90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
52. Bertemu Mantan Will


__ADS_3

Di dalam mobil...


Claudia sudah terdiam setidaknya selama 30 menit. Adam sejak awal tidak memaksanya untuk bicara, tapi ketika sudah lewat dari 30 menit, Adam mulai bicara.


"Sayang, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud memposting itu semua untuk menciptakan masalah apa pun untukmu. Percaya padaku sayang, aku tahu kau akan melalui masalah yang sulit karena popularitas yang aku miliki. Aku sangat....."


Claudia menghentikan bicara Adam dengan ciuman yang dilakukannya secara tiba-tiba. Adam terkejut tapi dia tetap membalas ciuman itu. Claudia langsung naik ke pangkuan Adam, lalu memberikan ciuman kepada Adam lebih dalam lagi. Adam sangat menyukai itu, dan setelah beberapa menit Claudia akhirnya melepaskan ciuman itu dan memeluk suaminya mendekat ke tubuhnya.


Adam tidak mengatakan apapun. Dia tetap di posisi seperti itu dengan memeluk istrinya dan menunggu sampai istrinya mengatakan apapun.


"Diam lah sayang. Kenapa kau selalu menganggap semua kesalahan itu sebagai kesalahan dirimu sendiri? Kau tidak melakukan apapun yang salah. Bukan kau yang membuat masalah untukku, faktanya kau selalu menjagaku. Jadi diam lah, aku sangat bahagia dengan cara yang selalu kau lakukan untuk menjaga diriku sayang. Berhentilah mengucapkan kata maaf untuk segalanya, oke." Ucap Claudia dengan suara yang terdengar manis dan penuh cinta. "Dan aku sangat mencintaimu." Ucap Claudia lagi seraya memberikan ciuman di pipi Adam.


Adam malah berbalik menciumnya dengan berkali-kali.


"Aarrrgghhh... Kenapa kau selalu memberikanku ciuman yang basah, dasar bodoh." Ucap Claudia kesal dengan mengusap wajahnya menggunakan lengan sweater nya.


Adam tertawa melihat hal itu dan saat Claudia selesai mengusap wajahnya, Adam kembali mencoba untuk mencium wajah Claudia. Tapi Claudia dengan cepat memukuli nya.


Saat tiba di rumah, Adam dengan cepat bersiap untuk pergi ke kantor. Mereka duduk di ruang makan untuk makan siang bersama. Claudia terlihat tengah mengecek ponselnya untuk melihat berita di media sosial tentang apa yang tengah mereka bicarakan.


Adam sudah memperhatikan Claudia sejak tadi. Dia pun lalu berkata "makan",


Claudia melirik sekilas ke arahnya dan mencebik kesal sebelum akhirnya fokus pada makanannya sendiri.


"Sayang...." Ucap Claudia dengan suara yang terdengar begitu manja dan mengerlingkan matanya.


Adam tahu maksud dari nada suara Claudia itu. Dia menghela napas lalu menatap kearah istrinya yang menggemaskan itu.


" Iya, kau boleh pergi bersenang-senang bersama teman-temanmu. Tapi ingat untuk pulang ke rumah tepat waktu." Ucap Adam.


Mulut Claudia menganga.


"Bagaimana kau bisa tahu bahwa aku akan mengatakan hal itu?" Tanya Claudia penasaran.


"Karena aku adalah Adam, dan kau adalah Claudia ku." Balas Adam yang membuat Claudia merona malu.


Akhirnya setelah selesai dengan makan siang mereka, Adam berdiri dari kursinya dan mulai menyiapkan segala dokumen dan file yang akan dia bawa ke kantor.


"Sayang, aku akan pergi ke kantor. Aku akan menghadiri meeting yang sangat penting sekitar jam 05.00 sampai jam 07.00 sore nanti. Jadi, aku tidak bisa menerima panggilan mu selama meeting itu. Jika kau perlu bicara denganku saat itu, kau tidak perlu takut dan khawatir. Telepon saja Erik oke. Dan yah, jika kau ingin pergi dengan teman-temanmu, ingatlah untuk membelikan pakaian untuk dirimu sendiri. Pakaian lamamu yang aku belikan itu sudah tidak modis lagi sekarang. Ini sudah 4 bulan, hmmmm? Oh ya, belikan juga sesuatu untukku. Kau punya selera yang baik untuk memilih pakaian dan warna yang tepat untuk ku." Ucap Adam dan hendak keluar.


Claudia memutar mata malas melihat suaminya sebelum berlari menghalangi langkah suaminya, dan membuat suaminya tampak bingung.


"Ada apa sayang?" Tanya Adam, "Apa kau ingin mengatakan sesuatu?"


