
Sepanjang hari berlalu begitu saja...
Tapi tidak ada tanda-tanda dari Adam. Claudia tidak bisa tidur saat malam hari. Dia terus menangis dan mengingat momen yang dia lewati bersama sang suami.
Momen romantis itu, dimana suaminya yang begitu penuh hasrat, disamping tempat tidurnya yang kosong dan itu membuat Claudia semakin merindukan suaminya.
Claudia tidak pernah tahu bahwa Adam sang pria tuanya itu, akan menjadi bagian begitu penting dalam hidupnya. Suaminya itu adalah segalanya baginya sekarang. Claudia bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya tanpa Adam.
Seluruh ruangan kamar di mana dulu dia tidak pernah ingin berada di dalamnya dan tinggal disana, sekarang terlihat kosong tanpa adanya Adam.
Claudia dapat membayangkan bayangan mereka di manapun di area seluruh ruangan kamar. Bercinta di tempat tidur, berpelukan dengan Adam yang selalu penuh hasrat itu, selalu berada di dekatnya, mengganggu dirinya saat mengganti pakaian, kemudian berdiri di dekat jendela di mana Claudia dipeluk dari belakang oleh Adam saat melihat hujan yang turun dan hal lainnya.
Sampai kemudian Claudia tidak menyadari bahwa dia sudah hidup sebagai wanita yang sudah menikah. Dia benar-benar berubah menjadi istri yang sangat mencintai suaminya. Mereka memiliki hubungan pernikahan yang sempurna.
Dada Claudia terasa begitu sesak dari dalam tubuhnya karena merindukan sentuhan suaminya. Matanya tidak pernah berhenti untuk berair.
"Aku merindukanmu sayang, aku merindukanmu, kumohon cepat kembali ke rumah. Aku menunggumu sayang." Ucap Claudia di sela tangisnya.
***********
Keesokan paginya....
Claudia tidak bisa tidur sedetik pun, dia tidak keluar dari kamarnya juga setelah dipaksa dan ditarik oleh Nila untuk makan beberapa kali tapi dia hanya makan sedikit saja hanya untuk menepati janjinya yang dibuat pada suaminya.
Claudia masih ada di atas tempat tidur terduduk dengan memeluk pakaian suaminya di dadanya, ketika dia mendapatkan sebuah panggilan telpon.
"Halo." Ucap Claudia menerima panggilan telpon itu.
"Halo Nyonya Adam." Seseorang berbicara kepada Claudia dengan begitu sopan.
"Eeeemmmm iya, ini aku. Ada apa?" Tanya Claudia masih penasaran dan bingung.
"Disini ada suami anda Tuan Adam telah di bawa ke rumah sakit kami tadi pagi." Ucap pria itu.
Claudia menutup mulutnya dengan tangannya karena terkejut.
"Apa? Apa yang terjadi padanya? Apakah dia baik-baik saja?" Claudia langsung sangat panik.
"Tuan Adam terkena tusukan benda tajam di pundak sebelah kanan di bagian belakang. Tuan Adan mengalami cedera parah dan sekarang tengah dalam kondisi yang buruk ketika di bawa kemari. Kami mendapat nomor anda dari sekretaris nya, orang yang membawanya kemari. Orang itu juga terluka, namanya William. Apakah anda tahu siapa dia? Tidak ada orang yang bisa kamu hubungi mengenai dia, dan orang itu juga terluka." Ucap pria itu menginformasikan semuanya kepada Claudia.
Claudia menutup sambungan telepon dengan cepat dan dia berlari turun ke lantai bawah dan langsung berlari menuju pintu gerbang utama dari rumah. Namun dia berhenti karena pintu terkunci dari luar. Ada banyak para penjaga dan mobil yang berada di luar. Claudia memerintahkan kepada salah seorang penjaga untuk membiarkan dia keluar.
"Permisi, tolong buka pintunya. Aku harus pergi ke rumah sakit." Ucap Claudia.
"Maaf Nona, tapi anda tidak bisa melakukannya sampai kolonel sendiri yang meminta kami untuk membuka gerbang nya." Balas pria itu.
"Dasar bodoh, kolonel mu sedang terluka dan berada di rumah sakit, suamiku juga ada disana. Jadi berhentilah bertingkah bodoh seperti ini dan biarkan aku pergi. Aku harus pergi untuk menemui suamiku." Teriak Claudia pada mereka.
__ADS_1
Teriakan Claudia membuat penjaga itu dan yang lainnya yang mendengar tampak terkejut dan khawatir.
