
Setelah selesai mandi, Claudia turun ke lantai bawah dan seluruh rumah tampak kosong. Para pelayan tengah sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Claudia pergi ke ruang makan, tapi tidak ada orang di sana untuk menawarkan sarapan padanya.
Claudia bergegas pergi ke dapur. Melihat dirinya datang, seorang pelayan langsung keluar dari arah dapur.
"Iya Nona, apa yang anda butuhkan?" Tanya pelayan itu.
"Uummmm sarapan...??" Ucap Claudia ragu-ragu.
Saat di rumahnya sendiri, Claudia tidak pernah meminta makanan apapun pada Jhon dan Nila. Mereka langsung berlari di belakangnya dengan membawa makanan dan Adam juga selalu memberikan penekanan kepada Claudia jika dia tidak makan. Jadi Claudia tidak terbiasa untuk bertanya tentang makanan.
"Sarapan, ya tentu saja. Apa yang ingin anda makan?" Tanya pelayan.
Alis Claudia tampak mengkerut karena kebingungan.
"Apa maksudmu bertanya seperti itu? Bukan kah kalian sudah membuat sesuatu untuk sarapan?" Tanya Claudia.
"Ehh, sebenarnya tidak ada orang di rumah ini yang sarapan, jadi... Emmmm.. tapi jangan khawatir. Anda katakan saja apa yang anda inginkan. Kami akan membuatnya dengan cepat." Ucap pelayan itu lagi.
Dalam hati Claudia kesal karena ucapan para pelayan itu. Dia terus berpikir beberapa saat, sebelum kembali naik ke lantai atas.
Saat tiba di lantai di mana kamarnya dan kamar Sean berada, Claudia menendang pintu kamar Sean dengan keras dan penuh emosi.
Claudia terus menendang pintu itu lagi dan lagi. Suaranya cukup untuk membangunkan seseorang dari tidur tentangnya. Claudia hampir menendang untuk 4 kalinya, ketika pintu itu akhirnya terbuka.
Sean dengan wajah yang masih mengantuk berteriak di depan pintu.
"Sialan, siapa yang...." suara Sean terdengar begitu marah menatap sepatu di depan wajahnya yang pertama kali dia lihat di pagi hari.
Claudia berdiri di depan pintu dengan pose kaki yang masih menendang. Postur tubuhnya sangat sempurna saat menendang bahkan posisi itu bukan hal mudah untuk dilakukan. Sean adalah pria yang sangat tinggi. Dengan kaki yang berada di depan wajahnya adalah sesuatu yang hanya seseorang kick bokser terlatih atau orang yang melakukan yoga setiap hari yang bisa melakukannya.
Sean kaget melihat hal itu.
"Sa... Sa... Sayang kau?? Ah.. ada apa..?" Sean tampak bingung karena dia terbangun dengan seperti ini.
Claudia kembali memperbaiki posisi berdirinya. Tapi ekspresinya tidak berubah, kemarahan memenuhi dirinya.
"Hei kau Tuan mafia... Kau membawa aku kemari untuk membuat ku mati kelaparan bukan?" Teriak Claudia.
"Ah... Apa... Ehh... Aku tidak mengerti apa yang kau maksudkan?" Tanya Sean bingung.
"Jam berapa sekarang? Aku tanya jam berapa sekarang?" Teriak Claudia lagi.
"Ah tunggu." Sean melihat ke arah jam yang berada di dinding dengan memasukkan kepalanya kembali ke dalam kamar. "Jam 09.00 pagi." Balas Sean penuh percaya diri.
"Tepat sekali, pukul 09.00 pagi. Di mana sarapan ku? Kau membawaku ke sini, kau seharusnya sudah menyediakan sarapan ku, sebelum aku bangun. Tapi kau masih tidur seperti ini, kau benar-benar egois." Teriak Claudia lebih keras lagi.