"Tentu saja. Kenapa kau begitu terburu-buru, pria tua. Setidaknya gunakan dasi mu dengan benar. Kau selalu memegang nya di tanganmu." Ucap Claudia seraya melihat ke arah dasi yang ada di tangan Adam.


"Oh ini...." Adam tersenyum sedikit malu, melihat kearah dasinya. "Sayang, aku selalu keluar rumah dengan memegang dasi di tanganku. Kenapa memangnya?" Tanya Adam.


Claudia sekarang menyadari bahwa apa yang dikatakan Adam itu adalah benar. Dia selalu melihat Adam tidak pernah menggunakan dasinya ketika pergi ke kantor. Adam selalu membawa dasi itu di tangannya, dan Claudia merasa sangat penasaran akan hal itu.


"Kenapa? Apakah kau tidak bisa menggunakan dasi itu sendiri?" Tanya Claudia dengan cepat.

__ADS_1


"Tidak sayang, aku sebenarnya tidak bisa menggunakan dasi ku sendiri." Balas Adam dengan menggaruk kepalanya karena malu.


Claudia terlihat terkejut dengan apa yang dikatakan Adam.


"Lalu siapa yang mengenakannya untuk mu?" Tanya Claudia yang terlihat begitu penasaran.


"Mmmmm, biasanya Hilda yang melakukannya. Sesekali Samuel juga, bahkan sesekali Jack, Erik atau Jhon ataupun Nila." Ucap Adam dengan santai melihat kearah istrinya.


Claudia menarik kerah baju Adam untuk mendekat ke arahnya dengan tatapan yang begitu marah. Dan matanya terlihat marah seperti memancarkan api.


"Samuel tidak masalah, Jhon, Nila mereka juga. Erik juga, semua orang itu tidak masalah tapi Hilda? Huh? Apakah kau sangat menyukai itu, saat dia mendekat kearah mu untuk memasangkan dasi mu." Ucap Claudia terlihat kesal.


Dalam hati Adam ingin tertawa dengan keras. Tapi dia juga takut, jadi dia tetap diam. Seolah seperti dia ketahuan sudah melakukan suatu kejahatan.


Claudia menarik dasi itu dari tangan Adam dan mulai memasangkan dasi itu ke leher Adam dengan menariknya sangat keras. Pada saat itu, Adam tidak takut meskipun dia mulai terlihat kesusahan untuk bernapas setiap menitnya.


"Tidak ada yang boleh menyentuh dasi mu mulai hari ini. Aku yang akan membantumu mempersiapkan semua pakaian yang kau gunakan. Aku akan memasangkan dasi untukmu. Aku akan mengambil jas dan dasi mu ketika kau pulang ke rumah. Aku akan menjadi satu-satunya orang yang akan menyiapkan segala keperluan mu. Kau mengerti itu? Aku tidak peduli jika mereka berteman denganmu atau kau memiliki banyak teman wanita lainnya. Tapi kau sudah berjanji padaku bahwa kau akan pulang ke rumah dan kembali padaku pada malam harinya. Aku akan menjadi satu-satunya istrimu, tidak ada orang yang bisa merubah hal itu. Daku akan menjadi satu-satunya orang yang akan mempersiapkan segala keperluan mu. Tidak satu orang pun yang boleh melakukan hal itu selain aku." Ucap Claudia dengan terlihat marah dan sedikit takut.


Adam tersenyum kecil sebelum menarik Claudia kedalam pelukannya.


"Dan, apakah kau tidak akan keberatan jika mereka mencium aku atau mencintai aku? Tidak, maksudku kau bilang padaku bahwa kau akan baik-baik saja." Adam menggoda Claudia lagi, dia ingin melihat kecemburuan di mata Claudia lagi.


Claudia melonggarkan dasi Adam dan dia langsung menjewer telinga Adam.


"ADAM WIJAYA.... Aku akan membunuhmu. Apa yang menjadi milikku adalah milikku. Kau mengerti? Kau harus mencatat itu di dalam kepala mu." Teriak Claudia pada Adam.


Adam tertawa terbahak-bahak, mencium istrinya yang menggemaskan dan kekanak-kanakan itu. Adam merasa begitu bahagia. Dia lalu mencium istrinya untuk satu kali lagi sebelum dia akhirnya keluar rumah.


Di sebuah mall, Claudia tidak membeli apapun seperti yang dikatakan Adam. Dia hanya pergi bersenang-senang dengan teman-temannya.


Claudia tengah diejek menjadi bulan-bulan dari teman-temannya saat ini. Sementara supir tengah menunggu dirinya saat dia tiba di tempat parkir. Para sahabatnya, melambaikan tangannya kepada dirinya saat mereka masing-masing pulang. Claudia lalu meminta kepada supir untuk mengantar dirinya ke sebuah sungai. Dia ingin menikmati pemandangan matahari tenggelam di sana. Perjalanannya akan sangat jauh, tapi itu tidak masalah bagi Claudia. Dia masih punya banyak waktu sekarang.


