90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
Bertemu Keluarga Besar Andreas (Bab 45)


__ADS_3

Disinilah aku hari ini....


Berada dalam mobil berdua dengan Andreas, hendak mengunjungi Mama Andreas. Awalnya aku menolak karena takut Mama Andreas tak akan menerima hubungan kami. Tapi Andreas meyakiniku, bahwa Mama nya akan ikut bahagia jika dirinya bahagia.


Aku pernah sekali ke rumah Mama nya bersama Arnold. Tapi, rasanya berbeda saat pergi dengan Andreas. Jika dulu saat bersama Arnold, aku tidak begitu memperhatikan jalanan yang kami lewati. Bersama Andreas, suasananya jadi sangat berbeda. Sikapnya yang begitu manis membuatku sangat bahagia, hingga aku sampai begitu detai memperhatikan perkampungan-perkampungan yang kami lewati.


Perkampungan yang kami lewati tentulah arsitektur rumah penduduk tidaklah sama dengan yang diperkotaan. Terlihat masih ada rumah-rumah panggung warga yang sederhana. Walaupun sudah ada bangunan rumah batu serta rumah kayu yang mewah. Rata-rata rumah panggung sederhana berdinding papan.


"Gadis kecilku, tutup hidungmu." Ucap Andreas sambil menutup hidungku dengan telapak tangan kirinya.


"Hei, kau harus fokus menyetir." Ucapku melepas tangan Andreas yang menutupi hidungku.


"Kalau tidak, tutup saja jendela." Titahnya lagi.


"Ada apa sih? Biar saja terbuka, aku suka udara segar." Balasku.


"Baiklah, tapi jangan menyesal." Ucapnya.


Dan mulailah aneka bau tercium. Dari bau kotoran ternak yang terserak dijalan sampai bau makanan.


"Apa ini?" Ucapku menutup hidungku.


"Kan sudah aku peringatkan. Di sekitar kampung tadi, memang banyak warga yang memelihara sapi. Mereka membiarkan sapi mereka berkeliaran hingga ke jalan-jalan. Dan seperti yang kau hirup tadi, bau kotoran sapi dimana-mana." Andreas menjelaskan dengan bibir yang menahan tawa.


Mungkin karena melihat ekspresi wajahku yang tadi terlihat aneh saat mencium bau kotoran sapi.


Kami melewati beberapa kampung, dan setiap kampung itu menghadirkan bau-bauan yang berbeda. Dari kampung pertama, bau kotoran sapi dan makanan. Lalu yang kedua, bau ikan kering yang dibakar terasa menggugah selera makan. Aku jadi membayangkan ikan kering itu dibakar diatas api membara dari kayu bakar bukan di atas kompor.


Bau itu terasa khas menusuk hidung, memancing rasa lapar. Andai aku tak malu bertamu di rumah mereka, mungkin aku bisa numpang duduk makan.


"Kenapa?" Tanya Andreas. "Laper ya karena tercium bau ikan?"


'Ah, pria ini selalu saja tahu apa yang aku pikirkan.'


"Kau punya ilmu membaca pikiran ya?" Tanyaku.


"Tidak perlu punya ilmu seperti itu. Semua orang yang melihatmu saat ini, pasti akan tahu bahwa kau ingin makan ikan bakar gara-gara mencium bau nya tadi. Itu buktinya, air liur mu menetes." Ucap Andreas tertawa.


Sontak aku memukul pundaknya dan membuatnya meringis seolah kesakitan. Padahal pukulan ku tidak akan sanggup membunuh nyamuk.

__ADS_1


Masuk ke kampung kedua, yang tercium adalah bau kue yang digoreng. Seperti bau pisang goreng. Baunya juga menyeruak ke jalan. Maklum perkampungan mereka dekat jalanan. Mereka menganut pola pemukiman memanjang, mengikuti alur jalanan atau sungai.


"Sepertinya enak punya rumah di pinggir jalan seperti di perkampungan ini. Duduk-duduk makan pisang goreng di sore hari berteman teh panas sembari ongkang kaki. Menyaksikan kendaraan yang lewat." Ucap Andreas.


Aku tertawa, berarti hidungnya sama sensitifnya dengan hidungku. Kami bisa menebak bahwa bau-bauan yang tadi adalah berasal dari pisang goreng.


"Apa kau mau tinggal di perkampungan seperti ini?" Tanyaku.