Sean masih berdiri dengan wajah yang masih mengantuk. Dia menggaruk kepalanya karena bingung dan berbicara...
"Tapi sayang, aku biasanya bangun telat. Kau bisa meminta kepada para pelayan untuk menyiapkan sarapan mu. Mereka akan membuat apapun yang kau inginkan." Ucap Sean.
"Pelayan? Aku harus meminta kepada pelayan untuk makanan? TIIIIIIIIIIIIDAAAAK. Kau membawa aku kemari, dan mengatakan kau mencintaiku. Jadi kaulah orang yang bertanggung jawab untuk makanan dan semua kebutuhan ku. Kenapa aku harus bertanya kepada mereka semuanya. Mereka tidak mengatakan bahwa mereka mencintai aku, kau lah yang mencintai aku. Jadi kau yang harus melakukan hal ini. Suamiku selalu melakukan hal ini, dia tidak pernah membiarkan aku kelaparan. Dia tidak pernah membiarkan pelayan manapun menyiapkan keperluan ku. Dia melakukannya sendiri.... (Claudia berbohong) .... Aku akan meminta semua yang aku inginkan kepadamu, mengerti? Sekarang pergilah, ambil sarapan ku atau aku akan merusak rumah ini. Aku lapar dan sangat kelaparan. Dan Claudia yang kelaparan adalah sebuah buldozer hidup. Aku memperingatkan mu." Teriak Claudia.
'Apakah dia melakukan semua tugas itu sendirian? Apakah dia itu seorang budak atau apa? Bukankah dia itu seorang bisnisman? Kapan dia akan melakukan pekerjaannya sendiri?' pikir Sean beberapa saat sebelum menghela napasnya ketika dia mengingat bahwa Adam adalah orang yang dipikirkan dan itu adalah hal yang sangat dicintai Claudia dan dibenci olehnya.
"Maaf sayang, aku benar-benar minta maaf. Jangan khawatir, aku akan melakukannya. Aku akan membuatkan sarapan untukmu. Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan. Kau tidak tahu aku. Aku benar-benar lebih hebat dari dirinya. Kau akan melupakan semua kemampuan yang dia miliki saat kau melihat kemampuanku. Aku sangat hebat dalam memasak. Berikan aku 2 menit untuk membersihkan diriku, oke." Ucap Sean.
Claudia turun ke lantai bawah dan menunggu Sean untuk turun juga. Perutnya sudah berbunyi kelaparan.
Sean akhirnya turun dengan wajah yang senang dan penuh keceriaan. Padahal sebenarnya di dalam kamarnya dia mengutuk Adam karena sudah memberi contoh buruk kepada yang lainnya. Kepala Sean begitu sakit, dia tidak terbiasa bangun sepagi ini tapi dia harus menghadapi semua ini.
"Jadi sayang, apa yang ingin kau makan? Burger, pizza, chinese, apapun itu katakan saja." Tanya Sean pada Claudia
'Adam akan memukul kepala ku jika aku meminta jenis sarapan seperti itu. Ya Tuhan sayang, kau benar-benar memiliki standar yang tinggi. Tidak ada yang bisa melawan mu suamiku. Aku akan memberikanmu ciuman yang lebih banyak karena sudah begitu unik.' pikir Claudia sebelum memutar matanya menatap Sean.
"Aku mau pancake dengan sirup coklat dan susu coklat." Titah Claudia."
"Pancake? Susu coklat?" Sean mengulang ucapannya dengan wajah yang tampak bingung. "Aku... Aku tidak terbiasa memasak itu. Bisakah pelayan yang memasak nya?" Tanya Sean.
__ADS_1
Memikirkan bagaimana rasa dari pancake yang akan terasa begitu buruk jika mafia itu yang membuatnya, Claudia menelan ludah dan setuju untuk apa yang disarankan Sean.
"Dan bagaimana dengan anda Tuan? Apa yang ingin anda makan untuk sarapan?" Pelayan juga bertanya kepada Sean.
