
"Adam ku mohon, hentikan." Ucap Claudia lagi.
Adam menghentikan aksinya dengan berdecak kesal. Ia tak memandang wajah Claudia, matanya masih fokus pada leher Claudia yang diciumnya sejak tadi.
"Kenapa? Apa ada yang salah sekarang? Kau yang sudah menggodaku. Membuatku menjadi nafsu. Sekarang apalagi? Ahh, biar aku tebak, bagaimana mungkin aku bisa melupakan hal yang paling penting. Tenang saja, katakan padaku. Berapa tarif mu dalam semalam?"
Pertama kali mendengarkan hal itu mata Claudia seperti memancarkan api kemarahan tapi dia dengan cepat menahan diri untuk tidak lepas kontrol akan dirinya. Ia menarik napas dalam agar bisa menahan amarahnya, karena dia sudah punya rencana yang ada di dalam kepalanya.
Claudia kembali menarik nafasnya dalam.
"Berapa banyak yang kau bayar biasanya dalam semalam?" Tanya Claudia dengan senyuman getir, senyum yang terlihat menyedihkan dan Adam tidak melihat hal itu.
"Bukan urusanmu, kau sebut saja berapa yang kau mau." Ucap Adam dengan kembali ke posisinya yang tadi mencium leher Claudia.
Claudia berusaha menahan ******* yang keluar dari dalam mulutnya dan berkata, "lakukan saja, aku akan memberitahukan mu harganya nanti," balas Claudia dengan wajah datar.
"Apa kau seputus asa itu?" Ucap Adam seraya kembali mencium leher Claudia dengan ganas.
Claudia menutup matanya, lalu merasakan air matanya yang jatuh ke pipinya hingga ke telinganya dan dia tetap terdiam.
Adam saat ini tengah mencium bagian dada Claudia. saat ponselnya bergetar, dia menghentikan aksinya dan mengumpat kesal. Dia bangkit dari atas tubuh Claudia dan merogoh ponselnya yang ada di dalam saku celananya.
Istriku sayang: 'Hentikan skors yang dilakukan pada Lisa.'
Ponsel yang ada di dalam genggaman Adam jatuh begitu saja ke lantai ketika kesadaran kembali pada dirinya.
Apa yang sudah dia lakukan? Apa yang sudah masuk ke dalam dirinya? Apakah dia sudah kehilangan akal sehat?
Adam meremas rambutnya dengan kasar sebelum dia melihat kearah gadis yang di cumbu nya sejak tadi ternyata sudah duduk di tepian ranjang dengan menatapnya dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.
Adam kembali menggunakan jasnya kemudian membuka pintu dengan kasar lalu menatap kearah gadis yang duduk di atas ranjang dengan tatapan yang mematikan lalu berkata, "menyedihkan."
Claudia sekarang tersenyum jahat. Senyumannya yang begitu penuh arti. Dan benar saja dia yang sudah mengirim pesan itu kepada Adam. Claudia bangun, lalu keluar dari dalam kamar dengan tidak memperdulikan rambutnya yang berantakan, lehernya yang penuh dengan tanda merah dan bibirnya yang sedikit berdarah.
***********
Adam dengan cepat pulang ke rumah tanpa mengajak Nadia lebih dulu. Dia terus terlihat mengetik pesan kepada istrinya.
Adam: Kenapa? Bagaimana kau bisa tahu semua ini? Apakah kau sudah mendengar tentang insiden itu? Percaya padaku, aku tidak punya hubungan apapun dengan gadis itu. Itu semua ulahnya dan tantangan gila yang dia lakukan bersama teman-temannya. Aku sendiri tidak tahu kenapa dia melakukan hal itu.'
Adam tiba di rumah, dia terlihat sibuk melihat kearah ponselnya. Tidak ada balasan dari pesan yang ia kirim. Adam terlihat menggigit kukunya karena gugup.
Dia mengutuk dirinya sendiri atas semua yang dilakukannya di kamar itu tadi malam. Dia tidak percaya bahwa dirinya sudah berselingkuh dari istrinya. Adam lalu meninju tembok dengan sangat keras. Berselang 1 jam setengah, sebuah pesan balasan datang dari istrinya.
