90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
7. Berbalas Pesan


__ADS_3

"Tidak, tidak, tidak. Kumohon Naomi, lakukan sesuatu. Aku tidak mau dia mengetahui siapa aku, tidak dengan cara seperti ini. Dia akan berpikir yang tidak-tidak. Dia pasti akan berpikir bahwa aku mencintainya. Kumohon Naomi bantu aku." Ucap Claudia merengek.


Naomi berjalan mendekati Claudia dan memegang dagunya.


"Sayang bukankah kau sendiri yang ingin permainan ini semakin sulit untuk ditaklukkan. Kau ingin suamimu berjuang demi mendapatkan dirimu. Waaah, siapa yang menyangka, istri Adam marah karena ditinggal selama 2 tahun sendirian. Bukan begitu? Aaahh menggemaskan sekali." Naomi menggoda Claudia.


Claudia begitu kesal. Dia bersumpah, jika saja tidak sedang berada dalam masalah dia sudah menampar wajah Naomi karena kesal.


'Istri. Uwweekkk. Menjijikkan sekali.' Pikir Claudia dalam hati.


"Yah, terserah kau saja, yang penting kau urus semua ini." Titah Claudia lagi, Naomi pun setuju.


'Aneh-aneh saja kedua pasangan ini.' pikir Naomi.


Claudia lalu masuk ke dalam kamar dengan perasaan marah. Dia melompat ke atas tempat tidur dan memikirkan satu kata dalam hatinya.


'Istri....'


Bulu kuduk Claudia bergidik.


Di tempat lain...


Adam berada di rumahnya, tengah makan malam di ruang makan, saat Erik datang membawa tab miliknya.


"Tuan kita sudah menemukan siapa penyebar video itu. Dia adalah Lisa. Dia yang merekam video itu lalu meng-upload nya ke internet dengan sebuah akun palsu."ucap Erik


Adam tampak terkejut.


"Lisa? Maksud mu Lisa yang itu?" Tanya Adam. Bukankah dia berada di universitas yang sama. Apakah Claudia tahu semua ini? Apakah dia..." Ucapan Adam dihentikan Erik.


"Benar Tuan memang, Lisa pelakunya." Ucap Erik.


"Baiklah, kalau begitu kumpulkan semua bukti. Minta Om untuk segera mengeluarkan wanita itu dari kampus." Ucap Adam.


"Apa? Mengeluarkannya dari kampus hanya karena video itu? Tuan bukankah semua itu terlalu berlebihan? Apa Anda serius?" Tanya Erik.


"Tentu saja serius, memangnya kenapa? Apa ada yang salah dengan itu?" Adam tampak kesal. "Dia yang membuat masalah, dan aku hanya ingin istriku merasa nyaman. Aku berharap dia tidak memikirkan tentang video itu. Hanya itu saja." Ucap Adam


Erik menggelengkan kepalanya.


'Pria ini benar-benar tergila-gila pada wanita yang sebenarnya saat ini dibencinya itu.' Ucap Erik dalam hati.


"Ngomong-ngomong, besok Tuan harus menghadiri sebuah acara pesta ulang tahun pernikahan Tuan dan Nyonya Kim. Dan Tuan harus membawa seorang pasangan. Hmmm...."


Erik berhenti berbicara dan tampak sedang memikirkan sesuatu.


"Apakah Tuan ingin saya mengundang Nadia untuk menemani Tuan pergi ke pesta itu?" Tanya Erik


Sebenarnya Erik ingin sekali melihat Tuan Muda nya bisa pergi dengan Claudia. Tapi apalah daya, jangankan untuk bisa pergi berdua. Tuan Muda nya bahkan tak mengetahui siapa istrinya.


Adam diam beberapa saat, kemudian ia berkata, "biarkan aku mencoba untuk mengajak istriku dulu. Jika dia menolak maka kau boleh mengajak Nadia."


Erik menghela napas dan hanya bisa memandangi Adam dalam diam.


Adam kembali ke kamarnya setelah selesai makan malam dan mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ia lalu ingin mencoba untuk menghubungi Claudia untuk mengajaknya pergi ke pesta itu meski ia sendiri tahu kalau hal itu sulit untuk tercapai. Tapi baginya tidak ada salahnya untuk mencoba.


'Siapa yang tahu, bisa saja dia mau.'


Alih-alih menelpon Claudia ia akhirnya malah mengirimkan pesan singkat.

