
Pagi ini di kediaman Adam.
Claudia keluar dari kamarnya menuju ruang makan dengan senyuman di bibirnya dan tampak begitu ceria. Adam yang tengah berada di ruang makan juga, di kursi tempat biasanya ia duduk, menyadari kedatangan Claudia. Tapi dia tidak berkomentar apapun karena, dia mengingat dirinya telah melakukan kesalahan semalam.
Claudia kemudian duduk dan mulai menikmati sarapan yang memang disediakan untuk nya di hadapan Adam. Dia berpikir untuk meminta izin kepada Adam untuk pergi bersama Endra untuk membeli sebuah hadiah.
"Mmmmmm.... Claudia karena ini hari minggu, kau dan aku sama-sama libur. Bagaimana jika kau dan aku keluar, sekedar untuk belanja atau jalan-jalan." Ucap Adam.
Claudia yang menunduk karena sedang makan tiba-tiba langsung mengangkat kepalanya dan melihat kearah Adam dengan rasa tidak percaya. Wajahnya langsung berubah penuh keceriaan.
"Benarkah? Iya, iya... Aku juga memang ingin pergi berbelanja." Balas Claudia dengan tersenyum yang membuat Adam merasa begitu senang di dalam hati.
Wajah Adam yang sumringah menandakan bahwa ia memang begitu senang tapi Claudia tidak menyadari hal itu.
Setelah selesai sarapan, Claudia dan Adam bersiap untuk pergi berbelanja. Di dalam mobil, Claudia tengah sibuk berkirim pesan dengan Endra. Pria itu menyarankan pada Claudia untuk membeli beberapa jenis barang. Tapi Claudia sendiri tahu bahwa pria yang ingin diberikannya hadiah sudah memiliki segalanya, karena pria ini sangat berkuasa. Maka Claudia masih berpikir, hadiah apa yang seharusnya bisa ia berikan untuk Adam.
Sementara Adam sendiri sibuk menatap Claudia.
'Kapankah hari dimana hubungan kita akan seperti itu? Kapan kau bisa berbicara dengan santai padaku? Tertawa, tersenyum, kita yang bisa mengobrol sepanjang hari. Kau mengirimiku pesan, berbalas pesan denganku. Akankah semuanya terjadi?'
Adam tampak terus berpikir.
'Apa yang harus aku belikan untuknya?' Tanya Adam dalam hati.
Adam juga ingin membelikan Claudia sesuatu sebagai tanda permintaan maaf atas kesalahan yang ia lakukan.
Mobil lalu berhenti Adam keluar lebih dulu disusul Claudia.
Claudia menyadari bahwa mereka berada di depan Starlight mall. Claudia lalu berhenti melangkah. Menyadari hal itu Adam langsung mendekati Claudia lalu berbisik di telinganya.
"Aku minta maaf untuk kejadian di hari itu. Aku memang bertindak tidak rasional karena saat itu aku sedang marah padamu. Jika aku sedang marah, aku bisa bertindak tidak rasional. Tapi sejujurnya aku tidak bermaksud untuk melakukan semua itu."
Claudia berdiri di dekat mobil. Adam yang berdiri dekat dengannya berbisik di telinganya membuat Claudia mundur dan tangannya bertumpu pada mobil. Claudia belum siap untuk masuk ke dalam mall itu.
"Kau yang sudah melarang ku untuk masuk ke dalam mall itu lagi." Ucap Claudia tanpa melihat Adam.
Dia kembali mengingat kejadian di hari itu, dimana dia sudah di blacklist agar tidak bisa masuk ke dalam mall itu lagi. Claudia merasa marah, dan kecewa.
"Baiklah aku akui, aku memang pernah mengusir mu dan mem-blacklist mu dari tempat ini. Tapi mall ini adalah milikmu. Bagaimana mungkin aku bisa mem-blacklist pemilik mall itu sendiri. Yang ada kau sendiri yang bisa mengusir ku dari sini."
Claudia bahkan tidak menatap kearah Adam tatapannya justru mengarah ke lantai.
"Claudia, aku tidak pernah mengucapkan permintaan maaf kepadamu tentang kejadian itu. Tapi aku benar-benar ingin menjelaskan kepadamu tentang apa yang terjadi hari itu. Aku sebenarnya masuk kedalam toko itu untuk membelikan mu parfum." Ujar Adam.