Istriku sayang: 'Ini adalah harga dari setiap menit yang aku berikan kepadamu karena telah menyentuh ku. Hentikan skors Lisa sekarang juga.'
Adam sangat terkejut, dia membaca pesan dari Claudia secara berulang-ulang. Tapi setiap kali ia membaca pesan itu, artinya selalu sama bagi Adam: 'Ini adalah harga dari setiap menit yang aku berikan kepadamu karena telah menyentuh ku. Hentikan skors Lisa sekarang juga.'
"Itu artinya....." Adam terpukau, ia tidak dapat berpikir jernih. Tidak ada seorangpun yang pernah melihat wajahnya dengan ekspresi yang seperti itu.
Pertama, yang dia lakukan adalah menelpon Erik untuk memintanya menghentikan skors yang diberikan kepada Lisa. Lalu ia menelpon Naomi.
"Aku mau kau mengirimkan foto Claudia padaku." Ucap Adam dengan suara bergetar.
"Dam, kau tahu sendiri, aku tidak bisa melakukan hal itu padamu."
"Naomi kumohon, aku sudah kacau. Keadaan semakin memburuk. Ku mohon bantu aku." Ucap Adam memelas.
Adam lalu menjelaskan semuanya kepada Naomi. Naomi hanya bisa diam. Dia akhirnya bisa memahami situasi yang terjadi dan wanita yang diceritakan oleh Adam tak lain adalah Claudia, istrinya sendiri.
Naomi akhirnya menyerah akan permasalahan kedua suami istri itu. Dia ingin kedamaian. Dia lalu mengirimkan foto Claudia kepada Adam kemudian merebahkan dirinya di atas tempat tidur seraya memijit keningnya. Dia tahu bahwa besok akan menjadi hari yang panjang.
Adam membuka gambar yang dikirimkan oleh Naomi.
Matanya membelalak. Dia begitu kaget hingga membuat tangannya bergetar. Dia lalu terjatuh seperti kehilangan keseimbangan duduk di atas sofa.
Claudia... Claudia Arista Setyawan adalah istrinya, gadis yang menciumnya malam itu.
__ADS_1
Gadis yang diusirnya dari Starlight. Starlight mall. Claudia adalah pemilik dari mall itu dan Adam malah mengusirnya keluar dari sana.
Gadis yang ditolak nya untuk berjabat tangan dan gadis yang mengatakan 'I love you' kepadanya dan gadis yang dibentak nya di dalam sebuah butik.
Gadis yang ia buang ke dalam laut. Gadis yang ia tawari uang untuk menghabiskan malam bersamanya.
Adam menutup mulutnya karena syok berat. Dia tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Bagaimana jika gadis itu tidak bisa berenang? Dia bisa saja membunuh istrinya sendiri. Bagaimana ia bisa menawarkan uang kepada istrinya sendiri untuk menghabiskan malam dengannya? Adam kembali meninju tembok karena frustrasi.
Adam mendapat pesan lainnya, yang membuatnya bergegas mengambil handphonenya.
Istriku sayang: 'Terima kasih karena sudah membatalkan skors untuk Lisa. Sampai bertemu besok.'
Adam: 'Claudia bisakah kita bertemu sekarang. Aku ingin mengatakan banyak hal kepadamu. Aku ingin meminta maaf atas semua yang sudah aku lakukan kepadamu.'
Tapi tidak ada balasan dari Claudia. Adam menutup matanya dan kembali mengingat segala hal yang telah ia lakukan terhadap Claudia.
*********
Pagi berikutnya Adam bangun sangat pagi karena akan bertemu dengan Claudia untuk yang pertama kalinya, bukan, setidaknya ini pertemuan mereka yang keenam atau yang ketujuh. Tapi untuk yang pertama kalinya bertemu sebagai suami istri. Kemarin Claudia sudah mengatakan bahwa ia akan datang ke kediaman Adam hari ini.
Naomi sendiri sudah tiba di kediaman Adam sejak pagi tadi, karena sejak semalam ia sudah tidak tidur bisa tenang.
"Naomi aku ingin mengetahui semuanya. Tolong ceritakan kepadaku semuanya." Ucap Adam.