__ADS_1


Adam: 'Hai aku sebenarnya mendapat undangan untuk menghadiri sebuah pesta besok malam dan pesta itu mengharuskan para tamu undangan membawa pasangan mereka. Jadi aku berpikir untuk mengajakmu. Apakah kau mau menemaniku? Itupun jika kau tidak sedang sibuk.'


Pesan itu terkirim, tapi tidak ada balasan dari Claudia. Adam sangat tahu jika Claudia tidak akan pernah membalas sms nya tapi dia tetap menunggu hingga sampai satu setengah jam tak ada balasan dari Claudia, dia pun meminta Erik untuk menghubungi Nadia dan mengajaknya sebagai pasangan untuk menghadiri pesta itu. Namun sebuah pesan balasan datang dan itu membuat wajah Adam menjadi sumringah.


Sebuah pesan balasan yang sudah lama ditunggunya.


Claudia: 'Tidak, aku tidak bisa pergi. Bukan karena aku sibuk atau apapun, semuanya karena aku tidak mau pergi denganmu.'


Wajah Adam kembali sedih, hatinya begitu sakit mendapat balasan seperti itu dari Claudia. Tapi setidaknya dia berpikir bahwa dengan Claudia mau membalas pesan darinya berarti Claudia sudah ada niat untuk memperbaiki hubungan mereka.


Adam: 'Oke, tidak apa-apa. Aku bersalah padamu selama ini dan aku minta maaf karena tidak pernah ada didekat mu selama 2 tahun belakangan ini. Sebenarnya saat kau menuliskan catatan itu untukku adi aku berpikir untuk pergi bekerja, sebagai cara untuk memberikanmu waktu menjernihkan pikiranmu karena kau tidak menginginkan pernikahan ini dan kau ingin aku pergi jauh darimu. Aku tidak pernah bermaksud untuk tidak menghiraukan mu ataupun menelantarkan mu, percayalah padaku. Namun pekerjaanku yang menjadi semakin banyak dan usahaku berkembang jadi aku tidak bisa pergi begitu saja.'


Adam menuliskan pesan yang begitu panjang untuk menjelaskan semuanya dan berharap Claudia akan mengerti. Sebenarnya Adam merasa sedikit canggung karena ini merupakan kali pertama keduanya berkomunikasi.


Claudia membaca pesan itu. Dia memutar mata malas. Tidak bisa dibohongi bahwa di hati kecilnya terasa ada sesuatu yang nyaman setelah membaca penjelasan dari Adam. Namun, kembali lagi. Ego Claudia mengalahkan semuanya. Claudia menghela napas lalu mulai mengetik.


Claudia: 'Bagus, kau melakukan pekerjaan yang baik. Aku senang kau bisa mengerti akan apa yang aku inginkan. Jadi kali ini aku ingin meminta satu hal lagi padamu. Tanda tangani surat perceraian yang ada di dalam laci sebelah kanan meja kerjamu.'


Adam sangat terkejut, dia langsung membuka laci meja nya dan benar saja di sana ada sebuah berkas yang merupakan surat perceraian yang sudah ditandatangani oleh Claudia. Adam kembali terkejut membacanya.


Adam: 'Apa kau tahu apa yang sedang kau katakan? Dan kapan, kapan kau melakukan semua ini? Kenapa tidak ada yang memberitahuku.'


Claudia: 'Aku sudah sering meminta pada Kak Naomi dan Erik untuk melakukannya untukku tapi, mereka berdua selalu saja tidak menghiraukan ku. Jadi aku datang hari ini dan menyimpan suratnya di situ saat kau berada di kantor. Dan tidak ada yang menghentikan aku. Lagipula siapa yang berani menghentikan ku? Jadi aku masuk begitu saja kedalam ruang kerjamu.'


Adam: 'Kau datang? Kau datang kemari? Kenapa tidak ada yang memberitahuku? Kenapa kau tidak menungguku?'


Adam terkejut karena istrinya datang ke rumah saat dirinya tidak ada. Tentu saja tidak ada yang berani menghentikannya lagipula dia adalah nyonya rumah. Adam tersenyum membayangkan sang istri yang datang dan masuk ke ruang kerjanya untuk pertama kali.


Claudia: 'Aku tidak ingin apapun darimu, jadi untuk apa aku harus memberitahumu. Kau cukup tanda tangani saja urat perceraian itu aku ingin bebas aku ingin hidup mandiri.


Adam: 'Itukah alasan kenapa nilai ujian mu akhir-akhir ini turun? Apa seperti ini yang kau inginkan untuk menjadi seorang mandiri?'


Claudia kembali memutar mata malas


Claudia: 'Iya tentu saja aku akan bekerja keras, menghasilkan uang, dan akan mempelajari apa yang aku sukai. Aku tidak suka belajar tentang bisnis.'


