90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
40. Tertembak


__ADS_3

Adam sudah selesai menyuapi sang istri sarapan. Lalu dia mengusap mulut Claudia menggunakan tisu.


"Sayang, aku akan berangkat ke kampus. Oke??? Nanti biar Jack yang mengantarmu ke kampus, sampai bertemu di kelas sore nanti." Ucap Asam berpamitan pada sang istri yang sangat dicintainya itu.


Claudia sudah selesai mengerjakan tugasnya. Dia menutup bukunya lalu segera berdiri dengan wajah yang kesal.


"Tapi, pria tua.... Mmmm maksudku Adam.... Tunggu." Teriak Claudia yang menghentikan langkah Adam, begitu juga dengan kedua sekretarisnya itu.


Claudia berdiri di hadapan Adam.


"Tante-tante, bisakah kalian berdua meninggalkan kami berdua? Tunggulah di dalam mobil. Dia akan segera keluar hanya beberapa menit saja." Ucap Claudia kepada kedua wanita itu yang langsung merasa terbakar api amarah dari dalam karena ucapan Claudia.


Tapi keduanya sama sekali tidak mengatakan apapun, dan langsung berbalik berjalan keluar sesuai perintah Claudia.


Mata Adam membelalak. Dia tidak dapat menahan lagi tawanya setelah kedua sekretarisnya itu sudah pergi. Dia begitu terbahak, hingga akhirnya kembali menarik istrinya ke dalam pelukannya.


"Waaahh, Nyonya Adam... Ada apa dengan semua ini? Kau tiba-tiba bertingkah menggunakan kekuasaan yang kau punya hah? Aku sangat suka itu." Ucap Adam seraya mengeratkan pelukannya pada Claudia dan menciumi lehernya.


"Pria tua, kau ingin aku memanggilmu dengan sebutan apa?" Tanya Claudia.


Adam tidak mengerti dengan motif apa yang sedang dilakukan oleh Claudia hingga bersikap manis. Adam langsung menjawab pertanyaannya begitu saja.


"Panggil aku sayang." Jawab Adam.


Claudia tersenyum penuh kemenangan. Ia lalu melingkarkan lengannya dileher sang suami, bergelayut dengan begitu manja. Kemudian mencium pipi kanan dan kiri Adam secara berulang-ulang.


"Sayang, apa kau masih ingat bahwa aku belum mengucapkan syarat yang ketiga." Ucap Claudia.


"Ummmmm.... Katakan sayang." Balas Adam sambil terus mencium leher Claudia.


"Sayang, aku ingin kau menghentikan hukuman yang kau berikan pada Erik."


Suasana langsung berubah hening di seluruh ruangan. Adam menarik dirinya dan melepaskan pelukannya pada Claudia. Dia lalu berdiri tegap menatap Claudia dengan tajam. Sementara Claudia menatapnya dengan tatapan yang menggemaskan sambil sesekali mengerlingkan matanya.


Setelah beberapa saat, Adam mulai bicara.


"Aku akan meningkatkan hukumannya karena menelepon mu. Bajingan itu, berani-beraninya dia menelepon istriku secara pribadi." Ucap Adam tampak begitu kesal dan hendak keluar rumah. "Jack...." Teriak Adam.


Seorang pria berlarian mendekat dengan membawa jas dan berdiri dibelakang Adam, hendak memasangkannya pada Adam.


"Jack berikan itu padaku. Bisakah kau mengambilkan ikatan rambutku di kamar?" Pinta Claudia dengan sopan.


Claudia berlari mendekat ke arah sang suami dengan tersenyum nakal.


"Biarkan aku membantumu untuk memasang ini. Bagaimanapun, secara nama kita ini sudah menjadi sebagai pasangan...."


Claudia tak bisa menyelesaikan kalimatnya karena Adam sudah menariknya dalam pelukannya dan tampak kesal.


"Kita bukan hanya pasangan sebatas nama saja..." Adam kesal.


"Upppsss... Maaf, salahku. Aku tidak akan mengatakan hal itu lagi." Ucap Claudia. "Jadi, sampai mana aku tadi. Oh ya, sebagai istrimu. Aku memang harus melakukan tugas ini bukan." Lanjut Claudia.


Adam tidak begitu penasaran, sekarang dia sudah tahu apa yang diinginkan Claudia hingga bersikap seperti ini. Tapi dia menikmati semua perlakuan yang diberikan Claudia padanya. Dia suka saat Claudia bersikap manja seperti ini.


"Dan, satu hal lagi. Kau tidak akan membuat aku kehilangan wajahku dihadapan orang-orang sebagai istrimu kan?" Tanya Claudia lagi.


