90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
4. Kampus


__ADS_3

Claudia tengah berbaring di rumput taman rumahnya dengan menutup mata. Menikmati keheningan di sore hari.


Ketika Naomi tiba dan duduk disamping Claudia menyeka poni yang menutupi wajah Claudia perlahan dan hati-hati.


Claudia membuka matanya tanpa melirik ke arah Naomi. Terlihat ekspresi bosan dari wajahnya.


"Aaah aku sedang menunggu kedatangan mu. Aku penasaran bagaimana pendapatmu tentang semua drama yang terjadi." Ucap Claudia tanpa bangun dari rumput tempatnya berbaring dan menghela napas panjang.


Naomi juga terdengar menghela napasnya.


"Wanita itu bukan kekasihnya." Ucap Naomi.


"Apa peduli ku." Balas Claudia yang tampak tidak tertarik mendengar ucapan Naomi.


"Setidaknya dengarkan aku, dengarkan pendapatnya juga. Berhentilah bersikap dingin pada pria bodoh itu." Ucap Naomi.


Claudia menggeser tubuhnya lalu menaruh kepalanya di pangkuan Naomi. Naomi tersenyum kemudian mengusap kepala Claudia lembut.


"Kapan kau akan berhenti seperti ini? Kenapa kau tidak mau mendengarkan aku?" Tanya Naomi lagi.


"Karena seperti inilah aku."


"Tidak, kau tidak seperti ini. Ini bukan dirimu. Semua sikap buruk, berandalan, kasar, ucapan yang selalu mengumpat, semua ini hanya untuk membuktikan bahwa dirimu itu keras dan kuat agar tak ada yang bisa menyakitimu."


"Apa yang salah dengan semua itu? Memang sudah seperti itu seharusnya semua orang bersikap. Aku tak ingin menjadi orang lemah dan bodoh seperti kebanyakan orang. Aku tidak suka menjadi orang yang melankolis."


"Lalu kenapa kau memulai semua drama ini sejak sebulan yang lalu? Aku baru mengetahuinya kemarin. Pria yang bernama Endra itu nyatanya bukan kekasihmu. Dia menyukaimu tapi kau menolaknya. Tidak seperti kau menolak pria lainnya, hanya karena dia sahabatmu. Kau memberikannya kebebasan yang membuat orang-orang melihat kedekatan kalian menganggap kalian benar-benar sepasang kekasih."


"Aaiissshhh, siapa yang memberitahumu semua ini? Kadang-kadang aku berpikir kau itu bukan pengacara, tapi seorang detektif." Ucap Claudia.


"Jawab aku..."


"Dengan seperti ini, aku merasa bebas, dan juga bisa segera bercerai. Dia akan mendengar rumor bahwa aku memiliki pacar, berselingkuh darinya dan...."


"Dan dia akan menandatangani surat perceraian dengan mudah. Itulah mengapa selama ini kau selalu membuat masalah yang semakin meningkatkan kesalahpahaman diantara kalian berdua. Semuanya kau lakukan hanya untuk memastikan ketika dia mengetahui identitasmu yang sesungguhnya, dia tidak akan berpikir panjang untuk menceraikan mu. Dan itulah kenapa selama ini kau menyembunyikan identitasmu dan membuat dia terus salah paham tentangmu. Ckckckck..... Such an evil brain." Ucap Naomi.


Claudia terbahak.


"Thats me...." Ucap Claudia terus tertawa.


Tawa itu tiba-tiba berubah menjadi air mata. Claudia mulai menangis dan menyembunyikan wajahnya di pangkuan Naomi.


Naomi ikut menangis dan mengusap air dari sudut matanya.


"Dia sangat peduli padamu, percaya padaku. Kau harus membuka matamu dan melihat semuanya secara rasional. Dia suami yang...."


"Aku tidak akan pernah menerimanya sebagai suamiku."


Naomi menghela napas.


"Kau tahu, dia terlihat begitu bahagia hari ini karena dia mendapat pemberitahuan bahwa kau akhirnya mau menggunakan kartu kredit pemberiannya. Dia berpikir bahwa kau sudah mau memberikan kesempatan pada pernikahan kalian. Tapi, dia menjadi begitu khawatir saat menyadari bahwa kau juga berada di mall itu dan melihatnya dengan wanita itu. Dia takut kau akan berpikir bahwa dia berselingkuh darimu."


