90 Hari Mengejar Cinta Suamiku

90 Hari Mengejar Cinta Suamiku
Menerima Takdir (Bab 42)


__ADS_3

Setelah kejadian itu aku tak lagi menghubungi Andreas. Hidupku jadi kacau. Aku malu, bahkan untuk keluar rumah saja rasanya aku tak sanggup lagi. Aku takut nantinya bertemu dengan Andreas.


Apa yang harus aku katakan?


Bagaimana aku menjelaskan semuanya?


Apa ini memang sudah menjadi takdirku?


Tuhan sepertinya memang tidak mengizinkan aku untuk hidup bahagia. Begitu banyak kesedihan yang sudah aku lewati. Aku lelah, aku bosan untuk mengeluh.


Apa Tuhan tidak bosan mendengar keluhan ku?


Pertama aku harus kehilangan kedua orang tuaku, di saat aku masih membutuhkan kasih sayang mereka. Aku lalu bertemu dengan seorang pria yang membuatku merasa nyaman, merasa dilindungi setelah kepergian kedua orang tuaku. Tapi ia pergi dan kembali dengan pribadi yang berbeda.


Ternyata aku salah orang. Aku menghabiskan waktu 3 tahun sebagai istrinya. Dia bukan orang yang aku cintai dulu. Tuhan seolah tidak pernah membiarkan aku untuk hidup bahagia. Tuhan lalu memberiku sebuah penyakit yang hampir saja merenggut jiwaku. Namun Tuhan pula yang memberikan aku kesempatan untuk bisa hidup lagi.


Aku bisa bertemu dengan orang yang benar dan ternyata kami sama-sama saling mencintai. Namun, Tuhan kembali men takdir kan aku tuk kehilangan kebahagiaanku dan sekarang punya aku sudah menyerah. Aku lelah, aku pasrah.


Dua hari ini aku berdiam diri di rumah seorang diri. Aku duduk di balkon depan kamar. Hari sudah semakin siang, sejak pagi tadi aku belum beranjak dari tempat dudukku. Kulitku sudah memerah karena terkena sinar matahari sejak pagi tadi.


Suara ponsel membuyarkan lamunan ku. Tampak nama Merry tertera pada layar ponsel ku. Dengan cepat aku jawab panggilan itu.


"Halo Mer apa kabar?" Tanyaku.


"Aku baik kau bagaimana?" Merry bertanya balik.


"Aku baik-baik saja." Jawabku.


"Dua hari lagi aku akan kembali. Kuharap kau mau bertemu denganku di kedai teh ku." Ucap Merry lagi


"Tentu saja." jawab ku.


"Oh ya, bagaimana hubunganmu dengan Andreas? Apa kalian sudah membicarakan tentang pernikahan?" Tanya Merry dengan suaranya yang sedikit menggoda.


Pertanyaan Merry membuat hatiku kembali terluka. Aku terdiam tak tahu harus menjawab apa. Aku hanya bisa menghela nafas.

__ADS_1


"Hei kenapa kau diam? Apa kalian sedang bertengkar?"


Tentu saja, Merry pasti tahu ada yang tengah mengganjal di hatiku. Siapa lagi yang bisa memahami ku sebaik dirinya.


"Tidak." Jawab ku berbohong. "Kau lebih baik bersenang-senang jangan pikirkan aku." Lanjut ku.


"Tentu saja aku akan selalu memikirkan mu. Kau itu sahabatku." Balas Merry.


"Aku tahu tapi sekarang kau tengah berbulan madu. Jadi, lebih baik fokus saja dengan Hansen. Jangan terlalu memikirkan aku. Aku akan baik-baik saja." Ucapku.


"Baiklah, jaga kesehatanmu. Tunggu aku, sebentar lagi kita akan bertemu. Aku merindukanmu." Balas Merry.


Sambungan telepon terputus. Merry dan Hansen, saat ini memang tengah berbulan madu di tempat dimana Hansen selama ini tinggal.


Aku tidak mungkin menceritakan masalahku kepada Merry yang tengah berbahagia. Menikmati hari-hari indahnya sebagai pengantin baru. Aku tidak mau membebani Merry dengan masalah yang tengah aku hadapi.


Aku akan menyimpan semuanya sendiri dan aku tidak harus menceritakan kepada siapapun lagi. Karena masalah ini adalah hal yang sangat memalukan bagiku jika diketahui oleh orang lainnya.


Matahari semakin terik, karena perut yang lapar aku bergegas menuju dapur untuk memasak sesuatu. Tapi saat membuka lemari pendingin, tidak ada satupun bahan makanan yang tersisa.


Bagaimana ini aku harus keluar rumah?


Jika aku tidak keluar rumah, aku tidak memiliki apapun lagi yang bisa dimasak.


Akhirnya aku memutuskan untuk keluar rumah dengan mengenakan kacamata hitam dan juga masker. Dengan cepat aku menuju supermarket untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Aku begitu takut jika dikenali oleh Arnold maupun Andreas. Setelah selesai berbelanja aku bergegas pulang ke rumah.


Namun, ditengah jalan aku tiba-tiba teringat akan Mama dan Papa. Akhirnya aku putar balik untuk menuju makam Mama dan Papa.


Tiba disana aku langsung mencurahkan semua isi hatiku dihadapan pusara kedua orang tua yang sangat aku sayangi.