Saat Claudia tengah kembali ke mobil setelah selesai menghabiskan waktunya di sungai, dia berjalan menurun di jalan setapak. Claudia sangat menyukai arsitektur dari rumah yang ada disana. Rumah kecil yang terlihat manis, dengan balkon yang memiliki banyak tanaman dan juga mempunyai taman kecil di depan rumah mereka. Rumah itu terlihat begitu manis dan menggemaskan.


Tiba-tiba Claudia melihat seekor kucing berlari di jalanan mengejar tikus. Claudia tertawa pelan saat melihat adegan itu pertama kali, tapi dia kemudian mendengarkan suara seseorang berteriak dari arah belakang.


"Oh tidak Bob, hentikan. Tunggu dulu, kumohon aku tidak bisa berlari denganmu. Kau akan terluka sayang."


Wanita itu tidak berbalik atau berhenti, tapi malah ikut berlari mengejar kucing itu.


(Wanita itu mengejar kucing dan kucing mengejar tikus.)


Claudia dengan cepat ikut berlari lalu menangkap kucing itu dan menggendongnya. Kucing itu terus mengeong dan memberontak saat pertama kali ditangkap oleh Claudia. Tapi kemudian terdiam saat melihat senyuman dari Claudia. Claudia lalu hendak mengembalikan kucing itu kepada pemiliknya.


Wanita itu berlari dengan cepat ke arah Claudia dan terlihat begitu kelelahan. Dia langsung melihat kearah Claudia yang tersenyum daripada melihat ke arah kucing yang sudah dikejar nya sejak tadi.


"Oh jangan khawatir, aku sudah menangkapnya tepat waktu. Ini cepat ambil dia. Dia sangat menggemaskan, bukan begitu?" Ucap Claudia pada wanita itu.


Wanita itu terlihat sangat cantik dan anggun juga lebih tinggi dari Claudia. Dia pun tersenyum kearah Claudia. Tapi senyuman itu terlihat sangat berbeda, membuat Claudia jadi penasaran. Claudia lalu mengerutkan alisnya dengan melihat kearah wanita itu.


"Terima kasih banyak Nyonya Adam."

__ADS_1


Claudia berdiri mematung di tempatnya.


'Bagaimana bisa orang asing ini menyebutkan aku sebagai Nyonya Adam? Tidak ada orang lain yang tahu bahwa aku adalah Nyonya Adam.' pikir Claudia dan melihat kearah wanita itu dengan mata yang penuh selidik, melihat apa yang akan terjadi selanjutnya atau akan ada penjelasan yang akan diucapkan oleh wanita itu.


Wanita itu hanya melihat kearah dirinya.


"Aku tahu apa yang kau pikirkan. Aku sudah mencoba untuk menemukanmu selama ini. Aku selalu mencari mu, aku ingin secara pribadi bertemu denganmu. Tapi suamimu terlihat begitu protektif padamu. Dia bahkan tidak bisa meninggalkanmu sendirian, meski hanya sedetik saja. Dia itu terlalu berlebihan."


Claudia menelan ludah. Dia sudah berjanji pada Adam untuk tidak terlibat dengan masalah yang berbahaya. Tapi tetap saja, kali ini dia berdiri di jalanan yang sepi dengan seseorang yang asing dan terlihat aneh. Mungkin saja, karena orang dihadapannya ini sama sekali tidak takut berbicara buruk tentang suaminya juga.


Merasakan tatapan Claudia yang aneh, wanita itu lalu memperkenalkan dirinya.


"Aku Kalina Soraya, mantan kekasih William, dan kau adalah Claudia Wijaya bukan? Istri dari Adam Wijaya."


Sekarang Claudia bisa menghela napas dengan lega tapi dia juga begitu penasaran.


Sebelum dia bisa mengatakan sesuatu, wanita itu sudah lebih dulu mengajaknya pergi.


"Ayo ikut denganku dan pergi ke rumahku. Aku ingin menawarkan secangkir teh atau kopi padamu. Ayolah, jangan khawatir. Adam tidak akan marah, jika kau terlambat pulang karena mengunjungi aku." Ucap wanita itu.


Claudia sangat terkejut sekarang. Wanita dihadapannya ini sangat percaya diri memanggil suaminya dengan menyebutkan nama panggilannya. Wanita dihadapan Claudia ini sangat hangat dan juga ramah.


Saat mereka tiba di sebuah rumah, Kalina mempersilahkan Claudia untuk duduk di sofa dan pergi ke dapur untuk mengambilkan segelas air untuknya.


Claudia terus melihat ke sekeliling rumah dengan matanya yang tampak membesar itu. Rumah itu kecil, tapi cukup nyaman untuk ditempati satu orang. Rumah itu sangat menyenangkan, indah dan nyaman sekali.


