90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
Tentang Keluarga Setyawan (Bab 46)


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Andreas akhirnya berhenti di depan rumah tepat pukul tujuh malam. Aku lalu meminta Andreas untuk mampir. Awalnya ku pikir Andreas menolak, ternyata ia dengan senang hati turun dari dalam mobil kemudian membawa segala jenis oleh-oleh yang diberikan keluarganya dari kampung tadi masuk ke dalam rumah.


"Kau mandilah dulu. Aku akan memasak makan malam untukmu." Ucap Andreas.


"Tidak.. tidak. Seharusnya aku yang menyiapkan makanan." Tolak ku.


"Velicia sayang. Sebentar lagi kau akan jadi isteriku. Jadi, terbiasa lah dengan apa yang aku lakukan sekarang ini." Balas Andreas


Aku tersenyum, lalu berjalan naik ke lantai atas untuk membersihkan tubuh ku yang lengket karena keringat.


Berselang 1 jam kemudian, aku keluar dari dalam kamar setelah selesai mandi dan berganti pakaian. Aku mengenakan piyama tidur berwarna biru tua. Untuk pertama kalinya aku tampil di depan seorang pria tanpa make up. Dulu, saat bersama Arnold, aku tak pernah menampakkan wajah polos ku. Wajahku selalu tertutupi make up. Dan entah kenapa di depan Andreas, aku merasa nyaman menjadi diriku sendiri.


Aku berjalan masuk ke ruang makan, dan mendapati meja yang sudah penuh dengan makanan.


"Apa kau yang memasak semua ini?" Tanyaku pada Andreas yang tengah membawa air minum dari dapur.


Andreas berdiri mematung, ia menatapku tanpa berkedip.


"Ada apa?" Tanyaku menjadi salah tingkah.


"Kau terlihat cantik." Balasnya.


Pipiku terasa memanas. Andreas kemudian berjalan mendekatiku dan mempersilahkan aku duduk.


"Duduklah. Aku sudah membuatkan mu papeda, gohu ikan, dan colo-colo." Ucap Andreas.


Aku melihat diatas meja ternyata semua yang dimasak Andreas adalah makanan khas Ternate yang memang merupakan makanan favorit ku semasa kecil saat Mama masih ada.


"Cobalah." Ucap Andreas.


Aku menatap makanan yang bernama gohu ikan. Gohu ikan merupakan sashimi dengan kearifan lokal. Kuliner ini merupakan sajian daging ikan mentah yang langsung dimakan. Daging ikan yang dipakai bisa dari tuna atau cakalang.


Dulu, Mama sering membuatkannya untukku. Itulah kenapa aku menyukai sushi sejak kepergian Mama. Kali ini, untuk pertama kalinya sejak kepergian Mama aku bisa makan gohu dan papeda yang begitu enak.


Aku memakannya dengan linangan air mata.


"Kenapa menangis?" Tanya Andreas.


"Terima kasih. Makanan ini sangat lezat, benar-benar mengingatkan ku pada Mama." Jawabku.

__ADS_1


Andreas tersenyum seraya mengusap kepalaku lembut.


"Bisakah kau mengajariku memasak gohu?"


"Tentu saja." Balas Andreas. "Pertama, daging ikan dipotong dadu. Lalu, diberi perasan jeruk nipis, dicampur tumis cabai rawit dan bawang merah serta potongan kemangi dan kenari. Untuk sentuhan terakhir, diberi siraman minyak panas baru dihidangkan." Ujar Andreas.


Aku mengangguk sambil terus menikmati papeda dan gohu ikan buatannya.


Gohu ikan ini memiliki rasa pedas, manis, gurih, dan asam. Aku kemudian beralih pada makanan yang bernama colo-colo. Colo-colo merupakan sambal mentah yang juga sering disebut sambal dabu-dabu.


Andreas mengatakan untuk membuat colo-colo perlu menyiapkan bawang merah, jeruk nipis, garam, cabai rawit, tomat, dan gula.


"Potong cabai rawit dan bawang merah menjadi tipis dan peras jeruk nipis. Campur rata semua bahan menjadi satu." Ujar Andreas.


Rasa pedas, manis, dan segar aku rasakan dalam sambal ini.


Setelah selesai menikmati makan malam yang di masak oleh Andreas, kami berdua duduk di ruang keluarga untuk mengobrol.


"Apa aku boleh menanyakan sesuatu?" Tanyaku.


"Tentu. Tanyakan saja. Apapun itu aku akan menjawabnya." Jawab Andreas.


Aku penasaran, sebenarnya apa yang terjadi dalam keluarga Setyawan. Kenapa Tuan Besar Setyawan tinggal di kota sementara sang istri tinggal di sebuah perkampungan.


Andreas tampak menghela nafas panjang lalu menyesap kopi yang aku buatkan untuknya dia atas meja.


"Mama dan Papa sudah bercerai sejak aku berusia 11 tahun." Ucap Andreas yang membuatku kaget. "Mereka memutuskan bercerai karena Mama tak bisa bahagia dengan pernikahannya. Kau pasti tahu bagaimana karakter Papa. Papa itu pria yang keras, selalu lebih mementingkan pekerjaannya dibanding keluarganya. Papa jarang pulang ke rumah, jika pulang pun akan marah-marah pada Mama. Aku selalu mengingat, jika Papa sedang banyak pikiran, ia akan melampiaskannya pada Mama dengan melakukan KDRT pada Mama." Raut wajah Andreas berubah.