"Bisakah aku mendapatkan mu malam nanti untuk menyetujui semua ini?" Tanya Adam balik.


Wajah Claudia memerah seperti udang rebus, dia merasa begitu malu dengan ucapan Adam. Dia mengalihkan pandangannya dari mata Adam, sementara Adam tersenyum menggodanya.


"Baiklah, kau boleh melakukannya." Balas Claudia.

__ADS_1


Adam tak menyangka Claudia akan mengatakan hal itu.


"Apakah dia begitu penting bagimu, sampai kau rela melakukan apapun yang aku minta untuk menolongnya?" Ucap Adam tampak begitu kesal dengan suaranya yang terdengar cemburu.


"Tidak sayang, bukan seperti itu. Pikirkan saja, dia selalu menjagaku selama kau tidak ada disini. Bahkan setelah mendapat hukuman darimu karena diriku, dia tidak pernah menyimpan dendam padaku. Tidak seperti sekretaris mu Nadia dan Hilda, dia selalu bersikap manis padaku dan juga mengerti aku. Dan dia hanya mengikuti perintahku sayang." Ucap Claudia dengan bertingkah begitu manis.


Setiap kata yang diucapkan mengandung gula dan bahkan ditambahkan dengan madu.


"Sayang...." Ucapan Adam dihentikan oleh tarikan tangan Claudia.


"Ayolah sayang. Kemari lah, biarkan aku mencium mu sebelum kau pergi ke kantor." Ucap Claudia kemudian mulai mencium bibir sang suami.


Adam awalnya tidak membalas ciuman itu, tapi lama kelamaan ia merasa ciuman itu semakin menghangat dan mendalam. Dia pun membalas ciuman sang istri penuh cinta dan kasih sayang. Setidaknya, pada akhirnya Claudia sudah mau menerima posisinya sebagai Nyonya Adam.


Masalah utamanya adalah, Erik dihukum oleh Adam untuk bekerja lebih keras dari biasanya karena selama ini merahasiakan identitas Claudia yang merupakan istri Adam. Meski pada saat itu Adam sudah hampir membunuh istrinya sendiri dengan menceburkannya ke dalam lautan.


Tapi, Erik bukan mempermasalahkan jam kerjanya yang ditambah lebih lama. Melainkan pekerjaan yang diberikan Adam setelah jam kerja di kantor. Adam memintanya untuk bekerja di konstruksi bangunan gedung perusahaan Adam yang baru dengan bekerja sebagai kuli. Mengangkat batu bata, pasir dan yang lainnya. Itulah yang Erik permasalahkan.


Dia tidak masalah bekerja keras dengan cara lain, asal jangan seperti ini. Jadi dia menelepon Claudia untuk memintanya menggunakan statusnya sebagai Nyonya Adam untuk meminta pada Adam agar menghentikan hukumannya.


Hari ini Claudia benar-benar gugup. Ia sudah melibatkan dirinya sendiri dalam masalah karena menolong Erik. Claudia mengutuk erik dia bahkan ingin dirinya sendiri menghilang dari dunia.


'Kenapa? Kenapa aku harus punya suami yang selalu nafsuan, dan hanya memikirkan tentang ****. Aku tidak mengerti. Kenapa dia selalu ingin tidur denganku, aaarrrgghhh.'


Hari ini Claudia juga mempunyai hal yang penting untuk dibicarakan dengan Endra.


"Endra aku butuh pekerjaan." Ucap Claudia dengan putus asa.


"Apa? Yang benar saja, apa kau bercanda? Ya Tuhan, kau lagi-lagi seperti itu, ingin menjadi mandiri, mencari uang sendiri. Ayolah, hentikan semua itu. Pertama-tama lebih baik kau fokus pada kuliahmu dan selesaikan semua pelajaran mu dengan baik." Ucap Endra mulai menceramahi Claudia dan membuat Claudia menjadi kesal hingga menendang lutut nya.


"Diam lah, dengarkan aku dulu. Aku butuh pekerjaan bukan yang seharian penuh, tapi hanya paruh waktu saja. Dan untuk beberapa hari saja. Aku butuh uang sekitar satu sampai dua juta. Itu saja." Ucap Claudia.


"Bro, kau terlalu berlebihan. Aku tidak bisa meminta uang padanya ataupun menggunakan uangnya, karena aku ingin memberikan hadiah untuk nya. Jadi sekarang bagaimana mungkin aku bisa menggunakan uangnya untuk memberikan hadiah padanya sendiri. Katakan padaku, aku harus bagaimana?" Ujar Claudia menjelaskan.