"Tenanglah Nona, kami akan membawa anda bersama kami, oke. Jangan khawatir, Tuan Adam dan kolonel akan baik-baik saja." Ucap mereka menjamin hal itu kepada Claudia.
Claudia sekarang berada di dalam mobil yang tengah berjalan menuju rumah sakit. Ada sebuah mobil di depan mobil yang di tumpangi Claudia, dan satu mobil lagi ada di belakang mengikuti mobilnya.
Claudia merasa begitu khawatir.
'Aku tahu itu. Dia selalu saja mendapat masalah. Kenapa dia selalu membuat nyawanya dalam bahaya. Tertusuk di punggung bagian belakang? Oh ya Tuhan dia pasti mengalami pendarahan yang banyak. Bagaimana keadaannya? Dia baik-baik saja kan, dia pasti sangat kesakitan sekarang. Aaaarrrggghhh.... Will juga mengalami luka. Aku rasa aku harus menghubungi Kim.' pikir claudia dan langsung menelepon Kim.
Sambungan telepon itu langsung diterima oleh Kim.
"Halo Claudia." Ucap Kim.
"Halo Kim, kau di mana? Kenapa kau tidak memberi tahu aku bahwa suamiku terluka? Dimana Kalina? Apakah dia baik-baik saja? Apakah kalian semua menemukan dia? Bagaimana dengan Dom? Apakah dia juga baik-baik saja?" Tanya Claudia tidak sabaran.
"Tenanglah Claudia, Dom baik-baik saja. Dia membawa Kalina pulang ke rumahnya. Aku berada di sini, di rumah sakit mengurus semuanya dengan dokter. Itulah kenapa aku tidak sempat menelpon mu. Will sudah baik-baik saja sekarang jangan khawatir." Ucap Kim.
"Dan suamiku?" Tanya Claudia begitu khawatir.
"Itu.... Mmmmmm lukanya lumayan serius dan berbahaya. Tapi dokter sudah merawatnya. Dia sedang ditangani sekarang disana. Saat ini dia berada di bawah pengaruh obat bius. Dokter mengatakan, dia akan sadar kurang dari satu jam." Ucap Kim menginformasikan pada Claudia.
Claudia tidak dapat menahan nafasnya sampai sekarang, dia pun berusaha menghela napasnya dengan begitu berat. Tapi hanya saat ketika dia mau menenangkan diri dan berpikir positif, dia mendapat telepon lain.
"Apalagi sekarang? Aku sudah memberitahumu bahwa suamiku tetap memenuhi janjinya. Dia sudah kembali, kau bisa melihatnya. Dia pulang kembali dan itu juga bersama Kalina, dengan selamat dan masih utuh. Aku sudah memberitahumu." Teriak Claudia di ponsel tanpa membiarkan orang yang meneleponnya itu berbicara.
"Benarkah sayangku? Kau begitu mengagumi pria itu. Jangan khawatir, sebentar lagi itu orang itu akan menjadi diriku. Ngomong-ngomong aku menelpon mu untuk memperingatkan mu bahwa, saat ini hanya Kalina saja. Lain kali, itu bisa jadi orang lain. Kali ini dia mendapat tusukan di punggungnya tapi lain kali, bisa saja dia langsung mendapat tusukan di dada yang menembus jantungnya, kau tahu itu."
Setelah itu, pria itu terdiam untuk beberapa saat membuat Claudia takut dan berpikir keras.
"Itulah yang ingin aku katakan kepadamu sayang. Datanglah kepadaku dengan kemauan mu sendiri. Aku tidak akan menyakiti siapapun lagi, tapi jika kau tidak mau melakukannya, aku akan melakukan semua proses seperti ini lagi. Sebagai informasi untukmu, akulah orang yang menusuk suamimu kali ini dan aku berjanji sayang, itu semua karena rasa marah dan benci ku kepadanya aku tidak akan berpikir dua kali untuk menusuk jantung nya lain kali.
Aku memperingatkan mu Claudia, datanglah kepadaku atau aku akan merusak semua yang ada di sekitarmu. Dan suamimu yang berlumuran darah itu, kau harus mulai menghitung hari kematiannya mulai sekarang karena dia adalah laki-laki yang hidupnya tinggal menghitung hari saja. AKU AKAN MEMBUNUHNYA DENGAN TANGANKU SENDIRI, aku berjanji kepadamu tentang hal itu." Ucap pria itu lalu terdiam.
Claudia berada dalam semua emosi saat ini, takut, khawatir, marah, merasa jijik, dan kebanyakan rasa benci.