Ucapan Adam membuat Claudia tampak tidak percaya
__ADS_1
"Aku tidak bohong, kau bisa bertanya pada Naomi. Aku bertanya padanya bagaimana selera mu tentang parfum. Jadi aku masuk ke sana untuk memilih sebuah parfum untukmu." Lanjut Adam. "Dan iya, wanita itu memang bersamaku karena kami memang bermaksud untuk mengunjungi mall. Dia bersamaku karena dia adalah sekretaris ku. Aku melihat parfum itu dan ingin membelikan nya untukmu, tapi parfum itu sudah hendak dibayar oleh orang lain. Jadi aku menelpon Naomi untuk menanyakan tentang pilihan lain. Tapi di saat aku melihatmu, aku bergegas untuk merebut parfum itu. Aku bertengkar dengan mu bukan untuk membela wanita itu atau aku ingin menyelamatkan nya darimu. Aku bahkan tidak peduli padanya. Dia tidak berarti apa-apa untukku. Aku bertengkar dengan mu memperebutkan parfum itu karena aku memang ingin membelinya untuk istriku." Ujar Adam panjang lebar.
Claudia tetap diam.
"Dan insiden yang terjadi di restoran itu juga sama. Percaya padaku, aku juga ingin menghentikan sikap kekanakan yang dia lakukan terhadap pelayan itu, tapi kau datang lebih dulu." Lanjut Adam.
Adam sekarang memegang kedua tangan Claudia dengan tangannya lalu berdiri dengan jarak yang sangat dekat dihadapan Claudia.
"Tolonglah Claudia, aku benar-benar minta maaf atas semua insiden yang terjadi di antara kita berdua, dan juga untuk kejadian yang kemarin aku minta maaf. Aku berpikir bahwa kau hanya ingin mengerjai ku saja. Claudia kumohon, aku ingin kau melupakan beberapa insiden yang terjadi di antara kita berdua sejak kedatangan ku kemari. Aku membawamu kemari untuk membelikan mu sesuatu sebagai tanda permintaan maaf dariku. Percaya padaku, bahwa aku bukan seperti pria yang yang kau pikirkan tapi kenyataannya aku malah tidak sengaja bertingkah seperti itu dan membuatmu berpikir bahwa aku memang seperti itu. Aku tahu kau tidak pernah bahagia dengan pernikahan ini. Aku juga tahu kau tidak pernah ingin menikah. Kau juga ingin bercerai karena kau memiliki rasa ketidak percayaan. Aku tahu kau tidak percaya pada pernikahan dan hubungan yang lainnya. Aku sudah mengetahui semuanya. Dalam tiga bulan ini aku memiliki misi untuk mendisiplinkan mu, dan membuat masa depanmu terjamin sebelum kita berpisah. Dan kau sendiri juga memiliki misi untuk menunjukkan kepadaku bahwa kau bisa belajar lebih baik untuk menjamin masa depanmu nanti. Kau bisa mencapai tujuan dan karir yang kau inginkan, jadi kau harus membuktikan kepadaku semua itu sebagai syarat perceraian kita. Tapi di antara semua hal itu, bisakah kita berdua melupakan beberapa insiden yang pernah terjadi sebelumnya. Tidakkah kau berpikir bahwa kita berdua memang selalu terlibat dalam masalah apapun berdua. Kumohon Claudia." Ucap Adam.
Claudia berusaha mendengarkan semua ucapan Adam dengan tenang dan kepala yang dingin. Dia sendiri ingin mengakhiri peperangan di antara keduanya. Karena itulah yang sedang ia lakukan beberapa hari belakangan ini.
Tapi Claudia tetaplah Claudia, dia tidak mau menerima apa yang dikatakan Adam.
"Bisakah kita pergi berbelanja sekarang? Kita sudah sangat terlambat." Ucap Claudia seraya mendorong tubuh Adam menjauh dari dirinya.
Adam tersenyum dan memperbaiki posisinya berdiri lalu mengikuti Claudia berjalan masuk kedalam mall tapi Claudia menghentikannya.
"Kau pergi saja ke mana kau ingin pergi dan aku bisa pergi sendiri kemana pun yang aku inginkan. Aku akan menelpon mu setelah selesai." Ucap Claudia memberi saran dan disetujui oleh Adam.