Hati Adam terluka karena jadi itulah alasan kenapa Claudia ingin berhenti kuliah karena dia tidak menyukai bisnis. Adam menyesal karena tidak menanyakan Claudia lebih awal tentang apa jurusan yang ia inginkan saat pertama kali masuk kuliah dulu. Claudia jadi tidak perlu membuang-buang waktu nya selama dua tahun ini. Adam menggigit bibirnya.


Adam: 'Apa yang ingin kau pelajari? Beritahu aku.'


Claudia: 'Kau tidak perlu tahu, aku akan mengurus semuanya sendiri. Tanda tangani saja surat perceraian itu.'


Adam: 'Secara hukum aku adalah orang yang bertanggung jawab atas dirimu. Jadi aku harus tahu apa yang ingin kau pelajari. Masa depan seperti apa yang kau rencanakan untuk dirimu sendiri. Jika kau memang ingin bercerai dan di pengadilan nanti, itu semua juga akan ditanyakan.'


Claudia ingin sekali berteriak saat ini. Tapi dia berpikir apa yang dikatakan Adam, ada benarnya. Jika dia memberitahu Adam, maka hal itu akan membantunya untuk segera bisa bercerai dengan Adam.


Claudia: 'Aku ingin mempelajari tentang videografi dan pembuatan film. Aku akan kuliah ditempat yang aku sukai, bekerja sesuai dengan yang aku senangi dan melakukan apapun yang aku inginkan. Lalu setelah menyelesaikan sekolahku, aku bisa mendapatkan pekerjaan sesuai dengan apa yang aku inginkan. Itulah masa depan yang aku rencanakan tuan penanggung jawab tersayang.'


Adam tersenyum membaca pesan balasan dari istrinya itu. Istrinya terdengar begitu bersemangat dan nakal serta keras kepala. Hal itu malah disukai oleh Adam meski istrinya itu terdengar kekanakan.


'Dia benar-benar gadis yang pemarah. Tentu saja karena dia masih sangat muda. Aku menyukai sikapnya tidak ada yang pernah berani bicara dengan kasar seperti ini kepadaku.'


Adam menggelengkan kepalanya dan tersenyum lalu kembali berpikir.


'Tidak. Ada satu orang lagi yang berani bicara padaku seperti ini.' ucapnya dalam hati.


Jika istrinya bisa membuatnya tersenyum meski dengan berbicara kasar, berbeda dengan gadis berandal itu. Adam benar-benar membencinya.


Memikirkan gadis berandal itu mengingatkan Adam pada suatu hal.

__ADS_1


Adam: 'Apakah kau memiliki seseorang yang kau cintai dalam hidupmu?'


Claudia tampak berpikir sejenak kemudian....


Claudia: 'Tentu saja aku punya, tapi jangan khawatir aku tidak pernah melakukan apapun yang melewati batas. Aku tidak pernah berselingkuh darimu. Jadi kau jangan berpikir yang macam-macam hingga membuatmu tidak jadi untuk bercerai denganku. Tolong tanda tangani saja surat cerai itu. Jadi aku bisa menentukan kebahagiaanku sendiri.'


Adam merasa terluka. Wajar saja jika sang istri memiliki kekasih karena pernikahan mereka tidak pernah diinginkannya. Claudia masih sangat muda. Dia tidak pernah menginginkan pernikahan itu terjadi apalagi untuk menerima pernikahan itu dan setelah menikah suaminya malah meninggalkannya selama dua tahun. Sangat wajar jika dia mempunyai orang lain untuk dicintai.


Adam: 'Baik aku akan menandatangani surat cerai itu tapi lebih dulu aku ingin melihatmu fokus pada karirmu, agar masa depanmu bisa cerah dan aku ingin memastikan bahwa pria yang kau cintai benar-benar tepat untukmu. Maka setelah itu aku akan setuju untuk menceraikan mu.'


Claudia semakin kesal, 'kenapa dia harus menentukan apa yang baik dan tidak untukku? Kenapa tidak langsung saja untuk mengambil pena dan segera tanda tangani surat cerai itu?'


Claudia terlihat menjadi semakin frustrasi.


Claudia: 'Ayolah, baik aku akan mengaku. Aku tidak mempunyai orang spesial di hatiku. Jadi kau tidak perlu untuk mengetes seseorang untuk menyatakan orang itu cocok atau tidak untukku dan untuk masa depanku aku bisa melakukannya sendiri. Seperti yang aku katakan tadi, kau tinggal tanda tangani saja surat perceraian itu.'