"Kenapa kau melakukan semua ini? Kenapa kau tidak mengerti bahwa aku sudah menikah sekarang? Momen yang terjadi diantara kita di masa lalu itu adalah sebuah kesalahan dan ketidak kesengajaan. Itulah yang aku lihat dan dari sisimu juga harusnya seperti itu. Aku sudah menikah dan sangat bahagia sekarang. Ini bukan karena kau adalah mafia, bahkan jika kau sendiri adalah orang biasa, aku tidak akan meninggalkan suamiku. Aku mencintainya, tidak perduli bagaimana laluku, dia adalah masa kini ku dan aku melihat seluruh masa depanku hanya dengan dirinya. Tolong, aku mohon padamu, jangan lakukan semua ini. Aku mencintainya, aku ingin selalu bersamanya. Aku tidak akan bahagia jika aku meninggalkannya. Kumohon." Pinta Claudia dengan hati yang penuh dengan rasa lelah, dia lelah akan semua ini. Hidupnya yang bahagia tengah dikacaukan oleh Sean.
"Sayang ini semua terjadi karena aku tidak ada di sisimu selama beberapa tahun ini. Kau jatuh cinta kepadanya karena aku tidak ada disisi mu dan kau juga menikah dengannya karena terpaksa. Percaya padaku, jika kau mulai hidup denganku, kau akan melupakan dia. Jangan lupakan bahwa aku adalah orang pertama yang membuatmu tertarik. Kau bahkan memberikan ciuman pertamamu kepadaku, di saat pertama kali kita bertemu. Sejarah tidak akan terulang begitu saja. Hatimu mengetahui aku, itu tidak akan bisa untuk menyakiti aku dan hatimu hanya cinta kepadaku kau akan bersamaku.
Aku bisa meyakini bahwa hatimu masih menginginkan aku. Cinta pertama akan selalu menjadi cinta pertama. Aku adalah cinta pertama mu, hatimu akan mengenal aku dan tidak butuh waktu lama. Berikan kesempatan pada hatimu. Kau hanya terikat untuk mencintainya. Hubungan yang kalian lakukan itu hanya cinta sesaat saja, karena kalian selalu bersama. Dan teman-teman yang berada di sekelilingnya membuatmu jatuh cinta kepadanya, tapi denganku kau jatuh cinta padaku karena dirimu sendiri. Tidak ada yang memaksamu untuk melakukan apapun. Aku memberitahukan mu tentang perasaan yang kau berikan kepadaku itu 100% murni, aku adalah cinta pertamamu." Ucap Sean memberi penjelasan kepada Claudia.
Claudia menaruh kepalanya ke belakang karena rasa frustrasi.
"Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak ada orang yang memaksa aku. Aku tidak mencintaimu, aku tidak pernah mencintaimu. Aku jatuh cinta kepada suamiku perlahan dengan berjalannya waktu. Tidak ada yang memaksa aku. Aku memberikan ciuman pertamaku kepadamu karena situasi yang aneh saat itu. Tapi aku memberikan malam pertamaku kepada suamiku sesuai dengan keinginan ku sendiri, dengan seluruh hati dan perasaanku.
Kau sendiri yang membuat suatu hubungan diantara kita. Ini semua bukan dariku, tapi dalam hal di antara aku dan suamiku, memang aku lah orang yang mengajaknya di malam pertama kami. Aku menelponnya, aku menginginkan dia melakukannya. Ketika kau tidak ada disini beberapa tahun ini, aku tidak pernah merindukanmu. Aku bahkan melupakan namamu dan semua hal tentangmu. Tapi lihat, aku disini begitu mati rasa tanpa kehadiran suamiku. Aku merindukannya dalam setiap hembusan nafasku." Ucap Claudia kembali.
__ADS_1
"Aaarrrggghh, hentikan itu. Aku tidak bisa mendengar semua ini. Berhentilah mengekspresikan cintamu kepada pria itu di hadapanku. kau hanya membuat kebencian ku semakin besar dan dalam kepada dirinya. Aku memberitahu mu, bahwa aku akan membunuh dia lain kali.
Berhati-hatilah, aku akan membunuhnya. Dia tidak akan lagi berada di hidupmu. kemudian aku akan melihat mu, bagaimana kau mencintai aku. Selamat tinggal." Sean memutuskan sambungan telepon.
Claudia tetap terdiam kemudian dia tiba di rumah sakit dan langsung pergi ke ruangan pasien. Saat tiba di sana, dia menarik nafas dalam berdiri di depan pintu lalu membukanya perlahan.