"Tidak ada yang perlu diketahui sekarang. Memang benar dia meminta waktu darimu, kemudian kau pergi ke Kanada. Gadis itu, baru saja lulus sekolah dan masih berusia 18 tahun. Dia mendapat perspektif negatif tentang kehidupan. Sejak berusia 10 tahun dia sudah melihat semuanya secara negatif karena kehilangan figur seorang Mama. Kau pasti tahu sendiri siapa orang tua kandungnya. Di usia yang masih begitu muda, ia sudah kehilangan dua sosok yang sangat berarti baginya. Mama kandung dan Ibu angkatnya. Saat memasuki masa remaja ia malah langsung dinikahkan oleh Papanya denganmu. Setelah itu Papa nya meninggal. Apalagi yang bisa dilakukannya diusianya yang baru 18 tahun. Dan ia tinggal dilingkungan yang rata-rata usianya 18 tahun, dan dia sendiri malah menikah. Dia sudah tentu tidak menginginkan pernikahan ini. Semua hal ini sudah sangat merusak dirinya dari dalam. Dia paling benci yang namanya perselingkuhan. Dan semua tentang hubungan, komitmen dan pernikahan, ia tak mempercayainya. Apalagi dia pernah dikecewakan saat pertama kali mempunyai seorang kekasih. Pria itu ternyata tak pernah mencintainya, pria itu hanya menginginkan uangnya. Ah, kita tidak usah membahas tentang hal itu, intinya semua ini bukan kesalahannya semata." Ujar Naomi panjang lebar.
Adam hanya bisa terdiam, mendengarkan semua ucapan Naomi dengan serius.
"Iya, dia memang meminta waktu darimu, tapi kau malah meninggalkannya selama 2 tahun. Percaya padaku Dam, meninggalkan dia sendirian di rumah yang dipenuhi penjaga dan pelayan, untuk menghadapi dunia seorang diri, kau seharusnya bisa men-support nya, menjaganya untuk menghadapi dunia yang keras ini. Jadi, selama ini dia malah memilih menjadi pribadi yang begitu keras. Suka bertindak berlebihan karena dia tak ingin orang lain mengaturnya, suka bicara kasar karena ia tak ingin orang yang lebih dulu bicara kasar padanya. Semua hal negatif yang dilakukannya semata karena ia takut menghadapi semuanya seorang diri. Meskipun begitu, aku tahu benar bahwa sebenarnya dia itu hanyalah masih gadis belia yang membutuhkan kasih sayang dan bimbingan. Dan kau yang seharusnya melakukan semua tugas itu, tapi kau gagal. Seperti yang aku katakan, dia benci perselingkuhan. Tapi, dia selalu melihatmu dengan Nadia. Aku tahu kau sebenarnya tidak bersalah dalam hal itu. Tapi yang kau lakukan semalam? Bagaimana kau bisa.... Apa kau sendiri mengerti apa itu perselingkuhan? Jika itu tidak terjadi dengan dirinya, maka bayangkan bagaimana jadinya jika kau tidur bersama orang lain. Aku tidak aku apa yang saat ini dipikirkan olehnya. Aku benar-benar tidak tahu."
Naomi menghela napas, sementara Adam sejak tadi hanya bisa terdiam. Seorang pelayan datang memberitahu keduanya bahwa Claudia telah tiba.
Adam menarik napas dalam-dalam, ia mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Claudia.
Claudia masuk ke dalam rumah mengenakan t-shirt berwarna putih yang bagian bawahnya ia masukkan ke dalam celana jeans warna hitam, dengan luaran mengenakan kemeja oversize dan juga sepatu boots berwarna hitam.
Pandangan Adam beralih pada leher Claudia dimana terdapat banyak sekali tanda merah bekas kecupan yang ia lakukan semalam. Claudia bahkan tidak mempermasalahkan adanya tanda itu dan tidak berusaha untuk menutupinya.
Adam merasa bersalah. Kata-kata Naomi kembali terngiang di telinganya.
"Selamat pagi Kak Naomi." Sapa Claudia.
Naomi tersenyum dan mengangguk.