"Angelica Jovanka bukan merupakan anak dari Papa. Melainkan anak dari Mama dengan suaminya yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.


"A-apa?" Aku terkejut mendengar ucapan Andreas. "Bukankah Angelica se usia denganku? Jika Tuan Besar Setyawan dan Mama bercerai saat kau berusia 11 tahun. Bukankah seharusnya Angelica berusia 2 atau 3 tahun?" Ucapku.


Aku sebenarnya malu menanyakan hal itu kepada Andreas. Tapi, aku begitu penasaran ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga mereka.


"Sebenarnya Mama dan Papa sudah bercerai saat aku masih berusia sekitar 6 tahun. Mereka sudah pisah rumah tapi Papa tetap tidak mau menandatangani surat perceraian mereka. Papa tak ingin Mama bahagia bersama orang lain. Hingga akhirnya Mama memutuskan untuk menikah secara siri. Dan lahirlah Angelica. Bertahun-tahun Mama membesarkan Angelica dengan statusnya yang masih menjadi isteri Papa secara hukum negara,hingga akhirnya Mama bisa terbebas dari ikatan dengan papa 3 tahun kemudian.


Aku dan Arnold diurus oleh Papa di kota dan tidak dibiarkan bertemu dengan Mama. Papa mendidik kami dengan keras. Papa ingin kami seperti dirinya yang gila kerja. Namun, aku memilih jalan lain. Seperti yang kau tahu aku menolak untuk melanjutkan usahanya dan memilih untuk pergi ke luar negeri untuk melanjutkan sekolah musik ku. Sementara Arnold yang diberi kepercayaan untuk melanjutkan bisnisnya. Tapi Arnold gagal dan perusahaan hampir saja bangkrut. Lalu Papa berencana untuk membuat dirimu menjadi istri Arnold. Papa tahu tentang kedekatan kita jadi Papa memanfaatkan situasi itu untukmu menikah bersama Arnold." Ujar Andreas.


'Licik. Tuan Besar Andreas memang sangat licik.'

__ADS_1


Menurut cerita Andreas, Mama nya sejak awal pernikahan selalu mendapat kekerasan dari Tuan Besar Setyawan. Namun, Mama nya masih bertahan karena mengingat Andreas dan Arnold yang masih sangat kecil. Tapi pada akhirnya Mama Andreas mengalah, ia tak sanggup lagi menghadapi sikap Tuan Besar Setyawan dan memilih bercerai.


Tuan Besar Setyawan setuju untuk bercerai tapi, dengan catatan Mama Andreas tak boleh membawa anak-anaknya dan juga tak mendapat sepeser pun uang.


Awalnya aku pikir, Mama Andreas egois karena harus meninggalkan anak-anaknya. Namun, saat mendengarkan ucapan Andreas aku jadi mengerti.


"Aku tidak pernah menyalahkan Mama karena meninggalkan aku bersama Papa. Karena, aku juga kasihan pada Mama. Bagaimana bisa Mama bertahan sementara ia tak bisa bahagia. Mama berusaha membuat aku dan Arnold bahagia padahal dirinya sendiri tak bahagia. Dan aku menyadari, kita tak akan pernah membuat orang yang kita sayangi bahagia jika kita sendiri tidak bahagia." Ucap Andreas.


"Apa kau bahagia bersamaku?" Tanyaku.


"Aku sangat bahagia. Untuk itulah aku berusaha membuatmu bahagia agar aku menjadi orang yang lebih bahagia lagi. Aku mencintaimu..." Ucap Andreas.


Aku tersenyum dan memeluknya dengan erat.


Sesaat kami berdua terdiam, membiarkan debaran jantung kami menyatu.


"Sudah larut. Aku harus pulang. Tak baik bagi pasangan belum menikah berduaan hingga larut malam. Tunggulah sebentar. Kita akan segera meresmikan semuanya dan tidak akan ada kata berpisah untuk kita berdua." Ucap Andreas seraya mencium keningku.


Aku tersenyum penuh kebahagiaan dan kembali memeluknya lagi seolah tak ingin melepaskannya.


"Hati-hatilah." Ucapku saat mengantarnya ke depan rumah.


"Masuklah dulu, dan kunci pintu dengan rapat. Baru aku akan merasa tenang." Ucapnya lagi.


Aku terdiam, seolah enggan beranjak dari tempatku berdiri. Andreas tersenyum dan berjalan mendekatiku. Andreas lalu memegang kedua pipiku dan menengadahkan wajahku ke arah wajahnya. Noah lalu mencium bibirku dengan lembut.


"Aku suka melihat wajahmu yang tanpa make up. Kau sangat cantik." Ucapnya lagi kemudian kembali mencium ku.


Aku mengalungkan tanganku pada lehernya dan membalas ciumannya. Kami berciuman begitu lama hingga akhirnya Andreas berhenti dan menunduk.


"Masuklah, atau aku tidak akan bisa menahan diriku lagi. Aku mencintaimu." Ucapnya lagi seraya menggandeng tanganku ke arah pintu.


Aku masuk ke dalam rumah, tapi kembali keluar dan mencium pipinya lalu masuk kembali dan menutup pintu lalu menguncinya rapat-rapat.


Aku menyingkap tirai jendela dan melihat Andreas tengah memegang pipinya, lalu mengusapnya pelan dengan punggung tangannya. Andreas lalu mencium punggung tangannya itu.


'Ya Tuhan, jangan biarkan kebahagiaan ini kembali hilang.'


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2