"Dia kan memang selingkuh." Ucap Claudia memutar mata dengan malas.


"Tidak. Dia tidak selingkuh. Beri dia kesempatan, beri dirimu kesempatan, dan berikan kehidupan kalian kesempatan. Aku sudah mengenalmu sejak kecil, jadi aku tahu kau takut akan...."


"Stop Kak. Aku tidak takut akan apapun. Claudia Wijaya, tidak takut akan apapun. Kau mengerti itu..." Ucap Claudia kesal.


"Claudia Wijaya huh....!!!"


Claudia tersadar dan memejamkan matanya, berusaha membenarkan ucapannya sendiri.


"Claudia Setyawan." Ucapnya.


"Di, terima semuanya. Cobalah untuk membangun hubungan kalian."

__ADS_1


"Tidak. Aku tidak mau."


"Ayolah Di. Kenapa kau terlalu kekanakan seperti ini. Kalian sudah menikah, jangan samakan semua pernikahan itu sama. Kau sendiri yang mengatakan tak ingin mengingat masa lalu akan hubungan kedua orang tuamu. Tapi, kau sendiri yang seperti ini tak mau memberikan kesempatan pada suamimu. Kau berpikir bahwa dia selingkuh. Sesuatu yang selama ini kau takutkan. Tapi kau selalu menyangkal dan mengatakan bahwa kau tidak takut apapun. Kenyataannya berbeda. Kau melakukan sesuatu padanya yang kau sendiri takut itu terjadi padamu. Nona yang tidak takut apapun."


Naomi hendak pergi, namun ia kembali berbalik badan dan menatap Claudia.


"Hentikan semua drama yang kau buat dengan Endra sekarang juga, sebelum Adam mengetahui semuanya. Aku akan memberitahu teman-temanmu tentang identitasmu yang sesungguhnya dan bersiaplah untuk menjelaskan kepada mereka kenapa kau sampai menyembunyikan semuanya. Oke?" Ucap Naomi lalu pergi tanpa menunggu jawaban Claudia.


Naomi tiba di kediaman Adam...


"Bagaimana? Apa kau bicara padanya? Apa yang dia katakan? Apakah dia melihatku dengan Hana dan berpikir bahwa dia itu kekasihku atau selingkuhan ku?" Tanya Adam panik.


"Tidak, tidak. Tenanglah Dam. Iya, dia memang melihatmu dengan wanita itu, tapi dia tidak berpikir yang aneh-aneh tentangmu. Tadi dia sedang bersama teman-temannya. Itulah kenapa dia tidak menemui mu disana. Aku memberitahunya bahwa Hana itu adalah sekretaris mu dan kenapa kau bisa berada di mall itu, jadi jangan khawatir." Ucap Naomi.


**************


Satu minggu berlalu....


Claudia terlihat tengah berdiri di dalam ruang Dekan dengan tiga orang mahasiswi lainnya. Ketiga mahasiswi lainnya menundukkan kepala, sementara Claudia menunjukkan ekspresi yang tengah bosan.


Dekan memarahi ketiga mahasiswi lainnya. Sebenarnya, Claudia dan ketiga mahasiswi itu berkelahi pagi tadi di kampus. Claudia memukuli ketiga wanita itu, dia punya alasan. Tapi dia tak mau menjelaskan semuanya, ia lebih memilih untuk diam.


Ketiga wanita itu terus melirik Claudia, karena hanya mereka yang dimarahi Dekan. Sementara Claudia, Dekan sedikitpun tak melihat ke arahnya.


Ketiga mahasiswi itu lalu diminta keluar dari dalam ruang Dekan setelah satu jam berada disana. Mereka semakin terkejut saat Dekan tidak meminta Claudia untuk ikut keluar. Hal itu semakin membuat mereka sakit hati dan marah. Semua orang di kampus sangat tahu bahwa Claudia memiliki orang dalam yang melindunginya meski sering berbuat onar. Mereka mengutuk Claudia dalam hati sebelum keluar dari dalam ruangan Dekan.


Dekan menatap wanita yang berdiri dihadapannya dengan wajah tanpa rasa bersalah itu. Dekan itu menghela napas dan menggelengkan kepalanya.