Mata Endra membelalak, kepalanya terasa berat. Dia hampir saja jatuh di tengah-tengah lapangan basket. Claudia memutar mata malas tanpa berusaha untuk membantu Endra.


"Kau Claudia Setyawan. Yang mulia Claudia Arista Setyawan, ingin memberikan hadiah kepada seseorang... Tidak, tidak, bukan seseorang. Tapi kepada kesayangan mu. Ya Tuhan, hidupku benar-benar begitu berubah. Aku tidak mau melihat hal lain lagi di hidupku."


"Kau mau membantuku atau tidak?" Tanya Claudia kesal.


"Baiklah. Apa kau ingin menyanyi di sebuah cafe? Seorang temanku mempunyai sebuah cafe dengan pertunjukan musik. Mereka membutuhkan seorang penyanyi. Jadi kau bisa bekerja disana paruh waktu setelah jam kuliah." Ujar Endra menjelaskan.


"Cafe??? Tidak akan ada minuman beralkohol di sana kan? Adam akan membunuhku jika dia melihatku berada di dalam sebuah bar, lagi..." Claudia mengusap dadanya untuk membuat dirinya agar merasa tenang.


************


Sore harinya saat Claudia tiba di rumah setelah pulang dari kampus, dia mendapat sebuah pesan singkat dari suaminya.


Adam: 'Hei sayang, kuharap kau sudah kembali dari kampus. Aku minta maaf karena aku harus terbang ke luar daerah untuk mengurus suatu pekerjaan yang penting. Mungkin untuk dua atau tiga hari. Maaf karena tidak berpamitan. Aku harap kau akan selalu menjadi gadis yang baik dan selalu fokus pada pelajaran mu sayang. Ujian akan berlangsung minggu depan. Aku tidak bisa berjanji, tapi aku akan berusaha untuk kembali sebelum ujian mu dimulai. Jangan lupa makan tepat waktu dan ingat jangan terlalu dekat dengan orang lain saat aku tidak ada disisi mu. Aku mencintaimu sayang. Bye...'


Claudia menatap pesan itu beberapa saat. Dia tidak menyadari sejak kapan dirinya sudah mulai menangis dengan bibirnya bawahnya yang gemetar dan hidungnya yang memerah.


Dia menghabiskan waktu semalaman untuk menangis di bantalnya. Dia terus mengirim pesan pada Adam tapi tidak pernah ada balasan. Adam tidak pernah tidak membalas pesannya atau tidak menghiraukan panggilannya.


***************


3 hari kemudian....


Kali ini Claudia benar-benar menjadi gadis yang baik dia tidak pernah meninggalkan mata kuliahnya, selalu belajar setiap malam. Tapi satu-satunya hal lainnya yang dia lakukan adalah, dia mulai menyanyi di cafe sepanjang sore. Awalnya dia hanya setuju untuk menyanyi 3 jam saja. Tapi karena Adam tidak ada disana untuk mengecek jadwal dan rutinitas belajarnya, jadi Claudia menggunakan kesempatan itu untuk menyanyi di cafe hingga ia pulang ke rumah jam 09.00 lalu makan malam. Kemudian mengirim pesan pada Adam meski dia tahu bahwa Adam tidak bisa membalasnya. Setelah itu dia melanjutkan untuk belajar.


Hari ini adalah hari keempat, Claudia pulang ke rumah 09.00 seperti biasa yang ia lakukan selama tiga hari belakangan.

__ADS_1


Claudia membuka pintu lalu masuk ke dalam. Saat dia mendapati ruangan yang begitu gelap karena lampu yang tidak menyala, dia merasakan seseorang memeganginya dari belakang, dia pun berbalik.


Orang itu memeluknya dari belakang. Namun Claudia dengan cepat merasakan bahwa pelukan itu sangat familiar. Segera setelah itu dia pun mengetahui bahwa itu adalah suaminya.


Sebenarnya Claudia hampir saja berteriak tapi Adam dengan cepat membalik tubuhnya dan mencium keningnya.


"Aku merasa bisa hidup sekarang." Ucap Adam dengan suara yang lemah.


Meskipun suasananya begitu gelap Claudia dapat merasakan sesuatu yang tidak benar sedang terjadi dia mencium sesuatu yang baunya amis.


Matanya membelalak saat menyadari bahwa itu adalah bau darah.


Claudia mulai panik, dia lalu dengan cepat menghidupkan lampu dan mendapati bahwa suaminya berdarah di bagian lengannya dengan tersenyum memandang kearah dirinya. Namun wajahnya terlihat begitu pucat.


"Sayang, apa yang terjadi?" Tanya Claudia begitu panik.


