panggilan itu Claudia menunggu untuk orang yang di seberang sana berbicara lebih dulu.
"Selamat pagi sayang. Oh Tuhan, kau benar-benar tidur begitu nyenyak. Aku sudah menelpon mu sejak pagi tadi dan kau baru bangun sekarang." Ucap Sean membuat darah Claudia mendidih dengan setiap kata yang diucapkan nya.
"Apa yang kau inginkan sekarang?" Tanya Claudia.
"Wow sayang, suaramu yang masih mengantuk itu terdengar begitu seksi. Aaaiisshh, aku tidak bisa menunggu untuk bisa mendengar suaramu setiap pagi sekarang. Aaarrrggghhh, aku sudah merasa tergoda hanya dengar mendengar suaramu. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan ketika aku melihatmu untuk yang pertama kalinya lagi." Ucap Sean.
Claudia merasa jijik dan menggerutukkan giginya dengan dia tetap diam.
"Sayang kau khawatir tentang temanmu kan? Jangan khawatir, dia sudah diberikan sarapan dengan baik. Tapi gadis keras kepala itu menolak sarapan yang aku berikan, dia itu bodoh. Ngomong-ngomong bagaimana keputusanmu?'
"Apa maksudmu dengan bertanya apa keputusan ku?" Claudia semakin bingung.
"Oh suamimu ini tidak memberitahu kan mu bagaimana rencana ku? Pria itu dia lebih suka melakukan semuanya dengan kemauannya sendiri. Aku benci tipikal pahlawan seperti itu, mereka setidaknya harus menyelesaikan masalah mereka dengan baik. Mereka tidak perlu berkelahi setiap kali menghadapi situasi seperti ini yang membuat hidup mereka beresiko. Kau mengerti dengan apa yang aku katakan sayang?" Ucap Sean.
"Apa maksudmu?" Teriak Claudia kali ini.
"Aaaahhh tenang sayang, pertama, aku tidak suka di teriaki, catat itu dalam kepalamu. Sebenarnya aku sudah memberitahu bahwa jika mereka menyerahkan mu kepadaku, aku akan membiarkan Kalina pergi dengan selamat." Ucap Sean.
"Tapi kelihatannya mereka tidak memberitahukan mu apapun. Aku yakin mereka berempat sekarang sudah keluar untuk menjalankan misi penyelamatan kepada Kalina bukan begitu? Para pahlawan itu... Padahal sudah ada jalan yang lebih simpel untuk mereka lakukan, tapi mereka tetap memilih untuk melakukan hal yang lebih rumit dengan mempertaruhkan nyawa mereka sendiri." Lanjut Sean.
"Sekarang katakan kepadaku sayang, mereka mungkin akan menemukan gadis itu. Mereka sudah terbiasa dengan hal seperti ini, aku tetaplah seorang mafia miskin. Tapi kemudian apa orang-orang ku dan mereka sudah berkelahi. Aku punya 100 orang lebih pengawal dan mereka akan datang sendirian, hanya 4 orang. Bagaimana aku bisa membuat anak buah ku bertahan untuk tidak menyakiti mereka. Maksudku, apapun bisa terjadi dalam pertempuran. Itu bukan aku, tidak mau menjadi contoh orang yang buruk untukmu. Tapi mereka selalu memaksa aku serius.
Sekarang kau bisa bersamaku sayang jika suamimu...."
"Tutup mulutmu bajingan, tutup mulut busuk mu itu. Tidak akan terjadi apapun kepada suamiku, tidak satupun dari mereka kau mengerti, suamiku sudah berjanji padaku dia akan kembali ke rumah, tidak perduli di mana pun dia berada. Karena dimana pun, dia selalu menepati janjinya bahwa dia akan kembali kepadaku.,," Teriak Claudia.
Sean tidak bisa menyangkal bahwa dia terdiam beberapa saat. Dia tidak pernah mendengar Claudia berbicara seperti itu.
"Waaaaaaahhhh kalau begitu percaya diri akan suamimu, bagus, oke sayang. Mari berpikir tentang semua itu, dia mungkin akan kembali ke rumah dalam pelukanmu. Tapi apakah dia akan aman dan masih bisa berbicara atau tubuhnya masih utuh saat kembali padamu?" Ucap Sean dengan suara yang terdengar begitu
Bersambung....
Kita semua tahu bahwa Adam akan menepati janjinya menyelamatkan Kalina. Dengan aman, pulang ke rumah kepada istrinya bukan.
Ya tentu saja dia akan melakukannya, jangan khawatir.
__ADS_1
Selanjutnya,
Claudia menghilang...