"Apa kau bisa menjelaskan apa yang terjadi? Mereka selalu berpikir bahwa aku selalu membelamu, karena kau punya orang dalam. Aku tidak perduli. Aku tahu kau yang sebenarnya. Bagaimanapun, aku ini sahabat Papa mu dan aku juga tahu bahwa Adam Wijaya itu suamimu, tapi bukan karena itu alasan aku memperlakukanmu spesial. Aku tahu selalu ada alasan baik di setiap perkelahian yang kau lakukan. Aku tahu kau pemarah dan kemarahan itu menguasai dirimu. Tapi kau bukanlah orang yang sembarangan memukul orang lain tanpa alasan yang masuk akal. Jadi, bisakah kau menjelaskan apa yang terjadi?" Ucap Dekan panjang lebar.


Claudia lalu duduk di sofa tanpa dipersilahkan oleh Dekan dan mulai menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi, mengapa ia sampai memukuli ketiga mahasiswi tadi.


***********


"Sudah selesai bersenang-senang dengan Pak Dekan?" Ucap seorang wanita yang suaranya sangat dikenal Claudia.


Suara seseorang yang tak suka didengarnya. Wajah Claudia memerah, Endra sontak memegang tangannya erat. Ia tak ingin Claudia kembali terlibat perkelahian hari ini.


"Lisa, apa yang kau inginkan? Aku sudah mengatakan padamu bahwa Claudia sedang bad mood. Menjauh lah." Ucap Rose berusaha mengusir perempuan bernama Lisa itu untuk menjauh.


Tapi seperti Claudia, Lisa itu wanita yang keras kepala. Dia malah duduk di depan Claudia.


"Ngomong-ngomong, aku datang bukan untuk berkelahi denganmu. Aku punya berita penting untukmu." Ucap Lisa. "Akan ada pertandingan antar kampus, yaitu lari maraton. Setiap kampus ikut berlomba dan kampus kita juga. Jadi aku datang kemari untuk mengecek, apa yang terjadi pada si pelari cepat di kampus kita ini." Lanjut Lisa.


Claudia memang terkenal sebagai pelari paling cepat di kampusnya. Dia sendiri sudah mengetahui tentang pertandingan itu, tapi dia tak ingin mengikutinya karena sudah ada hal lain yang ada fokus dalam pikirannya.


Tapi Lisa tak ingin menyerah. Dan Endra mengetahui hal itu. Dia tak ingin wanita yang disukainya terbebani.


"Di, ayo pergi dari sini. Kita masih ada kelas." Ucap Endra seraya menarik tangan Claudia pergi.


"Huh, sudah bisa ditebak. Dasar pecundang. Menjadi pecundang selalu mengalir dalam darahmu." Ejek Lisa.


Claudia menjadi marah. Ia berbalik dan menatap Lisa tajam. Endra berusaha menahan tangannya tapi tak mampu. Claudia sudah berdiri tepat dihadapan Lisa dan menunjuknya.


"Tidak ada yang tidak bisa dilakukan Claudia. Aku tidak pernah kalah." Ucap Claudia.


Akhirnya Claudia menyetujui tantangan yang diberikan Lisa. Dimana dia harus mengikuti lari maraton sejauh 13,1 mil melawan 6000 lebih peserta lainnya yang sudah lebih dulu mendaftar. Ada tiga nama yang memiliki medali perak, dan bukan itu yang membuatnya khawatir. Tapi hukuman yang akan ia dapat jika kalah taruhan dari Lisa yang membuat tidurnya tak nyenyak. Claudia harus memilih satu dari tiga hukuman yang harus dijalaninya jika kalah dalam pertandingan.


Pertama, dia harus terkunci dalam satu ruangan dengan Dekan selama dua jam.


Kenapa? Karena Lisa ingin mempermalukan Claudia pada semua orang dan menikmati masa dimana seluruh kampus akan membicarakan Claudia dan Dekan. Rumor tentang hubungan Claudia dan Dekan akan semakin memanas.


Kedua, Claudia harus menjadi pelayan Lisa selama satu minggu.


"Tidak mungkin terjadi, meski hanya dalam mimpinya." Ucap Claudia.

__ADS_1


Ketiga, Claudia harus berteriak 'I love you Adam Wijaya' di tengah-tengah lapangan basket selama sepuluh kali.


"Apa kau bisa percaya itu? Wanita itu mengetahui insiden yang terjadi di mall. Dia melihat semuanya." Ucap Claudia.