Disana lah ada seorang pria berbaring di tempat tidur rumah sakit di sebuah ruangan khusus, saat dokter tengah memeriksa organ vital nya dan Kim dan Dom juga ada disana di samping tempat tidurnya bersama dokter. Will juga ada disana dengan kepalanya yang tampak diperban. Bagaimanapun dia kelihatan baik-baik saja masih bisa berdiri sendiri.
Saat semua orang menyadari kehadiran Claudia, semua kepala mereka menoleh ke arahnya. Claudia tidak melihat ke siapapun. Dia tetap berdiri dengan wajah menghadap ke lantai dan menggigit bibirnya.
"Sayang, kau ada di sini. Siapa yang..."
Adam mulai bicara dengan suara yang terdengar begitu panik.
"Tenanglah, dia datang kesini dengan bersama para pengawal. Aku sudah bicara dengan mereka." Ucap Kim memberitahu Adam supaya dia merasa lebih tenang.
Tapi Claudia tidak menjawab apa pun, tidak juga melihat kearah suaminya. Yang lainnya mengerti tentang situasi yang terjadi. Mereka berbicara dengan perlahan dengan mata dan melihat kearah Adam. Adam juga menganggukkan kepalanya, menyetujui apa keputusan mereka.
"Dokter, terima kasih atas perhatian anda. Tapi tinggalkan semuanya untuk beberapa saat. Sekarang juga, aku harus berduaan dengan seseorang. Bisakah kau pergi?" Ucap Adam dengan suara yang seperti biasanya terdengar dingin dan datar.
Tidak ada tanda-tanda rasa sakit dari suaranya, dokter pun mengerti dengan apa yang dikatakan Adam. Dia dan yang lainnya pun akhirnya keluar dari ruangan itu.
Adam menarik napas dalam dan melihat kearah istrinya yang masih berdiri sendirian melihat kearah lantai.
"Saaaayaaaang...." Adam memanggil Claudia dengan suaranya yang begitu lembut.
Claudia tidak berpindah dari tempatnya berdiri dalam diam masih berdiri di sana. Tapi bisa melihat bahwa Claudia terlihat begitu bergetar.
"Datanglah kemari sayangku." Ucap Adam lagi, tetap tidak mendapat respon apapun dari Claudia. "Aaaaiiiihhh, aku merindukan pelukanmu sayang. Apa kau tidak mau memberikan aku pelukan hangat? Tidakkah kau merindukan aku sayang?" Ucap Adam mencoba lagi.
Kali ini usahanya berhasil, Claudia berlari kearah Adam dan langsung menjatuhkan dirinya di pelukan sang suami, mengusap wajahnya di dada Adam seraya menghindari area di mana Adam terluka dan terdengar menangis begitu keras.
Adam tidak menghentikan Claudia. Dia tetap mengusap kepala Claudia dan punggungnya dengan perlahan.
"Tidak apa-apa, semuanya sangat baik-baik saja sayang. Aku baik-baik saja, tenanglah sayang. Aku sudah menepati janjiku bukan? Aku ada disini untukmu, dengan membawa Kalina juga dalam keadaan baik." Ucap Adam.
Claudia melepaskan pelukannya dan duduk di samping Adam.
"Diam lah. Kau memang ada di sini, tapi dengan luka yang begitu berat ini. Siapa yang memintamu mu untuk bertingkah seperti pahlawan setiap kalinya. Kau terlalu perhatian dan aku membencimu karena hal itu. Tunggu dan lihatlah apa yang akan aku kulakukan untuk membalas mu. Aku membencimu, aku membencimu, aku membencimu." Ucap Claudia di sela tangisnya memukuli dada Adam dengan perlahan dengan kedua tangannya.
Adam tetap tersenyum dan tertawa kecil dengan tingkah menggemaskan istrinya itu. Dia menarik Claudia mendekat ke arahnya lalu memegang wajah Claudia dengan kedua tangannya.
"Bisakah kau diam dan cium aku. Aku begitu sengsara disini dan ingin menyentuh mu sayang. Kumohon." Ucap Adam.
Pasangan itu lalu berciuman dan tetap seperti itu untuk beberapa saat. Melepaskan perasaan rindu mereka masing-masing dengan ciuman itu. Ciuman itu penuh dengan rasa cinta. Hal itu adalah bukti bahwa mereka berdua saling merindukan satu sama lain. Mereka juga berpelukan dengan sangat erat. Cara mereka berpelukan menunjukkan bahwa mereka takut kehilangan satu sama lainnya.
Bersambung...
__ADS_1
To be continued....