Adam berkeringat dan terlihat begitu kesakitan. Namun ia masih bisa memperlihatkan senyum di wajahnya.


"Tidak ada apa-apa sayang. Tolong kemari lah lebih dulu. Aku membutuhkanmu. Tolong biarkan aku untuk menyentuh mu beberapa saat." Ucap Adam dengan suara yang terdengar seperti putus asa.


Claudia tidak bisa membantu apapun dan dia hanya bisa menangis.


"Diam lah kau pria tua mesum. Pertama berita aku apa yang terjadi padamu. Kau dari mana saja? Kau seharusnya sedang bepergian untuk bisnis."


Claudia sama sekali tidak mengerti bisnis macam apa yang sedang dilakukan oleh suaminya itu. Bahkan dirinya sendiri tidak bisa menghubungi Adam walaupun hanya sekali saja dan sekarang Adam malah berakhir dengan kondisi yang berlumuran darah seperti ini.


"Aku tertembak sayang. Ini adalah suatu masalah yang rahasia. Jangan panik. Tolong bawa saja aku ke kamar kita dan segera telepon dokter." Ucap Adam dengan suara yang terdengar sangat jelas kesakitan.


"Tertembak!! Ya Tuhan, kita seharusnya lebih dulu menelepon polisi. Tidak, pertama-tama biarkan aku membawamu pergi ke rumah sakit lebih dulu." Claudia mulai panik lagi, dia lalu berusaha menarik tubuh Adam untuk membawanya keluar melewati pintu.


"Tidak, tidak, sayang, ssshhh... Aku sudah memberitahumu bawah ini adalah hal yang rahasia. Aku akan memberitahukan mu semuanya. Untuk sekarang segera telpon dokter dan bawa aku ke kamar saja." Ucap Adam.


"Tapi sayang kau membutuhkan operasi. Apa yang bisa dokter lakukan di rumah ini. Kau membutuhkan pengobatan di rumah sakit. Ku mohon." Ucap Claudia merengek berusaha untuk membujuk Adam tapi gagal.


"Sayang, kau jangan khawatir. Kau telepon saja dokter dari rumah sakit kita. Maka mereka akan mengirim dokter kemari dengan membawa segala peralatan mereka dan operasi akan berlangsung di rumah ini, oke. Kau hanya perlu menelepon mereka sekarang." Pinta Adam.


Claudia berhasil membawa Adam dengan aman menuju kamar. Dia tidak tahu apa yang dimaksud Adam dengan 'kamar kita'. Jadi dia membawa Adam masuk kedalam kamarnya sendiri, karena selama ini Adam memang lebih suka berada di kamar milik Claudia. Dengan hati-hati Claudia merebahkan tubuh Adam ke atas tempat tidur kemudian dia mulai menelepon pihak rumah sakit.


Setelah panggilan telepon selesai, Claudia duduk di samping Adam dan menatap luka yang ada pada tubuh Adam, dan Adam menatap dirinya. Claudia yang kondisinya baik-baik saja malam menangis, justru Adam yang mengalami luka tembak malah tersenyum.


"Sayang, bisakah kau kemari. Peluk aku sampai dokter datang nanti. Aku ingin kau berada di sisiku. Aku ingin menyentuh mu. Aku sangat merindukanmu, seluruh tubuhku sangat merindukan dirimu." Pinta Adam.


Claudia hanya menatap Adam.


"Kau bohong padaku. Kau tidak bepergian untuk bisnis. Jangan bilang ini semua berhubungan dengan Megan."


Adam menghela napas seraya menganggukkan kepalanya.


"Iya, itu semua adalah musuh dari papanya. Aku sudah memberitahukan padamu sebelumnya. Aku dan Will memang berada dalam misi ini, tapi kumohon jangan bahasa ini dulu. Kemari lah sayang, ku mohon."


Adam dapat merasakan bahwa Claudia tampak kesal dengan wajahnya yang terlihat sedikit berubah murung.


Claudia mendekat lalu memeluk suaminya dan merebahkan kepalanya di dada sang suami.


"Kau ingin aku memelukmu. Maka baiklah, karena saat dokter tiba nanti dan kau selesai dengan operasi mu. Aku tidak akan membiarkan mu menyentuhku karena aku marah padamu. Kau sudah berbohong padaku." Ucap Claudia.


Adam dapat merasakan keseriusan dari kata-kata yang diucapkan Claudia. Dia tahu bahwa Claudia tidak bercanda atau berbohong dan hal itu membuatnya merasa terluka.


Adam menghela nafas dan dia memeluk Claudia agar istrinya itu bisa lebih dekat dengannya dan membuat momen kedekatan mereka itu terasa lebih lama.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2