"Claudia, aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Lihatlah...."
Naomi hendak mengatakan sesuatu, tapi Claudia memotong ucapannya.
"Kak Naomi, aku datang kemari untuk bicara dengan suamiku. Apa bisa?" Ucap Claudia dengan suara yang dingin.
"Kita bisa bicara di kamar lantai atas." Ucap Adam.
Claudia tak melihat kearahnya, dia langsung berjalan begitu saja ke lantai atas.
"All the best Dam, jangan biarkan perceraian ini terjadi." Ucap Naomi.
*********
Adam masuk ke dalam kamar dengan menarik napas dalam. Sebelum ia berhadapan dengan Claudia, aura bos dan dingin yang biasa melekat pada dirinya langsung hilang entah kemana.
Claudia menunggu dirinya masuk ke dalam kamar. Saat Adam masuk, Claudia langsung berbalik dan memandangnya.
"Sekarang kau tahu siapa aku sebenarnya. Aku yakin, sekarang kau tidak akan ragu untuk menandatangani surat cerai itu." Claudia memulai ucapannya.
Adam tetap terdiam, dia sibuk menatap wajah Claudia dalam jarak begitu dekat untuk pertama kalinya. Bagaimana bibirnya bergerak mengucapkan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
"Tuan Adam Wijaya, aku bicara padamu." Teriak Claudia yang terlihat frustrasi karena tak digubris.
__ADS_1
Adam bergerak mendekati Claudia, dengan matanya yang masih melihat ke arah bibir Claudia. Ia lalu menatap mata Claudia, keduanya saling pandang dalam jarak yang begitu dekat.
"Kau sangat cantik." Ucap Adam.
Claudia menggigit bibirnya berusaha mengontrol emosinya.
"Tanda tangani surat cerai itu. Aku ingin segera pergi." Ucap Claudia.
Adam yang sudah kehilangan kontrol akan dirinya, karena pertama kali bertemu istrinya langsung menarik Claudia ke dalam pelukannya. Claudia berusaha melepaskan diri dengan mendorong dada Adam. Tapi Adam benar-benar mendekapnya begitu erat.
"Hei, apa yang kau lakukan. Lepaskan aku!" Teriak Claudia.
Adam mencium rambut Claudia.
"Wow, rambutmu begitu harum. Ah, aku masih tidak percaya, akhirnya aku bisa bertemu denganmu." Ucap Adam begitu senang.
"Hentikan semua omong kosong mu itu dan cepat tanda tangani surat itu." Ucap Claudia.
"Aku tidak mau menceraikan mu. Tidak akan pernah." Balas Adam dengan tersenyum bodoh
Claudia bingung, ia pikir dengan bertemu Adam seperti ini, maka dia akan setuju untuk menceraikannya. Tapi kata-kata Adam malah membuatnya bingung, terlebih Adam yang tersenyum ke arahnya.
"Stop bertingkah seperti kau memiliki suatu perasaan padaku. Kau sudah berselingkuh dariku tadi malam. Ingat bagaimana hausnya dirimu untuk menyentuhku. Kau bahkan siap untuk membayar ku, memalukan sekali. Aku tahu sekarang, bagaimana berwarna nya setiap malam yang kau lewati selama ini. Tapi, kau tidak mau memberitahuku berapa bayaran yang kau keluarkan untuk setiap malam." Ucap Claudia.
Adam tahu bahwa semua ini akan terjadi, ia tahu bahwa Claudia akan mengatakan semua ini.
Adam malah semakin memeluk Claudia dengan erat daripada memilih untuk menjawab pertanyaannya.
"Aku minta maaf atas semua yang aku lakukan padamu. Kau boleh tidak memaafkan aku atau kau mau melakukan apapun, tapi jangan pernah menyebutku sebagai tukang selingkuh, karena aku tidak pernah berselingkuh darimu." Ucap Adam seraya memeluk Claudia dengan perasaan penuh kasih sayang.
Claudia berusaha melepaskan pelukan Adam, tapi tetap saja tak bisa.
"Hentikan semua omong kosong ini. Aku tidak mau bicara dengan seorang pengkhianat, kau tidak bisa menyangkalnya. Kau sudah mengkhianati aku, dan aku benci pengkhianat." Teriak Claudia.