Sean tampak bengong dan terdiam beberapa saat. Dia tidak mengerti kenapa orang-orang harus makan di pagi hari, karena dia tidak pernah sarapan.
"Eehhh emmm... Aku sebenarnya.... tidak, maksudku... pancake dengan sirup coklat juga untuk ku yaahh..." Jawab Sean dengan langsung.
Claudia tertawa dalam hati.
Setelah itu makanan disiapkan oleh para pelayan kepada mereka. Claudia merindukan bagaimana suaminya yang terbiasa untuk menyuapinya pertama kali. Hal ini membawa senyuman di wajah Claudia. Dia mulai menyantap pancake itu dengan bahagia. Makanan itu tidak seenak seperti yang dibuat oleh Nila, tapi cukup enak untuk bisa dimakan.
Sean juga memakan makanannya, tapi matanya tetap melihat kearah Claudia. Dia terus menatap Claudia yang tengah makan dengan menggemaskan. Mulutnya yang mengunyah, bibirnya yang tipis wajahnya yang bulat benar-benar menghipnotis Sean.
Claudia menyelesaikan makanannya dengan bahagia, para pelayan lalu mendekatinya.
"Nona, apakah saya harus menyajikan pancake nya untuk anda lagi, jika anda suka." Tanya pelayan itu.
"Eeemmmm sebenarnya iya, aku mau lagi." Balas Claudia dengan tersenyum manis.
Dalam hati pelayan itu ingin mengumpat. Dia lalu hendak menyajikan 3 pancake lagi di piring Claudia ketika Sean menghentikannya.
"Tunggu sayang, kau sudah cukup dengan pancake itu. Kenapa kau mau lagi?" Tanya Sean.
Claudia awalnya bingung.
"Yah karena aku mau lagi, itu saja." Balas Claudia dengan santai.
"Tapi sayang, kau seharusnya mengontrol makanan mu dan diet sedikit. Kau terlalu gemuk sekarang. Tubuhmu juga sudah terlihat membengkak. Lihatlah wajahmu, kau bahkan tidak punya dagu. Aku rasa, kau seharusnya mulai diet." Ucap Sean.
Claudia tampak marah.
"Kau.... Sialan.... Kau menghalangi aku makan! Kenapa memangnya jika aku gendut? Suamiku mencintai aku yang seperti ini. Dia tidak pernah menghentikan aku untuk makan. Dia selalu memberikanku makanan lagi dan lagi dengan tangannya sendiri. Dan kau... kau tidak tahu apa yang akan dia lakukan jika dia tahu bahwa kau memprotes penampilan ku dan mengurangi porsi makan ku." Teriak Claudia dengan menepuk meja dengan sangat keras dan berdiri.
Sean mengusap keningnya karena frustrasi. Pertama, karena Claudia terus saja membandingkan dirinya dengan Adam. Kedua, tidak ada orang yang pernah berani berbicara dengan dirinya seperti itu. Sean menyukai sikap Claudia yang keras seperti itu.
"Benarkah? Lalu aku harus mengatakan kepadamu, bahwa dia sebenarnya tidak mencintaimu. Cinta bukan malah membuat kita untuk merusak orang yang kita cintai. Dia adalah seorang pria militer. Aku tidak mengharapkan hal seperti ini darinya, setidaknya dia bisa memikirkan tentang kesehatan tubuh mu. Kau tahu bagaimana dia bisa membuatmu makan dengan begitu banyak, apapun yang kau inginkan. Kau terlihat begitu gendut sekarang. Ketika pertama kali aku melihatmu, kau begitu langsing, cantik dan seksi. Lihatlah dirimu sekarang, semuanya tampak membesar. Pipi mu yang chubby dan bulat. Tampilan ini sama sekali tidak cocok dengan bagian bawah mu. Sayang, dia seharusnya bisa menjaga bagaimana penampilanmu. Dia benar-benar orang yang tidak perhatian." Ucap Sean.