Adam tersenyum, cara sang isteri membalas pesannya membuat dirinya tertawa kecil, membayangkan sang isteri yang tadinya berkata mempunyai seorang kekasih, kali ini menyangkal bahwa ia tidak punya seorang yang spesial di hatinya. Adam semakin menikmati waktunya yang berkirim pesan dengan sang istri.


Adam: 'Aku sangat lelah sekarang. Ada banyak pekerjaan yang harus aku lakukan besok. Mulai dari meeting pagi-pagi di kantor, menghadiri pesta dan banyak aktivitas yang lainnya. Jadi selamat malam, senang bisa chating denganmu.'


Adam tersenyum saat mengirimkan pesan itu. Ini adalah pertama kalinya mereka berkirim pesan sebagai pasangan. Sangat menyenangkan bagi Adam. Ia merasa sangat bahagia karena ini merupakan suatu permulaan yang baik bagi hubungan mereka kedepannya.


Sementara itu Claudia yang membaca pesan balasan dari Adam menjadi semakin kesal.


"Aaarrrggfhh.... Kenapa aku harus merubah ucapanku tadi jadi dia pasti mengetahui bahwa aku berbohong. Sial!" Umpat Claudia.


************


Keesokan harinya, Adam membawa Nadia pergi ke sebuah butik untuk memberikannya sebuah gaun baru untuk pergi ke pesta. Sebelumnya dia sudah menceritakan semuanya kepada Naomi bahwa semalam, dia telah berbalas pesan dengan Claudia dan dia sangat bahagia. Sepanjang perjalanan pergi ke butik bersama Nadia, Adam terus membaca percakapan di antara dirinya dan Claudia semalam. Bahkan dia sudah membacanya sebanyak 40 kali. Nama Claudia di ponsel nya pun sudah ia simpan dengan nama 'Istriku Sayang'.


Di tempat lain....


Claudia sedang dalam mood yang buruk sejak pagi tadi. Endra dan Rose terus menggoda nya, tapi Claudia tak menanggapi sedikitpun. Kedua sahabatnya itu berpikir bahwa Claudia masih memikirkan tentang video yang sempat viral itu. Mereka berpikir bahwa Claudia takut kepada Adam yang bisa jadi akan melakukan sesuatu kepada dirinya.


"Hei, Di. Tolong bantu aku kali ini, kumohon." Ucap Endra dengan wajah memelas.


"Ada apa? Apa gebetan baru mu mencampakkan mu?" Tanya Claudia tertawa.


"Sebenarnya iya." Jawab Endra yang membuat tawa Claudia terhenti.


Claudia malah terlihat kesal.


"Terus, kenapa kamu kelihatan sedih begitu? Apa jangan-jangan kamu memang sudah jatuh cinta padanya?" Tanya Claudia.


"Tidak sayang, tidak seperti itu. Aku tidak akan pernah jatuh cinta pada orang lain selain dirimu aku hanya..."


"Apaan sih." Claudia menepis tangan Endra yang berusaha mencubit pipinya. "Bisakah kau lebih serius. Katakan ada apa?" Tanya Claudia penasaran.


"Sebenarnya aku mendapat undangan sebuah pesta untuk dihadiri malam nanti. Undangan itu dari atasan Papa. Sebuah pesta ulang tahun pernikahan. Semua orang yang diundang harus membawa pasangan dan aku baru saja ditinggalkan oleh gebetan ku jadi aku tidak punya pasangan untuk diajak pergi ke sana. Aku berpikir untuk...."


"Rose." Ucap Claudia menyela ucapan Endra. "Kau ajak saja dia." Lanjut Claudia.


"Apa? Aku! Tidak bisa, aku sudah ada janji dengan pacarku nanti malam." Jawab Rose.


Endra semakin terlihat bingung ia lalu menatap Claudia dengan penuh harap.


"Apa?" Teriak Claudia yang menyadari arti dari tatapan Endra itu. "Tidak, aku tidak mau pergi ke pesta." Ucap Claudia. "Lebih baik kau coba saja ajak Diana."


"Ayolah sayang, kali ini bantu aku tolong. Aku akan memberikanmu satu ton coklat jika perlu. Kali ini saja.... Aku janji, aku tidak akan berkomentar apapun tentang kehidupanmu. Aku akan selalu mendukung apapun yang kau inginkan. Tolonglah! Lagipula hanya kau saja yang bisa membantuku, Diana juga pasti ada acara dengan pacarnya." Rengek Endra.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2