90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
32. Gagal


__ADS_3

Ciuman yang tadinya lembut, perlahan berubah menjadi semakin panas. Tangan Adam mulai menari di tubuh Claudia. Claudia menutup matanya, entah kenapa ia malah ingin menangis. Dia membiarkan suaminya meraba seluruh tubuhnya meski dalam hatinya sendiri seperti belum rela.


Beberapa saat ia terdiam, kemudian...


"Dam, sekarang tolong dengarkan aku. Tolong biarkan aku bicara." Ucap Claudia akhirnya melepaskan pelukannya pada Adam.


Adam tidak protes, ia menatap Claudia lalu menuntunnya untuk duduk di pinggir tempat tidur.


"Aku sudah tahu semuanya. Aku tahu taxi yang kau tumpangi meninggalkan mall pukul 02.00 siang. Kemudian pergi ke bar. Kau tiba di bar pukul 03.00, aku tahu kau tidak mengingkari janjimu. Kau tidak minum alkohol, karena kau hanya beberapa menit disana. Kemudian kau pergi menggunakan taksi ke arah selatan. Kau menghabiskan waktu selama 45 menit di taman. Lalu kau berjalan sendirian melewati gang sempit. Itu sekitar jam 04.00, kemudian ponsel mu sudah tidak aktif. Aku tahu semuanya." Ujar Asam menjelaskan semua yang ia ketahui.


Claudia begitu terkejut, matanya pun membelalak.


"Bagaimana mungkin?" Ucapnya.


Adam menyeka rambut Claudia ke belakang telinganya dengan lembut.


"Ponselmu, saat kau belum juga pulang sampai jam 03.45. Aku mulai menelepon mu, tapi kau tak menjawab panggilan dariku. Aku menghubungi teman-temanmu, dan saat itulah aku mengetahui apa yang terjadi di mall. Kemudian aku kembali mencoba untuk menghubungimu dua kali, tapi ponselmu sudah tidak aktif. Aku meminta Naomi untuk melacak GPS dari ponselmu, dan dari sanalah aku tahu kemana saja kau pergi dan berapa lama kau berada di suatu tempat." Ucap Adam menjelaskan semuanya.


Claudia terdiam.


"Aku senang karena kau tetap memegang janjimu. Tapi, mengambil suatu keputusan disaat pikiran tengah kacau dan mendapat sebuah masalah bukanlah cara yang pintar. Aku tahu bahwa dia masih menjadi bagian terpenting dalam hati dan juga hidupmu. Kata-kata yang dia ucapkan masih sangat penting dan efektif padamu, hingga kau sampai melupakan semua orang dan segalanya. Kau bahkan memutuskan untuk pergi dan minum-minum. Tanpa memperdulikan fakta bahwa aku tengah menunggumu di rumah. Aku tahu, tapi kau seharusnya bisa lebih berhati-hati. Lain kali bersikaplah lebih rasional sebelum bertindak." Ucap Adam dan hendak bangun dari duduknya.


Tapi, Claudia memeluknya, dan Claudia dapat merasakan luka dan rasa kecewa dari kata yang di ucapkan Adam.


"Tidak Dam, dia tidak penting untukku. Tidak lagi. Dia sama sekali tidak berarti bagiku, ataupun hatiku. Aku bahkan tidak perduli dan merasa penting untuk membencinya. Percayalah padaku. Iya, memang benar aku terluka dan jadi teralihkan karena aku tidak begitu teguh. Dan aku marah pada diriku sendiri." Claudia berusaha untuk menjelaskan pada Adam.


"Apa kau yakin? Bahwa dia tidak penting lagi untukmu?" Tanya Adam yang masih terluka.


"Iya Dam, tidak sedikitpun." Balas Claudia.

__ADS_1


"Dan bagaimana dengan aku? Apakah aku penting bagimu?" Kali ini Adam memberanikan diri untuk bertanya, meski harus mengambil resiko akan terluka dengan jawaban Claudia.


"Aku tidak minum, dan meninggalkan bar hanya untuk menepati janjiku padamu. Aku berteman denganmu seperti aku berteman dengan orang lain. Aku bahkan membiarkanmu untuk menyentuhku, mencium ku, menjadi lebih intim denganku. Padahal aku tidak pernah melakukan hal itu dengan orang lain. Apakah semua itu tidak cukup untuk membuktikan bahwa kau adalah orang yang sangat penting bagiku?" Ucap Claudia menatap ke arah mata Adam dengan serius.


Adam tertawa kecil sebelum ia mulai bicara.


"Benarkah? Jadi, jika aku mengatakan bahwa aku menginginkanmu sekarang, apa kau akan mengizinkan aku melakukannya?" Tanya Adam dengan wajah yang masih terus berpikir dengan apa yang akan dikatakan Claudia.