"Selama itu sama kamu, di kolong jembatan pun aku mau." Jawab Andreas yang semakin membuatku tertawa.


"Buaya." Balas ku yang membuat Andreas ikut tertawa.


Begitu kami sampai, sudah ada banyak orang yang menunggu di depan rumah Mama Andreas. Aku disambut dengan sangat baik oleh keluarga Andreas. Makanan khas dari daerah tersebut sudah tersedia di meja. Andreas memperkenalkan aku kepada anggota keluarganya, tante-tante nya dan bahkan tetangga Mama nya. Aku agak kikuk juga, karena sebenarnya aku hanya ingin mengunjungi Mama Andreas dan kemudian berjalan-jalan menikmati keindahan alam di desanya. Tapi ternyata, anggota keluarganya yang lain ikut hadir menyapaku.


'Ah bagaimana ini. Aku gugup sekali.'


Andreas memegang tanganku yang gemetar di bawah meja. Ia menatap mataku, seolah mengatakan untuk bersikap tenang dan santai.


"Khem.... Khem...." Andreas berdeham dan membuat semua orang yang tengah menikmati jajanan memandang ke arahnya.


"Semuanya terima kasih karena sudah ikut hadir disini. Untuk Mama, terima kasih karena sudah sekalian mengundang keluarga yang lainnya. Aku tahu, kalian pasti bertanya-tanya dalam hati kenapa aku membawa Velicia kemari. Karena sebelumnya aku belum cerita dengan Mama bahwa gadis yang akan aku bawa kemari adalah Velicia, mantan adik ipar ku." Ucap Andreas.


Jujur, aku sejak tadi sangat was-was. Meski semua keluarganya menyambut kedatanganku dengan baik, bisa saja karena mereka tidak ingin membuat Andreas kecewa. Tapi, sebenarnya dalam lubuk hati mereka, pasti sangat kesal melihat kedatanganku.


Semua orang saling pandang, lalu tertawa bersamaan.


'Eh, kenapa mereka malah tertawa?' pikirku.


Tiba-tiba Mama Andreas memegang kepalaku. Aku memang duduk diapit oleh dirinya dan Andreas.


"Andreas. Mama akan bahagia jika kau bahagia, Nak. Mama dan yang lainnya hanya sedikit kaget saja karena ternyata wanita yang selama ini selalu kau eluh-eluhkan dan ceritakan akhir-akhir ini kepada Mama adalah mantan isteri adikmu sendiri. Tapi, Mama tentu saja tidak akan menghalangi kalian berdua. Apalagi Mama sudah tahu bahwa Velicia ini gadis yang sangat baik. Jadi, Mama setuju-setuju saja atas hubungan kalian berdua." Ujar Mama Andreas yang membuat mataku berkaca-kaca.


"Kami juga setuju." Ucap anggota keluarga yang lainnya bersamaan.


"Terima kasih semuanya. Karena kalian semua sudah setuju, maka aku akan mengatakannya secara langsung. Aku akan segera menikahi Velicia." Ucap Andreas yang membuat jantungku semakin berdegup kencang.


"Waaah selamat-selamat. Kalau begitu, mari kita rayakan dengan makan-makan di rumah Tante. Nanti Tante bisa minta tolong ke para tetangga untuk membantu masak untuk makan besar kita nanti siang." Ucap Tante Andreas yang bernama Tante Sarah itu.


Semua orang bersorak setuju.

__ADS_1


Meski aku dan Andreas tak ingin merepotkan semua orang. Tapi, tentu saja kami tidak bisa menolak permintaan tersebut. Namun, kami minta izin untuk berjalan-jalan sejenak sebelum berkunjung ke rumah Tante Sarah.


"Ma, siang nanti aku akan langsung ke rumah Tante Sarah. Untuk sementara aku mau ajak Velicia berkeliling. Apa boleh?" Tanya Andreas pada sang Mama.


"Baik, tapi ingat. Makan siang nanti sudah harus ada di rumah Tante Sarah ya. Dan jangan lupa hati-hati. Jaga calon mantu Mama dengan baik." Pesan Mama Andreas.


"Siap Ma." Ucap Andreas sambil hormat.