Kalina kembali dengan membawa segelas air. Claudia memang sangat membutuhkan air setelah dia berlari mengejar kucing dan terkejut saat bertemu dengan mantan kekasih Will.


"Claudia, kau sangat hebat. Percaya padaku, aku selalu mencoba untuk bertemu denganmu sejak malam di pesta itu. Kau melakukan sesuatu yang tidak bisa orang lain lakukan."


Claudia tahu apa yang tengah dibicarakan oleh Kalina dan tentang siapa itu. Dia lalu menundukkan kepalanya karena sedikit malu.


"Kau membuat putri mereka menyadari, di mana tempat dirinya sebenarnya berada. Aku sangat bahagia untuk hari ini, bahkan Adam sendiri juga membuat gadis itu mengerti dimana tempatnya di hati Adam di depan publik. Adam adalah suami yang sempurna. Aku sangat menyukainya dari hatiku yang paling dalam. Aku senang kau hadir dalam kehidupan keempat pria itu.


Kau datang ke dalam hidup mereka semua, dan membuat mereka menyadari apa yang menjadi sebuah kebenaran. Tidak, sebenarnya mereka tahu apa kebenarannya. Tapi tidak pernah berani untuk protes hanya karena mereka mempunyai ikatan dengan gadis itu dengan situasi yang salah. Sekarang seseorang yang sangat nakal dan berani yang mempunyai sifat yang begitu berkuasa dan bisa melakukan semua ini. Membuat mereka bisa berdiri untuk diri mereka sendiri sama seperti yang dilakukan Adam untukmu dan untuk dirinya sendiri. Aku bangga padamu kelinci kecil dan aku berterima kasih kepadamu." Ucap Kalina.


Claudia merasa sedih pada wanita di hadapannya. Dia dapat dengan jelas mengerti apa yang sudah dilalui Kalina saat menjalani hubungan bersama Will. Claudia sendiri bahkan tidak bisa tahan hanya dalam waktu 1 bulan menghadapi gadis itu. Dia pun bertengkar dengan Adam beberapa kali dalam 1 minggu. Dia berpikir bagaimana Jolie dan Nina bisa mentoleransi kelakuan Megan selama bertahun-tahun dan bagaimana Kalina yang pasti harus mentoleransi gadis itu selama bertahun-tahun.


"Tapi aku harus bilang bahwa dia masih mencintaimu." Claudia menempatkan dirinya sendiri seperti Jolie dan Nina sama seperti mereka yang selalu menasehati dirinya malam itu.


"Aku tahu itu. Dan kita semua tahu bukankah begitu?" Ucap Kalina.


"Jika kau memang tahu, lalu kenapa?"


Claudia berusaha mengatakan sesuatu, tapi kemudian menyadari bahwa dirinya sendiri juga sering bertengkar dengan Adam meski mengetahui begitu besarnya cinta Adam pada dirinya.


"Karena aku tidak bisa menghabiskan seluruh hidupku di dalam sebuah lubang ketidakpercayaan diri. Aku tahu dia sangat mencintai aku dan aku juga masih mencintai dia. Tapi dia juga menyayangi gadis itu. Dia tidak akan pernah menunjukkan pada gadis itu dimana posisi dirinya yang sebenarnya. Dia selalu memberikan putri itu perhatian dan selalu menjadikan gadis itu prioritas utamanya yang mana seharusnya aku yang menerima semua itu.


Iya, aku memang sangat penting untuk dirinya. Aku tahu mereka semua sangat setia dan jujur kepada kita. Tapi aku tidak bisa tahan pada fakta bahwa pria yang aku cintai takut kepada seorang gadis kecil hingga dia tidak bisa melakukan apapun bahkan untuk melawan gadis itu demi kebahagiaannya. Dan memilih untuk membuat gadis itu merasa nyaman dan bahagia. Kau pasti tahu bahwa sering kali mereka tidak merasa nyaman dengan gadis itu. Tapi mereka tetap tidak mengatakan apapun. Mereka tidak akan pernah berdiri untuk diri mereka sendiri. Aku tidak bisa hidup dengan situasi yang seperti itu.


Tapi aku bangga dan bahagia bahwa Adam sudah menunjukkan dirinya yang berbeda setelah menikah. Dia tidak hanya membela mu. Tapi juga bicara untuk dirinya sendiri. Adam meninggalkan gadis itu, menunggu sendirian di sana hanya untuk bertemu denganmu. Dan menunjukkan kehadiranmu dan betapa pentingnya dirimu secara jelas kepada seluruh publik. Dia membuktikan bahwa kau lebih penting daripada gadis itu. Tapi Will tidak pernah bisa melakukan hal seperti itu."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2