Claudia tampak kaget, meski begitu ia berusaha untuk tidak memperlihatkan semuanya. Ia tetap diam beberapa saat dan terus menatap Adam dengan wajah yang tanpa ekspresi. Kemudian secara tiba-tiba ia duduk diatas pangkuan Adam lalu memeluknya erat.


"Baiklah, aku siap." Ucap Claudia.


Adam termenung beberapa saat. Sebelum matanya membelalak kemudian tersadar, ia mulai berhasrat. Dia melihat bibir tipis Claudia lalu langsung menciumnya dengan penuh nafsu. Claudia membalas ciuman itu dengan cara yang sama seperti Adam, penuh hasrat. Disaat yang bersamaan, Adam merasa begitu bahagia sekaligus juga pusing.


Adam membaringkan tubuh Claudia diatas tempat tidur dengan posisi dirinya yang berada diatas Claudia dan terus menciumnya. Tidak ada yang berusaha untuk menyudahi ciuman mereka. Tidak ada juga orang yang bisa menghentikan mereka. Claudia tengah sibuk dengan kancing kemeja Adam. Respon yang diberikan Claudia membuat Adam semakin menginginkan yang lebih lagi. Dia terus mencium Claudia. Saat ia mencium dagu Claudia, dia dapat melihat dengan jelas bahwa wajah Claudia memerah. Dia beralih berbisik dan mencium telinga Claudia kemudian beralih untuk fokus pada leher Claudia. Claudia langsung mendesah saat kulitnya tersentuh bibir Adam.


Setelah setengah jam bercumbu mesra, Claudia menjadi tidak sabar dan putus asa. ******* yang ia keluarkan berubah menjadi permohonan.


Tapi Adam terus saja fokus mencium seluruh tubuh Claudia. Namun dia sama sekali belum menyentuh bagian paling penting dari semuanya, tidak sedikitpun.


Tiba-tiba, Adam menghentikan aksinya kemudian duduk dan menarik tubuh Claudia dalam pelukannya kemudian bersandar di dada Claudia.


"Ini sudah larut, ayo kita tidur saja. Besok aku ada jadwal mengajar. Dan ada banyak pekerjaan besok pagi di kantor. Jadi aku tidak mau terlambat. Selamat malam, cintaku."


Claudia termenung, dia tidak dapat mencerna apa yang dikatakan Adam. Setelah beberapa detik syok, Claudia akhirnya bicara.


"Dam, apa kau bercanda? Kau mau tidur sekarang?"


Adam mencium pipi Claudia lagi sebelum menjawab.

__ADS_1


"Iya sayang, aku serius. Aku sangat lelah setelah berkelahi tadi dan aku tidak mau terlambat pergi ke kantor besok." Jawab Adam dengan santai.


Claudia mendorong tubuh Adam agar menjauh darinya.


"Kau bajingan. Kau mau tidur setelah memperlakukan aku seperti ini. Selesaikan apa yang sudah kau mulai Adam Wijaya. Aku memerintahkan mu." Teriak Claudia.


Adam mendekat ke arah Claudia kemudian berbisik di telinganya.


"Ini adalah hukuman untukmu sayang. Terima semuanya." Ucap Adam seraya menjatuhkan kepalanya di dada Claudia seolah-olah tertidur.


Claudia terdiam beberapa saat. Kemudian ia mendorong tubuh Adam dengan kasar lalu berteriak kepadanya. Ia juga melempar pakaian Adam ke wajahnya. Dia menatap Adam dengan penuh emosi.


Adam menatap Claudia dengan senyum yang mengejek.


Claudia sudah selesai mengenakan pakaiannya lalu kembali menatap ke arah Adam.


"Dengarkan aku Tuan, Adam Bajingan Wijaya. Aku akan membuatmu menyesali yang kau lakukan saat ini. Secepatnya kau akan memohon padaku untuk melakukannya. Ingat baik-baik hari dan tanggal saat ini. Aku akan membuatmu membayar semuanya. Mari kita lihat dan saksikan saja." Ucap Claudia dengan penuh kekesalan dan rasa percaya diri kemudian berjalan keluar dari kamar Adam.


Adam tak bisa berkata apa-apa. Dia termenung.


'Apa aku terlalu berlebihan? Bagaimana jika dia memang bersungguh-sungguh? Semua yang dia lakukan memang tidak pernah bisa dibayangkan. Ya Tuhan, mati aku.'


Adam dengan cepat berlarian mengejar Claudia yang pergi ke kamarnya. Namun belum sempat dia bicara, Claudia sudah membanting pintu dengan sangat keras dihadapan wajah Adam.


"Sial..." Adam mengutuk dirinya sendiri.


Dia lalu menatap ke bawah.


"Hei kau, Mister Junior. Kau harus lebih kuat bersabar sekarang." Ucap Adam pada bagian tubuhnya yang berada dibawah pusarnya itu.

__ADS_1


Adam menyesali apa yang sudah dia lakukan.


Bersambung...


__ADS_2