Saat ini Claudia tengah berada di rumah Endra. Ia berbaring dengan kepala di atas perut Endra. Endra juga tengah berbaring sambil merokok.


"Tapi Di, aku pikir pilihan yang ketiga terdengar lebih baik dari pada yang pertama. Bukan begitu? Hanya mahasiswa yang akan berada disana mendengar mu berteriak. Tak akan ada orang lain yang tahu. Mereka mungkin akan berpikir bahwa kau memang memiliki hubungan dengannya, hanya itu. Dibandingkan dengan kau mempermalukan dirimu dan Dekan. Kau dan Dekan akan dipermalukan habis-habisan." Ucap Endra memberi saran pada Claudia.


Claudia malah terlihat lebih menghawatirkan sesuatu.


"Kau tidak pernah bertanya ada hubungan apa aku dan dia. Kenapa?" Tanya Claudia dengan wajah penasaran.


"Kau akan mengatakan semuanya sendiri saat kau sudah siap. Persahabatan kita tak ada hubungannya dengan hal itu. Aku tidak akan mati penasaran walaupun tidak mengetahui alasan dibalik pertengkaran kau dan pria yang memang lebih tampan dariku itu. Mungkin saja dia itu mantan kekasihmu di masa lalu, tapi sekarang kau malah menjadikan aku sebagai orang terdekatmu dan membuatnya cemburu. Tapi, aku akan menjadikanmu sebagai kekasihku dan membuat pria yang mengalahkan kepopuleran ku dari kalangan para wanita itu menangis seperti anak kecil yang minta dibelikan permen karena sakit hati." Ucap Endra lalu mengambil bantal dan menutup wajahnya.


Sesat keduanya terdiam, namun detik berikutnya kamar Endra dipenuhi tawa keduanya.


Itulah kenapa Claudia selalu betah berada disisi Endra, karena pria itu selalu bisa membuatnya tertawa.


Pertemuan keduanya dimulai saat Claudia pertama kali masuk kampus. Claudia yang memang belum mengenal banyak orang dan terlihat pemarah membuat orang lain menjauh darinya. Namun tidak dengan Endra. Pria bertubuh jangkung itu selalu berusaha mendekati Claudia dan memberikannya perhatian hingga akhirnya berteman.


Setelah mengenal Endra, Claudia pun mulai mengenal teman-temannya yang lain, Rose, Diana dan yang lainnya.


"Terima kasih karena sudah selalu ada untukku. Tak perduli bagaimana situasi ku, kau selalu ada." Ucap Claudia.


"Itulah gunanya sahabat. Meski sahabatmu ini sebenarnya kecewa karena cintanya di tolak."


Claudia memandang Endra sesaat lalu meninju perutnya.


"Aaauu...." Endra meringis. "Bagaimana wanita dengan tubuh kurus sepertimu bisa punya kekuatan sebesar itu."


Claudia tertawa.


"Kau pernah melihat semut?" Tanya Claudia.


"Pertanyaan macam apa itu?" Balas Endra. "Mana ada manusia yang tidak pernah melihat semut."


Claudia kembali terbahak karena Endra mendorong kepalanya.


"Kau tahu, semut itu kecil tapi memiliki kekuatan yang sangat besar. Semut bahkan bisa mengangkat beban yang jauh lebih berat dari bobot tubuhnya. Yah, seperti itulah aku." Ujar Claudia.


"Perumpamaan yang sangat pas. Kau memang semut merah yang sangat galak. Untung saja kau tidak menggigit."


"Siapa bilang aku tidak bisa menggigit?"


Claudia langsung menarik tangan Endra dan menggigitnya keras.


"Aaahh...." Endra mengibaskan tangannya.


Ia menatap lengannya dimana ada bekas gigitan Claudia yang memerah.


"Kau memang semut yang kejam."


Claudia tertawa.


Setelah hari itu, Claudia mengajak Endra untuk makan malam di luar, tak lupa ia juga mengundang Rose dan Diana.


Mereka semua bertemu disebuah restoran dan masing-masing memegangi gelas berisi minuman warna warni.


"Bersulang untuk the one and only Claudia. Si semut cantik." Ucap Endra.


"Semoga Claudia bisa memenangi lomba itu." Sambung Rose.


"Cheersss...." Ucap semuanya bersamaan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2