"Tapi, kau yang sudah mencium ku. Kau yang sudah memulai semuanya. Ya, semalam aku membalas ciuman mu saat kau mencium ku. Aku berusaha untuk menolak, tapi beberapa menit kemudian hormon dalam tubuhku menyerah, iya aku memang menawari uang bayaran padamu itu semua karena ku pikir kau yang menginginkan bayaran. Aku juga manusia biasa. Pertama kali saat di hotel, kau sedang mabuk, kau mencium ku. Bayangkan saja jika itu adalah orang lain, maka kaulah yang berselingkuh dariku." Ucap Adam.
Claudia terdiam, dia tahu bahwa Adam ada benarnya.
"Ya, setiap kali kita bertemu, aku akui akulah orang yang selalu mencari masalah. Aku lah orang yang selalu memulai pertengkaran. Tapi, itu semua semua aku lakukan karena aku kesal dan marah padamu karena kau telah mencuri ciuman pertama yang selama ini aku simpan untuk istriku." Ucap Adam.
Claudia menatap Adam dengan terkejut.
"Tapi, aku tidak akan membela diriku lagi atas setia pertengkaran itu. Kau boleh menghukum ku." Lanjut Adam. "Percaya padaku, sejak di hari pertama pernikahan kita, aku tahu benar bahwa kau sangat membenci perselingkuhan. Aku tidak bisa membayangkan jika diriku berselingkuh dengan wanita lain."
"Dengar, simpan semua penjelasan itu untuk dirimu sendiri. Aku tidak membutuhkannya. Aku hanya ingin bercerai, itu saja. Aku tidak menginginkan pernikahan ini. Kau tidak bisa memaksaku, aku bisa mengambil jalur hukum." Ucap Claudia.
Adam menyelipkan anak rambut Claudia ke belakang telinganya laku tersenyum. Naomi benar, bahwa Claudia memang masih kekanakan, belum dewasa, dia masih butuh kasih sayang, perhatian dan cinta. Tidak bisa ditunggu lagi, Adam akan mulai menghujani Claudia dengan semua itu.
"Pertama-tama, kau tidak akan menang melawanku secara hukum. Kedua, tidak akan ada perceraian yang terjadi begitu saja tanpa kau bisa membuktikan kesalahan yang sudah aku perbuat. Bagaimana pun kau tidak akan menang melawanku. Jadi, aku punya ide bagus." Adam berhenti bicara.
Claudia masih diam, berusaha terus mendengarkan setiap ucapan Adam.
"Tiga bulan, aku memberikanmu waktu tiga bulan. Aku sudah mengatur semuanya, kau masih bisa berkuliah di tempat yang sama tapi kali ini kau akan belajar mengenai film making dan videografi. Intinya kau harus bisa memperbaiki nilai mu dan berhasil lulus ujian akhir dengan menjadi mahasiswa yang mendapat nilai paling tinggi. Aku akan menuntun mu dan membantumu. Kau harus menunjukkan padaku dengan baik bahwa kau bisa mengambil tantangan apapun dalam hidupmu, setelah itu aku akan menceraikan mu." Ujar Adam.
Claudia terus tertawa, setidaknya selama dua menit. Dia tak bisa bergerak dan hanya bisa tertawa karen ia masih dalam pelukan Adam.
Adam terus menunggu hingga Claudia selesai tertawa.
"Sudah selesai tertawanya? Sekarang apa kau sudah siap?" Tanya Adam.
"Heh, apa kau serius? Kau itu suamiku, stop bertingkah seperti seorang ayah. Demi Tuhan, aku tidak akan pernah menerima semua ini. Aku hanya menginginkan perceraian, itu saja. Aku akan melakukan apapun untuk melawan mu secara hukum." Balas Claudia lalu mendorong Adam untuk menjauh darinya.
Adam tidak menahan Claudia, dia memilih mundur selangkah.
Claudia lalu bergegas keluar dari rumah itu dengan cepat, meninggalkan senyuman di bibir pria yang ditinggalkannya di dalam kamar.
Bersambung...
__ADS_1