Adam tersenyum lalu berjalan seorang diri.
Satu jam berikutnya, Adam terlihat berbicara dengan Direktur mall. Dia sudah membelikan sebuah anting-anting yang cantik untuk Claudia. Adam sangat senang karena Claudia menyetujui saran yang diberikan oleh nya untuk pergi berbelanja, yang artinya Claudia sudah mau menghentikan pertengkaran mereka.
Saat tengah mengobrol dengan Direktur mall, terdengar suara teriakan orang yang tengah bertengkar dan membuat Adam melihat kearah suara.
Adam hendak menelpon Claudia karena ini sudah lewat satu jam. Adam ingin mengetahui di mana keberadaan istrinya itu.
Tiba-tiba ia mendengar suara teriakan seseorang yang begitu familiar. Dia menyadari bahwa suara itu berasal dari kerumunan orang-orang.
"Kau bajingan. Cium saja kakiku." Suara teriakan itu tak lain adalah milik Claudia, istrinya.
Adam tersentak, ia lalu dengan cepat melangkah menuju kerumunan orang-orang. Melihat Adam berlari, Direktur mall juga ikut berlari mengikutinya. Saat tiba di kerumunan orang-orang Adam melihat istrinya tengah berkelahi dengan seorang pria. Dan seorang gadis yang berdiri di samping mereka terlihat menangis. Dari cara dia menangis, orang-orang disekitar dapat dengan mudah menyimpulkan bahwa tangisan itu adalah dibuat-buat alias air mata palsu. Gadis itu terlihat tengah berakting. Dan Adam akhirnya menyadari bahwa gadis yang tengah menangis itu adalah Lisa. Gadis yang selama ini sangat membenci Claudia.
Disaat Adam menatap Lisa dia tidak menyadari bahwa istrinya tengah didorong oleh pria itu dan hampir saja meninju wajahnya.
"Apa yang sedang terjadi disini?" Teriak Adam.
Teriakan Adam itu terdengar menakutkan dan sangat mengintimidasi. Bahkan teriakan Adam membuat Direktur mall terkejut dan juga takut. Begitu juga dengan orang-orang yang berada di kerumunan itu, mereka semua merasa takut kecuali seorang gadis.
Claudia mengusap wajahnya dan hendak menyapa suaminya, tapi dia terhalangi.
"Ahhh akhirnya...."
Menyadari kehadiran Adam yang berdiri di hadapan Claudia, Lisa berjalan mendekat ke arah Adam.
__ADS_1
"Hai, Tuan Adam, saya Lisa. Saya akan memberitahukan anda kejadian yang sebenarnya. Sebenarnya tadi saya tengah memilih sebuah penjepit dasi mahal di toko ini, sampai akhirnya dia datang...." Ucapan Lisa terhenti karena Adam mengangkat tangannya.
Adam memberikan tanda kepada Lisa untuk berhenti bicara bahkan mata Adam sama sekali tidak melihat kearah Lisa justru ia melihat kearah istrinya yang terlihat menundukkan kepalanya. Hal itu membuat Lisa semakin mengarang cerita. Ia membuat dan mengucapkan cerita karangan yang penuh dusta. Dia terus berbicara sekolah mengenal Adam dengan dekat.
Ketika Claudia menyadari bahwa Lisa sudah tidak berbicara lagi. Ia mengangkat kepalanya dan melihat kearah suaminya kemudian dia melihat kearah Lisa lalu berbalik melihat kearah suaminya lagi. Adam sendiri hanya bisa melihat apa yang dilakukan istrinya itu.
"Apa yang terjadi?" Tanya Adam dengan suara yang sangat lembut kepada istrinya itu.
Claudia merasa begitu senang dari dalam hati. Dia sebenarnya tidak suka memamerkan kekuasaan yang dia punya, tapi jika itu di hadapan Lisa, dia bisa melakukan apapun. Claudia lalu tidak melihat lagi ke arah Lisa dan memandang suaminya.