"Ma, Pa. Aku datang lagi. Kali ini dengan duka yang semakin dalam. Maaf, aku tak membawakan bunga dan yang lainnya. Aku tengah kacau. Kalau saja bisa, aku ingin mengakhiri hidupku. Akan lebih baik rasanya jika bisa bersama Mama dan Papa." Aku berucap dengan penuh isakan.


"Ma, Pa. Apa Tuhan memang mentakdirkan aku untuk tidak akan pernah bisa hidup bahagia? Tuhan telah mengambil Mama dan Papa lebih dulu. Dan setelah kalian tiada, masalah yang bertubi-tubi datang kepadaku. Aku lelah Ma, Pa. Apa yang harus aku lakukan? Atau aku ini, memang manusia yang begitu buruk hingga tak pantas dikasihani oleh Tuhan. Hingga Tuhan memberikanku cobaan yang begitu banyak."


Aku menangis sesenggukan, sakit sekali rasanya membayangkan sepanjang kehidupanku ini selalu banyak penderitaan yang aku alami.

__ADS_1


Rasa lapar yang tadinya ada, seketika hilang begitu saja saat aku sudah meluapkan semuanya pada pusara Mama dan Papa. Jika ada orang melihat, pasti akan mengira aku depresi karena memeluk pusara Mama dan Papa secara bergantian.


Setelah puas mengadu, aku mulai bangkit. Dan berjalan keluar dari area pemakaman. Seorang kakek berpakaian serba hitam memanggilku untuk mendekat padanya di pintu masuk tempat pemakaman.


"Kakek lihat, kamu sering datang kemari dan selalu saja menangis setiap kali duduk di makam itu. Itu kedua orang tuamu ya?" Tanya Kakek yang rambutnya sudah putih itu.


Aku mengangguk dengan mengusap air mata yang masih terus berlinang.


"Ayo duduk disana." Ucap Kakek itu menunjuk sebuah saung yang berada di luar pagar area pemakaman.


Aku ikut saja melangkah di belakang Kakek itu. Entah kenapa aku bisa percaya begitu saja dengannya. Karena aku melihat dari raut wajah Kakek itu begitu teduh. Sorot matanya membuatku menjadi tenang.


Kami lalu duduk di saung yang berhadapan langsung dengan jalan beraspal. Sesekali ada mobil yang lalu lalang melewati saung kecil ini.


"Maaf ya, tadi Kakek tidak sengaja mendengar ucapan kamu waktu nangis di makam itu." Ucap kakek itu.


Aku menunduk dan berpikir, Kakek ini pasti menertawakan aku.


"Terkadang kita sulit menerima takdir yang menimpa diri kita, apalagi jika takdir itu berupa kesulitan atau kegagalan. Sesuatu yang tidak kita harapkan terjadi pada diri kita. Sesuatu yang menurut pemahaman kita tidak baik buat kita. Pada saat itu, seringnya kita lupa, Tuhan lah Sang Pencipta takdir. Sang Pencipta kita, pasti lebih tahu apa yang terbaik buat ciptaanNya. Kita lupa, Tuhan telah berjanji, Tuhan itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tuhan tidak akan memberikan ujian kepada hamba-Nya melebihi batas kemampuan mereka."


Ucapan Kakek itu membuatku semakin terisak, dadaku sesak. Selama ini aku memang selalu menyalahkan Tuhan atas takdir yg di berikan-Nya padaku.


Kakek itu mengelus kepalaku dengan lembut.


"Ketika seseorang menerima takdir yang menimpa dirinya, menerima ketentuan Tuhan atas dirinya, ia akan ikhlas dan rela menerima apapun yang diputuskan Tuhan kepada dirinya tanpa syarat, dan menganggapnya sebagai sesuatu kebaikan atau cobaan yang perlu dihadapinya.


Kehendak Tuhan kepada kita merupakan kejadian yang telah berlangsung, tidak dapat dihindarkan, dan tidak diketahui sebelumnya. Semua kebaikan dan keburukan dari apa yang menimpa kita, semua dari sisi Tuhan Yang Maha Esa. Tak ada seorangpun yang dapat menghindari dari rahmatNya dan kecelakaan yang ditimpakanNya kepada seseorang. Jadi, belajarlah menerima takdir yang menimpa diri kita, dan jangan pernah menyalahkan Tuhan atas apa yang telah terjadi. Karena dibalik itu semua, Tuhan pasti sudah menyiapkan suatu kebahagiaan yang tak akan pernah kamu kira selama kamu berbaik sangka dan ikhlas menerima semua takdir yang diberikanNya padamu…"


********


Aku baru tahu, ternyata Kakek itu adalah seorang penjaga makam. Beliau bercerita, bahwa selama ini selalu memperhatikan aku yang sering datang dan selalu saja menangis di pusara kedua orang tuaku.


Sebelum pergi tadi, aku sempat memberikan padanya beberapa lembar uang sebagai rasa terima kasihku karena sudah merawat makam Mama dan Papa dengan baik. Awalnya beliau menolak, tapi aku memaksa dan memasukkan lembaran uang itu kedalam saku kemeja yang ia kenakan.


Kini, aku sudah berada di dalam mobil dengan perasaan yang jauh lebih tenang. Ucapan Kakek itu membuatku menjadi lebih baik. Aku memang seharusnya banyak bersyukur atas nikmat hidup yang Tuhan berikan kepadaku. Bukan malah terpuruk dengan keadaan yang sudah menimpaku.

__ADS_1


Kali ini, aku harus semangat...


Bersambung.....


__ADS_2