Aku dan Andreas pun berjalan kaki melihat-lihat kawasan sekitar. Kami pun berjalan-jalan di pematang sawah. Pemandangannya indah sekali. Sawah nan hijau terbentang luas dan suasananya juga sangat tenang. Beberapa petani terlihat sedang mengolah sawahnya.


Kami berdua menyempatkan diri untuk duduk di sebuah saung, sambil menikmati keindahan sawah tersebut. Di tepi sawah terdapat sebuah sungai. Terlihat beberapa anak kecil sedang bermain-main dan mandi di sungai. Mereka nampak sangat bahagia, tak terlihat sedikit pun rasa susah di wajah mereka. Aku pun mengajak Andreas turun ke sungai dan menyusuri tepian sungai. Kami, seperti juga anak-anak kecil yang sedang bermain di sungai tidak memedulikan gerimis yang turun saat itu.


Menjelang siang hari, Andreas mengingatkan aku untuk mampir ke rumah tante nya. Kami pun kemudian kembali menyusuri pematang sawah untuk menuju rumah. Ternyata rumah Tante Sarah terletak tepat di tepi sungai.


Setelah sampai di rumah Tante Sarah, kami melihat kesibukan yang dilakukan oleh beberapa tetangganya yang sedang mempersiapkan makan siang untuk kami. Ada yang sibuk membakar ikan, ada yang menggoreng ikan, ada yang mempersiapkan sayurannya, dan banyak lagi.


Sementara mereka masih sibuk mempersiapkan makan siang, Andreas mengambilkan buah kelapa dari pohon yang tumbuh di depan rumah tantenya. Aku pun menikmati air kelapa dengan lahap karena haus. Setelah haus terpuaskan, aku dan Andreas minta izin untuk turun ke sungai dan bermain-main sebentar di sungai. Sambil tentu saja mendokumentasi keindahan sungai yang tidak bisa aku temukan di kota.


Cukup lama aku bermain-main di sungai, sampai Andreas akhirnya memegang tangan ku dan membawaku karena makan siang sudah siap. Kami berdua pun masuk segera ke dalam rumah Tante Sarah.


Makanan yang tersedia sangat menggugah selera. Di meja makan, disuguhi ikan bakar dan goreng yang diambil langsung dari sungai. Juga terdapat lalap dan tentu saja sambal.


'Nikmat sekali.'


Apalagi makanan disajikan dengan ikhlas oleh pemilik rumah.


Cukup lama waktu yang kami habiskan di rumah Tante Sarah. Hari pun sudah mulai sore, kami pun berpamitan. Aku diberikan beberapa buah tangan oleh Tante Sarah.


Andreas dan aku harus kembali dulu ke rumah Mama nya, karena mobil kami parkir disana. Sesampai di rumah Mama Andreas, ternyata masih banyak bungkusan berisi beberapa macam makanan, kelapa muda dan juga buah-buahan lain yang harus aku bawa pulang. Aku sudah menolak karena oleh-oleh dari tante nya sudah cukup banyak, tetapi Mama Andreas memaksa agar aku membawanya pulang.


"Ma, ini terlalu banyak." Ucapku.


"Velicia sayang. Kamu itu akan selamanya menjadi menantu Mama. Dulu kau bersama Arnold, dan sekarang kau bersama Andreas. Mama sejak awal memang berharap kamu sama Andreas, karena Mama tahu benar kalau Andreas sangat mencintai kamu dan kamu pun sama. Hanya saja Tuhan mentakdirkan sesuatu terjadi hingga membuatmu mencintai orang yang salah. Sudahlah, sekarang tak perlu lagi membahas masa lalu. Semuanya sudah berlalu. Kini kalian berdua bersiaplah untuk menata masa depan kalian. Mama akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua. Dan satu hal lagi, setelah ini kalian harus memberi tahu Papa Setyawan agar dia tahu tentang hubungan kalian yang serius. Agar Arnold juga akan bisa menerima hubungan kalian." Ucap wanita yang selalu ku panggil Mama itu.


Aku memeluknya dengan erat, Mama pun membalas pelukanku lalu mencium keningku.


Andreas dan aku pun berpamitan lalu beranjak pergi meninggalkan kampung yang penuh dengan kasih sayang itu.


"Aku mencintaimu..." Ucap Andreas seraya mencium punggung tanganku sambil sebelah tangannya memegang setir.

__ADS_1


"Aku juga mencintaimu...." Balasku.


Bersambung.....


__ADS_2