Beraninya kau! Dia menjagaku dengan sangat baik. Dia tidak percaya dengan pikiran seperti itu oke. Dia mencintaiku apa adanya diriku. Dan ya, itu memang ulah nya yang membuat aku seperti ini. Memangnya kenapa? Suamiku itu cukup kuat untuk mengangkat ku. Aku masih ringan seperti sehelai bulu, oke. Beraninya kau mengatakan aku makan terlalu banyak. Kau itu monyet, kau... kau sapi, kau keledai. Pergilah ke neraka." Teriak Claudia emosi
Rahang Sean mengeras, dia tampak begitu marah dan berdiri. Dia tidak pernah berpikir bahwa gadis di hadapannya itu sangat keras kepala dan begitu nakal. Adam adalah orang yang malah semakin membuat Claudia menjadi seperti ini. Sean pun memukuli meja dengan keras juga.
"Dengarkan aku, gadis nakal. Kau berani berbicara denganku seperti itu lagi, dan apa yang baru saja kau lakukan itu, kau lebih baik jangan pernah mengulanginya lagi. Aku adalah bosnya di sini. Tidak ada yang pernah berbicara kepada ku seperti itu. Dan berhentilah membandingkan aku dengan pria itu. Aku memperingatkan mu." Ucap Sean memperingatkan Claudia.
Sebenarnya Claudia bahkan tidak mundur sedikitpun, dia masih sangat marah tapi dia tidak bisa membiarkan kesempatan kepada pria itu untuk melawannya. Jadi Claudia hanya..
"Aaaaaaaa.... hhuuuuu aaaaaaaaa..... Mamaaaaaaaa......."
Claudia mulai menangis dengan keras, mengusap wajahnya dan matanya dengan membuat tangisan palsu.
Sean dan para pelayannya tidak dapat berbicara apa-apa dan merasa begitu bodoh. Sean melihat kearah pelayannya dengan penuh harap, bertanya kepada mereka apa hal yang dilakukannya sudah salah. Tapi para karyawan juga tampak bingung.
"Apa? Apa yang terjadi, ada apa sekarang?" Tanya Sean.
"Apa yang terjadi? Kau berani bertanya kepadaku apa yang terjadi. Kau baru saja berteriak kepadaku seperti monster. Suamiku.... Tidak, maksudku tidak ada orang yang pernah berteriak seperti itu kepadaku. Eeeeeaaahhhhh.... Kau monster, kau benar-benar tidak punya hati. Bagaimana bisa kau berteriak kepada gadis kecil seperti aku yang usianya 12 tahun lebih muda dari mu... Eeeeeeaaaaahhhhh uuuuuuhhhuuuu uuuuhhhuuu..." Claudia terus menangis dengan keras, suaranya memekakkan telinga.
Sean menjadi bingung. Dia tidak bisa mengerti apa yang harus dilakukan sekarang. Dia tetap mencoba untuk melakukan sesuatu atau mengatakan sesuatu kepada Claudia.
"Kau bohong. Kau bilang, kau mencintaiku. Suamiku.... maksudku orang yang mencintaiku tidak pernah memarahi ku seperti ini... Eeeeeeaaaaaahhhh.... mereka sangat mencintaiku, eeeeeeaaaaahhhh..." Claudia terus saja berbicara dengan suara tangis nya. (Palsu)
"Oh tidak sayang, dengarkan aku. Berhentilah menangis sayang.... sayang... sayang....
Sayaaaang...." Sean terus saja memanggil Claudia yang berlari naik ke lantai atas dengan menangis, mengusap matanya dan sedikit melirik ke arah Sean.
Sean pergi mengikutinya ke lantai atas.
"Sayang...... Sayang dengarkan aku. Jangan menangis, kumohon." Sean terus saja berucap.