"Dia berbohong. Sebenarnya aku yang lebih dulu memilih penjepit dasi itu, bahkan sudah meminta penjaga toko untuk membungkusnya untukku. Lalu aku pergi ke ruang istirahat sebentar. Saat aku kembali lagi, dia malah meminta penjaga toko untuk membungkus kan penjepit dasi itu untuknya. Aku tidak memulai pertengkaran hari ini tapi dia yang membuat suasana menjadi panas dengan berkata buruk kepadaku. Ketika aku membalas dia malah memanggil pacarnya dan kemudian....." Claudia menundukkan kepalanya lagi.
Adam menatap Claudia. Dia tidak pernah melihat Claudia bertingkah lemah atau takut selama ini. Adam tahu bahwa Claudia ingin menunjukkan kekuasaannya kepada gadis yang sangat dia benci.
"Dimana penjepit dasi itu?" Tanya Adam kepada Claudia.
Penjaga toko memberikan sebuah kotak kepada Adam. Adam lalu membuka kotak itu dan melihat ke dalamnya. Adam menaikkan alisnya seolah bertanya kepada siapa istrinya ingin memberikan penjepit dasi ini. Claudia mengerti dan ia pun menggunakan suaranya yang paling lembut dan berkata pada Adam.
"Untukmu. Rencana awal ku gagal, jadi aku berpikir karena kita ingin membuat kesepakatan baru maka aku ingin memberikan sebuah hadiah juga untukmu." Ucap Claudia menjelaskan.
Adam berusaha untuk menahan senyumnya. Ia seperti mahasiswa baru yang terpesona karena ucapan istrinya.
'Apakah dia memang memikirkan tentang kesepakatan itu atau dia hanya kembali ingin mengerjai ku saja?' Pikir Adam lalu menghela napas.
Adam hendak berbicara ketika, Direktur mall mendekat.
"Tuan, Anda bisa beristirahat. Biar saya yang menghandle semuanya. Jangan khawatir, serahkan kepada saya. Hei kamu ikut aku." Ucap Direktur mall hendak menarik lengan Claudia ingin membawanya keluar dari dalam toko.
Tapi Adam langsung menghadang nya dan menghempaskan tangan Direktur mall menjauh dari tubuh Claudia.
Adam bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari Claudia begitu juga dengan Claudia. Ia terus menatap mata suaminya.
"Kenapa kau tidak pergi membayarnya? Apakah kau tidak lapar, karena aku sangat lapar. Sekarang pergi dan bayar ini. Setelah itu kita pergi makan siang." Ucap Adam pada Claudia dengan nada yang terdengar asing, di mana orang lain tidak pernah mendengar Adam berbicara seperti itu.
Tapi Claudia pernah mendengarnya. Bukan hanya sekali tapi sudah berkali-kali. Bagaimanapun Claudia belum terbiasa dengan hal itu. Telinga dan pipinya terlihat memerah, Claudia berusaha menghindari perasaan malu itu tapi tidak bisa.
Lisa terlihat terkejut, dia tidak percaya dengan apa yang dilihat dan di dengarnya.
'Sejak kapan mereka berdua menjadi lebih dekat dan bersahabat? Apakah video pengakuan cinta terhadap Adam itu malah membantunya untuk menarik perhatian Adam? Apakah dia sudah menawarkan tubuhnya pada Adam. Apakah Adam itu adalah sugar daddy nya Claudia?' Lisa terus berpikir.
Lisa lalu berjalan mundur dan mendekati pacarnya, tapi lelaki itu malah melihat Lisa dengan tatapan marah lalu berjalan keluar dari dalam toko disusul oleh Lisa yang mengikutinya dengan cepat. Begitu juga dengan orang-orang lain yang ada di dalam toko itu, mereka tampak terkejut tapi tidak dapat berkata apapun. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka.
Claudia berjalan menuju kasir lalu membayar tagihan. Wanita yang berdiri di kasir tampak sangat sopan sekarang kepada Claudia.
Adam memandang kearah Direktur mall dan berbicara dengan suara yang sangat pelan agar tidak ada orang lain yang mendengarnya.
__ADS_1
"Dia adalah Claudia Wijaya, pemilik dari seluruh tempat ini. Aku harap kau mengingat itu dalam isi kepala mu. Kapanpun dia datang kemari di masa depan. Bahkan aku sendiri bukan apa-apa karena dialah pemilik dari seluruh tempat ini. Jadi perlakukan dia seperti seharusnya lain kali." Ucap Adam dengan tegas.
Bersambung.....