__ADS_1
Sampai Sean masuk ke dalam kamar mengikuti Claudia yang masih menangis dengan keras. Claudia duduk di pinggiran tempat tidur dengan masih menangis. Sean lalu duduk di lantai dan berlutut di kaki Claudia.
"Sayang, aku minta maaf oke. Aku tidak akan melakukan hal seperti itu lagi. Kau bisa makan apapun yang kau mau. Kau bahkan bisa makan semua kastil ini, maksudku...."
"Aaaaaaaaaaaahhhhh....." Ucapan Sean dihentikan oleh suara tangis Claudia.
"Apa.... Apa.... apa... apa yang terjadi sayang?" Sean tampak bingung lagi.
"Kau bahkan mengejekku lagi. Bagaimana mungkin aku bisa memakan seluruh kastil ini. Apakah kau pikir bahwa aku itu seorang yang sangat hobi makan? Dengarlah tuan keledai, aku memang suka makan. Tapi aku selalu makan makanan yang sehat. Aku tidak makan makanan cepat saji mengerti itu?" Gadis yang menangis itu berbicara dengan tangisannya yang palsu.
Sean tidak dapat mengatakan apapun tapi hanya setuju.
"Sayang, aku ingin bertanya. Apakah kau selalu menangis seperti ini kapanpun kau kesal dan Adam akan selalu menghadapi mu yang seperti ini?" Tanya Sean penasaran.
"Iyaaaa...." Teriak Claudia.
Hal itu membuat Sean langsung terdiam.
"Baiklah, ngomong-ngomong sayang, nikmatilah waktumu di sini. Aku akan pergi ke kantor. Di dalam kastil ini aku sudah menyiapkan semuanya untukmu."
Claudia langsung berdiri setelah mendengar ucapan Sean dengan melipat tangannya di dada. Wajahnya terlihat begitu marah. Sean menjadi takut sekarang.
"Apa? Ada apa sayang?" Tanya Sean dengan hati-hati.
"Kau bilang ketika aku ada disini, seluruh perhatianmu akan ada padaku. Lalu kenapa kau harus pergi ke kantor?" Tanya Claudia.
"Eeeh... Mmmm, tapi pekerjaanku....?" Tanya Sean yang dalam hati ingin melompat seperti anak kecil.
Claudia akhirnya mendapatkan sesuatu yang dapat mengganggu Sean. Claudia ingin Sean berada di dekatnya, dan hal itu membuat Claudia sangat bahagia. Semua itu dilakukan agar Sean tetap sibuk dengan dirinya.
"Orang-orang mu bisa mengurusnya. Kau harus tetap disini." Ucap Claudia.
Sean menghela napas.
"Oke baiklah. Aku akan tinggal disini, tapi apa yang ingin kau lakukan sekarang sayang?" Tanya Sean lagi.
"Aku ingin bermain kartu." Ucap Claudia menepuk pipi Sean.
"Bermain? Apa? Kartu? Bagaimana?" Sean tampak bingung.
"Iya." Balas Claudia tanpa menjelaskan apapun.
"Baiklah, tapi kita hanya berdua dan tidak...." Ucapan Sean kembali dipotong Claudia.
"Kau punya banyak orang di dalam kastil ini. Tidak bisa kah mereka bermain denganku?" Tanya Claudia.
Sean ingin mengatakan tidak, tapi kemudian dia melihat kearah Claudia. Dia pun menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Iya baiklah, kenapa tidak. Mereka bisa." Balas Sean yang sebenarnya dalam hatinya tidak setuju karena dia takut apa yang akan terjadi selanjutnya.
Bersambung....
Claudia selalu menyebutkan suaminya.
2. Nyonya Adam memang nakal.
3. Claudia adalah iblis dalam wujud manusia.
4. Gadis nakal Adam itu, hanya bisa dikendalikan oleh nya.
5. Sean dalam bahaya
So, Adam cepatlah datang dan selamatkan Sean... 🤣🤣
__ADS_1
Selanjutnya...
Permainan